
Di daratan suci.
Sosok misterius berjubah hitam kembali muncul di tengah-tengah pertemuan para dewa, sosok misterius tersebut nampak membawa sebuah bola kristal berwarna merah di tangannya, kedatangan sosok misterius tersebut nampak disambut dengan penuh rasa hormat oleh para dewa, seolah-olah mereka sedang menyambut kedatangan seorang raja atau pemimpin dari para dewa.
Sosok misterius tersebut tersenyum sinis dibalik bayangan yang menutupi wajahnya, ia kemudian berjalan dengan santai menuju ke tempat duduk yang sepertinya telah di siapkan secara khusus oleh para dewa, bahkan tempat duduk tersebut nampak sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tempat duduk para dewa, lalu bentuknya juga menyerupai sebuah singgasana kecil yang megah.
"Tidak akan lama lagi, kekacauan yang sesungguhnya akan terjadi dan satu-satunya harapan adalah sosok dewa kematian!" ucap sosok misterius tersebut, kemudian meletakkan bola kristal di atas meja kecil yang ada di samping tempat duduknya.
"Aku masih sangat penasaran dengan sosok dewa kematian ini, apakah dia benar-benar kuat sampai bisa menjadi satu-satunya harapan bagi alam semesta?" tanya dewa petir.
"Kekuatannya masih belum diketahui dengan pasti, yang jelas dia memegang sesuatu yang sangat berbahaya ditangannya" jawab sosok misterius.
"Apa itu?" tanya dewa awan.
"Pedang emas!" jawab sosok misterius.
Para dewa nampak kaget mendengar perkataan sosok misterius, karena mereka semua tentunya mengetahui apa itu pedang emas, yang bahkan mampu membuat seluruh daratan suci berguncang hanya dengan satu tebasan. Akan tetapi, para dewa sepertinya masih meragukan perkataan sosok misterius, karena selama ini, mereka telah mencari pedang tersebut namun tidak pernah ditemukan.
Sosok misterius yang mengetahui tentang keraguan para dewa, kemudian mengambil kristal merah disampingnya, lalu melemparnya ke udara, namun bola kristal tersebut tidak jatuh ke tanah, melainkan malah melayang di udara dan mengeluarkan sedikit cahaya yang juga berwarna merah. Tidak lama kemudian, dari dalam kristal merah tersebut nampak pertarungan antara Lin Feng dan Yama sebelumnya.
Para dewa memfokuskan pandangan mereka pada bola kristal untuk menyaksikan pertarungan tersebut, awalnya mereka tidak menemukan hal aneh apapun selama jalannya pertarungan, namun tidak lama kemudian, mereka semua tiba-tiba saja terkejut ketika melihat Lin Feng mengeluarkan jiwa silatnya yang berbentuk pedang, yang tidak lain adalah pedang emas itu sendiri.
"Tidak mungkin! Bagaimana dia bisa memilikinya?!" tanya salah seorang dewa.
"Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa memilikinya, tapi hanya ada satu kemungkinan yang bisa menjelaskan itu semua" jawab sosok misterius.
"Apa itu?" tanya dewa yang lainnya penasaran.
"Dewi Nuwa!" jawab sosok misterius.
Para dewa langsung menunjukkan ekspresi yang rumit setelah mendengar nama Dewi Nuwa, meski begitu, mereka semua juga tidak bisa menyangkalnya, karena memang hanya Dewi Nuwa lah yang bisa memberikan pedang tersebut kepada Lin Feng. Selain itu, mereka sepertinya telah menyadari alasan kenapa mereka tidak bisa menemukan pedang emas selama ini, karena sejak awal, pedang tersebut memang telah disimpan oleh Dewi Nuwa.
"Cihh! Padahal dia sudah menghilang, tapi kenapa dia masih saja membuat masalah untuk kita!" ucap salah seorang dewa.
"Sudahlah, yang penting kita sudah mengetahui dimana pedang emas berada, jadi kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk merebut pedang itu" jawab dewa yang lainnya.
"Maksudmu?" tanya dewa air.
