
Sebelum pergi ke Hutan, Permaisuri Shiena menyelipkan sebuah surat untuk Kaisar Franz bahwa dirinya pergi ke Hutan untuk menangkap Lady Zoufay tapi sebelum itu, Permaisuri Shiena mengganti pakaiannya menjadi Gadis Suci.
Dalam waktu singkat, Permaisuri Shiena telah sampai di dalam Hutan. Permaisuri Shiena mengeluarkan Sihir Angin untuk mencari tau keberadaan Lady Zoufay dari hembusan nafasnya dan pada saat yang sama juga menggunakan Sihir Tanah untuk mengetahui makhluk hidup yang tinggal di dalam Hutan.
"Ketemu! Ternyata kau sembunyi disana?" gumam Permaisuri Shiena.
Permaisuri Shiena mengagumi Lady Zoufay yang telah berubah menjadi gadis yang tangguh dari seorang gadis yang manja. Permaisuri Shiena kagum pada Lady Zoufay yang bertekad untuk mempertahankan hidupnya di tengah hutan sendiri tanpa kekuatan apapun.
Namun, Permaisuri Shiena yang sudah tidak menyukai Lady Zoufay di awal tidak akan mengubah pendiriannya untuk mengadili Lady Zoufay hanya karena kagum atas perubahannya yang signifikan dalam waktu singkat.
Permaisuri Shiena yang tidak berniat menyembunyikan keberadaannya pada Lady Zoufay berjalan dengan santai menuju Goa temlat lady Zoufay beristirahat.
Lady zoufay yang telah berlarian kesana kemari selama beberapa jam merasa sangat kelelahan bahkan seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Lady zoufay yang juga belum makan apapun sejak siang hari merasa sangat lapar tapi tidak berani keluar untuk mencari makan sehingga memilih untuk beristirahat di dalam Goa.
Ketika sedang beristirahat, Lady zoufay mendengar ada langkah kaki yang sangat ringan dan tidak terdengar seolah langkah kaki seorang kesatria. Lady Zoufay yang merasa takut tapi juga penasaran pun berteriak seolah memberi tau jika ini adalah tempatnya.
"Siapa disana? Pergilah! Goa ini milikku!" teriak Lady Zoufay.
"Goa ini milikmu? Benarkah?" tanta Permaisuri Shiena dengan senyumnya yang menawan dari balik cadar putihnya.
"Siapa kau?" tanya Lady Zoufay.
Permaisuri Shiena yang berjalan perlahan akhirnya menunjukkan dirinya dihadapan Lady Zoufay. Lady Zoufay yang melihat kedatangan seorang wanita canti dengan pakaian serba putih dengan tambahan warna emas di beberapa sisi. Meskipun wanita itu memakai cadar tetap tak bisa menutupi kecantikan sebenarnya miliknya.
"Kau! Melihat dari pakaian dan cadar putih itu, Bukankah kau Gadis Suci?" ucap Lady Zoufay terkejut.
"Tak disangka ternyata Lady mengenali penampilanku ini." ucap Permaisuri Shiena.
Lady Zoufay yang merasa memiliki harapan untuk bertahan hidup jika bisa bersandar pada Gadis Suci mulai memikirkan berbagai macam cara dan kata yang akan diucapkannya.
Permaisuri Shiena yang memiliki kemampuan membaca fikiran orang lain pun tersenyum dibalik cadarnya.
'Gadis kecil ini ternyata masih belum berubah. Meskipun diberi kesempatan kedua pun gadis kecil ini pasti akan melakukan kesalahan yang sama dan tak akan bisa belajar dari kesalahan sebelumnya.' gumam Permaisuri shiena.
Lady Zoufay yang ingin terlepas dari masalahnya saat ini dengan cepat segera bersujud di hadapan Permaisuri Shiena lalu menangis dan tak lupa mengeluarkan ekspresi yang akan membuat semua orang iba jika melihatnya ditambah lagi dengan kata-kata yang merendah dan seolah menjadi korban. Lady Zoufay berusaha keras mengambil hati Gadis Suci.
Lady zoufay juga menuduh Permaisuri Shiena sebagai dalang dari semua masalah yang terjadi padanya. Lady Zoufay menuduh Permaisuri Shiena menghasut Yang Mulia Kaisar Franz untuk menghancurkan Keluarganya dan semua tuduhan yang diberikan pada Keluarganya semua itu adalah palsu.
Lady Zoufay juga membual tentang Kaisar Franz yang ternyata telah dibutakan oleh cintanya pada Permaisuri Shiena yang ternyata seorang wanita ****** yang memiliki banyak hubungan dengan berbagai Kepala Keluarga Bangsawan Atas.
Lady Zoufay juga menuduh Permaisuri Shiena adalah wanita mandul yang tidak bisa memberikan anak kepada Kaisar Franz. Lady Zoufay berfikir jika Permaisuri Shiena tidaklah pantas di posisi itu karena masih ada Nona Bangsawan muda lain yang pantas.
