
Lang Diyu dan yang lainnya mendengarkan cerita Huise dengan seksama, namun mereka juga tidak menyangka jika Yama benar-benar sangat kuat, yang bahkan mampu membuat Dewi Nuwa mengorbankan dirinya demi untuk memperbaiki kekacauan yang disebabkan oleh Yama, bisa dikatakan jika kekuatan mereka sekarang hanya seujung kuku bila dibandingkan dengan kekuatan Yama yang sesungguhnya.
Setelah Huise selesai bercerita, Lin Feng kemudian mengatakan jika mereka semua harus meningkatkan kekuatan lagi, Lin Feng juga mengatakan jika mereka tidak bisa bersantai lagi, karena waktu kemunculan bulan darah hanya tinggal sebentar lagi, yang artinya peperangan dengan bangsa iblis juga akan segera terjadi, lalu jika mengingat kekuatan mereka sekarang, tentunya mereka hanya akan menjadi mainan untuk bangsa iblis.
"Yang mulia, meski kekuatan kita masih kurang, tapi kita tetap harus berjuang melawan Yama, kalau kita menyerah sekarang, maka kekacauan yang sudah terjadi akan semakin besar" ucap Lang Diyu.
"Aku mengerti dan sangat faham dengan apa yang akan terjadi, tapi aku tidak mau mengorbankan kalian semua" jawab Lin Feng.
"Tapi yang mulia..."
"Jangan membantah, aku tahu apa yang harus aku lakukan dan kalian harus mematuhi perintahku!" ujar Lin Feng memotong perkataan Lang Diyu.
"Maaf yang mulia, tapi kita tetap tidak bisa diam saja" ujar Lang Diyu.
"Lang Diyu, cukup! Apa kau masih tidak sadar dengan siapa kau sedang bicara, dia adalah tuan kita, jadi jangan membantahnya!" bentak Huise.
"Kau tidak perlu memberitahuku, serigala sialan! Memangnya kau siapa berani melarang ku berbicara?!" Lang Diyu benar-benar marah, karena dibentak oleh Huise.
"Apa maksudmu?!" tanya Huise sinis.
"Maksudku adalah, kau selalu saja berlagak seperti pemimpin kami semua, padahal kau sendiri adalah bawahan tuan, apa jangan-jangan kau mulai berpikir untuk merebut posisi tuan sebagai raja?" jawab Lang Diyu.
"Jaga ucapan mu, atau..."
"Atau apa? Apa kau ingin bertarung?" ujar Lang Diyu.
"Cukup!" bentak Lin Feng, lalu melepaskan aura dewa kematian.
Aura dewa kematian yang dilepaskan Lin Feng benar-benar berbeda dengan aura dewa kematian yang biasanya, karena sekarang, aura dewa kematian Lin Feng terasa jauh lebih mendominasi dan sangat mengintimidasi, bahkan Huise yang biasanya masih bisa santai dan tenang, sekarang malah ikut gemetaran dan merasakan tekanan luar biasa ditubuhnya.
"Apa sekarang kalian sudah merasa hebat? Sehingga kalian berani mengabaikan keberadaan ku?" tanya Lin Feng, suaranya terdengar menggema di seluruh istana dunia bawah.
"..." Huise dan yang lainnya tidak berani mengatakan sepatah katapun, karena mereka tahu jika sekarang Lin Feng benar-benar sangat marah.
"Siapa aku di mata kalian?" tanya Lin Feng lagi.
"..." Semuanya tetap bungkam dan tidak berani berbicara.
"Jawab!" ujar Lin Feng, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Huise yang sedang berlutut, lalu bertanya padanya. "Huise, selama ini kau menganggap ku sebagai apa?"
"Tuan, selama ini aku menganggap mu sebagai tuanku, aku memang pernah meragukan tuan, tapi tidak sedikitpun terbesit dalam pikiran ku untuk mengkhianati tuan" jawab Huise.
"Lang Diyu?!"
Lin Feng menanyai bawahannya satu persatu, dan mereka semua memberikan jawaban yang sama, kecuali Zhu Lien dan Zhu Ling yang menganggap Lin Feng sebagai teman mereka. Meski begitu, mereka berdua juga sudah bersumpah untuk selalu setia kepada Lin Feng dan tidak akan pernah mengkhianatinya, karena menurut mereka, Lin Feng adalah sosok yang sangat cocok untuk mendapatkan kesetiaan mereka.
