The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 26. Janji


Karna terkejut dan tak ingin di peluk oleh Putra Mahkota, akhirnya Shiena mundur kesamping sehingga membuat Putra Mahkota terjatuh.


Putra Mahkota terjatuh dengan cara terjungkir dari kursi dimana kepala berada di bagian bawah dan kaki ada di atas. Sungguh pemandangan yang memalukan bagi Putra Mahkota Kekaisaran ini.


Shiena yang melihat kejadian itu langsung berhenti menangis dan tertawa dengan sangat lepas.


Ha.. ha.. ha


(Tawa Shiena).


"Hey, berhenti tertawa? dan bantu aku berdiri" kata Putra Mahkota.


"Tidak mau. Coba saja berdiri sendiri atau aku panggilkan Marry atau Zee saja." ucap Shiena spontan.


"Ja-jangan!" teriak Ian.


"..... " Shiena


"Aku mohon tolong aku." ucap Putra Mahkota pasrah.


'Hmmm, ternyata Putra Mahkota ini bisa juga meminta tolong. Baiklah akan aku tolong.' ucap Shiena dalam hati.


Shiena pun membantu Putra Mahkota berdiri kembali dan membantu membersihkan pakaiannya yang sempat kotor.


"Kau, ku larang untuk menceritakan semua kejadian ini kepada siapapun!" perintah Ian.


"Kenapa? Bukankah itu lucu?" kata Shiena menggoda.


"Itu tidak lucu sama sekali." ucap Ian.


"Hah, Ian tidak punya rasa humor yang bagus." ucap Shiena kecewa.


"Apanya yang humor? Apa kau tidak lihat posisiku tadi. Itu sangat memalukan. Aku adalah Putra Mahkota di Kekaisaran ini jadi hal itu adalah hal yang sangat memalukan.!" ucap Ian kesal.


"hahaha" Shiena tertawa


"Ayo lah Ian, anggap saja itu hal yang lucu." kata Shiena tak mau menyerah menggoda.


Putra Mahkota yang semakin kesal karna di ejek, membuat raut wajahnya semakin memerah.


"Itu tidak lucu. Lucu bagimu tapi sengsara bagiku." ucap Ian.


"Hahaha..... Sengsaramu itu bahagia ku" ucap Shiena spontan.


Sehingga membuat Putra Mahkota menaikkan satu alisnya dan membuat Putra Mahkota semakin kesal dan mencubit pipi Shiena.


"A-aduh sa-sakit." ucap Shiena kesakitan.


"Berhenti tertawa, barulah aku lepaskan." ucap ian.


"I-iya aku berhenti tertawa." kata Shiena pasrah


Akhirnya Putra Mahkota melepaskan cubitannya dan membuat Shiena mengadu kesakitan dan mengelus-elus pipinya.


"Maafkan aku karna telah membentak dan menarikmu kasar." ucap Putra Mahkota menyesal.


"Maafkan aku juga karna menertawaimu." kata Shiena.


"Apakah kita impas?" tanya Ian.


"Hmmm, baiklah. Tapi tangan dan pipiku sakit." kata Shiena sambil memegang tangan pipinya yang sakit.


"Maaf. Aku siap melakukan apapun agar kau memaafkanku." ucap Ian.


"Benarkah?" tanya Shiena


"Tentu. Katakan saja apa mau mu?" tanya Ian.


"Bisa batalkan pertunangan kita?" tanya Shiena.


"TIDAK!" kata Ian tegas.


"Kenapa? Katamu kau akab mengabulkan apapun. Kau bohong." ucap Shiena


"Kenapa?" tanya Shiena


"....." Putra Mahkota


Mahkota yang diam dan tidak menjawab apapun malah berpaling pergi membuat Shiena tidak bisa membaca fikirannya.


'Ah, sial. Apa yang dia fikirkan? Kenapa juga langsung berbalik dan pergi. Aku jadi tidak bisa membaca fikirannya dan tidak tau apa jawabannya. Menyebalkan.' ucap Shiena dalam hati kesal.


Akhirnya Shiena dan Ian kembali ke tempat duduk mereka tapi karna Shiena bosan jadi mereka pergi dari sana dan memutuskan untuk turun ke jalan dan membaur dengan rakyat biasa.


"Aku bosan jika terus duduk disini. Aku ingin kita turun dan membaur dengan rakyat biasa." ucap Shiena frustasi.


"Baiklah. ayo." ucap Ian sambil mengulurkan tangan.


Ian dan Shiena turun dari restoran itu dengan bergandengan tangan. Mereka menikmati waktunya dengan berjalan-jalan dan menikmati makanan yang di jual di pinggir jalan.


"Ian, coba lihat itu. Itu kan permen kapas. Aku ingin beli itu." ucap Shiena spontan.


Shiena dan Ian pergi ke tempat penjual permen kapas. Disini terjual permen kapas dengan berbagai warna dan bentuk yang lucu.


"Wah, aku mau warna pink bentuk kupu-kupu. Ian mau apa?" tanya Shiena.


"Aku warna hijau bentuk naga." jawab Ian.


"Hmmm, rasanya manis sekali. Terima kasih." ucap Shiena dengan senyum tercantik.


Putra Mahkota hanya mengangguk dan tersenyum membalas ucapan terima kasih Shiena


"Apakah tangan dan pipimu masih sakit?" tanya Ian.


"Hmmm, tidak sakit lagi tapi kau masih berhutang satu permintaan padaku. Humft... " ucap Shiena dengan pipi yang mengembang tanda masih mengambek.


"Bukankah jalan-jalan dan permen kapas ini permintaanmu?" tanya Ian iseng.


Shiena yang mendengar jawaban itu langsung menoleh dan tatapannya melotot tanda tak percaya.


"Hah, itu tidak termasuk itungan permintaanku!" jawab Shiena jengkel.


Hahahaha (Tawa Putra Mahkota)


"Ya, baiklah. Aku berhutang satu permintaan jadi bisa kau katakan apa yang kau minta kecuali pembatalan pertunangan kita." jawab Ian cepat.


Shiena yang mendapatkan pernyataan itu langsung membelalakkan matanya tapi Putra Mahkota langsung membuat Shiena mengedipkan mata sehingga dia tidak bisa lagi membaca fikirannya.


"Hey..." teriak Shiena kesal.


"Jangan melotot nanti matamu copot." ucap Ian.


"Humft.. Baiklah. Aku belum tau apa yang aku inginkan. Nanti jika aku punya sesuatu yang aku inginkan maka aku akan memintanya langsung dan kau harus mengabulkannya." kata Shiena.


"Baiklah, Aku berjanji." ucap Ian.


Shiena pun menyodorkan jari kelingkingkung dan meminta Putra Mahkota melakukan hal yang sama.


"Janji." kata Shiena.


" Hmmm, janji!" ucap Ian penuh kepastian.


Shiena pun berjalan riang dengan senyum cantik yang mengambang, lalu Shiena menoleh kebelakang dan ada tiupan angin yang menerbangkan sebagian ujung rambutnya dengan pemandangan bunga dan cahaya matahari senja beserta alunan musik dan itu terlihat sungguh cantik membuat Putra Mahkota menjadi...


Deg.. Degg.. Deggg...


#Bersambung#


Jangan lupa tekan LIKE, KOMEN, VOTE & FAVORIT


Terima Kasih


❤😘🥰