The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 191. Hukuman III ( Season II End)


Kaisar yang melihat Mantan Putra Mahkota Brian yang terjatuh tak berdaya akhirnya tak sanggup menahan air matanya karena merasa sedih sebagai seorang ayah tapi karena dirinya adalah seorang Kaisar maka dirinya pun langsung menghapus air matanya dan berpura-pura dingin dan tanpa ekpresi.


Setelah selesai dengan Eksekusi Robert, Penasehat Kekaisaran pun melanjutkan membacakan Vonis Hukuman untuk Mantan Putra Mahkota Brian. Penasehat Kekaisaran yang memang membenci Mantan Putra Mahkota Brian tak memberikan kesempatan apapun kepada Mantan Putra Mahkota Brian untuk bersedih.


"Brian Shura De Pearl, Mantan Putra Mahkota Kekaisaran Pearl yang telah terbukti menyewa seseorang untuk melakukan pembunuhan kepada Kaisar. Atas perintah langsung dari Kaisar, Mantan Putra Mahkota Brian dihukum Penggal dengan kepalanya dipajang di alun-alun Ibukota selama satu minggu [maklum kalau kelamaan nanti bau πŸ˜…] dan tubuhnya akan dibawa ke Hutan Kesepian untuk dijadikan makanan hewan buas dan monster. Tak hanya itu, semua aset, kekayaan, dan harta milik Mantan Putra Mahkota Brian akan diambil oleh Kekaisaran." ucap Penasehat Kekaisaran.


Kaisar yang mendengar vonis hukuman Mantan Putra Mahkota Brian tak bisa mengendalikan dirinya hingga tak bisa berkata apapun hingga Putra Mahkota Franz yang duduk di sampingnya mengambil alih tugas Kaisar dengan tenang dan tegas.


Putra Mahkota Franz yang memang telah menunggu saat-saat ini dengan segera mengizinkan eksekusi itu berlangsung.


"Segera Laksanakan!" perintah Putra Mahkota Franz.


Kesatria Elit Kaisar yang selalu berjaga di sekitar Mantan Putra Mahkota Brian pun bergegas mengangkat tubuh Mantan Putra Mahkota Brian yang memberontak karena tak ingin dihukum.


Mantan Putra Mahkota Brian yang tak bisa lagi menahan dirinya untuk tetap bersikap tangguh dan kuat pun menjerit, meminta dan memohon pengampunan kepada semua orang termasuk, Keluarga Carrole, Shiena, Putra Mahkota Franz dan Kaisar.


Duke Carrole dan Duchess Carrole yang melihat Mantan Putra Mahkota Brian tak ada yang bersimpati ataupun merasa sedih. Bahkan Duke Carrole hanya membalasnya dengan tatapan dingin.


"Lepaskan saya! Saya tidak bersalah! Saya dijebak, Yang Mulia! Mohon ampuni saya!" teriak Mantan Putra Mahkota Brian.


"....." Duke Carrole dan Duchess Carrole diam.


"....." Kaisar menundukkan kepalanya.


Sementara itu, Kaisar yang sebenarnya ingin membantu tak bisa melakukan apapun sehingga hanya bisa diam saja melihat meskipun begitu Shiena dapat membaca isi fikiran Kaisar hanya bisa menggelengkan kepalanya.


'Ternyata Kaisar adalah orang yang sangat kejam, bahkan kejam terhadap anak kandungnya sendiri tapi itu jauh lebih baik bagiku karena akhirnya bisa melihat Mantan Putra Mahkota Brian dihukum dengan berat.' fikir Shiena.


Lalu, Putra Mahkota Franz yang memang sudah tak ingin mendengar suara teriakan Mantan Putra Mahkota Brian pun memberikan kode kepada Kesatria Elit untuk bergerak cepat.


Kesatria Elit pun bertindak sesuai arahan dan mereka pun melakukannya dengan cepat kemudian dalam waktu singkat Mantan Putra Mahkota Brian telah kehilangan nyawanya.


Semua rakyat yang menyaksikan berseru lantang dan senang karena penjahat yang telah mencoba membunuh Kaisar mereka akhirnya telah meninggal dan dihukum dengan berat.


"Hidup, Yang Mulia Kaisar!" teriak Rakyat.


"Hidup Yang Mulia Putra Mahkota Franz!" teriak Rakyat senang.


"Hidup Kekaisaran Pearl." teriak Rakyat bersaut-sautan dalam suka cita.


Kaisar yang tak kuat pun akhirnya pergi meninggalkan Panggung Eksekusi bersama Kesatria Elit yang bertugas untuk menjaga keamanan Kaisar. Sementara itu, Putra Mahkota Franz tetap berada di Panggung Eksekusi untuk mengurus sisa dari hukuman penggal Para Penghianat. Putra Mahkota Franz tak bisa meninggalkan kewajiban ini kepada siapapun karena Putra Mahkota Franz tau semuanya masih belum bisa dipercaya.


