The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 21. Senjata Makan Tuan


Shiena dan Putra Mahkota pergi menaiki kereta kuda. Kereta kuda ini tidak lah besar dan tidak memiliki lambang keluarga kerajaan ataupun bangsawan jadi kami yang berada di dalam kereta duduk seperti berhimpit-himpitan.


Tidak ada yang memulai pembicaraan apapun di dalam kereta kuda tapi shiena selalu mencoba untuk membaca fikiran Putra Mahkota dan mencari tau apa rencananya lalu memikirkan ide untuk mengahadapi Putra Mahkota.


*Ditempat penginapan, aku tidak akan bilang jika tidur terpisah kamar tapi tetap berada dalam satu ruang. Aku ingin lihat apa reaksi dan apa yang ada di benaknya.* fikir Putra Mahkota.


'Ooh, Jadi saat ini dia berencana membuatku malu dengan menggiringku berfikir bahwa kami akan tidur sekamar selama acara Festival Bunga.' ucap Shiena dalam hati.


Acara Festival bunga akan diadakan selama dua hari, hari pertama akan ada banyak orang yang menarikan berbagai macam tarian dan diikuti iringan orang memakai kostum dari bunga lengkap dengan lambang dari keluarga bangsawan yang mendanainya di sepanjang jalan menuju istana.


Lalu, di hari kedua semua tarian dan kostum bunga yang telah pertunjukkan di sepanjang jalan ke istana akan dipertunjukkan di halaman istana yang sangat luas untuk mendapatkan penilaian dari Kaisar dan menentukan siapa yang akan mendapatkan hadiahnya.


Shiena dan Putra Mahkota telah sampai di Penginapan Manister di ibukota Kekaisaran Pearl. Putra Mahkota menggandeng tangan Shiena hingga masuk ke dalam Penginapan.


'Hmmm, sepi sekali penginapan ini. Apa tidak ada pengunjung?' ucap Shiena dalam hati.


"Kemana semua pengunjungnya? Apa tidak ada yang menginap?" tanya Shiena.


"Penginapan ini tentu memiliki banyak pengunjung apa lagi saat ini festival sedang berlangsung." jawab Ian.


"Lalu, kemana semua pengunjungnya?" tanya Shiena penasaran sambil berjalan masuk.


"ntah lah. Aku tidak tau." ucap Ian


Shiena yang tidak bisa percaya langsung dengan ucapan Putra Mahkota langsung memangdangnya untuk membaca fikiran Putra Mahkota.


*Ternyata benar, jika pagi penginapan ini masih sepi. Sebagian dari pengunjung belum ada yang bangun atau berdatangan.* fikir Putra Mahkota.


'Ah, ternyata begitu alasannya. Dasar Putra Mahkota sialan, apa dia tidak bisa mengatakan kenyataannya?' ucap Shiena dalam hati kesal.


"Kemana para pengawal? Aku tidak melihat mereka dari kita berangkat sampai sekarang?" tanya Shiena penasaran.


"Mereka sedang mengawal kita di tempat yang tidak bisa kita lihat tapi tenang saja mereka akan selalu siap siaga jika ada sesuatu yang terjadi. Lagipula, aku kan sedang pergi bersama tunanganku. Lebih baik kalau kita merasa disini hanya berdua." ucap Ian dengan senyumnya.


Shiena yang merasa aneh pun menaikkan satu alisnya karna ucapan Putra Mahkota.


"Kita mandi dulu lalu kita makan cemilan. Di depan itu kamar kita." ucap Ian.


Mereka menempuh perjalanan selama beberapa jam dari pagi buta hingga sampai ke tempat penginapan.


Lalu ketika sampai di depan pintu Shiena sedikit bermain dengan rencana Putra Mahkota.


"Ka-kamar kita?" kata Shiena sedikit terkejut.


"Ya" jawab Ian


"Ya." ucap Ian.


"Lalu, kamar ian dimana," tanya Shiena


"Disini." kata Ian santai.


Shiena pun langsung memainkan rencananya yang membalas niat buruk Putra Mahkota.


"Oohhh, baiklah." kata Shiena datar.


" ..... " Ian terdiam dan sedikit terkejut.


"Ayo kita masuk ian." kata Shiena


"Apa kau tidak sedikit pun punya perasaan khawatir?" tanya Ian.


"Khawatir? Kenapa?" tanya Shiena polos.


Shiena pun membuka pintu dan masuk dengan santainya.


"Kita akan tinggal dalam satu ruangan. Apa kau tidak takut terjadi sesuatu padamu." tanya Putra Mahkota.


'Ah, jadi dia ingin menggiring opiniku ke arah sana rupa nya. Maaf saja ya Putra Mahkota, aku tidak akan masuk dalam jebakanmu. Apa lagi masuk dalam perangkap wanitamu lagi." jawab Shiena dalam hati.


"Ah, itu. Tidak. Apa yang perlu di khawatirkan? Kau adalah tunanganku lagi pula kedua orangtuaku tau jika aku bersamamu ian. Jika memang terjadi sesuatu. Kita tidak perlu mengumumkan pertunangan langsung saja pernikahn." jawab Shiena santai.


"....." Putra mahkota terdiam.


Shiena yang sudah mendahului Putra Mahkota, berbalik dan ingin membaca apa yang di fikirkan sekarang.


*Apakah semudah itu baginya menjawab soal pernikahan? Apa dia tidak masalah menikah tanpa cinta? Atau dia memang tidak peduli akan hal itu.* fikir Ian bingung.


Setelah tau apa yang ada di fikiran Putra Mahkota. Shiena pun masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Putra mahkota yang tampak bingung dan terkejut.


'Rasakan itu! Senjata makan Tuan! Hahaha' tawa Shiena dalam hati.


#Bersambung#


Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote, & Favorite.


Terima Kasih


❤😅🥰