
Marquess Laurence yang telah berlatih selama berhari-hari agar dapat menang di Ujian Menara Sihir membuat Nyonya Maria merasa khawatir akan kesehatan Marquess Laurence dan tak ingin Marquess Laurence terlalu memaksakan diri. Lalu, Nyonya Maria meminta Kepala Pelayan untuk jangan lupa mengingatkan Marquess Laurence untuk beristirahat dan tak lupa makan.
Disamping itu, berita tentang Marquess Laurence yang baru akan menjadi salah satu peserta di babak Semi Final dalam Ujian Menara Sihir telah menyebar ke semua tempat bahkan seluruh rakyat di wilayah Marquess Laurence ikut memberikan dukungannya.
Setelah beberapa hari, Acara pertandingan pun dimulai. Acara akan di laksanakan di Gedung Pertandingan yang awalnya sebesar stadion namun sekarang berubah lebih besar tiga kali lipat.
Tetua Agung memerintahkan Murid Senior yang berbakat dan yang memiki Sihir Tanah membangun Stadion Pertandingan yang dapat menampung banyak orang. Tak seperti ratusan tahun lalu, Pertandingan Ujian Menara Sihir hanya dapat dilihat oleh sesama murid, guru dan Tetua tapi sekarang semua pihak bisa menontonnya jika memiliki tiket masuk.
Di dalam stadion juga terpasang arai pelindung yang melindungi peserta serta penonton dan dapat mendeteksi niat buruk dari seseorang. Tetua Agung melakukan semua itu dengan sangat meriah karena mendapatkan permintaan khusus dari Yang Mulia Kaisar Kekaisaran Pearl yang mengatakan bahwa akan ada kecurangan yang terjadi pada Marquess Laurence yang saat ini adalah salah satu peserta Ujian Menara Sihir.
Tetua Agung tak dapat menghancurkan hidup orang yang berbakat hanya karena sebuah kecurangan jadi jika terjadi kecurangan dan dilihat oleh semua orang maka hal itu akan menjadi masalah bagi yang melakukannya.
Tetua Agung yang telah mendapatkan surat dari Kaisar langsung melakukan penyelidikan dengan mengutus salah satu murid berbakat dalam bidang mengumpulkan informasi. Murid tersebut berhasil mendapatkan bukti bahwa ada seorang Guru Sihir yang akan menjadi Wasit dalam pertandingan melakukan perjanjian illegal dengan Putra Mahkota.
Guru Menara Sihir itu melakukan perjanjian bahwa jika Guru Menara Sihir tersebut dapat membuat Marquess Laurence kalah dalam Pertandingan maka Guru tersebut akan mendapatkan Gelar Bangsawan dan mendapatkan beberapa wilayah di Kekaisaran Pearl di bawah kekuasaannya.
Tetua Agung yang mengetahui itu diam-diam memilih Wasit baru yang akan di tukar ketika Pertandingan berlangsung. Tetua Agung juga telah mendapatkan persetujuan dari Kaisar untuk mempublikasikan perbuatan Putra Mahkota kepada seluruh rakyat. Tetua Agung juga tak keberatan memberi tau semua orang tentang Guru yang rela melakukan kecurangan demi harta dan tahta.
Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, stadion telah dipenuhi dengan penonton bahkan Nyonya Maria telah datang dan duduk di tempat yang telah disediakan sebagai keluarga peserta.
Kaisar dan Putra Mahkota pun telah tiba dan duduk di samping Tetua Agung serta Tetua lainnya. Bangasawan Atas pun tak kalah antusiasnya. Mereka ikut melihat dan menonton pertandingan. Shiena yang duduk di samping Duke Carrole dan Duchess Carrole tampil dengan sangat cantik dan anggun membuat semua orang menjadi sangat terpesona.
Tuan Muda Alphonso yang melihat Shiena mencoba mencuri-curi pandangan. Shiena yang mengetahui itu hanya pura-pura tak melihat. Shiena tak ingin berurusan deng Tuan Muda Alphonso untuk sementara waktu ini karena Tuan Muda Alphonso telah memanfaatkannya untuk mendapatkan perhatian Kaisar.
Shiena mengalihkan pandangannya ke kursi penonton dan ternyata disana Shiena menemukan keberadaan Tuan X serta anak buahnya. Shiena juga melihat Anastasya serta pelayannya Amy yang sedang duduk di kursi penonton.
Shiena mencoba membaca fikiran Anastasya untuk tau apa tujuan kedatangannya.
'Itu dia Putra Mahkota. Aku harus bicara padanya, aku harus memperbaiki hubungan kami.' fikir Anastasya.
'Ternyata mereka sedang bertengkar tapi tunggu apa ini!.' ucap Shiena dalam hati.
'Disana juga ada Val. Aku akan menemuinya juga nanti menanyakan bagaimana kelanjutan rencana kami.' fikir Anastasya.
'Rencana? Val?' Ucap Shiena dalam hati.
Shiena yang bingung dengan maksud dari fikiran Anastasya mencoba menebak apa yang sebenarnya direncanakannya.
