The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 180. Hukuman dan Penyiksaan II


Shiena yang bangun di pagi hari terlihat sangat segar. Shiena pun bersiap-siap dibantu oleh Marry dan Ana. Shiena yang melihat sikap Ana beberapa hari ini mulai berfikir positif. Sehingga Shiena berencana memperkenalkan Ana dengan laki-laki yang baik dan mengubah nasibnya tapi jika Ana benar-benar dapat membuktikan dirinya memang benar-benar setia pada Shieha.


Shiena pun sarapan pagi bersama Duke Carrole dan Duchess Carrole. Meskipun tidak ada percakapan saat makan namun sangat terasa kekeluargaan dan kehangatannya. Shiena merasa senang karena dapat sarapan lagi bersama.


Setelah sarapan, Duke Carrole kembali ke pekerjaannya yang telah tertunda sedangkan Duchess Carrole mulai kembali bersosialisasi di pergaulan Atas. Sementara Shiena yang tak memiliki rencana apapun pun bersantai di taman sambil membaca buku.


Ketika Shiena sedang bersantai tiba-tiba Ana datang memberi tau bahwa ada tamu yang datang mencarinya.


"Maaf mengganggu, Nona. Ada tamu yang datang sedang mencari anda." ucap Ana sopan.


"Tamu? Siapa?" tanya Shiena bingung.


"Katanya itu adalah ajudan dari Yang Mulia Putra Mahkota Franz, Nona." ucap Ana.


"Katakan saja aku sedang istirahat dan tak bisa diganggu." ucap Shiena.


"Baik, Nona." ucap Ana.


Ana pun pergi menemui Eit dan menyampaikan pesan Shiena. Eit yang mengerti jika dirinya tidak diterima pun tetap bersikeras menunggu karena Eit tak punya pilihan lain jika tidak Putra Mahkota Franz bisa marah padanya.


"Maafkan saya, Nona tapi Tuan itu tidak mau pergi dan bersikeras akan menunggu, Nona." ucap Ana bingung.


'Apa maunya? Apakah semua Anggota Keluarga Kekaisaran tidak punya malu?' fikir Shiena kesal.


"Baiklah, jika begitu maka biarkan saja dia menunggu dan jangan hidangkan apapun untuknya." ucap Shiena.


"Baik, Nona." ucap Ana.


Shiena pun meneruskan membaca buku dan melanjutkan apa yang ingin dilakukannya dan mengabaikan keberadaan Eit yang menunggunya.


Setelah beberapa jam berlalu, Shiena yang tau bahwa Eit masih menunggunya akhirnya mencari tau apa yang diinginkannya.


"Apakah Tuan itu masih ada di ruang tamu?" tanya Shiena.


"Ya, Nona." ucap Ana.


"Baiklah, ayo kita temui dia." ucap Shiena.


Shiena yang telah sampai di ruang tamu pun melihat Eit yang sedang menunggu.


"Maafkan ketidaknyamanannya, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Shiena.


'Maaf hanya dimulut. Apa dia tidak tau bahwa aku sudah lama menunggu? Jika bukan karena Putra Mahkota Franz yang memerintahkanku dan akan menghukumku jika tidak menemuinya. Sudah pasti aku tidak mau bertemu gadis sombong ini!' fikir Eit.


'Kau fikir aku tidak tau apa isi fikiranmu. Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti.' ucap Shiena dalam hati.


"Saya hanya ingin menyampaikan surat dan hadiah dari Putra Mahkota Franz, Nona." ucap Eit.


"Baiklah." ucap Shiena.


Shiena yang berfikir Putra Mahkota Franz memberikan sesuatu yang berharga tapi ternyata hanya sebuket bunga mawar merah. Shiena pun langsung mengambil surat dan hadiah yang ada di tangan Eit.


Lalu, Shiena memerintahkan Ana mengantar Eit keluar sementara Shiena berbalik arah menaiki tangga. Shiena yang memang dari awal tidak menyukai cara Putra Mahkota Franz pun berpura-pura tidak sengaja menjatuhkan bunga dari Putra Mahkota Franz di tangga pertama dan menginjaknya.


"Aduhhh, maafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja. Marry tolong ambil bunga itu."ucap Shiena.


"Baik, Nona.


Shiena yang telah sampai di kamarnya lalu duduk di sofa dan membaca surat Putra Mahkota Franz.


*Maafkan aku, Lady. Saya harap anda akan memaafkan saya dan menerima hadiah permintaan saya.*


Shiena yang telah selesai membaca surat itu pun melempar surat ke perapian dan membakarnya dan tak hanya itu, Shiena juga memerintahkan Marry membakar bunga merah itu juga.


