The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 236. Memundurkan Rencana


Tak terasa hari telah menjelang sore, Putra Mahkota Franz memutuskan untuk mengantar Shiena kembali ke Kediamannya. Di perjalanan, Putra Mahkota Franz mengajukan keinginan terbesarnya untuk menghadap Duke Carrole dan Duchess Carrole untuk menanyakannya langsung apakah mereka setuju atau tidak.


Putra Mahkota telah menyiapkan hatinya untuk menerima semua jawaban Duke carrole. Putra Mahkota Franz aakan sangat senang jika Duke Carrole menerimanya tapi jika ditolak Putra Mahkota Franz tak akan marah apalagi menyerah karena bagi Putra Mahkota Franz sangat pantas diperjuangkan.


Putra Mahkota Franz dan Shiena pun kembali ke Kediaman Carrole, Shiena turun dari kereta kuda dan berjalan masuk ke Kediamannya. Marry dan Ana telah menunggu kedatangan Shiena dan membantunya mengganti gaun dan bersiap-siap.


Ketika malam tiba, Shiena makan malam bersama Duke Carrole dan Duchess Carrole. setelah makan malam, Shiena meminta waktu Duke Carrole dan Duchess Carrole.


Di balkon Taman, Duke Carrole duduk bersantai bersana Duchess Carrole. Shiena yang baru datang segera duduk ditengah mereka. Duchess Carrole yang melihat Shiena yang telah tumbuh menjadi seorang gadis tak menyangka akan melepasnya menjadi milik orang lain.


"Shiena lihatlah bunga ini. Bagaimana jika ibu memetiknya? Apakah akan tetap mekar indah seterusnya seperti ini?" tanya Duchess Carrole.


"Tentu saja tidak. Bunga itu perlahan akan layu." ucap Shiena.


"Begitu pula dengan perasaan. Jika perasaan tidak ditanami, dirawat dan disiram pasti aka layu." ucap Duchess Carrole.


"Dan begitu pula dengan kecantikan wanita. Jika pria hanya mencintai keindahan dan kecantikan wajah wanita itu seperti bunga yang mekar itu perlahan akan hancur karena kecantikan tidak lah abadi. Kecantikan akan luntur seiring berjalannya waktu tapi jika seorang pria mencintau wanita karena kecantikan hatinya dan terus memupuk perasaan itu maka cinta itu akan awet dan abadi." ucap Duke Carrole.


"Aku mengerti ayah." ucap Shiena.


Shiena sangat mengerti maksud Duke Carrole dan Duchess Carrole. Shiena tau, sama seperti kebanyakan orangtua yang akan selalu khawatir dengan keadaan anak mereka tak terkecuali seorang penguasa sekalipun.


"Apakah cincin itu pemberian dari Yang Mulia?" tanya Duchess Carrole.


"Iya, Bu." ucap Shiena malu.


"Apa kau telah memutuskan untuk bersamanya, Shiena.?" tanya Duke Carrole.


"Ya Ayah." ucap Shiena.


"Berarti kau harus siap menerima jika suatu saat dirinya harus memiliki wanita lain dalam hidupnya." ucap Duke Carrole.


"Hal itu tak akan pernah terjadi ayah." ucap Shiena.


"Apa maksudmu?" tanya Duchess Carrole lembut.


"Yang Mulia Putra Mahkota telah bersumpah kepadaku sebelum aku menerima permintaannya, Ayah Ibu. Yang Mulia bersumpah atas nama Takhta dan Kekaisarannya jika dirinya tak akan menikahi wanita lain." ucap Shiena tegas.


"Putriku, dia adalah Kaisar dimasa depan. Seorang Kaisar pasti akan memiliki wanita lain untuk menjadi istrinya suka atau tidak suka karena akan ada masa dimana Kaisar terpaksa menikah lagi demi keamanan negaranya." ucap Duchess Carrole.


"Aku tetap tak akan menerimanya, bu." ucap Shiena.


"Ibu tau itu tapi kau harus mencoba menerimanya karena yang menjadi pendampingmu adalah orang yang besar." ucap Duchess Carrole.


"...." Shiena diam.


'Aku tak akan pernah menerimanya, apapun alasannya aku tak ingin berbagi ataupun dimadu. Bagiku menikah itu cukup satu kali dan selamanya. Aku tau setia itu sulit dan karena itu lah kesetiaan sangat lah berharga dan penting.' ucap Shiena dalam hati.


Shiena kemudian menceritakan keinginan dari Putra Mahkota Franz yang ingin pergi menemui Duke Carrole dan Duchess Carrole secara langsung untuk meminta restu dan izinnya. Duchess Carrole dan Duek Carrole pun saling berpandangan. Seolah mereka telah sehati dan sejiwa, mereka dapat memutuskan apapun hanya dengan tatapan mata.


"Aturlah waktunya, kita akan bersiap untuk hari itu." ucap Duke Carrole.


"Baiklah ayah." ucap Shiena senang.


"Ibu akan menghias taman dengan sangat cantik dan mempersiapkan segalanya dengan sangat sempurna nantinya." ucap Duchess Carrolle semangat.


"Terima kasih Ibu, Ayah." ucap Shiena.


