The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 154. Countess Athaya Furma Larsca


Setelah kedatangan Duke Samons, Anastasya yang merasa sangat lelah pun istirahat dan keesokan paginya, Anastasya dibangunkan oleh Marry bahwa Duke Samons memerintahkan Kepala Pelayan Keadiaman Utama Di Keluarga Duke Simons akan mengantar dan menemani Anastasya melihat-lihat rumah yang akan dibeli.


Anastasya merasa sangat senang dan meminta Amy untuk bergegas mendandaninya. Anastasya sudah sangat tidak sabar untuk memilih rumah barunya.


Satu jam kemudian, Anastasya turun dan sarapan lalu berangkat. Anastasya pergi ke tiga rumah yang akan dibeli. Setiap rumah sangat luas dan memiliki taman yang indah. Anastasya di layani sangat baik layaknya seorang Nyonya besar.


Setelah beberapa jam kesana-kemari akhirnya Anastasya memilih rumah yang paling luas, besar mewah dan dengan harga yang sangat mahal. Anastasya fikir bahwa rumah itu akan menjadi miliknya jadi Anastasya harus memilih yang paling bagus dan mahal.


Anastasya tak tau bahwa rumah itu tidak akan menjadi miliknya karena statusnya yang hanya menumpang karena Duke Simons telah mulai curiga terhadap Anastasya tapi Duke Simons tidak mengatakan apapun karena belum ada buktinya.


Setelah selesai memilih rumah, Anastasya kembali ke Vilanya untuk beristirahat lalu Kepala Pelayan memberikan sebuah surat yang tertulis kepemilikian dan pembelian Rumah. Anastasya yang berasal dari wilayah kecil dari Kekaisaran Pearl tidak terlalu memahami hal itu begitu pula dengan Amy sehingga Anastasya hanya tanda tangan saja.


Anastasya yakin bahwa Duke Simons tidak akan menipunya atau menghianatinya karena Duke Simons sangat mencintainya. Anastasya yang biasanya akan marah-marah jika ada pelayan yang melakukan kesalahan kecil kali ini memaafkannya karena perasaan senang akan memiliki rumah besar dan mewah.


Anastasya pun duduk bersantai di balkon Vilanya menikmati teh dan cemilan manis. Tak lama kemudian ada pelayan datang dan mengatakan bahwa ada surat yang datang dari Kekaisaran.


Anastasya yang penasaran pun langsung membukanya ternyata surat itu berasal dari Putra Mahkota yang sangat sibuk sehingga tak punya waktu untuk bertemu dengan Anastasya.


Anastasya tidak terlalu memperdulikan Putra Mahkota yang sedang sibuk. Anastasya hanya ingin tau kapan rencana pembunuhan Kaisar akan terjadi dan Putra Mahkota menjadi Kaisar karena Anastasya yakin bahwa dirinya akan segera menjadi Permaisuri jika hal itu terjadi dalam waktu dekat.


Pelayan itu tidak langsung pergi, Anastasya yang merasa aneh pun bertanya keperluannya lagi dan ternyata Anastasya mendapatkan surat lain yang tak lain adalah dari kediamannya.


"Apa? Ibu akan kemari?" ucap Anastasya terkejut sekaligus senang.


"....." Amy diam.


"Amy segera siapkan kamar dan semua keperluan ibuku karena dia akan segera kemari. Lalu, perintahkan kepada semua pelayan membersihkan Vila ini dengan sangat bersih. Ah, satu lagi minta koki untuk membuatkan makan terlezat dengan bahan berkualitas terbaik." ucap Anastasya.


"Baik, Nona." ucap Amy yang langsung keluar melakukan perintah Anastasya.


Anastasya sangat senang karena ibunya akan datang sehingga meminta Amy yang telah menyampaikan perintahnya membawakan pena dan kertas karena ingin mengirimkan surat kepada Duke Simons bahwa Ibu Anastasya akan datang.


Malam harinya, Anastasya yang sedang duduk bersantai mendapatkan kabar bahwa ada kereta kuda yang meminta masuk. Anastasya yang berfikir bahwa ibunya telah datang maka langsung memerintahkan penjaga dan pelayan membuka pintu.


Anastasya yang merasa sangat senang langsung turun dari kamarnya dan ternyata dugaan Anastasya benar. Ibunya telah datang, Countess Athaya Furma Larsca.


"Ibu." teriak Anastasya sambil berlari memeluk Nyonya Athaya.


"Putriku yang cantik. Bagaimana kabarmu?" tanya Countess Larsca.


"Aku baik-baik Ibu. Ibu pasti lelah ayo istirahat dulu. Ibu mau langsung ke kamar untuk istirahat atau makan malam?" tanya Anastasya semangat.


"Ibu ingin makan malam dulu baru mandi dan istirahat. Ibu sangat lapar." ucap Countess Larsca.


"Kalian dengarkan. Siapkan semuanya dengan cepat!" perintah Anastasya.


Semua pelayan bergerak dengan cepat dan rapi jadu saat Anastasya dan Countess Larsca sampai di ruang makan. Makanan telah tersedia. Countess Larsca dan Anastasya makan dengan santai dan anggun tanpa berbicara dan setelah selesai Countess Larsca membuka obrolan terlebih dahulu.


