The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAb 210. Pengakuan


Duke Simons yang tau jika Count Larsca telah datang segera pergi ke Ruma Anastasya dengan membawakan beberapa hadiah yang mungkin disukai oleh Count Larsca. Tak butuh waktu lama, Duke Simons pun sampai di Rumah Anastasya. Kedatangan Duke Simons membuat reuni antara Anastasya dan Count Larsca tertunda.


Count Larsca, Countess Larsca dan Anastasya pun turun menyambut kedatangan Duke Simons. Shiena yang senang memberikan senyuman terbaiknya yang membuat Duke Simons tak bisa menahan dirinya untuk terus menatap Anastasya dan Count Larsca yang menyadari situasi canggung itu pun hanya batuk pelan menunjukkan bahwa dirinya ada disana. Duke Simons pun akhirnya sadar dan Countess Larsca pun mengajak Duke Simons untuk makan siang bersama. Duke Simons yang senang karena merasa seperti memiliki Keluarga yang lengkap menerima tawaran Countess Larsca dengan senang hati.


Pelayan yang mendapatkan perintah dari Countess Larsca segera melakukan tugas mereka dengan cekatan dan cepat. Tak terasa semua makanan telah terhidang di meja makan, makanan itu terbuat dari bahan-bahan yang terpilih dengan kualitas yang terbaik sehingga terlihat tampak lezat dan mewah. Mereka pun makan bersama sambil membicarakan masalah pertunangan Anastasya dan Duke Simons yang akan dilaksanakan segera.


Setelah makan, Duke Simons segera menjetikkan jarinya yang memberikan tanda kepada Kepala Rumah Tangga Kediaman Duke Simons membawakan beberapa hadiah untuk Count Larsca, Countess Larsca dan Anastasa. Count Larsca yang membuka hadiahnya melihat beberapa stel Coat yang mahal dengan bahan yang lembut dan mewah menjadi sangat senang, tak hanya itu Countess Larsca yang menerima sepasang anting mewah dengan berlian yang sangat besar sebagai bandulannya tak bisa menahan perasaan senangnya hingga memanggil pelayan untuk membantunya memakai anting itu.


"Ini sangat indah. Suamiku coba lihat apakah anting ini sangat cocok untukku?" tanya Countess Larsca.


"Kau sangat canti istriku. Anting itu tentu saja sangat cocok untukmu." ucap Count Larsca.


"Tentu saja Ibu mertua, anting itu saya pesan khusus untukmu. Saya harap anda menyukainya." ucap Duke Simons.


"Anda sangat baik dan perhatian sekali. Kau memang menantu idamanku." puji Countess Larsca.


Anastasya yang penasaran dengan hadiahnya segera membuka hadiahnya, Countess Larsca yang mengintip hadiah Anastasya tak bisa mengatakan apapun karena hadiah itu sangatlah berharga.


"Bukankah itu adalah Satu Perhiasan yang terbuat dari Berlian dan batu Ruby yang sangat langka." ucap Countess Larsca menutup mulutnya.


"Benar Ibu mertua. Saya berhasil mendapatkannya dari Toko Lelang yang baru saja mengadakan lelang kemarin dan perhiasan itu hanya ada satu di Kekaisaran ini." ucap Duke Simons bangga.


"Benarkah itu Val?" tanya Anastasya senang.


"Tentu saja." ucap Duke Simons.


Setelah itu, Duke Simons dan Count Larsca pun keluar ruang makan menuju ruang pribadi meninggalkan Anastasya dan Count Larsca yang sedang mengamati hadiah yang diberikan oleh Duke Simons pada mereka.


Duke Simons yang belum mendapatkan dukungan dari Keluarga Count Larsca mencoba membujuknya meskipun Duke Simons tau jika Count Larsca pasti akan setuju senang ataupun tidak tapi karena Count Larsca akan menjadi ayah mertuanya, Duke Simons memutuskan tak ingin membuat Count Larsca tertekan.


"Tuan Count, saya ingin bertanya. Apa anda sudah mendengar kabar Kaisar yang telah wafat?" tanya Duke Simons.


"Apa? Kaisar telah wafat?" tanya Count Larsca kaget.


"Benar Tuan Count." ucap Duke Simons.


"....." Count Larsca terdiam.


"Saya berencana ingin melakukan kudeta sebelum pengangkatan Putra Mahkota Franz menjadi Kaisar." ucap Duke Simons.


"Apa itu akan berhasil Tuan? Bahkan Mantan Putra Mahkota Brian dipenggal karena gagal menjadi Kaisar, Tuan Duke." ucap Count Larsca pesimis.


"Jangan terlalu pesimis, Tuan. Kali ini kita pasti akan berhasil. Saya telah mendapatkan dukungan dari beberapa Bangsawan yang tidak menyukai Pangeran yang hilang menjadi Kaisar karena banyak Bangsawan yang meragukan kebenaran tentang identitas Pangeran itu." ucap Duke Simons.


