The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 188. Niat Baru


Kepala Penyelidik yang telah memberikan waktu kepada Mantan Putra Mahkota Brian untuk berfikir ulang mencoba datang kembali ke Penjara tempat Mantan Putra Mahkota Brian di tahan. Kepala Penyelidik berharap Mantan Putra Mahkota Brian akan bersikap kooperatif dan membeberkan kenyataan siapa saja yang terlibat dalam rencana meracuni Kaisar.


Namun, semuanya salah sampai akhir dari sesi interogasi dan penyelidikan Mantan Putra Mahkota Brian tetap bungkam dan malah bersikap tenang bahkan lebih tenang dari biasanya yang membuat Kepala Penyelidik menjadi geram.


Kepala Penyelidik yang kesal pun keluar dari Ruang Interogasi dan juga kembali ke Istana karena tak ingin berlama-lama di dalam penjara.


Kepala Penyelidik datang menghadap Kaisar dan Putra Mahkota Franz dan melaporkan semua yang didapatnya meski tak menemukan apapun.


Kaisar yang mendengar penjelasan Kepala Penyelidik hanya menghela nafas karena saat yang telah seharusnya dilakukan memang harus segera dilakukan.


Kaisar memanggil Penasehat Kekaisaran untuk segera membangung Panggung Penghukuman untuk segera melaksanakan hukuman untuk para Penjahat.


Kaisar yang telah membuat keputusan akan menghukum darah dagingnya sendiri semakin hari semakin ragu karena perasaan seorang ayah yang selama ini tak bisa ditunjukkan malah muncul dan membuat dilema.


Putra Mahkota Franz yang melihatnya hanya diam saja dan tak menanggapi apapun karena meskipun sekarang Kaisar dan Putra Mahkota Franz tinggal bersama di dalam Istana. Putra Mahkota Franz tak pernah menunjukkan ekspresi atau sikap seorang anak yang senang setelah lama tidak bertemu ayah kandungnya.


Putra Mahkota Franz hanya bersikap biasa seolah tak pernah mengalami apapun padahal mereka telah lama tak bertemu.


Kaisar yang telah memberikan perintah pun segera dilaksanakan oleh Penasehat Kekaisaran dan berita tentang hari Hukuman pun terdengar sampai ke seluruh Kekaisaran bahkan Keluarga Carrole, Keluarga Watson, Keluarga Laurence, Keluarga Simons dan Anastasya pun mendapatkan kabar itu.


Anastasya yang awalnya bingung karena Mantan Putra Mahkota Brian akan di hukum penggal sekarang sudah mulai ceria kembali karena janji dari Duke simons.


Countess Larsca yang juga mendengar berita itu menjadi khawatir jika keinginannya tidak terwujud jika Duke Simons juga tidak berhasil mengambil Takhta Kekaisaran.


Countess Larsca pun mengajak Anastasya untuk duduk bersama di taman sambil menikmati teh camomile dan cemilan manis. Countess Larsca ingin membicarakan tentang rencana masa depan.


"Bagaimana kandunganmu, tasya?" tanya Countess Larsca.


"Ibu tidak usah khawatir, cucu ibu baik-baik saja." ucap Anastasya santai.


"Ibu tau. Ibu bisa melihatnya. Bagaimana rencanamu nantinya setelah Mantan Putra Mahkota Brian dihukum penggal oleh Kaisar?" tanya Countess Larsca.


"Untuk sementara aku hanya akan percaya dengan janji Duke Simons padaku, bu?" ucap Anastasya pura-pura percaya.


"Apa kau yakin Duke Simons akan berhasil?" tanya Countess Larsca.


"Aku tak tau karena aku sampai saat ini belum tau apa yang akan dilakukan Duke Simons agar bisa mendapatkan Takhta Kekaisaran." ucap Anastasya.


"Itu lah yang ibu khawatirkan. Sejujurnya, ibu tidak yakin jika Duke Simons berhasil karena Mantan Putra Mahkota Brian saja gagal untuk menjadi Kaisar padahal dulu dirinya adalah Calon Kaisar di masa depan." ucap Countess Larsca.


"Mantan Putra Mahkota Brian itu bodoh karena itu lah dia gagal. Aku yakin Duke Simons pasti berhasil, bu." ucap Anastasya.


Countess Larsca yang telah berkali-kali diyakinkan oleh Anastasya masih tidak bisa percaya. Countess Larsca pun diam memikirkan cara lain agar Anastasya bisa berhasil menjadi Permaisuri karena Countess Larsca tidak bisa menyerah begitu saja dengan ambisinya untuk menjadi Ibu dari Permaisuri dan Nenek dari Calon Kaisar di masa depan.


