
Countess Larsca yang ingin pergi keluar merasa tidak nyaman karena harus meninggalkan Anastasya yang sedang sakit bahkan Duke Simons pun harus menginap di Rumah Anastasya karena merasa khawatir dengan keadaan Anastasya meskipun dokter pernah bilang bahwa ini adalah hal yang biasa.
Countess Larsca sangat tau rasanya mual dan muntah saat saat hamil di trimester pertama semakin merasa bersalah jika harus pergi. Countess Larsca pun akhirnya memilih melihat keadaan Anastasya di kamarnya.
Ketika sampai di kamar Anastasya, Countess Larsca melihat Anstasya sedang duduk bersanti di balkon kamarnya meskipun wajahnya tidak sesegar biasanya. Anastasya yang melihat Countess Larsca pun tersenyum dan meminta Countess Larsca duduk bersamanya.
"Ibu... Kenapa diam berdiri disana? Kemarilah, bu." ucap Anastasya sambil tersenyum.
"....." Countess Larsca berjalan.
Countess Larsca yang masih cemas dengan keadaan Anastasya pun bertanya sementara Anastasya memerintahkan Amy yang telah berdiri di dekat Anastasya untuk menuangkan teh juga untuk Countess Larsca.
"Minumlah dulu, Bu." pinta Anastasya.
"...." Countess Larsca menyeduh tehnya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Countess Larsca.
"Aku baik-baik saja, bu. Sudah lebih baik dari beberapa hari yang lalu. Sepertinya resep yang dokter berikan padaku cukup ampuh." ucap Anastasya.
"Syukurlah kalau begitu." ucap Countess Larsca.
Countess Larsca yang lega mendengar perkataan Anastasya memutuskan untuk pergi menemui temannya.
"Apa ibu akan pergi sekarang?" tanya Anastasya.
"Ya, ibu sudah membuat janji." ucap Countess Larsca.
"Baiklah. Ibu harus berhati-hati. Aku tak ingin ibu mengalami masalah." ucap Anastasya cemas.
"Tentu saja putriku." ucap Countess Larsca.
Countess Larsca yang telah berencana ingin bertemu dengan temannya pun pergi menggunakan kereta kuda bersama Pelayan pribadi dan juga Kesatria pribadinya yang dibawanya dari Kediamannya.
Tak butuh waktu lama, Countess Larsca pun sampai ditempat tujuannya. Countess Larsca pergi ke sebuah Restoran yang cukup terkenal di Ibukota dan Countess Larsca memesan sebuah ruangan pribadi dan menunggu temannya disana. Ketika sedang menunggu Countess Larsca melihat seseorang yang familiar dengannya dan ternyata itu adalah Shiena Ve Carrole.
Countess Larsca yang telah mengamati apa yang dilakukan Shiena dari tadi pun penasaran akan tujuan Shiena selanjutnya. Akhirnya Countess Larsca pun memanggil Kesatria Pribadinya.
"Saya menghadap, Nyonya." ucap Kesatria.
"Kau lihat Lady Bangsawan itu!" tunjuk Countess Larsca.
"Ya, Nyonya." ucap Kesatria.
"Bagus. Namanya adalah Shiena Ve Carrole, dia adalah Putri Tunggal duke Carrole. Aku ingin kau mengawasinya. Apa yang dia lakukan? Kemana dia pergi? dan Bertemu dengan siapa saja? Jika telah selesai dengan urusanmu segera laporkan padaku." perintah Nyonya Larsca.
"Baik, Nyonya." ucap Kesatria.
Kesatria itu pun pergi mengikuti Shiena sesuai perintah Countess Larsca. Countess Larsca yang berada di ruang pribadi sendiri mendapat pesan dari pelayan pribadinya bahwa ada orang yang datang yang ingin menemuinya. Countess Larsca pun mengizinkannya dan ternyata orang yang ditunggu telah datang.
Orang yang ditunggu oleh Countess Larsca adalah seorang ahli racun yang sangat terkenal dengan kekejaman dan caranya yang meracuni tanpa jejak. Tak ada seorang pun yang tau nama dan identitasnya tapi semua orang memberinya julukan Sang Mematikan.
"Selamat datang, Tuan." ucap Countess Larsca sopan.
"Senang bertemu denganmu, Nyonya." ucap Sang Mematikan.
"Begitu juga denganku, Tuan." ucap Countess Larsca tersenyum.
"Kita langsung saja ke intinya. Ini adalah Racun Bunga Magnolia. Bunga ini sangat lah beracun jadi harus hati-hati dalam penggunaannya." ucap Sang Mematikan.
