The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 240. Rencana Kembali


Ketika Duke Simons sedang terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Kesatrianya, Anastasya selalu mencuri pandang dan mengajak Raja Michael bicara. Anastasya merasa masa depannya akan jauh lebih baik jika dirinya bisa mendapatkan Raja Michael karena di Kerajaan Zambrud tak ada seorang pun yang tau masalahnya dan juga dirinya bisa langsung menjadi Ratu tanpa harus berusaha melakukan kudeta dengan resiko kegagalan kehilangan nyawa.


'Aku harus bisa mencari alasan agar bisa tetap tinggal di Kerajaan ini. Aku tidak mau kembali ke Kediaman Keluarga Duke Simons. Jika aku disini, aku bisa meraju Yang Mulia Raja Michael dan membuatnya menjadi milikku seutuhnya.' ucap Anastasya dalam hati.


"Bagaimana bisa Putra Mahkota Franz melakukan itu?" tanya Duke Simons.


"Apakah ada masalah?" tanya Raja Michael.


"Ti-tidak paman. Saya izin sebentar karena ada hal yang serius." ucap Duke Simons sopan.


"Baiklah." ucap Raja Michael.


Duke Simons yang tak ingin masalah sebesar ini ketahuan Raja Michael pun segera menyingkir. Duke Simons mengajak Kesatrianya pergi ke sudut Taman dan menanyakan berita itu dengan sangat detail.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Duke Simons menahan emosi.


"Ketika Tuan pergi ke Kerajaan Zambrud, undangan dari Istana datang ke Mansion. Ini adalah undangannya, Tuan." ucap Kesatria.


Kesatria tersebut pun menyerahkan sebuah undangan dengan cap Istana yang masih tersegel karena tak ada yang berani membukanya. Duke Simons yang tak sabar bergegas membukanya lalu membaca isi surat itu.


"Kemudian, Tuan Viscount Crostaria mengirimkan utusannya ke Kediaman tepat setelah Acara Penobatan Selesai." ucap Kesatria.


"....." Duke Simons diam.


"Tuan Viscount Crostaria menjelaskan bahwa dirinya juga di undang ke Istana oleh Putra Mahkota Franz seperti Bangsawan lainnya tapi juga sama tak mengetahui alasannya. Namun Tuan Viscount Crostaria tetap memilih datang karena ingin tau rencana Yang Mulia Putra Mahkota Franz. Ketika Tuan Viscount datang ternyata itu adalah Acara Penobatan Kaisar baru dan ketika ingin mencoba melaporkan hal ini ke Tuan Duke, Putra Mahkota Franz telah menempatkan Kesatria Elitnya di berbagai tempat dan membuat titah jika ada yang keluar dari Ruangan itu maka satu keluarganya dinyatakan sebagai Penghianat dan akan dihukum seperti Mantan Putra Mahkota Brian dan pengikutnya, Tuan." ucap Kesatria.


"Sial! Ternyata dia telah tau aku tak berada di Ibukota sehingga telah menyusun rencana ini." ucap Duke Simons marah.


"Benar Tuan karena satu hari setelah kepergian Tuan dari Ibukota Kesatria Kekaisaran terlihat sangat sibuk mengirimkan undangan ke setiap Bangsawan di Ibukota dan beberapa daerah di Kekaisaran. Tak hanya itu Istana juga terlihat mulai sangat sibuk dengan dekorasi." ucap Kesatria.


"Begitu rupanya. Jadi dia telah menunggu momen ini karena jika aku masih di Ibukota maka akan ada beberapa kelompok yang akan menolak pengangkatannya menjadi Kaisar baru sebelum Perayaan Hari Kedewasaannya." ucap Duke Simons.


"Benar Tuan." ucap Kesatria.


Duke Simons sangat marah karena dirinya merasa telah kalah dalam awal permainan tapi bagi Duke Simons permainan itu baru dimulai jadi belum tau siapa pemenangnya karena saat ini dirinya masih memiliki kartu cadangan yaitu Bantuan dari Kerajaan Zambrud yang akan membantunya mendapatkan Takhta Kekaisaran Pearl.


"Lalu, ada berita apa lagi di Ibukota saat ini?" tanya Duke Simons.


"Saat ini tersebar berita bahwa Lady Shiena Ve Carrole, Putri Tunggal Duke Carrole akan menjadi Permaisuri di masa depan karena pada saat Acara Penobatan Kaisar Franz dirinya sempat berdansa pertama dengan Yang Mulia Kaisar." ucap Kesatria.


"Baiklah. Kau boleh pergi." ucap Duke Simons.


'Shiena Ve Carrole! Kau akan menerima balasan karena telah menjadi penyebab diriku kehilangan penerusku!' ucap Duke Simons dalam hati.