"Ibu sangat mencemaskanmu! Ibu langsung kemari setelah mendapatkan surat dari bibimu bahwa kauntelah keluarga dari Kediaman Keluarga Count Roxable. Ibu ingin kau menceritakan semuanya secara rinci, Tasya." pinta Countess Larsca.


"Ibu jangan khawatir. Aku akan menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi sedikit pun lagipula ibu ada disini. Aku dapat menceritakan semuanya kapan pun." ucap Shiena.


"Baiklah. Ibu ingi istirahat. Kita bicarakan itu besok pagi. " ucap Countess Larsca.


"Baiklah." ucap Countess Larsca.


"Mari, Nyonya. Silahkan ikuti saya." ucap Amy sopan.


Amy pun pergi mengantar Countess Larsca ke kamarnya dan memerintahkan pelayan untuk menyiapkan air untuk mandian Countess Larsca. Sementara Anastasya yang telah merasa sangat lelah beberapa hari ini kembali ke kamarnya.


Anastasya merasa sangat aneh dengan tubuhnya. Anastasya tak pernah merasa sangat lelah dan sangat mudah merasa capek. Anastasya juga merasa sangat mual dan enek ketika pagi hari tapi Anastasya tak pernah mengatakan keluhannya pada siapapun termasuk kepada Amy.


Karena saat ini, Countess Larsca ada di sini. Anastasya merasa sangat lega karena dia bisa menceritakan masalahnya. Anastasya memang mempercayai Amy tapi Anastasya tak pernah ingin memberitaukan masalah atau kekurangannya pada Amy atau siapapun kecuali kepada Countess Larsca.


Awalnya Anastasya ingin meminta Countess Larsca datang tapi karena Sang Countess telah datang lebih dulu Anastasya berfikir bahwa Tuhan sangat sayang padanya dan selalu berpihak padanya.


Anastasya pun sampai di kamarnya dan tertidur dengan lelah dan keesokan paginya setelah sarapan pagi bersama Countess Larsca. Anastasya duduk bersantai di Taman Kaca bersama Countess Larsca.


Anastasya menyuruh semua pelayan untuk pergi dari Taman Kaca itu setelah menyiapkan teh serta dessert manis dan enak. Meskipun saat ini cuaca sedang dingin tapi Taman Kaca itu sangat hangat karena terpasang alat sihir untuk menghangatkan ruangan secara otomatis sesuai dengan suhu di luar.


Countess Larsca yang tak bisa bersabar menunggu Anastasya menjelaskan terlebih dahulu akhirnya bertanya lebih dulu.


"Katakan pada Ibu, Apa yang sebenarnya terjadi pada kediaman Bibimu itu?" tanya Countess Larsca.


"Tak ada yang terjadi. Aku hanya tak mau tinggal disana lebih lama lagi." ucap Anastasya sambil menyerumput tehnya.


"Ibu sangat hafal sifatmu jadi jangan berbohong. Cepat katakan pada Ibu." ucap Countess Larsca.


"Hmmm, baiklah. Bibi memang baik tapi sangat bodoh karena tak dapat mengendalikan suami dan juaha anaknya." ucap Anastasya.


"Maksudnya?" tanya Countess Larsca bingung.


"Paman dan kedua anaknya tidak menyukai kedatanganku. Mereka menganggapku sebagai parasit dan mereka meletakkanku dan Amy di kamar yang kecil dan juga jelek. Sementara, Bibi hanya diam saja dan tidak mengatakan apapun." ucap Anastasya kesal.


"Bagaimana bisa seperti itu? Bukankah Bibimu berjanji akan menjagamu?" ucap Countess Larsca.


"Janji tinggallah janji, Bu. Lalu, saat aku katakan bahwa aku adalah wanitanya Putra Mahkota mereka tak ada yang percaya dan malah menghinaku." ucap Anastasya.


"Menghina? Apa yang mereka katakan?" tanya Countess Larsca marah.


"Mereka bilang, gadis yang berasal dari desa kecil mana mungkin menjadi wanita Putra Mahkota apalagi menjadi Permaisuri." ucap Anastasya.


"Lalu, apa kau menunjukkan bukti untuk menyumpal mulut mereka?" tanya Countess Larsca.


"Tentu saja. Setelah beberapa minggu Putra Mahkota datang ke Kediaman Paman dan Bibi saat mengantarku pulang. Saat itu lah sikap mereka berubah, tapi aku sudah muak jadi aku mengabaikan mereka. Aku takut ayah dan ibu akan menjadi marah padaku karena ini." ucap Anastasya.


"Kenapa ibu dan ayah harua marah? Amy sudah mengirim surat sebelumnya dan menjelaskan semuanya. Justru kami sangat bangga padamu karena bisa mendapatkan Putra Mahkota dan Tuan Duke Simons." ucap Countess Larsca.


"Terima kasih ibu." ucap Anastasya.


#Bersambung#


Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁


Terima kasih.. 🥰😍❤😘