"Pemuda tersebut memiliki dua sosok penjaga yang liar biasa, jika aku tidak salah, nama mereka adalah Huise dan Lang Diyu. Tapi diantara mereka berdua, Huise adalah yang terkuat, karena dia adalah serigala bintang sang penguasa Beast, sedangkan Lang Diyu, dia adalah serigala berkepala tiga sang penguasa api abadi" jawab sosok misterius.
Para dewa kembali terkejut ketika mendengar penjelasan sosok misterius, karena mereka benar-benar tidak menyangka jika yang menjaga Lin Feng adalah dua sosok hewan yang paling ditakuti. Serigala bintang adalah sosok penguasa seluruh Beast di alam semesta, bahkan kekuatannya sendiri juga mampu membuat para dewa gemetaran saat berhadapan dengannya, sedangkan serigala berkepala tiga, kekuatan api abadi miliknya benar-benar tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Sepertinya tidak akan mudah untuk merebut pedang emas dari bocah itu, bahkan bisa dikatakan sangat mustahil untuk bisa merebutnya" ucap dewa petir.
"Kalau begitu, sebaiknya kita jangan membuat masalah dengannya, jika tidak kita semua pasti akan terkena dampaknya" ujar salah seorang dewa.
Para dewa menganggukkan kepalanya serempak, kecuali empat orang dewa yang nampak gugup dan gelisah, dia adalah dewa petir, yang sudah membawa kekasih Lin Feng dengan paksa, bahkan ia sampai menyiksanya, lalu tiga dewa lainnya adalah mereka yang pernah mendatangi Lin Feng dan menyerangnya secara diam-diam, namun serangan mereka digagalkan oleh Huise, mereka adalah dewa angin, dewa cahaya dan dewa api.
"Gawat, apa yang harus aku lakukan sekarang?" dewa petir dan tiga dewa lainnya bertanya pada diri mereka sendiri.
***
Setelah pertemuan mereka selesai, para dewa langsung kembali ke istana mereka masing-masing, begitu juga dengan sosok misterius yang langsung menghilang dari tempat duduknya.
Di istana dewa petir.
Sesampainya di istana kerajaannya, dewa petir langsung bergegas menghampiri Luo Ning yang masih berada di ruang penyiksaan, wajahnya terlihat sedikit pucat, serta tangannya nampak sedikit gemetaran karena takut. Sejak awal, dewa petir sudah mengetahui jika Luo Ning memiliki seorang kekasih, tapi ia malah memandang rendah kekasih Luo Ning, karena menganggapnya hanyalah manusia biasa yang tidak mungkin bisa melawannya.
Akan tetapi, setelah mengetahui siapa kekasih Luo Ning sebenarnya, dewa petir benar-benar tidak bisa berpikir dengan tenang, jika kekasih Luo Ning hanyalah manusia biasa, atau kultivator terkuat, bahkan salah satu dari pada dewa sekalipun, ia tentunya tidak akan takut sama sekali, tapi masalahnya adalah, kekasih Luo Ning bukan hanya dewa kematian yang paling ditakuti, tapi ia juga memegang senjata yang bisa merenggut nyawanya dengan mudah.
"Sial! Ini benar-benar sial! Pantas saja Luo Ning masih tetap bertahan dari siksaan ku selama ini, ternyata dia memiliki seseorang yang menakutkan di sampingnya" gumam dewa petir.
Sesampainya di tempat penyiksaan Luo Ning, dewa petir langsung memerintahkan para prajurit yang sedang menyiksa Luo Ning untuk berhenti, ia kemudian menghampiri Luo Ning dan menatap Luo Ning dengan tatapan penuh penyesalan. "Luo Ning, maafkan guru, selama ini guru telah dibutakan oleh keinginan guru sendiri, jadi guru benar-benar meminta maaf kepadamu" ucap dewa petir.
"Tidak hanya itu saja, guru bahkan akan memberikan semua sumberdaya yang guru miliki, lalu kau juga bebas mempelajari jurus apapun yang kau inginkan dan guru akan mengajarimu dengan baik, anggap saja ini semua sebagai permintaan maaf dari guru" lanjutnya.
Luo Ning sedikit terkejut mendengar perkataan dewa petir, namun sesaat kemudian ia tiba-tiba saja terkekeh pelan, lalu berkata dengan suara parau. "Aku tidak butuh belas kasihan darimu lagi, biarlah dia yang akan membalaskan semuanya untukku."