
Shiena yang telah selesai menemui Tuan X pergi menemui Marry yang ternyata telah menunggu Shiena. Marry membawa banyak sekali cemilan buah manis di tangannya. Shiena mencoba mencicipinya lebih dulu dan ternyata dugaan cemilan itu sangat enak.
Shiena dan Marry kembali ke dalam Stadion dan Shiena duduk di kursinya semula. Shiena tak bisa fokus menonton pertandingan karena Shiena selalu mencoba melirik Anastasya untuk mencari tau apa yang telah dibicarakannya dengan Putra Mahkota sampai seperempat waktu pertandingan telah berlalu tapi Shiena tetap tak bisa menemukan alasan Anastasya menemui Putra Mahkota justru Shiena mendapatkan nama baru yang membuatnya terkejut yaitu Val.
'Siapa Val ini? Seingatku nama Val di Kekaisaran Pearl ini hanya satu yaitu Duke Simons. Aku tau bahwa dikehidupanku yang lalu, Anastasya mendapatkan dukungan penuh dari Duke Simons dan Fraksi Oposisinya untuk maju menjadi Permaisuri tapi sampai meninggal pun aku tak tau alasannya.' fikir Shiena.
Shiena terdiam sebentar memikirkan semua kemungkinan yang ada tapi hanya satu yang muncul yaitu hubungan terlarang.
'Aku harus meminta Tuan X juga mengumpulkan informasi tentang hubungan Anastasya dan Tuan Duke Simons. Aku harus mencari tau semua hal yang memungkinkan menjadi kekuatan Anastasya lalu menghancurkannya.' ucap Shiena dalam hati.
Shiena yang telah lelah menggunakan kemampuan membaca fikiran akhirnya mulai kembali fokua pada Pertandingan antara Wax dan juga Marquess Laurence.
Pertandingan itu terlihat berat sebelah dimana Wax mendominasi serangan tapi kenyataan yang dilihat Shiena adalah Wax mulai kewalahan dan perlahan berada dalam posisi bertahan sementara sebaliknya Marquess Laurence yang dilihat lebih lemah ternyata mulai perlahan mendesak Wax ke posisi bertahan.
Serangan berlangsung secara terus menerus dan tak jarang Sihir Penggabungan dipakai untuk melawan musuh. Marquess Laurence dengan Sihir Tanah dan Sihir Apinya sedangkan Wax dengan Sihir Angin dan Sihir Airnya.
Mereka menggunakan Sihir yang berlawanan satu sama lain seolah memang telah menjadi musuh bebuyutan sejak lama. Kekuatan Sihir Wax dikira paling kuat tapi ternyata Marquess Laurence lebih unggul karena jika diberikan dorongan lebih kuat lagi Level Kekuatan Sihir Marquess Laurencen akan naik lagi karena saat ini telah berada di puncak Kekuatan Sihir Level enam.
Wax yang terdesak tak ingin kalah dan akhirnya menyerang Marquess Laurence terlebih dahulu dengan Sihir Petirnya sehingga Marquess Laurence yang tidak sempat membuat serangan balasan hanya bisa menahan dengan membuat bola besar dengan Sihir Tanah.
Petir itu menyambar sebanyak tiga kali dengan kekuatan yang cukup besar. Marquess Laurence yang tak bisa melakukan apapun hanya bisa berlindung di dalam Bola Tanah. Meskipun telah berlindung, Marquess Laurence ternyata masih merasakan sakitnya di sambar petir sehingga membuat seluruh tubuhnya menjadi kebas dan tak bisa digerakkan.
Semua penonton wanita yang melihat berteriak histeris memberikan sumpah serapah kepada Wax dan ada pula yang memohon untuk menghentikan petir itu karena tak ingin Marquess Laurence celaka tapi Wax tak mwnghiraukan suara penonton.
Setelah sambaran petir ketiga, Wax berhenti dan Bolaq Tanah yang melindungi Marquess Laurence perlahan hancur dan tak lama kemudian Bola Tanah itu benar-benar hancur. Marquess Laurence pun keluar dari dalam Bola Tanah dengan kondisi yang mengenaskan. Marquess Laurence kehabisan tenaganya dan terjatuh tergeletak di atas Arena Pertandingan
Shiena yang melihatnya mencoba memberi semangat agar Marquess Laurence jangan menyerah karena perjuangannya hanya tinggal sedikit lagi.
"Ayo kak, ayo bangun. Jangan kalah disini semudah itu. Kemana janjimu kak? Kau berjanji akan menang kan? Apa kau melupakannya kak?" teriak Shiena.
Semua orang memperhantikan Shiena tapi Shiena tidak peduli karena bagi Shiena Marquess Laurence telah di anggap sebagai Kakak satu-satunya sehingga Shiena tak bisa melihat Marquess Laurence dalam keadaan menyedihkan seperti itu.
Marquess Laurence yang samar-samar mendengar suara Shiena mencoba menggerakkan kepalanya dan melihat kearah Shiena. Marquess Laurence yang sadar akan janjinya berusaha sekuat tenaga mengumpulkan tenaga agar bisa menang.
'Aku butuh kekuatan! Aku harus bisa! Aku harus menang!' ucap Marquess Laurence dalam hati.
Lalu tiba-tiba muncul cahaya kuning keemasan yang menyelubungi tubuh Marquess Laurence. Cahaya kuning keemasan itu berasal dari sebuah bungkusan kecil di dalam baju Marquess Laurence. Bungkusan kecil itu berisi Energi Sihir Cahaya yang dapat digunakan untuk menolong dan melindungi pemiliknya.
