
Tuan Grogolia yang khawatir akan ketahuan mempercepat makannya dan meminta izin kembali terlebih dahulu karena ada urusan mendadak. Shiena yang tau isi fikiran Tuan Grogolia hanya diam. Shiena pun dengan santai menikmati makan malamnya yang terasa lebih lezat dari biasanya.
Keesokan paginya ternyata telah memasuki musim dingin pertama. Shiena memerintahkan Marry untuk menyampaikan surat kepada Baron Fromboo bahwa dia harus bersiap-siap menjual rempah-rempah itu saat krisis bahan rempah terjadi. Shiena sangat senang karena sebentar lagi waktunya untuk panen koin emas.
Marry pun mengirimkan surat itu tapi tidak seperti biasanya. Marry memberikan polesan bedak dan pemerah bibir di wajahnya. Shiena yang melihat menjadi curiga tapi tak ingin memikirkannya sekarang karena ada hal lain yang lebih penting.
Shiena meminta pelayan lain untuk menyiapkan barangnya karena besok pagi akan pergi mengunjungi lokasi pertambangan yang niat sebenarnya adalah memasukkan Tuan Grogolia ke dalam penjara.
Sementara itu, Putrw Mahkota pergi ke penjara untuk mengunjungi Robert. Putra Mahkota pergi menaiki kereta kuda biasa tanpa lambang Keluarga Kekaisaran untuk menghindari tatapan rakyat.
Ketika sampai di penjara, Kesatria yang bertuga memberi hormat kepada Putra Mahkota tapi saat Putra Mahkota ingin meminta kesatria penjaga mengeluarkan Robert untuk berbicara dengannya. Kesatria tersebut menolak dengan alasan perintah Kaisar.
Putra Mahkota sangat marah mendengar penolakan itu sehingga Putra Mahkota mengancam kesatria itu jika tidak menuruti perintahnya.
"Buka penjara ini dan keluarkan Robert sekarang dan minta dia temui aku sekarang!" perintah Putra Mahkota.
"Maafkan hamba Yang Mulia tapi kami tidak bisa melakukannya.
"Apa kau mencoba menolak perkataanku." ucap Putra Mahkota marah.
"Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia. Hamba tidak bermaksud menolak tapi..." ucap kesatria teputus.
"Tapi apa? Apa kalian ingin kepala kalian tak berada di posisinya lagi?" ancam Putra Mahkota.
"Ampuni kami Yang Mulia." ucap kesatria yang berjaga.
"Baik, Yang Mulia." ucap Kesatria.
Akhirnya kesatria itu membuka penjara dan membawa Robert keluar menemui Putra Mahkota. Putra Mahkota duduk di dalam ruangan yang kedap suara dengan kursi empuknya. Tak lama kemudian, Kesatria mengetuk pintu dan membawa Robert.
Putra Mahkota yang melihat kondisi Robert sangat marah tapi dirinya tak bisa melakukan apapun karena jika Putra Mahkota melarangnya maka Kesatria dan semua Rakyat akan semakin curiga jika Putra Mahkota adalah dalang dari Penyuapan saat Acara Ujian Menara Sihir berlangsung.
"Ya-yang Mulia." panggil Robert sambil bersujud di lantai.
Lalu, Putra Mahkota mengusir penjaga yang mengantar Robert dan memerintahkan Robert untuk bangun dan duduk di kursi yang disediakan.
"Apa mereka memperlakukanmu sangat kejam?" tanya Putra Mahkota.
"Yang Mulia, maafkan kecerobohan hamba sehingga hamba hanya menjadi beban untuk Yang Mulia." ucap Robert putus asa.
"Sudahlah. Kau tak perlu memikirkannya. Semua sudah terjadi. Bertahanlah selama satu minggu lagi. Aku akan mengeluarkanmu." ucap Putra Mahkota.
"Tapi Yang Mulia. Hamba tak pantas untuk diampuni." ucao Robert menyalahkan dirinya.
"Baik, baik Yang Mulia." ucap Robert menangis.
Robert sebenarnya sudah pasrah jika dirinya harus berkorban tapi karena Putra Mahkota berkata akan mengeluarkannya Robert menjadi semangat kembali seperti memiliki harapan hidup.
Setelah berkata demikian Putra Mahkota meninggalkan Robert yang masih terduduk dan kembali masuk ke dalam kereta kudanya. Robert pun dibawa kembali masuk kedalam penjara.
