
Lin Feng menggenggam erat pedang kayu roh di tangannya, lalu dengan kecepatan yang luar biasa, Lin Feng melesat ke arah para Beast Spirit dan meghabisi mereka satu-persatu, karena semuanya terlalu fokus untuk menahan tekanan aura intimidasi dari Lin Feng, sehingga membuat mereka tidak bisa menghindari serangan cepat Lin Feng dan akhirnya mereka mati di tangan Lin Feng.
Ketika sedang menghabisi Beast Spirit milik para Assassin, Lin Feng tiba-tiba saja menyadari sesuatu yang menurutnya cukup aneh, para Assassin terlihat tidak mendapat dampak apapun setelah Beast Spirit mereka mati, padahal seharusnya mereka juga akan terluka saat Beast Spirit yang telah melakukan kontrak darah dengan mereka mati.
Akan tetapi, para Assassin terlihat tidak merasakan apapun sama sekali saat Beast Spirit mereka mati, jangankan terluka karena kematian Beast Spirit, mereka bahkan tidak merasakan apapun dan terlihat biasa-biasa saja seperti tidak kehilangan apa-apa.
Awalnya Lin Feng mengira hal tersebut hanyalah kebetulan belaka, tapi setelah menghabisi beberapa Beast Spirit lainnya, Lin Feng akhirnya menyadari bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kebetulan, ketika Beast Spirit tersebut mati, mereka mati layaknya Beast Spirit liar yang masih belum memiliki tuan.
"Apa jangan-jangan mereka semua hanya dikendalikan tanpa melakukan kontrak darah?, tapi apa semua itu mungkin!" batin Lin Feng.
"Apapun itu aku tidak peduli, sekarang yang jelas aku harus menghabisi mereka semua" lanjutnya.
Lin Feng kembali menghilang dan muncul lagi di dekat seekor Beast Spirit yang lain, lalu dengan sangat cepat Lin Feng menebas leher Beast Spirit tersebut sampai putus, para Assassin benar-benar dibuat kebingungan oleh Lin Feng, pasalnya mereka tidak bisa menebak dimana dan kapan Lin Feng akan muncul.
Mereka semua hanya bisa meningkatkan kewaspadaannya masing-masing, sambil berharap akan bisa menemukan dimana Lin Feng akan muncul, meskipun tekanan aura intimidasi terus menekan mereka semua, tapi mereka tetap berusaha keras untuk menahannya dengan energi mereka.
***
Tidak sampai lima menit sejak Lin Feng melepaskan aura membunuhnya, yang membuat semua Assassin dan Beast Spirit merasakan tekanan intimidasi, Lin Feng sudah menghabisi hampir semua Beast Spirit yang tadi bertarung dengan-nya, saat ini hanya tinggal tiga ekor Beast Spirit yang tersisa.
Lin Feng kembali menggenggam erat pedang kayu roh yang ada di tangannya, lalu dengan jurus langkah bayangan, Lin Feng kembali menghilang dari pandangan semua orang, sesaat kemudian Lin Feng telah muncul kembali di sisi lain Beast Spirit, bersamaan dengan munculnya Lin Feng, ke-tiga kepala Beast Spirit tersebut juga terlepas dari tubuhnya.
"Untung saja mereka berdekatan, jadi aku bisa menyelesaikan mereka dengan mudah" gumam Lin Feng.
Di sisi lain, dengan bantuan aura membunuh dari Lin Feng yang sangat besar, tetua Liu Changhai juga telah berhasil menghabisi beberapa Beast Spirit yang menghadangnya, namun berbeda dengan Lin Feng, tetua Liu Changhai malah mendapatkan sedikit luka karena serangan seekor Beast Spirit.
"Ketua! Bagaimana ini? Mereka sudah menghabisi hewan peliharaan kita, sekarang kita harus bagaimana?" tanya seorang Assassin.
"Jangan pedulikan hewan bodoh tersebut, kalau tidak ingin mati segera pergi dari sini sekarang juga!" jawab ketua Assassin dengan raut wajah yang penuh dengan rasa takut.