"Apapun untukmu, putriku. Kami bahagia jika kau bahagia, Shiena." ucap Duke Carrole.


Shiena digendong oleh Duke Carrole dan dibawa ke kamarnya. Shiena tertidur sangat nyenyak seolah telah mengalami hari yang menegangkan beberapa hari ini.


Di dalam tidurnya, Shiena merasa sangat nyaman dan tentram seolah tak akan ada seorang pun yang dapat menyakitinya seperti berada di pelukan Duke Carrole. Shiena juga merasakan kehangatan seperti dekapan seorang ibu.


Keesokan paginya di Kediaman Duke Simons, Anastasya yang melihat kematian kedua orang tuanya dan seluruh pengikutnya menjadi Shock dan trauma mendalam. Anastasya seperti sebuah tempurung yang kosong isinya. Anastasya sangat berduka atas meninggalnya Count Larsca dan Countess Larsca.


Pelayan yang melayani Anastasya melihat Anastasya seperti tak memiliki semangat hidup. Anastasya tak ingin makan ataupun minum, dirinya hanya diam duduk di atas ranjangnya. Tak ada seorang pun yang berani memaksa Anastasya mengingat telah banyak hal buruk yang menimpanya dan wajar saja jika dirinya berubah menjadi seperti itu.


Duke Simons pun datang menemui Anastasya. Duke Simons sangat sedih melihat wanita yang sangat dicintainya menjadi sepeeti itu. Duke Simons ingin sekali mengembalikan semangat hidup Anastasya yang telah hancur. Duke Simons merindukan senyuman cantik dan manja milik Anastasya dan merindukan belaian manja Anastasya padanya.


Duke Simons yang ingin berdua saja dengan Anastasya pun memerintahkan semua pelayan untuk keluar. Duke Simons pun mengambil piring sarapan pagi Anastasya dan berniat menyuapinya


"Tasya, makanlah ini. Kau harus makan jika tidak kau akan sakit." ucap Duke Simons menyuapi.


Anastasya yang tak memiliki selera makan sama sekali merasa mual ketika melihat makanan, perasaan melihat tumpukan mayat dari kedua orang tua dan pengikutnta membuat Anastasya ingin muntah. Duke Simons yang melihat segera menyingkirkan makanan itu.


Duke Simons kemudian berusaha membangkitkan kembali gairah hidup Anastasya karena saat ini Duke Simons tak bisa diam saja melihat Anastasya hancur seperti ini.


"Tasya lihat aku! Apa kau akan tetap seperti ini? Apa kau akan tetap diam dan tak melakukan apapun?" tanya Duke Simons.


"...." Anastasya diam.


"Apa kau tak akan membalaskan dendam kedua orang tuamu dan pengikutmu?" tanya Duke Simons.


"...." Anastasya diam.


"Apa kau akan membiarkan orang yang telah membuatmu seperti ini bahagia? Apa kau akan membiarkan kematian kedua orang tuamu dan pengikutmu tanpa pembalasan?" tanya Duke Simons.


"...." Anastasya mengangkat wajahnya.


"Kau tak boleh berdiam diri. Kau harus bangkit dan kau harus semangat kembali bukan untuk orang lain tapi untuk membalaskan dendam Count Larsca dan Countess Larsca dan demi kebangkitan kembali Keluarga Larsca. Kau satu-satunya harapan mereka." ucap Duke Simons.


"Aku harapan mereka." ucap Anastasya.


"Benar! Kau adalah keturunan Keluarga Larsca yang terakhir. Apa kau akan membiarkan nama Keluarga Larsca benar-benar lenyap?" tanya Duke Simons.


"Tidak!" ucap Anastasya.


Duke Simons terus-terusan menyemangati dan mengingatkan Anastasya tentang kematian dan kehancuran Keluarganya agar Anastasya kembali ceria dan memiliki semangat hidup kembali.


Perlahan tapi pasti, Anastasya mulai ingin makan meski sedikit karena masih merasa mual mengingat tumpakan mayat di depannya. Duke Simons yang melihat kemajuan itu menjadi sangat senang.


Anastasya pun bertekad untuk membalaskan dendam keluarganya. Anastasya bertekad akan menghancurkan Shiena dan Keluarga Carrole. Anastasya juga ingin Putra Mahkota Franz mati ditangannya sendiri karena jika bukan karena bantuan Putra Mahkota Franz rencananya pasti akan berhasil.


Anastasya sekarang bertekad akan melakukan kudeta dan memenangkan pertempuran itu lalu menghukum semua orang yang telah menyakiti dirinya dan Keluarganya.


Duke Simons pun memanggil kembali pelayan yang telah diusirnya keluar untuk membantu Anastasya mandi dan bersiap-siap. Duke Simons pun kembali ke ruang kerjanya. Di dalam ruang kerjanya, Duke Simons memanggil Kepala Pelayan Rumah Tangga untuk menyampaikan surat ke Kekerajaan Zambrud bahwa rencan keberangkatannya di tunda selama satu hari karena suatu alasan.


Duke Simons memutuskan untuk membuat Anastasya kembali sehat dahulu baru menyusun rencana pergi ke Kerajaan Zambrud.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..


🥰😍😘😚 Terima Kasih