The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 281. Kesedihan Duke Laurence


Keesokan harinya sehari sebelum Hukuman Eksekusi dilaksanakan, Kaisar Franz yang mulai bekerja memanggil Tuan Eit dan Kepala Penyelidik untuk datang menemuinya. Tak butuh waktu lama, mereka pun telah berada di Ruang Kerja Kaisar Franz.


"Hamba menghadap Yang Mulia Kaisar. Semoga Yang Mulia panjang umur." ucap Kepala Penyelidik.


Shiena yang telah memiliki janji sebelumnya dengan Kaisar Franz pun datang ke Istana. Kepala Pelayan yang mengetahui kedatangan Shiena segera membawanya ke Ruang Kerja Kaisar Franz yang ternyata telah ada Tuan Eit dan Kepala Penyelidik Kekaisaran.


"Akhirnya kau datang juga." ucap Kaisar Franz.


"...." Tuan Eit dan Kepala Penyelidik menoleh.


"Salam Yang Mulia. Semoga anda selalu bahagia dan rakyat makmur." ucap Shiena.


"Selamat datang Lady." ucap Kepala Penyelidik dan Tuan Eit.


"...." Shirna tersenyum.


Kaisar Franz yang telah memanggil ketiganya mulai menjelaskan alasan sebenarnya dia melakukan ini.


"Aku akan menyerahkan semua keputusan kepada Lady Shiena tentang hukuman apa yang akan diterima oleh para Pemberontak." ucap Kaisar Franz.


"Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia tapi anda tidak bisa melakukan itu." ucap Kepala Penyelidik.


"Kenapa? Apa karena aku wanita?" tanya Shiena.


"Ti-tidak! Bukan begitu, Nona." ucap Kepala Penyelidik gelagapan.


"Lalu apa?" tanya Shiena pura-pura tidak tau.


"Maafkan saya Nona. Untuk memutuskan hukuman pada seorang penjahat. Itu semua adalah keputusan dari Yang Mulia Kaisar atau Hakim jika sedang menjalankan sidang. Jadi Nona tidak bisa memberikan hukuman apapun kepada Para Pemberontak itum" ucap Tuan Eit sopan.


"Kecuali jika Nona memiliki sebuah Lencana Kekaisaran yang dapat mengendalikan hukum di Kekaisaran ini." ucap Kepala Penyelidik.


"Begitukah?" tanya Shiena polos.


Ketika Tuan Eit dan Kepala Penyelidik mengangguk setuju, Shiena tiba-tiba mengeluarkan Lencana Penyelidikan dan Hukum yang dimilikinya.


"Bu-bukankah itu?" tanya Tuan Eit terkejut.


"Itu adalah Lencana Penyelidik dan Hukum. Siapapun yang memilkinya pasti dapat mengendalikan hukum dan dapat memberikan hukuman kepada siapapun yang dikehendaki." ucap Kepala Penyelidik.


"Benar sekali. Lencana Penyelidik dan Hukum yang dimiliki oleh Keluarga Carrole adalah asli dan Lencana itu diberikan langsung oleh Kaisar terdahulu." ucap Kaisar Franz.


Tuan Eit dan Kepala Penyelidik yang mengerti akhirnya diam dan membiarkan Shiena memutuskan hukuman yang akan diberikan kepada semua Pemberontak. Shiena pun menjelaskan semuanya pada semua yang ada dan mereka semua mengerti lalu setuju dengan apa yang dikatakan Shiena.


Lalu, Tuan Eit dan Kepala Penyelidik keluar dari Ruang Kerja Kaisar Franz dan kembali ke pekerjaan mereka. Shiena yang tak memiliki rencana apapun berencana untuk kembali ke Kediaman Carrole tapi Kaisar Franz mencegahnya. Kaisar Franz mengajak Shiena untuk makan siang bersama. Shiena pun mengangguk setuju.


Shiena dan Kaisar Franz pun pergi menggunakan kereta kuda yang biasa sesuai keinginan Shiena karena Shiena tidak ingin terlihat mencolok. Mereka makan di suatu Restoran yang terkenal. Kaisar Franz mengajak Shiena naik ke lantai dua dan ternyata Kaisar Franz telah menyewa satu lantai dari Restoran itu.


Kaisar Franz yang sangat senang melihat Shiena akan menjadi Permaisurinya sebentar lagi bertanya tentang konsep pernikahan yang menjadi keinginan Shiena. Shiena yanh ditanya hal itu menjadi bingung karena tak pernah memikirkan tentang pernikahan mereka dengan serius setelah Pengumuman Pertunangan mereka.


"Apakah kau punya konsep tersendiri untuk pernikahan kita nanti?" tanya Kaisar Franz.


"Bukankah seorang Kaisar yang menikah harus mengikuti aturan Kekaisaran?" tanya Shiena bingung.


"Tentu saja. Tapi jika kau menginginkannya aku bisa mengubahnya menjadi sesuai keinginanmu." ucap Kaisar Franz.