Semua Bangsawan yang hadir pun perlahan meninggalkan tempatnya juga setelah kepergian Kaisar. Mereka pulang ke Kediaman masing-masing dengan raut wajah senang dan bahagia karena akhirnya orang yang menurut mereka sangat lah jahat telah meninggal dunia.


Duke Carrole dan Duchess Carrole pun ikut kembali ke Kediaman Carrole meninggalkan Shiena sendiri yang mereka juga yakin bahwa Shiena masih membutuhkan waktu untuk sendiri sekarang.


Benar saja, Shiena yang ingin sendiri pun meminta Marry dan Ana kembali dengan pasangan mereka masing-masing karena Marry dan Ana tak bisa membantah akhirnya mereka menurut.


Setelah semuanya pergi, Marquess Laurence pun datang menemui Shiena. Marquess Laurence tau bahwa Shiena hanya menganggapnya kakak tak behenti mengambil hati Shiena meskipun sulit.


"Shiena, semuanya telah selesai. Kakak sangat senang." ucap Marquess Laurence.


"Ya Kak. Aku juga senang semua telah berakhir." ucap Shiena.


"Kalau begitu, ayo Kakak antar kamu pulang. Sepertinya Tuan Duke dan Nyonya Duchess telah kembali terlebih dahulu." ucap Marquess Laurence berusaha.


"Maafkan aku kak. Aku masih ingin disini sendiri, Apa Kakak tidak keberatan?" tanya Shiena membujuk.


"Bagaimana jika Kakak menemanimu?" tanya Marquess Laurence membujuk.


"Aku ingin sendiri Kak. Maafkan aku." ucap Shiena sedih.


"Baiklah tapi jika terjadi sesuatu cepat katakan saja pada Kakak. Kakak berjanji akan segera menolong." ucap Marquess Laurence.


"Terima kasih, kak." ucap Shiena.


Marquess Laurence pun pergi meninggalkan Shiena sendiri meskipun sulit tapi Marquess Laurence berusaha untuk tetap tersenyum.


'Apa sesulit itu bagimu untuk memberikanku kesempatan, Shiena?' ucap Marquess Laurence dalam hati sedih.


'Maafkan aku Kak. Aku tak ingin mengecewakanmu. Aku tak ingin memberimu harapan palsu. Aku yakin akan ada wanita lain yang lebih baik dariku untukmu.' ucap Shiena dalam hati.


Tiba-tiba Shiena merasa ada orang yang berdiri di sampingnya yang ternyata adalah Putra Mahkota Franz. Meskipun Putra Mahkota Franz tak bisa melihatnya Shiena yang dapat melihatnya dengan jelas seketika wajahnya memerah dan detak jantungnya berdetak sangat kencang tak karuan.


'Ada apa denganku? Kenapa aku sering seperti ini sejak hari itu? Apa aku sedang sakit? Aku tak pernah merasa seperti ini baik di kehidupanku yang lalu, kehidupan modern ataupun sekarang.' ucap Shiena dalam hati sambil memegang dadanya.


Shiena yang tak ingin larut dalam pemikirannya sendiri pun mencoba fokus pada apa yang ingin dilakukannya. Shiena pun menyaksikan sendiri bagaimana kepala Mantan Putra Mahkota Brian digantung dan tubuhnya dibuang.


Dalan beberapa menit, Kesatria Kekaisaran melakukan tugasnya dengan baik dengan menyingkirkan tubuh dan kepala mayat dari Penghianat dari Panggung Eksekusi atas arahan Putra Mahkota Franz.


Putra Mahkota Franz juga memerintahkan kepada Kesatria Elit dan Kesatria Kekaisaran untuk membakar mayat dari Para Penghianat dan membawa tubuh Mantan Putra Mahkota Brian menuju Hutan Kesepian bersama Eit dan menggantungkan kepala Mantan Putra Mahkota Brian dan Robert di alun-alun Ibukota karena Putra Mahkota Franz tak mempercayai Kesatria-kesatria itu karena mereka bukanlah bawahan langsung Putra Mahkota Franz sehingga tak bisa dipastikan kesetiaannya.


Putra Mahkota Franz yang telah memastikan semuanya selesai dan berjalan dengan baik pun meninggalkan Panggung Eksekusi dan menuju ke kereta kudanya untuk kembali ke Istana tapi sebelum sampai Putra Mahkota Franz melihat ada seorang Gadis Bangsawan yang sedang kesakitan. Putra Mahkota Franz yang melihatnya bergegas menolong dan ternyata Gadis Bangsawan itu adalah Anastasya Shera Larsca.


Anastasya awalnya akan kembali ke Rumahnya bersama Countess Larsca dan Amy tapi Anastasya melihat Putra Mahkota Franz yang belum pergi pun bergegas berpura-pura sakit untuk menarik perhatian Putra Mahkota Franz tapi sebelum itu Anastasya meminta Amy mendadaninya kembali agar terrlihat cantik dan fresh.


"Aduuhhh, Kakiku..." teriak Anastasya pura-pura sakit.


"Apa anda baik-baik saja, Lady?" tanya Putra Mahkota Franz.


