The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 259. Kudeta II


Duke Simons yang memerintahkan Pengikut dan Kesatrianya untuk masuk ke dalam Istana dan menyerang Istana. Ketika mereka semua telah berada di Lapangan Istana, Alat sihir yang diberikan oleh Tetua Agung segera berfungsi. Puluhan bahkan ratusan anak panah jatuh mengarah ke Kesatria Duke Simons dan Pengikutnya dari atas, kanan dan kiri.


Duke Simons yang melihatnya dengan sigap memberikan arahan kepada Kesatrianya untuk membuat formasi pertahanan. Kesatria itu dengan cepat merapatkan barisan lalu meletakkan tempurung yang ada di tangannya ke atas kepala sedangkan Kesatria yang berada di pinggir sisi kanan dan kiri segera jongkok dan membuat Pertahanan seperti tempurung kura-kura.


Alat Sihir yang diberikan oleh Tetua Agung ternyata tak memiliki efek yang begitu besar pada pasukan musuh. Kaisar Franz yang melihatnya dari atas balkon menjadi geram dan mengepalkan tangannya dengan erat.


Kaisar Franz kemudian memerintahkan Jenderal Istana untuk mengaktifkan jebakan kedua yang mana jebakan itu dapat mengeluarkan gelombang suara magnetik yang tak terlihat jika berada di jangakauan radarnya. Suara-suara itu dapat membuat telinga Kesatria yang menjadi tuli sementara hingga tak bisa mendengar perintah dari atasan mereka.


Setelah jebakan kedua diaktifkan banyak Kesatria musuh yang menjerit kesakitan bahkan terduduk dengan cara berlutut  sambil menutup telinga mereka dengan erat. Kesatria itu berteriak dengan sangat kuat karena tak tahan mendengar suara itu bahkan Kesatria yang tidak tahan dengan suaranya terjatuh dan terguling di tanah lalu menjerit kesakitan.


Duke Simons yang duduk di atas kudanya tak merasa takut, cemas atau pun marah. Duke Simons tetap tenang seolah memiliki rencana untuk menghadapi jebakan ini. Duke Simons kemudian memanggil Penyihir terhebatnya untuk membuat Pelindung Sihir dari suara-suara itu dan memberikan bantuan untuk menyembuhkan Kesatria-kesatria yang terluka.


Demi mengalahkan Kaisar Franz dan menjadi Kaisar selanjutnya, Duke Simons bersedia melakukan apapun termasuk memberikan semua yang diinginkan Penyihir itu. Duke Simons juga bahkan telah menerima sumpah setia sehidup semati dari Sang Penyihir.


Kaisar Franz yang melihat jebakan keduanya juga tak berhasil menumbangkan Duke Simons semakin kesal sehingga memerintahkan Jenderal Istana memimpin pasukan Kesatria untuk mengalahkan Duke Simons sementara untuk menghadapi Penyihir Duke Simons, Kaisar Franz memerintahkan Tuan Eit maju berperang.


Setelah mendengar perintah Kaisar Franz, Jenderal Istana segera memberikan kode kepada Kesatria yang bersembunyi untuk keluar dan langsung maju menyerang Kesatria musuh. Lalu, Jenderal Istana bergerak melawan Duke Simons beserta Pengikutnya dalam pertarungan yang tidak imbang. Sementara, Tuan Eit yang mendengar perintah Kaisar Franz juga ikut maju berperang dengan menantang Penyihir Duke Simons Pertarungan itu tak terelakkan lagi sehingga membuat Lapangan Istana menjadi lautan mayat.


Ketika Jenderal Istana terdesak karena banyaknya luka bekas tebasan pedang merasa senang karena tiba-tiba Duke Carrole dan Duke Watson bersama pasukannya datang membantu. Duke Simons dan Pengikutnya yang melihat Pasukan bantuan dari Kekaisaran datang mulai mengepalkan tangannya karena kesal. Duke Simons tak bisa menahan diri lagi saat melihat beberapa pengikutnya yang ditugaskan untuk menghancurkan Mansion Kediaman Bangsawan sekarang dalam posisi terduduk dengan tangan terikat. Duke Simons yang juga melihat Kesatria Kerajaan Zambrud yang hanya diam berdiri di sudut lapangan dan tidak membantu menjadi marah dan berusaha bergerak memberi Kesatria itu pelajaran tapi dihalangi oleh Duke Carrole.


Duke Carrole tak membiarkan Duke Simons melarikan diri ataupun menyerang Kesatria Kerajaan Zambrud. Duke Carrole pun beradu pedang dengan Duke Simons dan tak jarang mereka beradu Sihir. Pertarungan itu berlangsung sengit hingga suara pedang mereka yang berbenturan terdengar jelas.


