
Permaisuri Shiena mengajak anak kecil itu pergi menjauh bersamanya. Sang anak yang tak terbiasa dengan hal ini menjadi takut. Permaisuri Shiena yang mengerti ketakutan yang dialami sang anak pun mencari tempat aman untuk mereka beristirahat.
Permaisuri Shiena pun kembali ke mejanya di Restoran semula. Anak itu merasa terkejut dan bingung karena saat ini dirinya berada di dalam Restoran yang telah lama diimpikannya. Permaisuri Shiena yang menyadari itu meminta anak itu duduk lalu Permaisuri Shiena memesan lagi banyak menu. Anak kecil itu yang kelaparan tak bisa menolak hidangan yang ada di depannya.
'Meskipun aku harus mati, lebih baik aku mati dalam keadaan perut kenyang daripada kelaparan.' ucap anak kecil dalam hati.
Permaisuri Shiena yang tersentuh setelah membaca fikiran anak kecil itu pun merasa prihatin dan berencana untuk menolongnya.
"Jangan khawatir makanan ini gratis dan kau bisa memakan semuanya bahkan kau bisa membawanya pulang jika kau mau." tawar Permaisuri Shiena.
"Benarkah itu Nona?" tanya Anak kecil semangat.
"Tentu saja. Sekarang jawab pertanyaanku. Siapa namamu? Jangan takut katakan saja semuanya dan jangan berbohong padaku." ucap Permaisuri Shiena.
"Namaku Andrian Nona. Aku adalah anak jalanan yang tak punya orang tua." ucap Andrian kecil.
"Apakah kau dibuang oleh kedua orang tuamu?" tanya Permaisuri Shiena.
"Tidak Nona. Kedua orang tuaku telah meninggal." ucap Andrian polos.
"Maafkan aku. Apa kau sendirian?" ucap Permaisuri Shiena.
Andrian pun menceritakan semuanya pada Permaisuri Shiena hingga akhirnya Permaisuri Shiena mengetahui bahwa Andrian tidak sendiri. Banyak anak-anak terlantar sama sepertinya dan Permaisuri Shiena bahkan baru mengetahui bahwa ada daerah kumuh di sekitar Ibukota Kekaisaran.
Permaisuri Shiena yang penasaran akan kebenaran itu meskipun telah mengetahui bahwa Andrian tidak berbohong tapi Permaisuri Shiena ingin melihatnya secara langsung. Permaisuri Shiena pun ikut Andrian pergi ke tempat kumuh itu.
Permaisuri Shiena melihat hal yang berbeda seratus delapan puluh derajat sangat berbeda dengan kehidupan mewah yang selama ini dijalaninya. Permaisuri Shiena yang tak bisa menahan kesedihannya pun menangis ditempat apalagi saat Andrian membawakan dan membagikan makanan enak yang telah dibawanya untuk teman-temannya.
'Aku telah menjadi Ratu di kehidupan sebelumnya dan telah menjadi Permaisuri di kehidupannya sekarng tapi tak pernah mengetahui kesedihan dan penderitaan rakyatnya.' ucap Permaisuri Shiena dalam hati.
Permaisuri Shiena pun bertekad dalam hatinya untuk mencoba merubah nasib anak-anak itu dan menghukum Bangsawan yang telah mencoba menutup matanya dan Kaisar dengan kebohongan palsu sehingga dirinya tak pernah mengetahui sisi gelap dari rakyatnya.
"Apakah kalian ingin sekolah dan belajar seperti anak yang lain?" tanya Permaisuri Shiena.
Anak-anak yang sedang makan tiba-tiba berhenti mengunyah makanannya dan menundukkan kepala dengan ekspresi sedih. Andrian yang telah mengetahui maksud Permaisuri Shiena mewakili teman-temannya menjawab.
"Tentu saja kami mau, Nona tapi kami anak miskin dan tak punya apapun. Daripada sekolah menghabiskan waktu, kami lebih memilih mencari uang untuk mengisi perut kami." ucap Andrian sedih.
"Benar Nona. Kami ingin seperti anak lain yang memiliki orang tua yang dapat merasakan pendidikan meski untuk rakyat jelata seperti kami." ucap salah satu anak.
Permaisuri Shiena yang mengerti jika saat ini di Kekaisaran Pearl tidak ada sekolah untuk anak Rakyat biasa. Sekolah hanya diperuntukkan untuk anak Bangsawan meskipun rakyat biasa itu bisa sekolah mereka harus mendapatkan dukungan dari seorang Bangsawan untuk semua biayanya.
Permaisuri Shiena yang telah bertekad akan mengubah masa depan anak-anak itu pun berencana mendirikan sekolah khusus anak-anak dari kalangan Rakyat biasa tanpa dipungut biaya apapun.
