
Shiena yang mendengar pernyataan Putra Mahkota Franz tak bisa mengatakan apapun meskipun hatinya berkata untuk menerima cinta Putra Mahkota Franz tapi Shiena masih belum yakin karena masih trauma dengan kehidupan masa lalunya.
Setelah melihat matahari terbit yang begitu indah. Tuan Eit mengahadap Putra Mahkota Franz bahwa saat ini di Kekaisaran sedang sangat heboh dengan berita tentang Shiena yang menjadi pelaku kejahatan.
Shiena yang mengerti maksud dari Tuan Eit melihat ke arah Putra Mahkota Franz. Putra Mahkota Franz hanya tersenyum kepada Shiena tanpa berkata apapun tapi Shiena bisa mengetahui maksud dari senyuman itu bahwa Putra Mahkota Franz ingin Shiena percaya padanya.
Shiena sebenarnya bisa saja melepaskan diri dari semua tuduhan dengan Lencana Penyelidikan dan Hukuman miliknya tapi karena Putra Mahkota Franz yang telah berniat dan melakukan banyak hal untuk membantunya, Shiena pun tetap diam dan melihat apa yang akan dilakukan Putra Mahkota Franz.
"Sudah saatnya kita kembali Shiena! Kita akan balas orang itu!" ucap Putra Mahkota Franz.
"Ya!" jawab Shiena.
Mendengar perkataan Putra Mahkota Franz, Tuan Eit pun bergegas mengemasi barang-barang dan mereka pun kembali ke Ibukota.
Di perjalanannya, Shiena yang tak tau kenapa merasa sangat gugup dan Putra Mahkota Franz yang melihatnya menggenggam tangan Shiena dan menatap wajah Shiena yang membuat Shiena seketika menjadi tenang. Selama perjalanan Putra Mahkota Franz tak hentinya menggenggam tangan Shiena dan Shiena pun tak ingin genggaman itu terlepas.
Setelah perjalanan yang memakan waktu berjam-jam akhirnya mereka bertiga sampai di Ibukota. Putra Mahkota Franz mengantar Shiena kembali ke Kediamannya yang di sambut oleh banyak Pelayan dan Kesatria setia di Keluarga Carrole.
Lalu, Putra Mahkota Franz pun kembali ke Istana tapi sebelum kembali Putra Mahkota Franz memberikan perintah untuk melakukan sidang terbuka untuk masalah yang dihadadai Shiena sekarang dengan tujuan agar semua Bangsawan dan Rakyat di Kekaisaran dapat mengetahui kebenarannya dan tak ada yang akan berfikir jika hasil dari persidangan itu tidak lah adil.
Shiena yang baru sampai segera dibantu oleh marry dan Ana membersihkan diri dan bersiap-siap. Shiena yang tak selera makan di meja makan karena sendiri akhirnya memutuskan untuk makan di kamarnya. Marry dan Ana pun membawakan makanan itu ke kamarnya.
Ketika sedang makan, Marry datang menyampaikan surat dari Marquess Laurence, Tuan Muda Alphonso, Baron Fromboo, Tuan Valkrim dan Tuan Grogolia yang isinya semuanya meminta bertemu. Shiena yang masih sangat lelah memilih untuk membalas dan menyampaikan jika dirinya saat ini baik-baik saja dan untuk kasusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan karena besok saat dipersidangan semua akan menjadi jelas.
Marry dan Ana pun bergegas menyampaikan surat tersebut dan meninggalkan Shiena sendiri. Shiena yang merasa besok akan menjadi hari yang sangat berat memutuskan untuk beristirahat dan tidur lebih awal untuk mengistirahatkan tubuh dan fikirannya.
Sementara itu, Putra Mahkota Franz yang telah sampai di Istananya bergegas memanggil Tuan Eit dan menyampaikan pesannya kepada Pemilik Restoran dan Keluarga Bangsawan yang bertemu dengannya dan Shiena untuk hadir di Persidangan nanti sebagai Saksi dan membawakan bukti.
Tuan Eit yang mengerti akan tugasnya langsung bergerak menjalankan perintah. Putra Mahkota Franz yang tak bisa diam saja, segera pergi ke Kediaman Marquess Laurence memilih menggunakan Sihir Gelapnya daripada kereta kuda karena khawatir akan ada orang yang curiga.
Ketika sampai di Kediaman Laurence, Putra Mahkota Franz segera mencari keberadaan Marquess dan mendapati bahwa Marquess Laurence saat ini sedang ada di ruang kerjanya. Putra Mahkota Franz pun berdiri di depan pintu dan tak disangka ternyata Marquess Laurence telah mengetahuinya.