Sementara itu di Istana Kekaisaran, semua pelayan dan kesatria Kekaisaran bersikap sangat ramah kepada Putra Mahkota Franz tak hanya itu banyak sekali Bangsawan datang memberi salam dan memberi hadiah kepada Putra Mahkota Franz tapi Putra Mahkota Franz hanya diam dan tak terlalu menanggapi semuanya.


Beberapa jam berlalu dan Eit pun sampai di Istana dan melaporkan semua yang terjadi termasuk sikap Shiena kepadanya yang dingin serta cara Shiena yang pura-pura menjatuhkan buket bunga dari Putra Mahkota Franz.


Putra Mahkota Franz sangat marah karena tindakan Shiena tapi Putra Mahkota Franz juga mengerti bahwa saat ini Shiena masih marah karena tindakan yang dipilihnya dan Kaisar telah melukai Keluarga dan orang-orangnya sehingga Putra Mahkota Franz pun menerima lapang dada semua tindakan Shiena dan tetap berusaha membuat Shiena memaafkannya.


Namun Putra Mahkota Franz tidak bisa menerima perbuatan Brian karena menurutnya jika Mantan Putra Mahkota Brian tidak bertindak berlebihan dalam menghukum Duke Carrole dan orang-orangnya. Shiena tak akan semarah ini.


Putra Mahkota Franz pun memutuskan untuk pergi ke Penjara tempat Mantan Putra Mahkota Brian dan pengikutnya di penjara.


Di penjara, Putra Mahkota Franz mendapat laporan bahwa sudah sejak semalam seluruh tahanan terutama Mantan Putra Mahkota Brian dan pengikutnya mengalami sakit yang aneh.


Penjaga Tahanan berkata bahwa Mantan Putra Mahkota Brian dan pengikutnya sering mengeluh sakit di dada dan sulit bernafas lalu Penjaga Tahanan juga berkata bahwa mereka merasa seperti di cekik ketika rasa sakit itu menyerang.


Putra Mahkota Franz yang mendengar penjelasan dari Penjaga Tahanan tidak merasa kasihan ataupun simpati sedikit pun tapi Putra Mahkota Franz merasa aneh dan bingung.


"Apakah telah diperiksa oleh dokter?" tanya Putra Mahkota Franz.


"Sudah, Yang Mulia tapi dokter bilang tak ada penyakit apa pun." ucap Penjaga Tahanan.


"Itu aneh sekali tapi abaikan saja. Cukup jangan biarkan penjahat-penjahat itu meninggal." ucap Putra Mahkota Franz.


"Baik, Yang Mulia." ucap Penjaga Tahanan.


Putra Mahkota Franz pun masuk dan menuju ke penjara tempat Mantan Putra Mahkota Brian. Pada saat Putra Mahkota Franz datang tiba-tiba Mantan Putra Mahkota Brian, Robert dan pengikut Putra Mahkota lainnya sedang berteriak-teriak meminta tolong dan menjerit kesakitan.


Putra Mahkota Franz yang melihatnya secara langsung menjdi tak mengerti. Putra Mahkota Franz awalnya berfikir bahwa Mantan Putra Mahkota Brian dan Pengikutnya telah dikutuk dengan Sihir Gelap tapi saat Putra Mahkota Franz mengaktifkan Sihir Gelapnya tak ada yang terjadi.


'Apa ini? Sakit apa mereka? Kenapa mereka semua seperti ini? Ini seperti seseorang sengaja ingin menyiksa mereka secara perlahan-lahan tapi siapa?' fikir Putra Mahkota Franz.


"Apakah penyakit aneh yang kalian katakan itu sedang terjadi sekarang?" tanya Putra Mahkota Franz.


"Benar, Yang Mulia." ucap Penjaga Tahanan.


"Baiklah. Setelah mereka semua tidak merasakan sakit aneh ini lagi hukum mereka dengan pukulan sepuluh kali. Lalu, patahkan kaki Brian. Aku ingin dia merasakan apa yang dirasakan Duke Carrole." ucap Putra Mahkota Franz.


"Baik, Yang Mulia." ucap Penjaga Tahanan.


Putra Mahkota Franz pun memutuskan untuk meninggalkan Penjara itu dan pergi melihat keadaan rakyatnya secara langsung dengan menyamar.


#Bersambung#


Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁


Baca Juga Novel Terbaru Author "Terpaksa Menikah Karena Wasiat" Terima Kasih 🥰😍❤😘