
Kaisar Franz yang telah mendapatkan lembaran-lembaran bukti kejahatan Duke Simons dan keterlibatan Anastasya di dalamnya pun segera menyimpannya lalu memanggi Tuan Eit datang menemuinya.
Tak butuh waktu lama, Tuan Eit pun seger datang menemui Kaisar Franz. Kaisar Franz memerintahkan Tuan Eit untuk pergi ke Kantor Kepala Penyelidikan Kekaisaran dan Kepala Keamanan Kekaisaran yang baru kemudian memanggil Kepala Bagiannya untuk datang menemuinya. Setelah beberapa jam berlalu, dua orang yang telah ditunggu itu pun datang.
Tokkk...Tookkk...Tokkkk
(Suara ketukan pintu)
"Masuklah." perintah Kaisar.
"Hamba menghadap Yang Mulia Kaisar. Semoga Yang Mulia selalu sehat dan berjaya." ucap keduanya.
Kaisar Franz yang tak ingin membuang waktunya pun segera menyerahkan berkas yang diberikan oleh Shiena kepada keduanya. Kaisar Franz memberikan perintah untuk segera melakukan penyelidikan kepada Keluarga Duke Simons dan juga melakukan penyitaan aset Keluarga Duke Simons. Tak hanya itu, Kaisar Franz juga memerintahkan keduanya untuk bekerjasama untuk membuat semua orang yang terlibat agar tak bisa kabur dari jeratan hukum nantinya.
Kepala Keamanan dan kepala Penyelidikan mengerti akan tugasnya dan berencana untuk segera pergi kemudian menjalankan perintah tapi tiba-tiba Kaisar Franz memberikan peringatan yang membuat keduanya tidak berkutik.
"Jangan biarkan siapapun tau tentang kasus ini! Jika seandainya kasus ini bocor sebelum waktunya maka nyawa kalian dan nyawa tiga generasi di Keluarga kalian yang menjadi taruhannya!" ancam Kaisar Franz.
Kepala Keamanan dan Kepala Penyelidikan berdiri mematung mendengar ancaman Kaisar Franz. Mereka sampai menahan nafas dan tak bisa bergerak untuk beberapa saat. Keringat mengalir bercucuran mengingat semua perbuatan yang telah dilakukan Kaisar Franz yang tak pernah main-main dengan ucapannya.
Keduanya akhirnya sadar kembali setelah Kaisar Franz menjentikkan jarinya dan memerintahkan mereka keluar. Kepala Keamanan dan Kepala Penyelidikan pun segera memberi hormat dan bergegas keluar. Ketika mereka telah berada di balik pintu Ruang Kerja Kaisar Franz. Seketika itu juga kedua kaki mereka menjadi lemas dan susah berdiri. Kesatria Penjaga yang melihat segera menolong dan membantu mereka berdiri. Dengan mengerahkan semua kekuatan yang ada, Kepala Keamanan dan Kepala Penyelidikan bergegaa pergi ke Kantor masing-masing dan segera menyelesaikan tugas dari Kaisar Franz sendiri tanpa bantuan bawahan mereka.
Kaisar Franz sengaja memberikan ancaman kepada keduanya karena Kaisar Franz tak ingin rencana yang telah disusunnya dalam beberapa bulan hancur dalam waktu singkat hanya karena kecerobohan bawahannya. Kaisar Franz ingin Bangsawan yang berada pada masa Kepemimpinannya adalah orang-orang yang bersih dan benar-benar setia padanya sehingga tak akan ada yang bisa menggoyahkan Takhta ataupun Keluarganya nanti.
Sementara itu di Kediaman Carrole, Shiena yang baru sampai di kamarnya bergegas menemui Duke Carrole dan Duchess Carrole. Shiena meminta izin Duke Carrole untuk ikut membantu menghancurkan Duke Simona tapi dilarang keras oleh Duke Carrole dan Duchess Carrole. Shiena yang bersikeras ingin ikut membantu tak bisa melawan perkataan Duchess Carrole hingga akhirnya Shiena meminta izin untuk melihat detik-detik kehancuran Keluarga Simons dari dalam Cincin Ruang.
Duke Carrole dan Duchess Carrole tau jika mereka menolak permintaan Shiena maka Shiena bisa saja pergi tanpa izin dan itu akan membuat keduanya menjadi cemas. Akhirnya dengan berat hati, Duke Carrole dan Duchess Carrole pun mengangguk setuju. Shiena yang mendapatkan izin melompat bahagia dan segera memeluk kedua orang tuanya lalu pamit kembali ke kamarnya. Shiena yang sangat kelelahan pun tertidur lebih awal.
