The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 272. Permintaan Lady Francise


Lady Francise tak ingin kembali ke Kediaman Strolana sekarang karena merasa masih ada yang harus diurusnya sehingga Lady Francise memilih untuk pergi ke Kediaman Carrole. Lady Francise tau jika tindakannya ini tidak beretika tapi Lady Francise yakin jika Shiena pasti akan menerimanya dan tidak akan menolaknya.


Benar saja, setelah mengetahui kedatangan Lady Francise ke Kediamannya Shiena segera turun untuk menemuinya. Shiena turun dari tangga sambil melihat ke arah Lady Francise sambil membaca isi fikirannya. Shiena yang telah tau apa yang diinginkan Lady Francise akhirnya mengajak Lady Francise pergi ke Taman Belakang milik Keluarga Carrole untuk mengobrol.


Lady Francise sangat takjub dengan design Rumah dan Taman yang ada di Kediaman Carrole karena sangat mewah dan bekelas. Kemudian, Shiena memerintahkan Amy dan Ana menyeduhkan teh serta membawakan cemilan manis. Lalu, Shiena memerintahkan kedua pelayannya untuk meninggalkan mereka berdua. Setelah semuanya pergi, Lady Francise langsung mengutarakan maksud kedatangannya secara tiba-tiba.


"Maafkan saya, Nona yang datang tiba-tiba seperti ini." ucap Lady Francise.


"Saya mengerti. Lady pasti memiliki alasan tersendiri hingga melakukan itu." ucap Shiena tersenyum manis.


"Apakah Nona telah mengetahui kabar yang baru tersebar di kalangan Nona Bangsawan saat ini?" tanya Lady Francise.


"Terlalu banyak kabar dan gosip yang tersebar. Saya tidak tau yang mana yang Lady maksud." ucap Shiena sopan.


Lady Francise sangat bingung bagaimana cara mengatakannya sedangkan Shiena hanya diam saja memperhatikan dan mengawasi. Shiena tak ingin gegabah dalam bertindak karena bagaimanapun Keluarga Strolana saat ini berada di dalam genggaman Shiena dan jika Lady Francise menyinggung Shiena atau mencoba mengganggu keluarganya maka tak akan ada kata ampun untuk semuanya. Shiena berjanji akan membalasnya berkali-kali lipat dari yang dilakukan oleh Duke simons.


"Hmmm..... Gosip tentang hubungan saya dengan Tuan Muda Alphonso, Putra Pertama Keluarga Duke Watson." ucap Lady Francise.


"Ah, saya tau gosip itu tapi apa hubungannya Hingga anda datang kemari secara tiba-tiba?" tanya Shiena memiringkan kepalanya.


"Siang tadi, saya bertemu dengan beliau dan beliau telah menceritakan semuanya pada saya terutama tentang perasaannya pada Nona." ucap Lady Francise menatap mata Shiena.


"Aku minta maaf tentang itu padamu. Perasaan adalah sesuatu yang ada di luar kendaliku." ucap Shiena santai.


"Saya mengerti Nona. Saya tidak menyalahkan Nona ataupun Tuan Muda Alphonso. Saya sadar jika saya hanyalah orang baru yang baru masuk ke dalam kehidupan Tuan Muda Alphonso tapi saya sadar jika saya juga adalah masa depannya jadi saya tidak bisa diam saja menerima perkataannya." ucap Lady Francise.


"....." Shiena diam sambil membaca fikiran Lady Francise.


'Ayo katakan! Kamu pasti bisa Francise.' ucap Francise dalam hati.


"Apakah anda ingin saya menjauhi Tuan Muda Alphonso?" tanya Shiena langsung.


"Bu-bukan begitu. Saya tidak memiliki keberanian yang sangat besar untuk meminta Nona melakukan itu. Sa-saya tau jika Nona tidak punya perasaan apapun pada Tuan Muda Alphonso dan saya juga tau jika Nona telah menjalin hubungan serius dengan Yang Mulia Kaisar jadi tidak mungkin Nona akan bersama dengannya." ucap Lady Francise terbata-bata.


"Baiklah. Sekarang katakanlah apa yang Nona inginkan?" tanya Shiena.


"Saya mohon Nona. Bantulah saya! Bantu saya mendapatkan cinta Calon Tunangan saya sekaligus Calon Suami saya." ucap Lady Francise.


"Bagaimana caraku membantumu? Sejujurnya aku tak mengerti caranya." ucap Shiena.


Lady Francise yang sangat ingin bisa memiliki hati Tuan Muda Alphonso dan sangat ingin menarik perhatiannya sengaja meminta Shiena mengajarinya tengang Ilmu Pengetahuan Alam. Lady Francise bersedia mengenal dan memahami yang menjadi kesukaan Tuan Muda Alphonso agar dapat satu frekuensi dalam bicara.


Shiena yang mengerti keinginan Lady Francise yang begitu tulus pada Tuan Muda Alphonso hanya menggangguk sambil tersenyum. Lady Francise tak kalah senang sehingga segera memegang tangan Shiena dan mengucapkan kata terima kasih berulang-ulang kali.


Shiena berjanji akan mengirimkan beberapa buku tentang Ilmu Pengetahuan Alam yang diinginkan Lady Francise secepatnya dan setelah mendapatkan tujuannya, Lady Francise pamit pulang kembali ke Kediamannya. Shiena mengangguk dan memanggil Marry dan Ana. Lady Francise pun pulang di antar kedua pelayan pribadi Shiena.