Permaisuri Shiena yang mendengar semua ocehan Lady zoufay hanya tersenyum geli dibalik cadarnya. Setelah Lady Zoufay mengatakan semua yang ingin dikatakannya. Permaisuri Shiena mulai membalas satu per satu perkataan Lady Zoufay dengan anggun dan berwibawa layaknya seorang Permaisuri Kekaisaran Pearl yang sebenarnya.
"Jika seperti yang kau katakan, apakah Nona Bangsawan muda yang pantas bersanding bersama Yang Mulia Kaisar Franz adalah dirimu?" tanya Permaisuri Shiena langsung.
"A-apa? I-itu... Aku tidak mengatakan jika Nona Bangsawan itu adalah aku tapi jika Nona Gadis Suci berfikir begitu mungkin aku cocok bersanding bersama Yang Mulia Kaisar Franz." ucap Lady Zoufay malu-malu.
Permaisuri Shiena tidak menyangka jika Lady Zoufay sangat percaya diri dengan dirinya sendiri bahkan Lady Zoufay dengan tegas mengatakan jika dirinya lebih pantas menjadi Permaisuri Kekaisaran Pearl dan bersama dengan Kaisar Franz.
Permaisuri Shiena pun memutuskan untuk tidak menunda rencananya lagi untuk menghukum Lady Zoufay.
"Begitu rupanya. Kau tau jika aku adalah Gadis Suci tapi apa kau tau siapa aku sebenarnya? Siapa orang yang berada dibalik cadar putih ini?" tanya Permaisuri Shiena penuh teka-teki.
"Maksud Nona apa? Bukankah Nona bukan berasal dari Kekaisaran Pearl?" tanya Lady Zoufay bingung.
"Benarkah? Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Permaisuri Shiena.
"A-aku..." ucap Lady Zoufay terbata-bata dan bingung.
Permaisuri Shien kemudian mempersempit jarak antara dirinya dan Lady Zoufay lalu membungkukkan badan agar sama dengan Lady Zoufay. Permaisuri Shiena kemudian membuka cadar putihnya perlahan-lahan hingga membuat Lady Zoufay kaget dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Ka-kau... Ya-Yang Mulia Permaisuri! Bagaimana mungkin?" teriak Lady Zoufay terkejut.
"Terkejut? Tentu saja! Bagaimana?" tanya Permaisuri dengan senyum simpulnya.
"Ampuni hamba Yang Mulia. Hamba mohon ampuni hamba. Hamba telah melakukan kesalahan. Hamba mohon Yang Mulia Permaisuri ampuni hamba." ucap Lady Zoufay berkali-kali dengan keringat mengalir diseluruh tubuhnya.
Lady Zoufay yang awalnya merasa berada di atas angin dan berfikir jika Gadis Suci telah berada di dalam genggamannya sekarang harus merasakan kekecewaan yang mendalam bahkan harus merasakan ketakutan terbesarnya.
"Kau hanyalah seorang Nona Bangsawan muda dari Keluarga Marquess yang baru di angkat statusnya dari gelar seorang Count. Dengan penuh percaya diri mendaki ke atas dan berharap mendapatkan sesuatu hal yang lebih besar. Apa kau tidak pernah berfikir untuk puas dan bersyukur dengan yang kau miliki sekarang?" tanya Permaisuri Shiena.
"Saya mohon Yang Mulia. Ampuni hamba Yang Mulia, saya tau jika saya salah Yang Mulia. Saya berjanji jika saya tidak akan mengulangi hal ini lagi." ucap Lady Zoufay.
Permaisuri Shiena yang mendengar perkataan lady Zoufay tertawa terbahak-bahak. Permaisuri Shiena yang bisa mengetahui isi hati seseorang tentu saja dapat mengetahui apakah orang itu jujur atau berbohong sehingga tak akan ada seorangpun yang bisa menipunya di kehidupan ini.
"Aku tidak percaya pada ucapan manis dari ular berbisa sepertimu! Apa kau tau alasannya? Itu semua karena aku dapat membaca semua yang ada di fikiran dan hatimu yang busuk itu!" ucap Permaisuri Shiena.
Pemaisuri Shiena kemudian mengeluarkan Sihir Debu dan mengarahkannya ke Lady Zoufay. Lady Zoufay yang merasa ada benda kecil yang masuk ke tubuhnya namun tak merasakan sakit apapun.
"Itu adalah hukuman untukmu! Tak akan ada seorangpun yang dapay menyembuhkanmu atau membebaskanmu dari hukuman itu!" ucap Permaisuri Shiena.
Permaisuri Shiena kemudian berbalik arah dan memakai kembali cadar putihnya dan bergegas pergi dari dalam Goa itu tapi sebelum itu Permaisuri Shiena membuat kode yang hanya diketahui oleh Kesatria Elit Kekaisaran dengan maksud agar Kesatria Elit dapat segera menemukan dan menangkap Lady Zoufay.
Permaisuri Shiena tidak melepaskan Lady Zoufay begitu saja apalagi setelah memberitau rahasia terbesarnya. Permaisuri Shiena memberikan Sihir Debu untuk memberikan peringatan dan alarm kepada Lady Zoufay tentang semua kesalahannya seumur hidup.
#**Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
🥰😊😍😘
Terima kasih**