
Putra Mahkota mencium Anastasya yang belum selesai mandi dengan tubuh dan rambut yang masih basah sehingga membuat baju yang dipakai oleh Putra Mahkota pun ikutan basah.
Putra Mahkota memerintahkan pelayan penginapan menyediakan pakaian ganti untuknya. Putra Mahkota dan Anastasya menghabiskan waktu mereka berendam di dalam kolam bak mandi dengan kondisi tanpa busana. Putra Mahkota tak melepaskan tubuh Anastasya sebentar saja. Putra Mahkota terus saja memeluk Anastasya dari belakang dan sesekali menciumi pundaknya.
Anastasya yang merasakan setiap sentuhan, pelukan dan ciuman Putra Mahkota seolah merasa ada suatu sensasi yang berbeda yang tak bisa di jelaskan. Mereka merasa melampiaskan hasrat yang telah tak bertemu selama beberapa hari yang bagian kebanyakan orang biasa saja, namun bagi Putra Mahkota yang baru pertama kali merasakan sentuhan wanita menjadi kecanduan akan aroma dan sentuhan wanita tersebut.
"Ian akan menepati janji kan? Tasya sudah datang kesini. Ian akan datang di Acara Perburuan Naimar kan?" tanya Anastasya.
"Tentu saja. Apapun yang kau minta." ucap Putra Mahkota menggoda.
"Hemmpt, Ian gombal." ucap Anastasya.
Anastasya yang malu digombalin Putra Mahkota pun berbalik dan memukul pelan dada Putra Mahkota yang membuat mereka berhadapan satu sama lain. Putra Mahkota menarik Anastasya sehingga mendekat dan hampir bersentuhan dengan dada bidang milik Putra Mahkota.
Anastasya yang tak ingin terjatuh terlalu dalam dalam pelukan Putra Mahkota meletakkan kedua tangannya di dada bidang Putra Mahkota yang kekar. Anastasya tak pernah melihat tubuh yang begitu eksotis dan menggoda. Putra Mahkota yang melihat Anastasya yang mengagumi tubuhnya pun menggoda Anastasya.
"Jika kau menyukainya. Kau bisa menyentuhnya kapan puntasya." ucap Putra Mahkota.
"Ti-tidak." jawab Anastasya terburu-buru.
"Apa kau benar-benar tidak menyukai tubuhku?" tanya Putra Mahkota dengan menggoda.
"Bu-bukan seperti itu." jawab Anastasya gugup.
Putra Mahkota yang melihat Anastasya yang salah tingkat menjadi semakin bergairah. Putra Mahkota merasa ada sesuatu yang mengganjal di antara dua pahanya. Putra Mahkota pun menarik Anastasya dan mencium bibirnya. Anastasya yang terkejut hanya bisa membelalakkan matanya dengan tangan yang masih menyanggah tubuhnya.
Saat Putra Mahkota menurunkan ciumannya kebelakang telinga, Anastasya merasa ada sensasi berbeda seperti geli dan nikmat menjadi satu yang meruntuhkan pertahanan dirinya. Anastasya perlahan melemaskan tangannya dari dada Putra Mahkota dan perlahan memeluk dan meletakkan tangannya di leher Putra Mahkota.
Putra Mahkota yang seperti telah mendapatkan persetujuan dari Anastasya meneruskan aksinya tanpa henti. Putra Mahkota meninggalkan satu bekas kepemilikan di bawah telinga Anastasya lalu menjilatinya yang memberikan sebuah sengatan tak tertahankan dari tubuh Anastasya.
"Aaaarrggghhh" suara erangan Anastasya.
Putra Mahkota yang mendengar suara itu menjadi semakin tak karuan dan meneruskan aksinya dan turunke leher dan tak lupa meninggalkan beberapa bekas kepemilikannya terhadap tubuh Anastasya.
Namun, ketika suasana semakin bergairah dengan cahaya redup dari lilin dan aroma wangi dari bunga mawar, madu dan susu memenuhi ruangan serta sensasi kehangatan saat tubuh Putra Mahkota dan Anastasya bersentuhan tiba-tiba ada seorang kesatria datang dan mengetuk pintu. Putra Mahkota yang tak ingin menghiraukan suara itu terus saja melanjutkan aksinya namun semakin di diamkan suara ketukan pintu itu semakin sering dan membuat Putra Mahkota menjadi jengkel dan marah.
Anastasya yang khawatir akan terjadi sesuatu mencoba mencari tau dan melihat apa yang terjadi sehingga ada seorang kesatria yang berani mengganggu Putra Mahkota dan dirinya yang sedang bermesraan. Anastasya pun maju dan melihat dari sela-sela pintu yang terbuka.