Sementara itu, Marquess Laurence yang juga ternyata telah pulih kembali ke Kediaman Laurence bersama Nyonya Maria. Marquess Laurence tak ingin jika Nyonya Maria menjemputnya karena merasa tak tega mengingat kondisi Nyonya Maria yang sangat lemah karena sakit tapi Marquess Laurence tak bisa melakukan apapun karena itu telah menjadi keputusan Nyonya Maria.


Setelah sampai di Kediaman Laurence, Nyonya Maria tiba-tiba terjatuh dan pingsan di lantai. Marquess Laurence pun segera memanggil Kesatria untuk mengangkat Nyonya Maria ke kamarnya. Kepala Pelayan Rumah Tangga Kediaman Laurence dengan cekatan segera memanggil Dokter.


Tak butuh waktu lama, Dokter pun sampai. Dokter segera memeriksa keadaan Nyonya Maria. Dokter menganalisa bahwa Nyonya Maria terkena penyakit aneh dan membutuhkan pemeriksaan mendalam untuk dapat mengetahui penyakit itu sehingga dapat menemukan obat yang tepat untuk menyembuhkannya.


Marquess Laurence setuju dan memerintahkan Dokter segera melakukan apapun yang diperlukan demi keselamatan Nyonya Maria. Marquess Laurence kemudian pergi meninggalkan kamar Nyonya Maria menuju kamar pribadinya. Marquess Lurence juga memerintahkan Kepala Pelayan untuk tetap memantau keadaan Nyonya Maria dan segera melaporkan apapun yang terjadi secepatnya.


Dalam waktu beberapa jam, Dokter pun mengetahui bahwa Nyonya Maria telah lama menderita sakit ini telah cukup lama. Kepala Pelayan Rumah Tangga dengan cepat melapor dan Marquess Laurence meminta Dokter itu datang ke Ruang Kerjanya. Marquess Laurence yang tak mengerti meminta penjelasan lebih rinci.


"Bagaimana keadaan bibi saya, Dokter?" tanya Marquess Laurence cemas.


"Nyonya telah lama menderita penyakit ini dan setelah saya periksa dan tanya kepada pelayan di Kediaman ini." ucap Dokter.


"Lalu, bagaimana?" tanya Marquess Laurence.


"Nyonya sering batuk dan lama kelamaan batuk itu mengeluarkan darah yang menyerang paru-paru Nyonya. Menurut analisis saya sepertinya Nyonya menderita penyakit Tuberkulosis (TBC)." ucap Dokter.


"Apakah penyakit ini dapat disembuhkan?" tanya Marquess Laurence.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa." jawab Dokter.


Marquess Laurence yang kesal pun menggrebak meja yang ada di depannya hingga meja itu terbelah menjadi dua bagian yang mengakibatkan Kepala Pelayan, Dokter, Perawat dan Pelayan yang ada di Ruang Kerja Marquess Laurence menjadi sangat ketakutan.


"Semuanya keluar. Aku ingin sendiri." perintah Marquess Laurence.


Dengan cepat semuanya meninggalkan ruangan itu. Tak ada yang berani membantah atau pun melawan karena takut akan kehilangan nyawanya. Sesaat mereka lupa siapa Tuan mereka sebenarnya karena sikapnya yang baik dan lembut tapi setelah melihat secara langsung kekuatan Marquess Laurence semuanya menjadi sadar untuk tidak menyinggung Marquess Laurence ataupun membantahnya jika tak ingin bernasib sama dengan meja yang hancur itu.


Marquess Laurence yang kebingungan memutuskan untuk menemui Nyonya Maria di dalam kamarnya. Ketika Marquess Laurence sampai ternyata Nyonya Maria baru saja bangun. Marquess Laurence pun mendekati Nyonya Maria lalu memerintahkan pelayan yang bertugas menjaga dan merawat Nyonya Maria keluar.


Di dalam kamar, Marquess Laurence membujuk Nyonya Maria agar dapat diobati tapi Nyonya Maria terus saja menolak. Nyonya Maria tak ingin menjadi beban Marquess Laurence terlalu lama dan dirinya pun sudah lelah merasakan sakit itu dan ingin segera mengakhiri semuanya sehingga Nyonya Maria memutuskan menunggu kematian.


Nyonya Maria yang selama ini tak pernah memberikan kasih sayang cukup kepada Marquess Laurence mulai menyesali perbuatannya. Nyonya Maria meminta maaf karena selama ini telah pilih kasih kepadanya. Marquess Laurence yang tak memikirkan itu lagi pun telah memaafkan Nyonya Maria jauh sebelum dirinya meminta maaf.


Mereka pun duduk bersama di sebuah sofa di depan perapian. Mereka mengingat kembali momen ketika mereka masih bersama dan ketika Marquess Laurence kecil. Marquess Laurence tidak pernah marah atas perlakuan Nyonya Maria justru dirinya sangat berterima kasih karena telah dibawa ke Kediaman Laurence dan bisa menikmati hidup mewah karena sejak kecil Marquess Laurence yatim piatu dan jika tidak dipungut oleh Nyonya Maria, Marquess Laurence fikir mungkin dirinya tak akan bisa seperti sekarang.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


🥰😊😍😘


Terima kasih