
Alex yang bingung karena Nonanya sangat terkejut dengan informasi yang didapatnya hanya bisa diam dan melanjutkan ceritanya.
"Apa kau yakin jika anak yang dikandung oleh Lady Anastasya adalah milik Duke Simons?" tanya Shiena memastikan.
"Benar, Nona. Saya mendengar sendiri saat Tuan Duke sedang berbicara dengan Lady Anastasya." ucap Alex.
"Begitu rupanya. Lalu, apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya Shiena.
"Ya, Nona." ucap Alex.
"Katakanlah." ucap Shiena memberi izin.
Alez yang bingung cara menjelaskannya pun terdiam agak lama. Shiena yang penasaran pun mendesak Alex untuk cerita.
"Cepat katakanlah. Aku tidak punya banyak waktu. Jika tidak ada lagi yang imgin kamu katakan sebaiknya kau kembali." ucap Shiena tegas.
"Ti-tidak Nona. Ma-maafkan saya. Saya akan mengatakannya." ucap Alex gelagapan.
"Kalau begitu katakanlah cepat!" desak Shiena.
"Saya tak hanya mendengar tentang siapa ayah kandung dari bayi yang di kandung oleh Lady Anastasya tapi juga mendengar bahwa Tuan Duke berjanji akan menjadikan Lady Anastasya sebagai Permaisuri." ucap Alex.
"Permaisuri? Bagaimana bisa?" tanya Shiena bingung.
"Tuan Duke telah berencana melakukan kudeta dan pemberontakan atas Takhta Yang Mulia Kaisar sehingga dapat menjadikan Lady Anastasya sebagai Permaisuri." ucap Alex.
"Lalu?" tanya Shiena.
"Ti-tidak ada Nona. Hanya itu yang bisa saya dengar. Maafkan saya Nona." ucap Alex dengan wajah pucat.
"Baiklah, kau kembali lah dan selidiki apa rencana sebenarnya Duke Simons." perintah Shiena.
"Baik laksanakan, Nona." ucap Alex.
Alex yang mendapatkan perintah dari Shiena pun berencana segera melaksanakan tugasnya sehingga Shiena meminta Alex menutup matanya dan Shiena pun langsung mengeluarkan dirinya dan Alex dari dalam Cincin Ruang.
Alex yang sadar jika dirinya telah kembali ke tempat semula pun segera bergegas pergi dan meninggalkan Shiena sendiri.
Shiena yang masih belum bisa berhenti memikirkan perkataan Alex akhirnya tidak bisa tidur semalaman. Shiena pun hanya duduk diam di kursi di sudut ruangan kamarnya. Shiena memikirkan ulang semua yang telah dikatakan.
'Jika saat ini benar adanya Anastasya mengandung anak Duke Simons maka dikehidupan yang lalu Anastasya telah membohongi Mantan Putra Mahkota Brian.' fikir Shiena.
Shiena yang tiba-tiba teringat dengan kejadian di masa lalunya dimana dirinya pernah dituduh melakukan percobaan pembunuhan calon anggota Keluarga Kekaisaran mulai memikirkan kemungkinan jika nantinya Anastasya dapat melakukan hal yang sama.
'Jika dikehidupan yang lalu Anastasya dapat dengan mudah menggugurkan kandungannya untuk menghancurkanku maka tidak menutup kemungkinan jika nantinya Anastasya dapat melakukan hal yang sama. Aku harus hati-hati.' ucap Shiena dalam hati.
Tak terasa waktu telah pagi, Marry dan Ana pun masuk ke dalam kamar Shiena. Shiena yang terrlihat sangat lusuh dan lelah membuat Marry histeris dan sedih.
"Nona!" teriak Marry.
"Ada apa Marry? Jangan berteriak seperti itu." ucap Shiena yang lesu.
"Apa yang terjadi dengan nona? Apa Nona tidak tidur semalaman?" tanya Marry.
"Aku tidak bisa tidur." ucap Shiena singkat yang tak ingin menjelaskan.
Ana yang mendengar perkataan Shiena pun berinisiatif untuk ke dapur membuatkan teh camomile untuk membuat Shiena menjadi rileks dan membawakan sarapannya ke kamar.
"Benar. Nona sebaiknya kita segera bersiap-siap. Saya akan membantu membasuh wajah Nona." ucap Marry khawatir.
"Terima kasih." ucap Shiena.
Setelah beberapa saat akhirnya Ana pun datang membawakan teh camomile hangat lalu disuguhkannya ke Shiena. Shiena yang meminum teh itu menjadi sedikit tenang. Lalu, Ana pun bergegas turun kembali dan membawakan sarapan.
Shiena yang telah selesai mengganti pakaiannya pun menikmati sarapan paginya di balkon ditemani Marry dan Ana. Shiena yang masih belum bisa berhenti memikirkan semua informasi yang didapatnya membuat Marry dan Ana yang melihat menjadi semakin khawatir.
"Nona. Apa Nona sedang dalam masalah sekarang? Nona terlihat sangat lesu dan banyak fikiran?" tanya Marry.