Marquess Laurence yang merasa Shiena sengaja memberikan bungkusan kecil itu untuk selalu melindunginya tiba-tiba merasa hangat di hatinya. Marquess Laurence pun menaiki tingkat Level Kekuatan Sihirnya menuju Level Tujuh yang merupakan Level Kekuatan Tertinggi.
Marquess Laurence mengeluarkan Tekhnik Surgawinya dengan menggunakan Sihir Penggabungan yaitu Sihir Magma. Seketika itu juga Arena Pertandingan menjadi berlubang dan Magma panas keluar menyembur ke langit. Semua orang sangat terkejut sekaligus merasakan hawa yang sangat panas dari Magma yang keluar.
Wax yang merasakan firasat buruk tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang terlihat gelisah. Wax yang hampir kehilangan kendali atas dirinya karena rasa takut yang tiba-tiba dirasakannya.
Wax menggunakan Sihir Air untuk membuat hujan agar bisa meredam panas dari Magma itu tapi ternyata hal itu tidak berhasil. Magma yang dikeluarkan oleh Marquess Laurence terlalu panas sehingga tak bisa dipadamkan meski dengan Air sebanyak apapun.
Wax mulai merasa gelisah sehingga menggunakan Sihir Penggabungannya yaitu Sihir Petir. Wax mengeluarkan sepuluh Petir yang sangat besar yang perlahan menyatu menjadi satu dan sangat besar.
Marquess Laurence pun mengearahkan Magma panas itu kearah Wax dan Wax pun menyambutnya dengan satu serangan petir yang sangat besar sehingga menimbulkan suara yang sangat besar dan menimbulkan kehancuran pada Arena pertandingan bahkan dinding pembatas yang telah disegel oleh lima murid terbaik yang menggunakan Sihir Cahaya tak mampu menahan gelombang gesekan dua kekuatan yang sangat besar.
Setelah tambrakan dua kekuatan besar menimbulkan asap yang sangat banyak sehingga membuat penonton lagi-lagi harus menebak apa yang terjadi di atas Arena Pertandingan itu.
Wax yang telah mengeluarkan hampir seluruh Energi Sihirnya tergerak mundur beberapa langkah tapi berbeda dengan Marquess Laurence yang tak bergerak sama sekali dam tetap berdiri kokoh di tempatnya.
Wax yang melihatnya mengumpat dalam hati dan mulai memikirkan cara agar bisa menang tapi Marquess Laurence tak memberikan Wax kesempatan berfikir dan istirahat. Marqeuss Laurence menggunakan semua Energi Sihirnya untuk menghajar Wax.
Marquess Laurence tak memberikan ampun kepada Wax karena telah sangat membencinya. Marquess Laurence ingin membalaskan dendam sahabat-sahabatnya yang telah hampir dibuatnya cacat. Marquess Laurence ingin melihat bagaimana jika Wax juga mengalami hal yang sama seperti sahabatnya.
"Mata dibalas mata, tangan dibalas tangan dan nyawa dibalas nyawa! Aku tak akan mengampunimu Wax!" teriak Marquess Laurence penuh amarah.
"Kau ingin membalasku. Ha..ha..ha.." jawab Wax sambil tertawa.
"Kau masih bisa tertawa rupanya dengan mulut besarmu itu. Setelah ini aku jamin kau akan merasakan hal yang sama seperti peserta lain yang hampir kau buat cacat!" teriak Marquess Laurence.
Marquess Laurence pun mengeluarkan Sihir Apinya yang cukup besar tapi tidak sampai membunuh seseorang meskipu di dalam Acara Pertandingan Ujian Menara Sihir tidak ada aturan yang melarang sesama peserta dilarang saling membunuh tapi Marquess Laurence masih memiliki hati sehingga tak sampai ingin menghilangkan nyawa seseorang.
Api pun keluar dari tangan Marquess Laurence dan dengan telak mengenai tubuh Wax. Wax pun berteriak kesakitan yang menyebabkan seluruh tubuhnya mendapatkan luka bakar dan pakaiannya menjadi terbakar dan gosong.
Semua yang melihat menahan nafasnya tapi tak ada yang merasa sedih atau kecewa mereka semua merasa sangat senang karena Marquess Laurence telah menang dan telah berhasil membalaskan dendam mereka semua.
Marquess Laurence yang telah kehilangan hampir setengah Energi Sihirnya akibat pertarungan besarnya pun terjatuh ke tanah dengan satu kaki. Wasit yang melihat langsung menghampiri Marquess Laurence dan membantunya berdiri dan mengangkat satu tangannya dan menyatakan kemenangannya.
"Pemenang dari Ujian Menara Sihir kali ini adalah Roan, Sang Marquess Laurence!" teriak Wasit.
Seketika itu juga Stadion terdengar sangat ramai dengan teriakan nama Marquess Laurence berulang-ulang kali.
Marquess Laurence yang merasa sangat senang dan bangga karena telah dapat berhasil melihat ke arah Shiena dan Shiena pun berdiri dari tempat duduknya lalu memberikan dua jempol tangannya dengan senyum yang sangat indah. Marquess Laurence menjadi sangat senang.
"Menang!" teriak Marquess Laurence
Nyonya Maria yang melihat keponakannya yang dapat berhasil menang pun meneteskan air mata bahagia karena terlalu senang dan bangga.
Namun di satu sisi ada dua orang yang memiliki tatapan tidak senang dan niat buruk.
#**Bersambung#
Main tebak-tebakan yok... 😁😁😁
Kira-kira siapa ya dua orang itu? 🙄😏🤔
Yang tau jawabannya komen di bawah ya.. 🥰😍😘**
Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁
Terima kasih.. 🥰😍❤😘