"Kalian semua hanya menganggap ku sebagai tuan atau bahkan teman, tapi apa kalian tahu, jika aku sudah menganggap kalian sebagai saudara? Dan jujur saja, aku benar-benar kecewa dengan tingkah kalian berdua!" ucap Lin Feng pada Huise dan Lang Diyu, lalu setelah itu, Lin Feng menghilang dari hadapan mereka.
Huise dan yang lainnya terdiam mendengar perkataan Lin Feng, karena mereka benar-benar tidak menyangka jika Lin Feng tidak menganggap mereka sebagai bawahan atau temannya, melainkan saudaranya sendiri. Lang Diyu tertunduk dan menyesali perbuatannya, ia benar-benar merasa bersalah karena telah membuat Lin Feng kecewa, sedangkan Huise, ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Lang Diyu.
Akan tetapi, Huise justru merasa lebih bersalah karena tidak menyadari satu hal yang sangat penting, yaitu Lin Feng memang sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri, padahal selama ini Lin Feng selalu mengatakan hal itu kepadanya, namun ia malah menganggap jika perkataan itu hanya untuk membuatnya senang dan tidak serius sama sekali.
"Bodoh! Aku benar-benar bodoh, kenapa aku tidak bisa menyadari hal ini sama sekali? Padahal jiwaku dan jiwa tuan sudah menyatu sejak lama, tapi kenapa aku masih tidak bisa menyadari perasaan tuan?" ucap Huise pelan, namun suaranya masih bisa didengar oleh yang lainnya.
"Huise, maafkan aku" ujar Lang Diyu.
"Sudahlah, kau tidak sepenuhnya bersalah dan aku juga minta maaf" jawab Huise.
"Sekarang kita harus menemui yang mulia dan meminta maaf padanya" ucap Yin Ouyang.
"Aku setuju" sahut Du Fang Ren.
Setelah itu, mereka semua langsung pergi menemui Lin Feng yang sekarang sedang berada atas bukit yang sangat tinggi, mereka berhasil menemukan keberadaan Lin Feng karena jiwa Huise masih terhubung dengannya, jadi di manapun Lin Feng berada, Huise pasti akan mengetahuinya, kecuali jika Lin Feng memang tidak ingin ditemukan oleh siapapun.
"Tu-tuan, kami benar-benar minta maaf karena telah membuat tuan kecewa, kami berdua juga siap menerima hukuman dari tuan" ucap Huise.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, karena aku sudah memaafkan kalian berdua" jawab Lin Feng.
"Terimakasih tuan" jawab Huise dan Lang Diyu serempak.
"Aku juga sudah membuat keputusan untuk datang ke dunia kegelapan sendirian, untuk melihat seberapa besar kekuatan pasukan Yama, jika memungkinkan maka kita akan langsung menyerang, tapi jika tidak kita akan bersabar sambil meningkatkan kekuatan" ucap Lin Feng.
"Maaf tuan, tapi aku tidak setuju jika tuan pergi ke sana sendirian, karena akan sangat beresiko untuk keselamatan tuan" ujar Huise.
"Aku tahu itu, tapi aku juga tidak punya pilihan lain, kau tenang saja, karena aku akan langsung kembali jika situasinya memang berbahaya" jawab Lin Feng.
"Baik tuan" jawab Huise, meski sangat berat baginya untuk menerima keputusan Lin Feng, tapi Huise juga tidak ingin membantah Lin Feng lagi.
"Bagus, sekarang aku merasa lapar, siapa diantara kalian yang..."
"Aku saja tuan, izinkan aku yang pergi berburu!" ujar Lang Diyu.
"Aku akan menyiapkan api unggun" Du Fang Ren menambahkan.
"Padahal aku sebenarnya ingin meminta salah seorang dari kalian untuk kembali ke istana dan mengambil makanan, tapi karena Lang Diyu sudah memutuskan untuk berburu, jadi kita akan makan hasil buruannya saja" ucap Lin Feng.