"Lalu, bagaimana cara penggunaannya yang tepat? Aku hanya ingin menggugurkan kandungan saja?" ucap Countess Larsca.
"Nyonya hanya perlu memberi satu tetes botol Racun Bunga Magnolia ini, tidak lebih dan tidak kurang." ucap Sang Mematikan.
Countess Larsca pun mengeluarkan sekantong koin emas dan perhiasan dari dalam saku gaunnya. Countess Larsca pun memberikan kantong itu kepada Sang Mematikan. Sang Mematikan yang melihat kantong yang diberikan Countess Larsca hanya tersenyum puas.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Nyonya." ucap Sang Mematikan.
"Tentu saja." ucap Countess Larsca.
Sang Mematikan pun pergi dari Restoran itu dan Countess Larsca menyimpan kembali botol racun itu dengan hati-hati ke dalam gaunnya jangan sampai ada seorang pun yang tau.
Countess Larsca yang lapar pun memesan beberapa menu terenak di Restoran tersebut. Setelah selesai makan, Kesatria Pribadi Countess Larsca datang melaporkan hasil kerjanya.
"Maafkan hamba yang telah mengganggu, Nyonya." ucap Kesatria pribadi.
"Ada apa?" tanya Countess Larsca dingin.
"Saya ingin melaporkan informasi bahwa Lady Shiena membeli dua buah kotak parfume sepasang dan salah satu kotaknya kemungkinan besar akan diberikan sebagai kado untuk Acara Pertunangan Nona Anastasya." ucap Kesatria.
"Apa dia pergi menemui seseorang setelah itu?" tanya Countess Larsca.
"Tidak, Nyonya. Lady Shiena hanya pergi makan di sebuah Restoran bersama kedua Pelayan pribadinya lalu kembali ke Kediamannya." ucap Kesatria Pribadi penuh percaya diri.
"Baiklah. Kembalilah bertugas." ucap Countess Larsca.
Kesatria tersebut pun kembali ke tugasnya dan begitu pula dengan Countess Larsca memilih kembali ke Rumah Anastasya karena sesuai dengan informasinya Count Larsca akan segera datang.
Tak butuh waktu lama, Countess Larsca pun sampai di Rumahnya dan bergegas ke kamarnya dan menyimpan botol racun yang baru didapatnya. Countess Larsca pun pergi menemui Anastasya.
"Dimana putriku berada?" tanya Countess Larsca.
"Nona Anastasya ada di Taman belakang, Nyonya." ucap salah satu pelayan.
Di taman belakang, Countess Larsca melihat Anastasya yang sedang duduk bersantai sambil membaca buku menghadap ke sebuah danau buatan yang indah.
"Tasya." panggil Countess Larsca.
"Ibu, duduklah." ucap Anastasya lembut.
Countess Larsca pun menuruti perkataan Anastasya. Amy yang berada di dekat Anastasya dengan cekatan melaksanakan tugasnya dengan melayani Countess Larsca.
"Apa semua berjalan lancar, bu?" tanya Anastasya.
" Tentu saja. Ibu sudah mendapatkan racunnya tapi apa kau yakin ingin mengorbankan kandunganmu, tasya?" tanya Countess Larsca.
"Ya, bu. Aku ingin Shiena menderita dan membuat Putra Mahkota Franz menjadi milikku. Apa ibu lupa dengan informasi yang baru saja kita dapatkan?" tanya Anastasya.
"Tentu saja ibu ingat. Ibu hanya memastikan." ucap Countess Larsca.
Countess Larsca yang telah mengetahui informasi yang diceritakan Anastasya bahwa Shiena mendapatkan undangan dari Putra Mahkota Franz untuk datang bersamanya saat Acara Kedewasaannya. Tak hanya itu, yang mumbuat Anastasya semakin kesal dan cemburu adalah Anastasya mendapatkan sebuah kotak hadiah yang dikirim langsung oleh Putra Mahkota Franz. Hadiah tersebut berisi sebuah gaun dan sepasang sepatu serta satu set perhiasan.
Anastasya yang tak ingin anak yang di dalam kandungannya menghalangi rencananya menjadi Permaisuri lebih memilih menggugurkan kandungannya sehingga Anastasya dapat dengan percaya diri mendekati Putra Mahkota Franz dan mendapatkan kasih sayangnya.
Anastasya juga tak berencana melepaskan Duke Simons sehingga berencana membuat Shiena sebagai tertuduh sehingga Duke Simons akan tetap percaya pada Anastasya dan menghancurkan Shiena.
'Rencana ini harus berhasil! Aku tak ingin melihat wanita itu berkeliaran dengan bebas.' ucap Anastasya dalam hati.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..
🥰😍😘😚 Terima Kasih