
Kota Zuanshi adalah kota terbesar kedua yang ada di kekaisaran Feng setelah ibu kota kekaisaran, sama seperti kota-kota besar lainnya yang ada di kekaisaran Feng, kota Zuanshi juga terbagi menjadi beberapa wilayah yang menjadi kekuasaan keluarga bangsawan, dan salah satunya adalah keluarga Lin yang merupakan keluarga bangsawan terbesar yang menguasai wilayah timur kota Zuanshi.
Selain dari keluarga Lin, keluarga bangsawan yang menguasai wilayah kota Zuanshi adalah, Keluarga Xiao yang menguasai wilayah barat, keluarga Yang yang menguasai wilayah Utara, dan keluarga Chen yang menguasai wilayah Selatan, sementara keluarga Zhang sendiri menguasai pusat kota karena keluarga mereka adalah keluarga penguasa kota.
Di wilayah timur kota Zuanshi, tepatnya di aula pertemuan keluarga Lin, Lin Jianheeng sedang mengadakan pertemuan dengan para tetua keluarga Lin, tujuannya hanya satu yaitu mencari tahu tentang keberadaan anak bungsunya yang telah lama pergi dari klan Lin.
Lin Jianheeng sendiri mempunyai tiga orang anak, anaknya yang pertama adalah anak laki-laki kembar, sedangkan anaknya yang ketiga adalah perempuan yang tidak lain adalah Lin Hua yang merupakan ibu kandung Zhao Feng.
"Jadi bagaimana, apakah masih belum ada berita mengenai keberadaan Hua'er?" tanya Lin Jianheeng.
"Maaf patriark, sampai saat ini kami masih belum berhasil menemukan keberadaan nona" jawab salah satu tetua.
"Lin Duan, Lin Dian, bagaimana dengan kalian, apa kalian menemukan keberadaan adik kalian?" tanya Lin Jianheeng.
"Maaf ayah, kami juga tidak berhasil menemukan keberadaan Hua'er" jawab Lin Duan.
"Hahh, sudah lima belas tahun lebih Hua'er meninggalkan klan ini, tapi sampai sekarang masih belum ada berita mengenai keberadaannya, ini semua memang salahku, jika saja waktu itu aku menerima keinginannya" ucap Lin Jianheeng menyesal.
Lin Jianheeng terdiam sambil menengadahkan kepalanya menatap langit-langit aula pertemuan, raut wajahnya jelas menunjukkan bahwa saat ini dia sedang bersedih serta menyesali perbuatannya di masalalu yang telah membuat putri kesayangannya pergi meninggalkannya.
**
Lima belas tahun yang lalu di kediaman keluarga Lin, saat itu di halaman kediaman patriark, semua anggota keluarga Lin sedang berkumpul untuk menyaksikan seorang pemuda yang nampak sedang di siksa oleh Lin Duan dan Lin Dian.
"Ayah, aku mohon ampuni dia, ini semua salahku jangan siksa dia" ucap Lin Hua menangis memohon pada Lin Jianheeng.
"Diam kau, kita adalah keluarga bangsawan terbesar di kota ini, keluarga kita adalah keluarga terhormat bahkan penguasa kota saja tidak berani bersikap sembarangan pada keluarga kita, dan bagaimana bisa kau malah jatuh cinta dengan pemuda miskin dan tidak tau diri seperti dia" ujar Lin Jianheeng marah.
"Hua'er, apa yang ayah katakan memang benar, bagaimana bisa kau mencintai pemuda sampah ini" Lin Dian menimpali.
"Kakak, aku mohon ampuni dia, jangan siksa dia lagi, aku berjanji aku tidak akan berhubungan dengannya lagi" ucap Lin Hua kembali memohon.
"Tidak bisa, dia harus tetap di siksa agar dia menyadari bahwa ada perbedaan besar antara kau dan dia" ujar Lin Duan.
"Kakak, aku mohon pada kalian berdua, apa kalian ingin keponakan kalian lahir tanpa ayah!" jawab Lin Hua.
"Hua'er apa yang kau katakan!" ujar Lin Jianheeng.
"Itu benar ayah, aku sedang mengandung anak kami berdua" jawab Lin Hua.
