The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 241. Wanita Ular


"Apakah wanita ular itu benar-benar harus tinggal bersamaku?" tanya Raja Michael.


"Wanita ular? Siapa?" tanya Kaisar Franz bingung.


"Tentu saja tunangan keponakan yang bodoh!" ucap Raja Michael kesal.


"Maksudnya itu Lady Anastasya?" tanya Kaisar Franz memastikan.


"Betul sekali." ucap Raja Michael membenarkan.


Ha..ha...ha...


(Tawa Kaisar Franz)


"Hei, kenapa kau tertawa Franz? Apa kau mau mengajak perang?" tanya Raja Michael kesal.


"Maaf maaf maaf. Aku tak bisa menahan tawaku. Bukankah Lady Anastasya itu memiliki wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang indah. Kenapa kau menghinanya dengan sebutan wanita ular?" tanya Kaisar Franz pura-pura bodoh.


"Apa kau menyukai wanita seperti itu? Jika iya ambil saja. Jangan memintaku bersamanya sementara waktu." ucap Raja Michael cemberut.


"Eits, jangan membawaku dalam masalahmu. Maaf saja aku sudah punya kekasih yang jauh lebih cantik darinya. Tak hanya cantik wajah tapi juga cantik hatinya.(mode bucin)" ucap Kaisar Franz.


"Apa? Jadi kau benar-benar telah punya kekasih?" teriak Raja Michael.


"...." Kaisar Franz diam.


"Oh, Dewa! Kenapa kau begitu kejam padaku yang merupakan Raja yang tampan, berkarisma dan baik hati ini masih sendiri?" ucap Raja Michael meminta belas kasihan.


Kaisar Franz yang mendengar perkataan Raja Michael tak bisa berhenti tertawa. Kaisar Franz pun tak hentinya terus menghina dan mengejek Raja Michael sehingga Raja Michael menjadi ngambek.


"Bukankah kau sudah punya Lady Anastasya? Sepertinya Dewa telah mengirimnya untukmu!" ejek Kaisar Franz.


"Hmmmm, TIDAK! Bersama wanita ular? Bisa cepat mati aku!" ucap Raja Michael kesal.


"Sudahlah, kau jangan banyak protes! Apa kau mau merasakan sambaran petir Gadis suci?" ucap Kaisar Franz.


"Hah... Justru karna aku takut padanya makanya aku meminta bantuanmu untuk membujuk Gadis Suci!" ucap Raja Michael.


"Lakukan saja sendiri!" ucap Kaisar Franz cuek.


"Dasar kau Kaisar tak punya perasaan!" ucap Raja Michael ngambek.


Raja Michael yang kesal karena membayangkan harus bersama Anastasya untuk beberapa minggu dan harus bersabar dengan semua tingkah laku Anastasya hanya bisa menghela nafas yang sangat panjang.


Di sisi lain, Duke Simons yang sudah dua hari tak menghabiskan waktu bersama Anastasya pergi menemuinya di Kamar dibantu oleh pelayan Istana sebagai penunjuk jalan.


Ketika Duke Simons datang ternyata Anastasya baru selesai mandi dan sedang mencoba menyisir rambutnya dibantu oleh para pelayan. Lalu, Duke Simons segera memberi isyarat tangan agar pelayan itu segera pergi diam-diam.


Setelah merasa suasana aman dan tak ada orang lagi. Duke Simons mendekati Anastasya dan segera memeluknya. Duke Simons yang sangat merindukan Anastasya dan wangi tubuhnya seolah terbius dan mencium tengkuk leher Anastasya.


Anastasya yang terkejut karena ada seseorang yang tiba-tiba datang dan memeluknya akhirnya berfikir bahwa yang datang adalah Raja Michael karena ketika Duke Simons pergi, Anastasya sempat meminta Raja Michael datang ke kamarnya karena ada sesuatu yang ingin ditunjukkannya.


Lalu, tanpa sadar Anastasya memanggil Duke Duke Simons dengan kata lain yang membuat Duke Simons langsung cemburu dan membalik tubuh Anastasya dengan cepat. Anastasya yang terkejut semakun terkejut setelah tau jika dirinya telah salah orang.


"Yang Mulia! Siapa yang kau Panggil Yang Mulia, Tasya?" tanya Duke Simons marah.


'Aduh, gawat! Aku ternyata salah mengira jika orang ini adalah Raja Michael. Aku harus segera mencari alasan yang bagus jika tidak aku bisa dibuang langsung sebelum mendapatkan cinta Raja Michael dam semua rencanaku bisa kacau nantinya!'ucap Anastasya dalam hati.


"Tentu saja dirimu, Val." ucap Anastasya merayu sambil merangkul lembut ke ranjang.


"...." Duke Simons diam.


"Bukankah kau sendiri yang bilang jika sebentar lagi rencanamu yang ingin menjadi Kaisar baru akan segera terlaksana jadi aku berencana mulai terbiasa dengan memanggilmu Yang Mulia agar nanti ketika kau benar-benar menjadi Kaisar. Itu tidak terasa asing bagiku." ucap Anastasya manja di dada Duke Simons.


"Benarkah itu? Kau tidak sedang membohongiku kan, tasya?" tanya Duke Simons.