Sementara itu, Marquess Laurence yang melihat Shiena telah datang dan akan menonton pertandingannya menjadi semakin bersemangat. Marquess Laurence bertekad akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya untul menjadi juara.
Sebelum pertandingan dimulai, Tetua Agung mengumumkan bahwa Wasit dalam Pertandingan itu akan ditukar. Semua orang yang mendengarnya menjadi ribut karena tak pernah terjadi wasit dalam sebuah pertandingan ditukar ketika pertandingan akan segera dimulai.
Tetua Agung juga mengumumkan sesuatu hal yang membuat semua orang sangat terkejut. Tetua Agung mengeluarkan Sihir Penggabungannya yang jarang sekali dilihat semua orang. Tetua Agung menggunakan Sihir Ruang Dimensinya untuk membuat layar proyeksi yang sangat besar di udara yang dapat dilihat semua orang.
Disana ditampilkan bahwa Wasit Pertandingan yang merupakan Guru Sihir di Menara Sihir tersebut melakukan pertemuan rahasia dan melakukan transaksi perjanjian untuk membuat Marquess Laurence kalah.
Pertemuan Rahasia itu dilakukan Guru Sihir tersebut dengan Robert yang merupakan Kesatria Pribadi sekaligus tangan kanan Putra Mahkota tapi isi perjanjian itu tak bisa dilihat sehingga mereka semua hanya bisa melihat Guru Sihir dan Robert membuat Perjanjian Sihir. Semua penonton yang marah meneriaki Wasit dan mengusirnya dari Arena Pertandingan dan Penonton juga menuntut untuk Pengawal Pribadi Putra Mahkota dihukum.
Robert yang melihat dirinya ada di layar proyeksi itu menjadi pucat pasi dan kaku. Putra Mahkota tak kalah terkejut bahkan Putra Mahkota hanya terdiam di tempat duduknya. Lalu, Wasit yang dituduh melakukan transaksi ilegal menyuarakan bahwa dirinya difitnah dan semua rekaman itu palsu tapi tak ada yang percaya.
Pihak keamanan Menara Sihir menangkap Guru Sihir tersebut dan menyeretnya untuk turun tapi Guru Sihir tersebut melawan karena tak ingin di tangkap akhirnya Tetua Agung yang murka melihat ada anggotanya yang tega melakukan hal memalukan menggunakan Sihir Ruang Dimensinya dan mengurung Guru Sihir kedalam kubus dimensi lalu meledakkannya. Semua yang melihat sangat terkejut dan dalam sekejap suara bising yang ada di kursi penonton menjadi sunyi.
Tak lama kemudian, Kaisar memerintahkan kesatria menangkap Robert dan membawanya ke penjara untuk di interogasi. Robert yang berencana melarikan diri tak bisa berbuat apa-apa karena kesatria telah berada di dekatnya terlebih dahulu. Putra Mahkota yang melihat Robert di tangkap oleh Kesatria di depan matanya menjadi Shock dan tak bisa berkata apapun sampai akhirnya Robert hilang dari pandangan dan pergi menuju penjara.
Kaisar yang dari tadi melihat ekspresi Putra Mahkota yang hanya diam dan tidak menolong bawahannya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Shiena yang melihat kejadian itu menjadi sangat terkejut karena semua yang telah terjadi tidak pernah terjadi dikehidupan sebelumnya.
'Apakah masa depan telah berubah terlalu jauh? Apakah semua ini terjadi karena Kak Roan masih hidup?' fikir Shiena.
Shiena yang mencoba menenangkan fikirannya menggunakan kemampuannya membaca fikiran untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Shiena sangat terkejut setelah mengetahui bahwa Putra Mahkota adalah dalang dari semua ini.
Putra Mahkota memerintahka Robert menyuap wasit agar membuat Marquess Laurence kalah dan itu semua terjadi karena rasa iri yang dimiliki Putra Mahkota karena kalah dalam Acara Perburuan Naimar.
Shiena juga membaca fikiran Kaisar yang ternyata merasa sangat kecewa dengan sikap dan tindakan Putra Mahkota yang ternyata sama seperti ibunya, Ratu Monica yang dengan tega meracuni Permaisuri dan membunuh Putra Mahkota terdahulu bahkan tak segan membuat orang terdekatnya menjadi korban agar yang diinginkan tercapai.
Semua penonton yang telah pulih dari keterkejutannya dari pemandangan yang begitu kejam melihat Putra Mahkota dengan tatapan tajam dan menusuk. Semua rakyat dan juga Bangsawan baik Bangsawan Atas, menengah atau bawah berfikir bahwa Putra Mahkota adalah dalang dari semua kejadian ini dan tak segan membuat bawahannya menjadi korban untuk menutupi kejahatannya.
Putra Mahkota yang mendapatkan tatapan menusuk mendadak menjadi tak enak badan sehingga meminta izin kepada Kaisar untuk kembali ke istana terlebih dahulu. Kaisar pun memberi izin karena Kaisar menjadi tenang karena Kesatria Elit selalu memata-matai Putra Mahkota.
#Bersambung#
Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁
Terima kasih.. 🥰😍❤😘