"Aku akan membuat kalian semua sekolah. Apa kalian mau?" tanya Permaisuri Shiena.
Anak-anak itu terdiam mendengar perkataan Permaisuri Shiena. Di dalam hati semuanya senang jika dapat bersekolah karena berfikir mungkin masa depannya akan berubah tapi disisi lain mereka takut akan kelaparan apalagi jika mereka harus menghabiskan banyak waktu untuk sekolah daripada mencari uang.
Permaisuri Shiena yang mengetahui dilema anak-anak kecil itu pun diam dan tak membahas masalah itu lagi. Permaisuri Shiena pun pamit dan bergegas kembali ke Istana karena takut Marry dan Ana membuat Istana gempar karena dirinya menghilang tiba-tiba dalam waktu yang lama.
Permaisuri Shiena yang percaya diri dengan kekuatannya berencana tidak ingin melarikan diri lagi dan ingin mengetahui maksud dan tujuan laki-laki itu. Shiena pun menjebak pria itu mengikutinya hingga ke tempat sepi lalu menggunakan Sihir Gelap untuk menghilang dan tiba-tiba muncul dibelakang laki-laki itu hingga membuatnya terkejut.
"Siapa kau? Mengapa kau mengikutiku?" tanya Permaisuri Shiena.
"Ka-kau! Bagaimana kau bisa ada dilakangku?" tanya Laki-laki muda itu terkejut.
"Itu bukan urusanmu. Sekarang katakan apa alasanmu mengikutiku dan mencari tau keberadaanku?" tanya Permaisuri Shiena.
"Ternyata benar dugaanku. Kau bukanlah gadis sembarangan. Namaku Zero. Aku adalah Murid Jenius dari Menara Sihir. Sekarang kau tau siapa aku jadi bisa kau beritau aku siapakah dirimu gadis cantik?" rayu Zero.
Permaisuri Shiena yang mendengar rayuan murahan dari seorang anak laki-laki yang tak tau malu di depannya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
'Orang ini terlalu percaya diri dengan kekuatan dirinya tapi tidak masalah bukankah semua orang harus percaya dengan kekuatannya sendiri.' ucap Shiena dalam hati.
Permaisuri Shiena yang tak ingin meladeni rayuan gombal yang tidak masuk akal menurutnya pun memilih pergi dan meninggalkan Zero sendirian dengan posisi kaget, terkejut dan terkesima.
"Kemana gadis cantik itu? Apa dia telah pergi lagi?" ucap Zero panik.
"Ternyata benar gadis cantik itu telah menghilang lagi. Aku sungguh penasaran siapa gadis itu sebenarnya. Aku harus mencari tau dan mendapatkannya sebelum orang lain mendapatkannya terlebih dahulu. Gadis cantik tunggu Babang Tamvan!" ucap Zero dengan gaya tangan kanan luruh kedepan dan tangan kiri di dada seolah sedang mengutarakan perasaan pada pujaan hatinya.
Permaisuri Shiena yang telah pergi cukup lama akhirnya sampai di Istana. Marry dan Ana yang telah menunggu dan berjaga dari tadi akhirnya merasa lega setelah melihat Permaisuri Shiena kembali dengan selamat.
"Yang Mulia, anda tidak boleh pergi terlalu lama seperti ini lagi." ucap Marry cemas.
"Benar sekali itu Yang Mulia. Kami mohon Yang Mulia ajaklah kami juga ikut bersamamu. Jangan pergi seperti ini. Apa Yang Mulia ingin melihat kami berdua mati karena cemas." ucap Ana cerewet.
"Maaf maafkan aku. Yang terpenting bukankah aku telah berada disini sekarang. Aku merasa sangat gerah dan lapar. Apa kalian berdua bisa menyiapkannya sekarang?" tanya Permaisuri Shiena mengalihkan topik.
"Baiklah, kami akan melaksanakannya sekarang. Ayo Ana." ajak Marry.
"Tapi Marry..." ucap Ana terbata.
"Yang Mulia..." rengek Marry.
Permaisuri Shiena yang melihat Ana diseret pergi oleh Marry hanya bisa menahan tawa. Permaisuri Shiena tau jika kedua dayangnya ini adalah orang yang sangat setia dan perduli padanya sehingga tidak mempermasalahkan apa yang mereka lakukan.
Marry pun menyiapkan air hangat dan membantu Permaisuri Shiena membersihkan dirinya. Ana kemudian melakukan tugasnya dengan menyediakan cemilan enak serta teh hangat saat Permaisuri telah selesai mandi.
Permaisuri Shiena memiliki dayang lain selain Marry dan Ana untuk membantunya tapi untuk urusan pribadi Permaisuri Shiena lebih memilih menyerahkan semuanya pada Marry dan Ana sebagai orang kepercayaannya.
#**Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
🥰😊😍😘
Terima kasih**