Para Assassin agak sedikit terkejut mendengar jawaban Assassin yang menjadi ketua kelompok mereka, pasalnya mereka semua tidak pernah menyangka sedikitpun bahwa ketua mereka malah meminta mereka untuk melarikan diri, padahal mereka semua sudah siap untuk bertarung sampai mati, demi kesuksesan misi mereka.
"Sial, apa dia masih manusia, kenapa tidak ada informasi apapun mengenai pengawal permaisuri dan anak-anaknya, padahal aku kira mereka hanyalah orang-orang sekte yang bodoh, tapi bocah itu benar-benar terlihat seperti dewa kematian" gumam ketua Assassin, kemudian pergi dari tempat tersebut.
Lin Feng kembali menghilang dari tempatnya berdiri, beberapa saat kemudian Lin Feng sudah berada di belakang salah satu Assassin yang melarikan diri, Lin Feng kemudian menebaskan pedangnya dengan sangat cepat sampai membuat Assassin tersebut mati dengan kepala yang terpenggal.
"Percepat langkah kalian!" ujar ketua Assassin.
"Jangan harap kalian bisa lari dari kematian!" ujar Lin Feng.
"Tujuh tebasan kematian" ucap Lin Feng.
Lin Feng kemudian menebaskan pedangnya dengan sangat cepat sebanyak tujuh kali, bersamaan dengan itu, tujuh aura pedang berwarna merah gelap yang membentuk bulan sabit melesat dengan sangat cepat ke arah para Assassin, ke-tujuh aura pedang tersebut memotong tubuh para Assassin yang melarikan diri, sampai mereka semua mati dengan tubuh yang terpotong-potong.
Tetua Liu Changhai, Lin Tian, serta semua prajurit yang menyaksikan hal tersebut benar-benar dibuat terkejut, mereka semua benar-benar tidak menyangka bahwa jurus yang digunakan oleh Lin Feng sangat mengerikan, sama seperti namanya tujuh tebasan kematian, orang yang terkena jurus tersebut pasti akan menemukan kematian saat itu juga.
Yang lebih terkejut lagi adalah tetua Liu Changhai dan Lin Tian, mereka berdua juga tidak menyangka bahwa Lin Feng sudah menguasai jurus tersebut, padahal baru saja beberapa hari berlalu sejak tetua Liu Changhai memberikan jurus tersebut, tapi Lin Feng sudah bisa menggunakannya dengan sangat baik.
"Feng'er, sejak kapan kau bisa menguasai jurus itu?" tanya tetua Liu Changhai menghampiri Lin Feng yang nampak kelelahan.
"Sebenarnya aku masih belum menguasai jurus tersebut sepenuhnya, karena mereka ingin melarikan diri, makanya aku mencoba menggunakan jurus tersebut kepada mereka" jawab Lin Feng.
"Meskipun belum sepenuhnya sempurna, tapi sudah bisa dikatakan memahami dengan baik" ucap tetua Liu Changhai.
"Apa kau kelelahan?" tanya tetua Liu Changhai.
"Tidak terlalu guru, mungkin karena aku belum menguasai jurus tersebut sepenuhnya, jadi energi yang dibutuhkan juga sangat besar" jawab Lin Feng.
"Kalau begitu kita akan istirahat sebentar, stelah itu kita akan melanjutkan perjalanan" ucap tetua Liu Changhai.
Setelah itu, tetua Liu Changhai dan Lin Feng langsung kembali menuju kereta kuda permaisuri dan anak-anaknya, sesampainya di sana, Lin Feng merasa bingung dengan tatapan para prajurit yang menatapnya dengan tatapan yang aneh, ada rasa takut dan rasa kagum dalam tatapan mereka di saat yang bersamaan.
"Kalian kenapa?" tanya tetua Liu Changhai.
"Ti-tidak apa-apa tetua, ka-kami hanya merasa kagum dengan kehebatan tuan Lin Feng" jawab salah seorang prajurit.