"Anastasya, kau tak bisa hanya duduk diam dan menunggu. Kau harus punya rencana lain agar bisa mewujudkan impianmu." ucap Countess Larsca sambil tersenyum penuh arti.


"Apa maksud ibu? Aku tidak mengerti." tanya Anastasya bingung.


Ketika Countess Larsca ingin mengucapkan rencananya. Countess Larsca memberikan kode kepada Anastasya untuk mengusir pelayannya. Anastasya yang mengerti kode dari Countess Larsca pun langsung memerintahkan semua pelayan pergi dari taman tersebut.


Setelah semua pelayan pergi, Countess Larsca baru bisa membicarakan rencananya dengan leluasa. Countess Larsca tak pernah percaya pada siapapun yang ada di Rumah Anastasya karena semua Pelayan itu dipilih langsung oleh Duke Simons.


"Ibu ingin kau mendekati Yang Mulia Putra Mahkota Franz." ucap Countess Larsca.


"Putra Mahkota Franz?" ucap Anastasya bingung.


"Benar, Putra Mahkota Franz adalah Calon Kaisar. Jika kau bisa mendapatkan hatinya, sudah pasti kau akan menjadi Permaisuri nantinya." ucap Countess Larsca.


"Bagaimana dengan Duke Simons, bu?" tanya Anastasya.


"Jangan khawatir, kau akan tetap bersama Duke Simons sampai kau berhasip mendapatkan Putra Mahkota Franz. Jika berhasil mendapatkan Putra Mahkota Franz, kau tinggal tingalkan saja Duke Simons itu." ucap Countess Larsca.


"Bagaimana dengan anak yang aku kandung, bu?" tanya Anastasya.


"Kau tinggal gugurkan saja. Kau pasti akan mendapatkan anak lagi nantinya dari Putra Mahkota Franz. Apa kau sudah tak ingin menjadi Permaisuri?" tanya Countess Larsca.


"Tentu saja aku mau. Baiklah, aku akan coba mendekati Putra Mahkota Franz tapi aku harus mempunyai kesempatan untuk itu." ucap Anastasya.


"Jangan khawatir, ibu sudah menyuruh orang untuk mencari tau kegiatan Putra Mahkota Franz. Percayakan semuanya pada ibu." ucap Countess Larsca.


"Baiklah, ibu. Aku mengerti." ucap Anastasya.


Lalu, Anastasya pun berbincang dan membicarakan tren perhiasan terbaru dan meminta pelayan untuk menyiapka kereta kuda karena Anastasya dan Countess Larsca akan berbelanja.


Tak hanya Anastasya, Shiena juga sangat senang karena akhirnya satu orang yang telah membuat keluarga dan dirinya sengsara di masa lalu akan segera meninggal.


Shiena sangat senang karena saat ini bukan dirinya dan keluarganya yang siap di gantung dan dihukum di depan semua Bangsawan dan Rakyat jelata.


Shiena yang sangat senang pun tanpa sadar telah memanggil perancang busana ke Kediaman carrole khusus untuk membuat gaun yang akan dipakai ketika Acara Pemenggalan Kepala Mantan Putra Mahkota.


Ternyata tak butuh waktu lama juga bagi Baron Fromboo untuk mengirimkan desain perhiasan terbaik serta Perhiasan yang telah jadi.


Mata Marry dan Ana yang melihat perhiasan-perhiasan itu menjadi sangat berkilau meskipun mereka telah berusaha menutupinya.


Shiena bisa membaca fikiran siapapun dan kapanpun dirinya mau menjadikan Shiena terbiasa dengan kebohongan dan bisa dengan refleks bersikap kepada orang yang jujur dan bohong di depannya.


Shiena yang telah memilih dua perhiasan yang di sukainya pun juga telah memilih satu yang cocok untuk Duchess Carrole lalu Shiena memberikan sisanya kepada Marry dan Ana.


Marry dan Ana awalnya malu dan takut tapi setelah Shiena menyodorkannya mereka pun dengan cepat mengambilnya karena takut Shiena akan berubah fikiran karena harga dari satu perhiasan itu bisa mencapai satu gaji mereka sebagai pelayan Keluarga Duke Carrole.


Semua Pelayan Keluarga Duke mulai iri dengan sikap dan tindakan Shiena kepada Marry dan Ana tapi Shiena tak mau ambil pusing karena bagi dirinya tak perlu bersikap baik kepada semuanya terlebih kepada Penjilat.


Shiena yang tau betul siapa saja yang jujur dan tidak, bisa mengubah ekspresinya menjadi sangat cuek dengan tatapan dingin kepada pelayan yang berusaha menjilatnya.


#Bersambung#


Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁


Baca Juga Novel Terbaru Author "Terpaksa Menikah Karena Wasiat" Terima Kasih 🥰😍❤😘