"Tentu saja. Kenapa aku harus berbohong? Kita telah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah." ucapan manis Anastasya.


Setelah mendengar bujukan dan rayuan dari Anastasya akhirnya Duke Simons percaya dengan mudahnya. Duke Simons menghentikan amarahnya dengan sikap manjanya pada Anastasya. Anastasya yang sudah tak punya pilihan untuk menolak akhirnya menerima perlakuan Duke Simons yang ingin menghabiskan waktu malam itu bersamanya.


Keesokan harinya, Anastasya yang telah bangun memanggil pelayan dan meminta pelayan membantunya bersiap-siap dan meninggalkan Duke Simons sendiri di tempat tidur. Ketika Duke Simons bangun, dia sangat terkejut karena Anastasya tak berada di sampingnya.


Lalu, Duke Simons melihat ada seorang pelayan yang lewat dan segera bertanya. Duke Simons akhirnya sadar ternyata dirinya telah bangun kesiangan dan Anastasya telah bersiap dari tadi. Jadi Duke Simons mengusir pelayan itu dan memakai pakaiannya dan segera kembali ke kamarnya dan bersiap juga untuk sarapan pagi di Istana bersama Raja Micahel.


Anastasya yang telah selesai mandi senang


karena ranjangnya telah rapi dan Duke Simons telah pergi. Anastasya pun segera melanjutkan persiapannya dan meminta pelayan untuk menghiasi dirinya dengan sangat cantik untuk menarik perhatian Raja Michael agar jatuh cinta padanya.


Setelah satu jam kemudian, Anastasya dan Duke Simona telah sampai di ruang makan. Anastasya yang tak melihat Raja Michael datang terlihat kesal apalagi yang datang terlebih dahulu adalah Duke Simons yang membuatnya semakin kesal sementara Duke Simons sangat senang melihat Anastasya kembali.


"Tasya, kau terlihat sangat cantik pagi ini." puji Duke Simons.


"Jadi selama ini aku tidak cantik menurutmu?" sanggah Anastasya kesal.


"Tidak tidak tidak. Kau selalu cantik tapi hari ini kau sangat cantik." ucap Duke Simons.


"Dasar gombal!" ucap Anastasya.


Tiba-tiba Raja Michael yang baru datang langsung ikut menimbrung perbincangan Duke Simons dan Anastasya.


"Kalian berdua benar-benar pasangan yang serasi." ucap Raja Michael.


"Benarkah itu paman? Apakah menurut paman begitu?" tanya Duke Simons.


"Tentu saja. Saya doakan kepada Dewa semoga kalian menjadi pasangan yang langgeng." ucap Raja Michael.


"Terima kasih. Paman." ucap Duke Simons.


"Baiklah. Mari kita sarapan." ucap Raja Michael.


Setelah selesai sarapan bersama, Anastasya yang tidak senang percakapan Duke Simons dan Raja Michael memilih untuk segera kembali ke kamarnya tapi dilarang oleh Raja Michael. Raja Michael mengajak Duke Simons dan Anastasya ikut pergi bersama dengannya ke Ruang Kerjanya.


Didalam Ruang Kerja Raja telah terdapat Pelayan yang telah selesai menyiapkan teh dan juga cemilan manis. Penasehat Kerajaan yang juga ada di ruangan itu telah bersiap dengan Surat Perjanjian yang akan ditanda tangani oleh Duke Simons dan Raja Michael.


"Yang Mulia ini adalah Surat Perjanjian yang Yang Mulia minta." ucap Pensehat Kerajaan.


"Bagus. Berikan itu kepada Duke Simons. Biarkan dirinya membaca terlebih dahulu isi Surat Perjanjiannya." perintah Raja Michael.


Anastasya yang melihat Raja Michael memberikan Surat Perjanjian kepada Duke Simons segera memikirkan rencananya yang terancam batal akhirnya Anastasya membuat rencana untuk tetap tinggal di Kerajaan Zambrud.


"Apakah kita akan segera kembali ke Kekaisaran, Val?" tanya Anastasya sedih.


"Ya, Tasya. Kenapa?" tanya Duke Simons bingung.


"Aku merasa tidak nyaman tinggal di Kekaisaran karena semua orang melihatku seperti seorang pendosa." ucap Anastasya pura-pura menangis.


"Tapi kita harus segera kembali karena ada urusan yang sangat mendesak yang harus segera aku tangani." ucap Duke Simons.


"Maafkan aku menyela tapi jika Lady Anastasya ingin kembali lebih awal. Lady Anastasya bisa tinggal di Istana sementara waktu." saran Raja Michael.


" Val kumohon." ucap Anastasya.


"Hah, Jika itu tidak merepotkan paman. Aku tidak masalah." ucap Duke Simons.


"Tentu saja tidak. Dia adalah tunanganmu dan itu artinya dia juga adalah keluarga kita." ucap Raja Michael.


"Terima kasih Yang Mulia." ucap Anastasya dengan senyum bahagia.


'Dengan begini, aku dapat dengan leluasa mendekati Raja Michael dan menjadikannya sebagai budak cintaku.' fikir Anastasya.


'Kaisar Franz! Kau harus memberikan kompensasi yang besar karena kau membuatku harus mengurusi wanita ular ini." ucap Raja Michael dalam hati.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..


🥰😍😘😚 Terima Kasih