"Saya tau, Yang Mulia ada di luar. Yang Mulia dapat masuk kapanpun karena tak ada seorang pun disini." ucap Marquess Laurence.
Putra Mahkota Franz yang mendengar perkataan Marquess Laurence pun masuk dengan menyelinap menggunakan Sihir Gelap.
"Kepala Keluarga Laurence dan sekaligus Tetua Menara Sihir memang sungguh hebat." ucap Putra Mahkota Franz.
"Yang Mulia terlalu memuji. Kita langsung saja ke inti permasalahan. Apa yang Yang Mulia lakukan disini?" tanya Marquess Laurence sinis.
"Aku hanya membutuhkan bantuanmu untuk menyelamatkan Shiena." ucap Putra Mahkota Franz langsung.
"Katakan, apa yang Yang Mulia inginkan dariku?" tanya Marquess Laurence.
"Saya tak perlu berbohong ataupun bersaksi palsu karena ketika kejadian itu berlangsung aku memang sedang bersama Shiena tapi Shiena memilih pergi untuk melihat keadaan wanita ular itu. Seharusnya aku mencegah dan melarangnya pada saat itu padahal aku tau wanita ular itu lah dalang dari gosip Shiena yang heboh baru-baru ini." ucap Marquess Laurence.
"Baiklah. Aku bisa tenang jika begitu." ucap Putra Mahkota Franz.
Putra Mahkota Franz pun berbalik berencana pergi dan kembali ke Istananya tapi tiba-tiba Putra Mahkota Franz berbalik kembali dan melihat ke arah Marquess Laurence.
"Apa kau tak merasa aku adalah sainganmu untuk mendapatkan Shiena?" tanya Putra Mahkota Franz.
"Anda memang sainganku Yang Mulia tapi aku tak ingin memaksakan cintaku padanya. Aku akan melepaskan Shiena kepada pria manapun yang dicintainya asalkan Shiena bahagia." ucap Marquess Laurence.
"Apakah itu termasuk diriku?" tanya Putra Mahkota Franz.
"Ya, termasuk anda Yang Mulia tapi jika anda menyakitinya maka saat itu lah anda akan menerima balasan dan hukumannya." ancam Marquess Laurence.
"Jangan khawatir, aku sangat mencintainya. Aku tak akan menyakitinya. Kau bisa pegang janjiku!" ucap Putra Mahkota Franz
"Saya tidak membutuhkan janjimu Yang Mulia. Saya hanya ingin kata cinta yang Yang Mulia ucapkan itu dapat dibuktikan dengan tindakan." ucap Marquess Laurence.
"Baiklah. Kau bisa melakukan apapun padaku jika aku menyakiti Shiena." ucap Putra Mahkota Franz.
"....." Marquess Laurence.
Putra Mahkota Franz pun pergi dari ruang kerja Mrquess Laurence yang sedang berdiri mematung menatap pintu yang tertutup sedari tadi.
'Jika satu tetes saja air mata keluar dari mata indahnya maka saat itu adalah hari terakhirmu untuk merasakan hidup yang nyaman!' janji Marquess Laurence dari lubuk hatinya terdalam.
Marquess Laurence pun terduduk di kursinya dengan kepala disisi kursi kemudian meletakkan lengan tangannya dikedua matanya sambil menghela nafas yang sangat panjang.
"Shiena!" ucap Marquess Laurence lirih.
Sementara itu, di Kediaman Duke Simons, Duke Simons yang sedang makan bersama Anastasya, Count Larsca dan Countess Larsca mendapatkan gangguan dari seorang kesatria yang melaporkan bahwa Shiena telah kembali dan besok akan diadakan sidang tentang kasus antara Anastasya dan Shiena.
Semua yang ada di dalam ruang makan itu tak bisa menutupi kembiraan mereka karena berfikir besok adalah hari dimana kehancuran Shiena Ve Carrole meskipun mereka tau jika Shiena tak akan bisa mendapatkan hukuman jika menggunakan Lencana Pembebasan tapi paling tidak seluruh rakyat dan bangsawan akan tau jika Shiena bersalah dan saat itu lah Shiena akan kehilangan reputasinya.
Anastasya dan Countess Larsca adalah orang yang sangat senang dan bersemangat hingga tak sabar menunggu hari esok. Anastasya bahkan telah membayangkan Shiena yang akan dihina dan dicaci oleh semua orang di dalam ruang sidang dan nama baiknya akan pulih kembali sehingga dirinya dapat mencoba lagi mendapatkan hati Putra Mahkota Franz.
#Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..
🥰😍😘😚 Terima Kasih