"*****!, berani-beraninya kau berbuat hal seperti itu pada putriku, bahkan kau sampai menghamilinya!" ujar Lin Jianheeng.
Lin Jianheeng kemudian langsung melesat ke arah pemuda yang sedang di siksa oleh kedua putranya, tanpa bertanya apapun lagi, Lin Jianheeng langsung menyerang pemuda tersebut hingga membuatnya meninggal saat itu juga.
Namun Lin Hua langsung di tahan oleh kedua saudaranya, mereka berdua kemudian langsung membawa Lin Hua kembali ke dalam kediamannya, setelah itu Lin Jianheeng langsung membubarkan semua anggota keluarganya dan memberitahukan kepada mereka semua untuk tidak pernah mengungkit masalah itu lagi.
Lin Jianheeng benar-benar marah saat itu dan setelah semua orang pergi, Lin Jianheeng langsung menyusul Lin Hua ke kediamannya.
"Lin Hua, aku tidak mau bagaimanapun caranya kau harus membuang anak itu!" ujar Lin Jianheeng.
"Tidak ayah, aku tidak mau membunuh anakku sendiri!" jawab Lin Hua.
"Aku sama sekali tidak peduli, besok aku harus mendengar kabar bahwa kau sudah membuang anak itu, jika tidak aku sendiri yang akan melakukannya" ucap Lin Jianheeng kemudian pergi meninggalkan kediaman Lin Hua.
Meskipun ayahnya berkata seperti itu, namun Lin Hua sama sekali tidak mau melakukan apa yang ayahnya perintahkan, sebab mau bagaimanapun anak yang sedang ia kandung itu tetaplah anaknya yang merupakan darah dagingnya sendiri.
"Aku harus pergi dari sini untuk menyelamatkan anakku" batin Lin Hua.
Malam harinya, seperti yang telah dia rencanakan sebelumnya, Lin Hua benar-benar pergi meninggalkan keluarganya, sebelum pergi Lin Hua menuliskan surat permohonan maaf kepada ayahnya karena dia tidak bisa membunuh anak yang sedang ia kandung.
Karena tidak ingin keberadaannya diketahui oleh ayah dan kedua saudaranya, Lin Hua kemudian melumpuhkan kultivasinya sendiri, namun saat itu dia sama sekali tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu malah berdampak kepada janin yang sedang ia kandung.
Setelah itu, Lin Hua langsung pergi meninggalkan keluarga Lin hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang bangsawan dari keluarga Zhao, yang tidak lain adalah Zhao Chun.
**
Penyesalan yang mendalam juga dirasakan oleh Lin Duan dan Lin Dian, sebab saat itu mereka berdua juga terlibat dalam masalah yang membuat adik mereka sampai harus pergi meninggalkan keluarganya, saat ini mereka semua hanya bisa berharap agar bisa bertemu lagi dengan adik mereka.
"Tetap lakukan pencarian, jangan pernah berhenti sebelum menemukan keberadaan Hua'er dan cucuku" ucap Lin Jianheeng tegas.
"Baik patriark" jawab mereka semua serempak.
"Maaf patriark, lalu bagaimana dengan keluarga Zhang?" tanya salah satu tetua.
"Cihh, mereka bukanlah ancaman untuk kita, untuk saat ini kita hanya perlu mengawasi mereka saja, jika mereka berani macam-macam dengan keluarga kita, barulah kita akan bergerak" jawab Lin Jianheeng.
"Lagi pula, saat ini aku hanya ingin fokus menemukan keberadaan Hua'er dan cucuku" lanjutnya.
Setelah pertemuan tersebut berakhir, Lin Jianheeng langsung pergi ke kediaman putrinya, selama lima belas tahun sejak kepergian putri kesayangannya itu, Lin Jianheeng selalu meminta kepada para pelayan untuk tetap membersihkan dan merawat kediaman putrinya.
Bahkan Lin Jianheeng tidak pernah mengganti atau merubah semua benda yang ada di kediaman putrinya, alasan Lin Jianheeng melakukan hal itu karena dia ingin saat suatu hari nanti ketika putrinya kembali kediamannya tetap sama seperti dulu.
"Hua'er, ayah akan selalu menunggu kepulangan mu, bahkan jika ayah harus menunggu sampai nyawa ini telah tiada" gumam Lin Jianheeng.