Anastasya melihat Putra Mahkota yang sedang berbicara dengan wajah yang tidak mengenakkan kepada seorang kesatria yang masih sangat muda mungkin usianga sekitar delapan belasa tahun dan hanya beberapa tahun lebih muda darinya.
Awalnya Anastasya berfikir Putra Mahkota hanya akan menghukum kesatria itu dengan hukuman fisik namun ternyata Putra Mahkota menarik pedangnya dan menebas leher kesatria itu hingga putus dan darah mengalir kesegala arah. Anastasya yang baru pertama kali melihat hukuman seperti itu dari Putra Mahkota sangat terkejut dan kehilangan keseimbangannya hingga terjatuh ke lantai dan kakinya menjadi lemas tak bisa di gerakkan. Kedua tangan Anastasya refleks menutup mulutnya yang dengan tubuh yang bergetar seakan ada angin yang berhembus cepat menyentuh kulit Anastasya yang hanya menggunakan handuk mandi menjadi semakin dingin.
Putra Mahkota yang telah kehilangan gairah memerintahkan pelayan pribadi Anastasya masuk ke dalam kamar mandi dan membantu Anastasya mengganti pakaiannya dan memerintakan pelayan penginapan menyingkirkan mayat kesatria tersebut dan membersihkan bekas darah yang berceceran kemana-mana.
Putra Mahkota sudah pernah mengatakan kepada kesatrianya untuk tetap berjaga dan jangan masuk apalagi membiarkan orang lain masuk tanpa seizinnya. Namun, kesatria tersebut melanggar perkataan Putra Mahkota dan masuk ke dalam ruangan dan mengetuk pintu berkali-kali dan mengganggu Putra Mahkota dengan alasan yang sepele.
Kesatria tersebut melanggar perkataan Putra Mahkota hanya karena Putra Mahkota mendapatkan surat balasan dari Istana yang isinya tentang Putra Mahkota diizinkan kembali ke Istana hanya selama tiga hari ketika Acara Perburuan Naimar. Putra Mahkota marah karena telah diganggu karena surat tersebut dapat diberikan nanti namun sepertinya Kesatria ini ingin mencari perhatian Putra Mahkota sehingga melakukan hal itu.
Putra Mahkota pergi ke kamar yang telah disiapkan untuknya dan meminta Robert mengambil pakaian gantinya dan pergi kembali ke Akademi Arasha dan meninggalkan Anastasya sendiri tapi Putra Mahkota tak lupa meninggalkan ribuan keping emas untuk Anastasya habiskan untuk berbelanja besok sambil menunggunya selesai berlatih.
Amy yang melihat Anastasya yang terduduk di lantai langsung berlari menghampiri Anastasya dan membantunya berdiri. Amy dan pelayan lain membantu Anastasya berjalan secara perlahan keluar dari kamar mandi dan ruangan itu.
Amy yang melihat kondisi Nona nya yang begitu terkejut dan kedinginan memberikan segelas tes hangat. Anastasya pun mengambil teh itu menyeruputnya perlahan. Anastasya merasa tubuhnya perlahan menjadi hangat dan tak gemetaran lagi.
Pelayan yang lain dengan sigap mengeringkan rambut Anastasya dan membantunya memakaikan baju. Anastasya yang sedang shock tak lagi memperdulikan pandangan pelayan tentang dirinya yang memiliki begitu banyak bekas kepemilikan dari Putra Mahkota karena Anastasya yakin tak akan ada seorang pelayan yang akan membahas hal ini setelah melihat tindakan Putra Mahkota yang tak takut mengambil nyawa orang lain.
Amy yang tau bahwa Anastasya belum makan menawarkan makan malam kepada Anastasya tapi Anastasya menolaknya karena masih mengingat kejadian mengerikan itu. Anastasya lebih memilih untuk kembali ke kamarnya dan berbaring di kasurnya lalu tertidur agar bisa melupakan bayangan-bayangan pemenggalan itu.
Semua pelayan meninggalkan Anastasya sendiri terbaring di kasurnya karena itu adalah permintaan Anastasya sendiri dan pelayan pun tak ada yang berani membantah setelah mengetahui kenyataan bahwa Nona Bangsawan yang sedang mereka layani saat ini memiliki cinta dari Putra Mahkota yang artinya nyawa mereka ada di tangan Anastasya karena jika Anastasya tidak senang dan melaporkannya pada Putra Mahkota dan saat itu lah semua berakhir.
Tak hanya pelayan tapi Anastasya juga menyadari satu hal yang pasti yaitu jangan pernah menyulut amarah Putra Mahkota karena jika kau telah menjdi targetnya maka nyawamu lah yang menjadi taruhannya.
#Bersambung#
Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁
Terima kasih.. 🥰😍❤😘