
Anastasya yang sudah mendengar bahwa Duke Simons telah memutuskan untuk menuruti permintaannya tak bisa membuang waktu untuk segera menemui Duke Simons. Anastasya ingin menanyakan langsung persiapan Duke Simons untuk Kudeta nanti. Anastasya tak ingin rencana yang telah tersusun dengan rapat itu menjadi berantakan. Anastasya juga tak ingin mengalami kegagalan untuk kedua kalinya seperti yang dialami oleh Mantan Putra Mahkota Brian.
'Kali ini harus berhasil. Aku tidak bisa membiarkan Val gagal. Aku ingin Shiena dan keluarganya hancur kali ini.' ucap Anastasya dalam hati.
Anastasya yang sudah menyerah untuk mendapatkan Raja Michael tak mempermasalahkannya lagi jika Duke Simons berhasil menjadi Kaisar yang baru karena dirinya tetap akan menjadi Permaisuri di Kekaisaran Pearl serta dirinya dapat melakukan apapun kepada orang-orang yang telah merendahkannya selama ini.
Anastasya kemudian memerintahkan pelayan untuk menyiapkan teh dan cemilan kering untuk dibawa ke ruang kerja Duke Simons. Anastasya tau bahwa saat ini Duke Simons pasti sedang berada di ruang kerjanya.
Namun sebelumnya, Anastasya memerintahkan pelayan untuk membantunya mengganti pakaian dan mendandaninya hingga cantik untuk bertemu Duke Simons. Setelah Anastasya merasa cukup akhirnya Anastasya dan pelayan itu pergi menuju ruang kerja Duke Simons.
Tokkk... Tokkk.... Tokk....
(Suara ketukan pintu)
"Siapa itu?" teriak Duke Simons kesal.
"Ini aku. Apa aku boleh masuk?" tanya Anastasya lembut.
"Masuklah." perintah Duke Simons.
Pelayan pun membuka pintu dan mempersilahkan Anastasya masuk. Anastasya lalu memerintahkan pelayan untuk meletakkan teh dan cemilan kering itu di atas meja dan memerintahkan mereka semua keluar dari ruangan itu.
Setelah kepergian pelayan, Anastasya berjalan dengan anggun menuju meja kerja Duke Simons. Anastasya yang memasang wajah cantik dengan senyuman terbaiknya untuk memikat hati Duke Simons. Lalu Anastasya menyentuh pundak Duke Simons dan menyenderkan kepalanya di bahu Duke Simons.
Duke Simons yang tak mengerti apa mau Anastasya pun menutup lembaran-lembaran berkas yang ada di depannya lalu mencoba bertanya pada Anastasya apa yang diinginkannya karena Duke Simons tak ingin wanita yang dicintainya kehilangan moodnya. Duke Simons yang juga tak tau apa yang diinginkan Anastasya pun bertanya karena tak ingin dibilang sebagai pria yang tidak peka dengan perasaan wanita.
Duke Simons kemudian menarik Anastasya ke arahnya lalu mengangkat tubuh Anastasya dan meletakkannya di atas pangkuannya. Anastasya yang tau apa yang harus dilakukannya pun melingkarkan kedua tangannya dileher Duke Simons dan berperilaku sangat manja.
"Ada apa? Apa ada yang kau inginkan?" tanya Duke Simons terus terang.
"Apa kau merasa tak tau apapun." ucap Anastasya.
"Aku sungguh tak tau sayang. Aku bukanlah seorang penyihir yang memiliki kemampuan membaca fikiranmu, aku hanyalah manusia biasa. Jadi katakanlah apa yang kau inginkan?" tanya Duke Simons sambil membujuk Anastasya.
"Aku menginginkan dirimu. Apa kau lupa jika beberapa hari ini kau sangat sibuk sehingga tak memiliki waktu untukku?" tanya Anastasya pura-pura marah.
"Maafkan aku sayang. Aku sungguh sangat sibuk. Aku harap kau memakluminya, Tasya sayang." rayu Duke Simons.
Anastasya berfikir saat ini Duke Simons telah masuk kedalam perangkapnya dan tinggal sedikit pancingan lagi maka Anastasya akan berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Aku ingin kau meluangkan waktumu untukku sekarang." ucap Anastasya menunjuk meja yang telah siap dengan teh serta cemilan kering.
Duke Simons yang mengerti jika dirinya harus menuruti permintaan Anastasya sekarang karena jika tidak maka dirinya akan mendapatkan wajah masam dan jutek dari Anastasya yang sedang kesal dan marah padanya.
"Baiklah." ucap Duke Simons.
Duke Simons kemudian mengangkat dan menggendong Anastasya menuju meja yang telah disiapkan. Duke Simons meletakkan Anastasya duduk di sampingnya.