Putra Mahkota memberhentikan kereta kudanya di sebuah restoran yang pertama kali Shiena lihat (Buka BAB 6) dan ternyata restoran itu adalah milik Putra Mahkota.
Restoran itu digunakan Putra Mahkota sebagai tempat pertemuan pribadinya dengan pendukungnya. Putra Mahkota memiliki pendukung baik dari Fraksi Kekaisaran maupun Fraksi Oposisi karena tidak semua Pihak Fraksi Oposisi setuju jika Putra Mahkota Brian menjadi Kaisar dan begitu pula dengan Fraksi Kekaisaran.
Putra Mahkota yang telah merencanakan pembunuhan Kaisar harus mengumpulkan dukungan dari para Bangsawan dalam Rapat dadakan saat Kaisar meninggal nanti memulai rencananya.
Putra Mahkota yang telah memutuskan dalam satu minggu dia harus segera naik takhta membuatnya harus mengumpulkan suara kenaikan takhtanya dipercepat dengan mengumpulkan sejumlah bangsawan.
Bangsawan yang mendukung Putra Mahkota cukup banyak karena mereka yakin Putra Mahkota adalah Calon Kaisar yang tak terbantahkan lagi karenanya semua Bangsawan memilih berpihak pada Putra Mahkota untuk mendapatkan kekuatan dan keuntungan ketika Putra Mahkota menjadi Kaisar secara resmi ke depannya.
Putra Mahkota yang merasa harus membujuk beberapa Bangsawan yang tidak berpihak padanya agar berpindah haluan padanya melakukan semuanya dengan cepat dalam beberapa hari sehingga Putra Mahkota tidak sengaja telah mengabaikan Anastasya yang telah berulang kali menghubunginya.
Putra Mahkota yang merasa tidak enak mengirimkan surat permintaan maafnya pada Anastasya dan berjanji akan menemuinya setelah semua urusannya selesai.
Anastasya tak terlalu peduli denga urusan Putra Mahkota, Anastasya hanya tidak suka jika Putra Mahkota melakukan semua itu agar Shiena kembali padanya. Anastasya telah memerintahkan pelayan yang telah disuapnya untuk mencari tau apa yang dilakukan Putra Mahkota yang membuat Anastasya membuat kesimpulan Putra Mahkota ingin Shiena kembali ke sisinya.
Putra Mahkota dengan sengaja memaksa Kepala Pelayan Kekaisaran untuk membuatkan surat agar Duke Carrole datang ke Istana tepat saat rencana pembunuhan Kaisar akan dilakukan dan tak lupa Putra Mahkota memerintahkan Kepala Pelayan Kekaisaran memberikan cap dan stampel Kekaisaran pada surat itu yang artinya mengharuskan Duke Carrole datang.
Putra Mahkota juga meminta Kepala Pelayan Kekaisaran untuk membuat alasan kenapa Duke Carrole dapat datang yaitu untuk membicarakan masalah Wilayah Kekaisaran yang sedang dalam kondisi buruk. Putra Mahkota membuat seolah Duke akan menjadi penanggungjawab wilayah itu yang memungkinkan Kaisar secara tidak sadar melakukan seperti harapan Putra Mahkota.
Putra Mahkota yang merasa semuanya akan berjalan lancar menjadi puas dan senang sekali. Putra Mahkota bahka menghayal bahwa Shiena akan memohon-mohon di kaki Putra Mahkota agar Putra Mahkota melepaskan Duke Carrole.
Saat itu lah, Putra Mahkota akan mengambil kesempatan yang mana akan memberikan syarat bahwa Putra Mahkota akan pembebasan Duke Carrole jika Shiena mau menikah dengannya.
Putra Mahkota tak ingin bertungan lagi karena Putra Mahkota pernah merasa pembatalan pertunangan sehingga jika Putra Mahkota benar-benar ingin Shiena terikat dan tak lepas lagi dari genggamannya, Putra Mahkota harus membuat Shiena langsung menjadi Ratunya.
Putra Mahkota ingin membuat Shiena menjadi Permaisurinya tapi karena Putra Mahkota telah berjanji pada Anastasya bahwa posisi Permaisuri hanya untuknya, Putra Mahkota mau tidak mau menerimanya karena telah berjanji. Putra Mahkota tidak bisa menarik kembali kata-katanya karena itu sama sekali bukanlah gayanya.
Putra Mahkota yang kelelahan setelah berpergian kesana-kemari dalam beberapa hari merasa sangat lelah dan akhirnya tertidur di ranjangnya.
#Bersambung#
Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁
Terima kasih.. 🥰😍❤😘