"Aku takut itu bukanlah hal yang bagus Franz." ucap Shiena khawatir.


"Aku adalah Kaisar, tidak akan ada yang berani membantahku untuk mewujudkan pernikahan yang calon istriku inginkan." ucap Kaisar Franz.


"Aku tau dan karena itu juga aku takut. Kau adalah seorang Kaisar, Franz. Kau tidak bisa menggunakan kekuasaanmu untuk hal seperti ini." ucap Shiena.


"Aku tidak terlalu berharap mengikuti semuanya. Aku ingin mengikuti aturan Kekaisaran tapi mungkin bisa disederhanakan lagi. Daripada itu, aku lebih ingin konsep saat kau melamarku di hadapan semua orang bukan hanya kita berdua saja. Aku ingin semua orang imut bahagia untuk pernikahan kita nanti." ucap shiena.


"Begitu rupanya. Baiklah. Aku mengerti." ucap Kaisar Franz.


Kaisar Franz dan Shiena kemudian memakan makanan mereka sambil tenggelam dengan fikiran masing-masing. Lalu, mereka berpisah setelah makan sianh. Kaisar Franz mengantar Shiena kembali ke Kediaman Carrole dan Kaisar Franz kembali ke Istana lalu melanjutkan pekerjaannya.


Shiena yang baru sampai di Kediaman Carrole mengingat jika dirinya perlu bertemu dengan Duke Laurence hingga meminta Marry dan Ana untuk menyiapkan kereta kuda lagi dan membenarkan Gaunnya.


Marry dan Ana melaksanakan tugas dari Shiena dengan cepat. Namun ketika Marry dan Ana akan ikut bersama Shiena, Shiena menolaknya. Shiena ingin pergi sendiri ke Kediaman Keluarga Laurence dan khawatir akan ketahuan Kaisar Franz jika pergi bersama kedua pelayannya.


Tak butuh waktu lama, kereta kuda yang dinaiki Shiena pun sampai. Ketika turun, Kepala Pelayan Rumah Tangga Keluarga Laurence menyambut Shiena dengan senang hati karena telah mengetahui hubungan dekat antara Shiena dan Duke Laurence.


Shiena yang datang bertemu Duke Laurence tak menyangka jika ternyata setelah kematian Nyonya Laurence, Duke Laurence menjdi orang yang gila kerja. Duke Laurence tidak pernah istirahat. Shiena yang mengetahuinya menjadi prihatin dan segera pergi menenui Duke Laurence di Ruang Kerjanya.


Ketika Shiena sampai di depan Ruang Kerja Duke Laurence, Duke Laurenec yang sangat fokus dengan pekerjaannya bahkan tak menyadari kedatangan Shiena. Shiena yang datang pun segera membuat konsentrasi Duke Laurence hancur setelah memanggil namanya dengan sangat keras.


"Kak roan!" panggil Shiena.


"Shi-shiena. Kenapa kau disini?" tanya Duke Laurence terkejut.


"Tentu saja menemui Kakak tapi kakak terlalu serius dengan pekerjaan kakak sampai tidak tau jika aku datang." ucap shiena pura-pura merajuk.


"Maafkan kakak. Kakak hanya..." ucap Duke Laurence terputus.


"Kak... Aku tau kakak sedih karena telah kehilangan Bibi Maria tapi kakak tidak sendiri. Kakak kan masih punya aku. Apa kakak sudah tidak menganggapku sebagai adikmu lagi?" tanya Shiena merajuk.


"Tentu saja tidak. Kau tetap lah adikku tapi..." ucap Duke Laurence terhenti.


"Hah..." jawab Shiena menghela nafas.


Shiena yang mengerti perasaan Duke Laurence tak bisa melakukan hal lain kecuali menghiburnya. Shiena pun mengajak Duke Laurence untuk duduk bersamanya di taman.


"Apakah pekerjaan kakak itu lebih penting dariku?" tanya Shiena pura-pura.


"Tentu saja tidak. Kenapa?" tanya Duke Laurence bingung.


"Apa kakak mau makan siang denganku.?" tanya Shiena.


"Baiklah." ucap Duke Laurence.


Duke Laurence dan shiena pun pergi ke Ruang Makan. Kepala Pelayan Rumah Tangga pun menyiapkan menu makan siang untuk Duke Laurence dan makanan penutup untuk Shiena. Duke Laurence yang merasa ada yang aneh pun bertanya.


"Kenapa hanya makan itu?" tanya Duke Laurence.


"Aku sudah makan sebelum kemari tapi kakak kan belum makan. Jadi aku makan ini saja." jawan Shiena tersenyum.


"Dasar licik!" ucap Duke Laurence tertawa.


'Akhirnya kakak bisa tertawa juga. Aku harap kakak dapat bahagia dan bersama dengan orang yang kakak cintai meskipun bukan aku.' ucap Shiena dalam hati.


Setelah selesai makan siang. Duke Laurence mengajak Shiena pergi ke suatu tempat. Shiena yang tak tau hanya menirut saja.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


🥰😊😍😘


Terima kasih