Duke Watson yang juga berada di sana tak tinggal diam. Dia ikut menyerang dan melawan beberapa Pengikut Duke Simons sendirian. Duke Watson yang awalnya bisa bertarung imbang tiba-tiba mulai terdesak karena dirinya sendiri melawan beberapa orang.


Tuan Muda Alphonso yang awalnya berada di Pos Kiri ternyata meninggalkan Posnya dan menyerahkan tugas itu kepada Jenderal Kediaman Duke Simons. Tuan Muda Alphonso tidak tau kenapa merasa sangat khawatir dan cemas jadi dia memilih untuk segera menuju Istana. Ketika sampai, Tuan Muda Alphonso melihat Duke Watson yang mulai kewalahan melawan musuhnya ikut membantu.


Pertarungan yang awalnya tidak imbang perlahan mulai berbalik. Duke Watson, Tuan Muda Alphonso dan Jenderal Istana bekerjasama melawan Pengikut Duke Simons. Salah satu Pengikut Duke Simons yang khawatir jika mereka akan kalah menggunakan cara kotor untuk membalik keadaan kembali.


Tuan Muda Alphonso yang melihat Duke Watson kesakitan segera merangkul Duke Watson dengan tangan kirinya ke pinggir untuk diobati sementara tangan kanannya bertahan dari serangan Kesatria musuh yang ingin menghentikannya.


Setelah sampai ke pinggir, Tuan Muda Alphonso segera meminta pihak medis untuk segera mengobati Duke Watson. Kesatria yang dari tadi menghalangi Tuan Muda Alphonso tak berhenti. Mereka terus menyerang hingga Tuan Muda Alphonso menggiring mereka kembali ke tengah.


Tuan Muda Alphonso yang marah membalaskan dendam Duke Watson dengan menyerang semua Pengikut Duke Simons hingga semuanya kalah dan menyerah kemudian tangan mereka diikat dengan tali Sihir agar tak bisa lepas.


Sementara itu, Pertempuran Duke Simons dan Duke Carrole berjalan sengit. Duke Simons yang lengah akhirnya terlempar mundur ke belakang beberapa langkah. Duke Simons yang merasa terdesak melihat ke atas tempat Kaisar Franz berada. Duke Simons pun berteriak menantang Kaisar Franz untuk turun bertarung satu lawan satu. Kaisar Franz tak mengubrisnya dan tak terpancing emosi. Kaisar Franz malah memberikan perintah untuk mengahabisi semua musuh dan tidak membiarkan siapapun kabur.


Penyihir Duke Simons yang melihat Duke Simons terpental dengan cepat membuat kurungan yang dapat menahan pergerakan Tuan Eit sementara. Penyihir Duke Simons kemudian berlari menuju tempat Duke Simons berada dan menyalurkan Sihir Cahayanya untuk bergegas menyembuhkan Duke Simons. Duke Carrole yang melihatnya tak membiarkan hal itu terjadi. Duke Carrole menyerang Penyihir Duke Simons. Ketika pertarungan berlangsung Duke Carrole tiba-tiba diserang oleh Duke Simons dari belakang menggunakan pedang. Pedang itu menancap di dada Duke Carrole dan membuat Duke Carrole terduduk di tanah dengan darah mengalir membasahi baju perangnya.


Shiena yang melihat hal itu tak bisa menahan dirinya lagi dan langsung keluar dari dalam Cincin Ruang. Shiena yang marah mengeluarkan Sihir Angin. Angin yang berhembus dengan kencang pun melemparkan Duke Simons dan Penyihirnya ke belakang. Tak hanya itu, Kesatria-kesatria yang berada di dekat Duke Simons pun ikut terlempar.


Semua orang yang melihat Shiena tiba-tiba datang menjadi terkejut tak terkecuali Kaisar Franz yang berada di atas Balkon. Kaisar Franz tak menyangka jika Shiena akan ada di tengah-tengah Pertempuran. Kaisar Franz dengan cepat turun dan segera pergi ke tengah Pertempuran.


"Ayah!" teriak Shiena.


Shiena yang melihat Duke Carrole terluka segera menemui Duke Carrole dan menangkap tubuhnya. Dengan cepat, Shiena menarik pedang yang menancap dengan hati-hati lalu mengeluarkan Sihir Cahaya untuk menghentikan pendarahan. Shiena kemudian fokus menyebuhkan luka didada Duke Carrole. Shiena tak memikirkan apapun karena yang menjadi prioritas utamanya adalah keselamatan Duke Carrole.


#Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..


🥰😍😘😚 Terima Kasih