"Ah, Yang Mulia maafkan ketidaksopanan saya. Kaki saya sakit dan tak bisa berdiri sendiri, Yang Mulia." ucap Anastasya berpura-pura sakit dan polos.


Putra Mahkota Franz pun membantu Anastasya berdiri tapi Anastasya sengaja menempelkan bagian atasnya ketangan Putra Mahkota Franz untuk menggodanya dan Putra Mahkota Franz pun refleks menjatuhkan Anastasya.


"Aaaauuuu..." teriak Anastasya kesakitan.


"Maafkan saya Lady." ucap Putra Mahkota Franz.


Putra Mahkota Franz pun menghentikan waktu sementara dan menarik seorang kesatria yang berada di dekatnya lalu memutar waktu kembali Putra Mahkota Franz pun memerintahkan Kesatria itu untuk membantu dan mengantar Anastasya kembali ke kereta kudanya. Anastasya yang ingin menolak dan memprotes pun tak diberi kesempatan oleh Putra Mahkota Franz karena Putra Mahkota Franz langsung pergi meninggalkan Anastasya.


Anastasya yang ditinggalkan pun marah dan menolak bantuan Kesatria. Anastasya pun berdiri sendiri tanpa bantuan dan berjalan menuju kereta kudanya. Lalu, ketika ingin naik, Anastasya melihat kebelakang ke arah Putra Mahkota Franz.


'Lihat saja nanti. Kau akan menjadi milikku nantinya. Cepat atau lambat, Yang Mulia!' ucap Anastasya dalam hati.


Anastasya pun menaiki kereta kudanya dan meninggalkan tempat eksekusi itu kembali ke Rumahnya dengan perasaan marah dan kesal.


Sementara Putra Mahkota Franz yang sedang menunggu berita dari Eit pun mengirimkan hadiah serta surat kepada Shiena yang telah disiapkannya. Putra Mahkota Franz pun mengirim Kesatria Elit untuk menjalankan tugas ini dengan baik.


Sementara Shiena yang senang karena salah satu dari musuh yang ingin dibalaskan dendamnya telah disingkirkan.


Shiena pun keluar dari Cincin Ruang dan bergegas kembali ke Kediaman Carrole.


'Aku telah menyingkirkan Mantan Putra Mahkota Brian dan sudah saatnya aku fokus padamu Anastasya. Lihatlah sebentar lagi adalah giliranmu!' fikir Shiena.


Shiena yang telah sampai dikediamannya pun bergegas bersiap-siap dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai bersiap, Ana datang dan menemui Shiena dan mengatakan bahwa ada banyak sekali hadiah yang dikirimkan oleh Putra Mahkota Franz kepadanya.


Shiena yang penasaran pun turun dan melihatnya langsung. Shiena yang melihat satu buah kotak cantik berwarna merah muda dengan pita berwarna biru laut pun langsung mengambil dan membukanya. Shiena sangat terkejut karena isinya adalah sebuah Gaun berwarna Biru muda yang sangat cantik dan juga anggun dengan sepasang sepatu dan lengkap dengan satu set aksesoris perhiasan di dalamnya. Tak hanya itu, Putra Mahkota Franz juga memberikan sebuah Boneka beruang yang sangat besar dan lucu berwarna coklat serta satu buket bunga mawar yang sangat cantik dan fresh.


Ana dan Marry yang melihatnya menjadi sangat bersemangat dan senang. Marry pun memberikan satu buah surat yang juga dikirimkan bersamaan dengan hadiah-hadiah itu.


Aku harap kau menyukai hadiahnya. Aku harap kau mau memakai gaun yang telah aku kirimkan saat Hari Kedewasaanku dan bersedia menjadi partnerku. (Putra Mahkota Franz)


Shiena yang membaca surat itu tak bisa mengendalikan dirinya hingga senyum cantik menghiasi wajahnya yang memang telah cantik dari lahir,


Shiena pun memerintahkan Ana membawa hadiah-hadiah itu ke kamarnya dan memerintahkan Marry mengambil kertas dan pena karena dirinya ingin segera membalas pesan dari Putra Mahkota Franz.


***Terima kasih untuk hadiahnya, Yang Mulia Saya sangat menyukainya. Saya juga bersedia menjadi Partner anda di Acara Kedewasaan anda, Yang Mulia.* (Shiena Ve Carrole)**


#Bersambung#


β– Noteβ– 


Hai Readers "The Empress of Mind Reader" tersayang Author. Season II telah selesai dan akan lanjut ke Season III..Β  Yeaayyyy.... πŸŽŠπŸŽ‰


Author mau minta maaf karena Author berencana akan Hiatus untuk menemukan ide-ide untuk cerita selanjutnya.. πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜‡πŸ˜”


Lalu, doakan saja akan ada Crazy Update setelah selesai Hiatus..☺😚πŸ₯°


Ah ya, Author akan buat Novel baru jadi jika yang ingin tau Novel baru Author sambil menunggu Jadwal Normal kembali, Readers tersayang boleh mampir ke Novel baru Author. Yang mau tau judul barunya silahkan buka Profil Author ya.. πŸ™‚πŸ™‚πŸ˜šβ˜Ί