Count Larsca tak bisa mendukung Duke Simons dengan mudah meskipun dirinya tau tak bisa menolak jika Duke Simons meminta bantuan karena Putrinya, Anastasya akan segera menjadi Duchess Simons jadi jika Count Larsca menolak maka Anastasya akan dalam masalah.


Duke Simons yang sudah menduga semuanya pun meyakinkan Count Larsca dengan semua rencananya yang dapat dipastikan akan berhasil. Akhirnya Count Larsca setuju membantu tanpa merasa terpaksa sama sekali.


Sementara itu, Di kediaman Duke Carrole, Shiena yang baru saja sampai di Kediamannya mengikuti Duke Carrole dan Duchess Carrole ke ruang kerja Duke. Disana Duke Carrole meminta Shiena membuka Cincin Ruang dan membicarakan masalah ini disana. Shiena yang mengerti maksud Duke Carrole lun mengangguk.


Di dalam Cincin Ruang, Duke Carrole dan Duchess Carrole telah mengambil tempat duduk di depan Shiena sambil menunggu penjelasan. Shiena yang tak punya pilihan lain pun akhirnya menjelaskan.


"Maafkan aku Ayah Ibu tak berani menceritakan semuanya terlebih dahulu. Sebenarnya aku berbicara dengan Yang Mulia Putra Mahkota Franz karena merasa bersalah dan mencoba menghiburnya." ucap Shiena jujur.


"Sebenarnya aku lah penyebab Kaisar menjadi meninggal." ucap Shiena takut.


"Maksudmu apa Shiena? Ayah sunggu tidak mengerti." ucap Duke Carrole.


"Sebenarnya Kaisar memintaku untuk menyembuhkan penyakitnya dan aku menolak. Aku tak ingin menyembuhkan orang jahat, Bu. Bagiku orang jahat tak pantas mendapatkan kesempatan kedua." ucap Shiena kesal.


"Apa kau masih dendam pada Kaisar?" tanya Duchess Carrole.


Shiena yang tak tau harus mengatakan apa hanya bisa mengangguk. Duchess Carrole yang mengerti perasaan Shiena langsung beranjak dari tempat duduknya lalu memeluk Shiena. Sementara Duke Carrole hanya memijat keningnya yang sudah mulai terasa pusing.


"Apa ada yang tau akan hal ini?" tanya Duke Carrole.


"Ti-tidak ayah. Aku datang menemui Kaisar diam-diam dan menggunakan pakaian Gadis Suci." ucap Shiena menjelaskan.


"Hah, kenapa kau sangat tak menyukai Kaisar?" tanya Duke Carrole.


"Dia bukanlah Kaisar yang baik ayah. Dia bahkan rela mengorbankan bawahannya yang setia demi kepentingan pribadinya." ucap Shiena tegas.


"Bagaimana dengan Putra Mahkota Franz? Apakah dia tidak akan menjadi Kaisar seperti ayahnya setelah diangkat menjadi Kaisar baru nantinya?" tanya Duke Carrole.


"....." Shiena diam.


Shiena yang masih belum yakin tak mengatakan apapun. Shiena hanya diam menatap Duke Carrole. Duke Carrole yang mengerti hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa kau telah jatuh cinta padanya?" tanya Duke Carrole.


"...." Shiena mengangguk.


Duke Carrole pun terlihat semakin gusar setelah mendapatkan mengkonfirmasi masalah ini langsung pada Shiena. Shiena yang dapat membaca fikiran Duke Carrole dan Duchess Carrole tak bisa melakukan apapun karena perasaan tak bisa diatur.


"Apapun keputusanmu ayah akan selalu mendukungmu." ucap Duke Carrole menghela nafas.


"Begitu pula dengan ibu." ucap Duchess Carrole tersenyum lembut.


"Tapi jika dia mengkhianati cintamu atau menyakitimu meskipun dia seorang Kaisar sekalipun, ayah tak akan pernah takut." ucap Duke Carrole.


Shiena yang mendengar perkataan Duke Carrole tak bisa menahan perasaan bahagianya. Shiena pun berlari ke pelukan Duke Carrole dan Duchess Carrole pun ikut memeluk mereka.


'Kau adalah permata hatiku. Meskipun kau telah menjadi dewasa, bagiku kau tetaplah putri kecil kesayanganku." ucap Duke Carrole dalam hati.


'Kau adalah anakku. Anak yang aku kandung selama 9 bulan dan anak yang aku lahirkan dengan penuh perjuangan. Ibu akan selalu bersamamu dan akan selalu melindungimu putriku.' ucap Duchess Carrole dalam hati.


Shiena yang telah mengakui perasaannya menjadi lebih lega dan bisa mengekspresikan perasaannya. Shiena pun memutuskan untuk menerima Putra Mahkota Franz jika dirinya memang layak untuk itu.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..


🥰😍😘😚 Terima Kasih