"Benar Nona. Nona bisa menceritakannya pada kami. Meskipun kami tak bisa membantu paling tidak Nona akan menjadi sedikit lega." ucap Ana khawatir.
Mendengar perkataan Marry dan Ana dan setelah membaca fikiran mereka pun membuat Shiena sadar bahwa tak ada gunanya hanya memikirkan hal yang belum terjadi dan akan lebih baik jika dirinya melakukan sesuatu untuk membuat semua hal buruk itu tidak terjadi.
Shiena pun memutuskan menghabiskan sarapannya dan besiap keluar untuk memilih pakaian yang akan dipakai untuk Acara Pertunangan Anastasya dan Duke Simons. Shiena memutuskan akan menghadapi apapun rencana buruk Anastasya dan Duke Simons dan membalas semuanya berkali-kali lipat.
Sementara itu, di Istana Putra Mahkota Franz yang sedang melakukan rapat dengan orang-orang yang nantinya akan menduduki beberapa posisi di Kekaisaran mulai muak dengan sikap mereka yang seperti seorang penjilat. Putra Mahkota Franz yang terkadang tak bisa mengendalikan dirinya mengeluarkan kata-kata kasar untuk meluapkan amarahnya tapi sebelumnya Putra Mahkota Franz menggunakan kekuatannya menghentikan waktu agar tak ada yang tau apa yang dikatakannya.
Ketika Putra Mahkota Franz sedang memimpin rapat tiba-tiba ada seorang Kesatria datang dan menyela rapat. Kesatria tersebut berjalan menghadap Putra Mahkota Franz dan meminta izin menyampaikan informasi penting.
"Hamba menghadap Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Kesatria.
"Berani sekali kau menyela rapat ini! Apa kau telah bosan hidup!" ucap Viscount Albarham marah.
"Maafkan hamba Tuan. Hamba datang untuk menyampaikan berita penting untuk Yang Mulia Putra Mahkota." ucap Kesatria itu takut tapi tetap mengontrol suaranya.
"Kemarilah. Katakan padaku ada apa." ucap Putra Mahkota Franz.
Kesatria tersebut pun berjalan melewati beberapa Bangsawan yang melihatnya dengan tatapan menusuk. Kesatria tersebut pun meminta izin menyampaikan informasi ini secara pribadi dan Putra Mahkota Franz pun mengizinkan yang membuat semua Bangsawan menjadi penasaran.
Putra Mahkota Franz pun mengajak Kesatria tersebut pergi ke ujung ruangan dan memegang pundak Kesatria tersebut sambil memberi izin mengatakan informasi penting apa yang ingin disampaikannya. Tak lupa Putra Mahkota Franz menghentikan waktu dan membuat hanya dirinya dan sang Kesatria yang dapat berbicara dengan bebas. Putra Mahkota Franz yang tak ingin membuat Kesatria tersebut curiga akhirnya membuat posisi mereka menghadap ke dinding dan membelakangi semua orang yang ada di ruang rapat tersebut.
"Sekarang katakanlah apa yang ingin kau sampaikan." perintah Putra Mahkota Franz.
"Ya-Yang Mulia Kaisar pingsan saat sedang berjalan menuju kamarnya." ucap Kesatria.
"Apa?" teriak Putra Mahkota Franz terkejut.
"Benar Yang Mulia, saat ini Kaisar sedang ada dikamarnya bersama Tuan Penasehat Kekaisaran. Tuan Penasehat Kekaisaran memerintahkanku memberi tau Yang Mulia tapi jangan sampai ada yang mengetahuinya." ucap Kesatria.
"Baiklah aku mengerti." ucap Putra Mahkota Franz.
Putra Mahkota Franz pun menjentikkan jari yang membuat waktu kembali berjalan seperti semula dan semua orang menjadi tidak tau apa yang telah dikatakan Kesatria dan Putra Mahkota Franz.
Putra Mahkota Franz pun memerintahkan kesatria itu kembali ke tugasnya dan menutup mulutnya jika tidak ingin kehilangan nyawanya dan keluarganya. Kesatria tersebut sangat mengerti maksud Putra Mahkota Franz hingga Kesatria tersebut buru-buru pergi meninggalkan ruang rapat.
Putra Mahkota Franz yang mengerti jika saat ini situasi sedang sangat krusial dan genting sangat berhati-hati dalam bertindak karena satu saja kesalahan dalam bertindak dapat membuat semuanya menjadi sangat kacau dan membuat Kekaisaran menjadi runtuh dalam waktu hitungan hari.
Putra Mahkota Franz kembali ke tempatnya dan menginstrusikan Tuan Eit untuk memimpin rapat dan melakukan tugas yang harusnya dilakukan oleh Putra Mahkota Franz. Sebelum pergi Putra Mahkota Franz memberika peringatan yang membuat semua Bangsawan dan Orang-orang berpengaruh yang ada di dalam rapat tersebut seketika berkeringat dingin dan tak terkecuali Tuan Eit yang menahan perutnya agar tidak muntah.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Votenya ya..
🥰😍😘😚 Terima Kasih