Keesokan paginya, Shiena bangun dan bersiap-siap dibantu oleh Marry dan Ana. Marry yang kemarin pergi bersama Baron Fromboo tak bisa menunjukkan perhiasan yanh dibawanya karena melihat Shiena yang sedang tertidur lelap. Marry pun memutuskan menunjukkannya setelah Shiena selesai berdandan.
Shiena yang telah selesai berdandan melihat perhiasan yang dibawa Marry dan memilih dua buah perhiasan dari total tiga yang dibawa. Shiena memutuskan untuk memberikan satu perhiasan sisanya yang paling bagus untuk Duchess Carrole. Shiena pun memerintahkan Marry membawa perhiasan itu ke Duchess Carrole.
Duchess Carrole berencana membuat pelindung dari Sihir Cahaya miliknya dan Shiena agar tak ada seorang pun yang menyadari adanya hawa kehidupan di dalam ruang bawah tanah sehingga jika ada Kesatria musuh yang datang untuk menyerang mereka. Mereka semua akan selamat karena merasa tak menemukan apapun.
Lalu, Duke Carrole yang telah kembali dari Istana tak membuang waktu dan segera memanggil Jenderalnya yaitu Zee untuk mempersiapkan Kesatria untuk maju berperang malam ini dan sisanya untuk tetap berjaga di Kediaman Carrole. Duke Carrole tak merasa cemas akan keselamatan semuanya karena bagi Duke Carrole istrinya pasti telah melakukan sesuatu.
Di tempat lain, Kediaman Laurence yang merupakan satu-satunya Keluarga Marquess yang bersumpah setia pada Kaisar memiliki tanggung jawab untuk melindungi rakyat dari sasaran pemberontak dan semua pelayan serta Nyonya Maria dari Kesatria musuh.
Marquess Laurence tak membuang waktunya lagi dan bergegas pergi ke Menara Sihir menemui Tetua Agung. Marquess Laurence menjelaskan situasi saat ini yang terjadi di Kekaisaran. Tetua Agung yang telah mendukung Kekaisaran tak bisa tinggal diam tapi juga tak bisa terang-terangan memihak Kekaisaran karena menurut Tetua Agung, Menara Sihir adalah Organisasi yang netral.
Namun, Tetua Agung tetap menolong Kekaisaran dengan cara memberikan banyak alat-alat sihir yang sekiranya akan berguna untuk menghalau Pemberontak. Tetua Agung juga memberikan izin kepada Marquess Laurence membawa beberapa Murid Menara Sihir untuk membantu dengan syarat murid-murid itu harus menutupi wajah dan identitas mereka.
Marquess Laurence sangat berterima kasih kepada Tetua Agung karena semua yang dilakukannya sudah lebih dari cukup untuk membantu. Marquess Laurence berencana untuk mengajak ketiga sahabatnya untuk ikut membantu. Marquess Laurence yakin jika mereka pasti akan setuju untuk membantu tanpa ada tawar-menawar.
'Aku akan melindungimu Shiena. Aku tak akan membiarkan dirimu terluka nantinya.' ucap Marquess Laurence dalam hati.
Marquess Laurence pun berpamitan kepada Tetua Agung dan segera menemui sahabatnya. Marquess Laurence yang tak pernah meminta bantuan apapun tiba-tiba meminta bantuan yang membuat ketiganya dengan cepat mengangguk tanda setuju. Akhirnya mereka berempat pun pergi ke Kediaman Laurence dengan teleportasi untuk mempersiapkan segalanya.
Lalu di Kediaman Duke Watson, Tuan Muda Alphonso yang merupakan ahli waris Keluarga Watson harus ikut berperang dan membuktikan bahwa dirinya layak untuk posisi itu. Dengan gagah berani, Tuan Muda Alphonso mempersiapkan pakaian dan kudanya yang akan dipakai untuk berperang nanti dengan satu tekad yang kuat yaitu melindungi Shiena meskipun tak memiliki hati dan juga raganya. Tuan Muda Alphonso sudah cukup senang melihat Shiena bahagia.
Waktu pun berlalu dengan cepat malam pun telah tiba, Istana yang biasanya ramai dengan penjagaan penuh dan banyaknya pelayan yang bergerak kesana kemari menjalankan tugasnya tak terlihat dimana pun karena Kaisar Franz telah memerintahkan semuanya untuk pergi mengungsi di tempat yang telah disediakan.
Meskipun begitu masih ada saja beberapa pelayan yang tetap bertahan di Istana untuk tetap melayani Kaisar Franz meskipun mereka tau jika resiko dan taruhannya adalah nyawa mereka sendiri. Kaisar Franz yang tak bisa melarang pun hanya membiarkan dan mengucapkan terima kasih untuk kesetiaan mereka.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..
🥰😍😘😚 Terima Kasih