Duke Simons yang sangat membenci Shiena dan Keluarga Carrole karena hasutan Anastasya tak bisa menahan dirinya ingin segera menghancurkannya.


Sementara Anastasya yang sedang duduk berdua bersama Raja Michael terus bertanya dan mengajak Raja Michael mengobrol bahkan tentang hal pribadi. Raja Michael yang tidak suka dengan obrolan itu memilih diam dan menikmati teh dan buah-buahan.


'Wanita ini berisik sekali! Apa yang disukai oleh Val padanya? Jika itu yang disukai adalah wajah dan tubuhnya aku bisa mengerti tapi bagiku wanita seperti ini banyak sekali di Kerajaan ini tapi aku akui rayuan dan godaannya bisa membuat pria manapun susah mengendalikan diri. Lain kali, aku harus bisa mengontrol diriku dan tidak terjebak lagi dalam jebakannya.' ucap Raja Michael bertekad.


"Paman sepertinya besok saya harus segera kembali ke Kekaisaran Pearl karena ada urusan yang harus segera aku selesaikan." ucap Duke Simons.


"Begitu rupanya tapi saya rasa jika kau ingin segera mendapatkan bantuan paling tidak kau baru bisa kembali paling cepat lusa karena saya harus memerintahkan Jenderal untuk mengumpulkan 10.000 Kesatria terbaik terlebih dahulu dan juga kita harus menandatangani beberapa Perjanjian Kerjasama. Bagaimana?" tanya Raja Michael.


"Perjanjian Kerjasama, Paman?" tanya Duke Simons bingung.


"Tentu saja. Maafkan Paman, Paman adalah seorang Raja dan Paman bertugas melindungi seluruh Rakyat. Jika Paman harus memberikan 10.000 Kesatria padamu lalu bagaimana dengan Kerajaan Paman yang artinya kekurangan kekuatan untuk melindungi Kerajaan ini. Paman butuh jaminan jika kau akan menepati janjimu setelah berhasil mendapatkan Kekaisaran Pearl atas semua bantuan Paman." ucap Raja Michael.


"Baik Paman. Saya mengerti." ucap Duke Simons.


Lalu, Raja Michael dan Duke Simons membicarakan detail tentang rencana Kudetanya tapi Anastasya yang bosan mendengarnya memilih untuk undur diri dengan alasan merasa lelah. Raja Michael yang senang melihat kepergian Anastasya pun memanggil Kepala Dayang Istana untuk mengantar Anastasya ke kamarnya.


Setelah beberapa menit berlalu, Raja Michael membuat alasan jika ada urusan Kerajaan yang harus diselesaikannya sehingga pergi terlebih dahulu meninggalkan Duke Simons duduk sendiri di Taman.


Raja Michael pergi ke Ruang Kerjanya dan memerintahkan Kesatria Penjaga untuk menjaga ketat didepan Ruang Kerjanya dan jangan biarkan siapapun masuk apapun alasannya karena saat ini dirinya ingin sendiri.


Setelah memberi perintah, Raja Michael pergi ke ruang rahasia yang terhubung dengan Kamar Pribadi Rahasianya. Raja Michael mengambil Alat Sihir Komunikasi untuk dapat berbicara dengan Kaisar Franz.


Kaisar Franz yang saat itu sedang melaksanakan tugasnya sebagai Kaisar baru mendapatkan panggilan pribadi dari Raja Michael. Kaisar Franz yang merasa panggilan itu adalah rahasia dan penting menggunakan Sihir Gelapnya dan pergi menyusup dan mencari tempat yang aman.


"Salam Yang Mulia Kaisar Kekaisaran Pearl. Selamat karena telah menjadi Kaisar yang baru sekarang. Semoga Yang Mulia selalu sehat." ucap Raja Michael.


"Tidak perlu terlalu sopan Raja Michael. Panggil saja aku dengan Kaisar Franz. Katakanlah, apa ada yang penting?" tanya Kaisar Franz.


"Tentu saja. Aku mau memberitaumu jika kau punya rencana yang belum terselesaikan maka selesaikanlah karena aku hanya bisa menahan kepulangan Duke Simons sampai lusa karena dirinya telah mengetahui apa yang telah terjadi di Ibukota Kekaisaran Pearl." ucap Raja Michael.


"Begitu rupanya. Ternyata cepat juga informasi itu sampai. Apa ada lagi yang ingin kau katakan?" ucap Kaisar Franz.


"Ah, ini bukan hal penting tapi aku ingin bertanya satu hal." tanya Raja Michael.


"Katakanlah!" perintah Kaisar Franz.


#Bersambung#


β– Noteβ– 


Main tebak-tebakan yok.. 😊😊😊


Kira-kirabapa yang mau Raja Michael tanyakan ya? πŸ€”πŸ™„


Yang tau jawabannya komen dibawah ya..


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..


πŸ₯°πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜š Terima Kasih