Kemudian dengan cekatan dan cepat, Anastasya menyeduhkan teh dan memberikannya kepada Duke Simons. Anastasya kemudian duduk di samping Duke Simons dengan perilaku manja dan seolah meminta perhatian lebih dari Duke Simons saat ini.
"Ada apa sayang?" tanya Duke Simons.
"Aku ingin tau. Apakah persiapan kita untuk melakukan kudeta telah siap?" tanya Anastasya.
"Apa kau meragukanku?" tanya Duke Simons.
"Tidak! Aku percaya padamu. Aku hanya ingin tau sejauh mana persiapannya." balas Anastasya.
"Dasar bodoh! Tentu saja aku cemas dan khawatir. Mana mungkin aku percaya padamu seratus persen. Aku tak ingin menjatuhkan diriku jika hal buruk terjadi. Kau hanyalah pionku. Aku akan menyingkirkanmu jika dirimu sudah tak berguna lagi.' ucap Anastasya dalam hati.
"Benarkah itu?" tanya Duke Simons menggoda Anastasya.
"Tentu saja. Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Anastasya.
"Tentu saja aku percaya padamu." ucap Duke Simons.
"Kalau begitu maka ceritakan semuanya padaku." pinta Anastasya.
"Baiklah. Persiapan kita telah berjalan dengan sangat lancar. Kesatria dari Kerajaan Zambrud selalu berlatih begitu pula dengan dengan Kesatria di Kediaman kita dan Bangsawan lain. Kita akan segera melakukan kudeta dalam waktu dekat dan Raja Michael juga telah mengetahuinya. Raja Michael saat ini sedang dalam perjalanan menuju Kekaisaran Pearl bersama sisa Kesatria yang dijanjikannya. Kesatria-kesatria itu akan menjadi bantuan yang akan mengejutkan Kesatria dari Istana dan akibatnya semua orang yang mendukung Kaisar Franz akan mati ditanganku." ucap Duke Simons.
"Benarkah itu? Aku senang sekali mendengarnya. Aku sungguh tak sabar menunggu hari itu." ucap Anastasya.
"Jangan khawatir aku berjanji akan memberikan Shiena dan keluarganya padamu. Pada saat itu, kau bebas melakukan apapun pada mereka." ucap Duke Simons.
"Terima kasih sayang." ucap Anastasya senang lalu memeluk dan mencium pipi Duke Simons.
'Tunggulah Shiena Ve Carrole! Aku pastikan kau dan keluargamu akan hancur dan mengemis pengampunan padaku.' ucap Anastasya dalam hati.
Anastasya yang merasa dirinya harus mempersiapkan dirinya saat kehancuran Shiena tiba pun kembali ke kamarnya dan memanggil Kepala Pelayan Rumah Tangga untuk mengundang designer Gaun terkenal di Ibukota dan Pemilik Toko Perhiasan terhebat untuk datang menunjukkan koleksi terbaik mereka padanya.
Duke Simons yang ingin sekali berlama-lama bersama Anastasya terpaksa harus memendam keinginan itu karena tumpukan berkas dan lembaran-lembaran surat yang harus diurus dan ditangani tapi Duke Simons berjanji pada dirinya sendiri jika semua telah selesai maka dirinya akan meluangkan banyak waktu untuk bersama Anastasya.
Keesokan paginya, Baron Fromboo yang mendapatakan surat undangan ke Kediaman Duke Simons membawa barang-barang koleksinya menjadi sangat bersemangat karena sesuai prediksi Shiena maka dirinya harus melakukan tugas yang diberikan dengan sangat baik.
Baron Fromboo pun membawa perhiasan-perhaisan terbaiknya dan membawa beberapa pelayan untuk menemaninya. Salah satu pelayan itu ada yang menyamar karena identitas sebenarnya adalah mata-mata yang dikirim oleh Shiena. Mata-mata itu bernama Cell.
Setelah sampai di Kediaman Duke Simons, Baron Fromboo langsung mengambil perhatian Anastasya dan semua pelayan dengan mengeluarkan semua perhiasan-perhiasan yang dibawanya. Perhiasan itu terlihat sangat mahal dan mewah dan tentu saja memiliki hanya memiliki satu desain tiap modelnya.
Anastasya yang mengetahui hal itu semakin bersemangat dan senang. Anastasya sudah tau jika perhiasan yang dijual di toko perhiasan ini sangatlah mahal karena memang sesuai dengan kualitasnya. Anastasya yang juga tau bahwa sangat sulit mengundang Baron Fromboo sebagai pemilik Toko Perhiasan itu untuk datang ke Kediaman Bangsawan apalagi melayani Bangsawan itu secara langsung.
Anastasya kemudian merasa sangat beruntung dan berfikir semua akan berjalan sesuai dengan keinginannya tapi Anastasya tak pernah tau bahwa saat ini telah ada seorang penyusup yang telah menyamar menjadi pelayan di kediaman Duke Simons.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..
🥰😍😘😚 Terima Kasih