Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-226. Rasa bosan


Lin Feng nampak kebingungan setelah membaca bagian terakhir dari gulungan tersebut, di satu sisi, Lin Feng sangat membutuhkan gulungan tersebut untuk meningkatkan kekuatannya yang sekarang, tapi di sisi lain, Lin Feng sama sekali tidak ingin berurusan dengan dewa, apa lagi kalau sampai menjadi dewa.


"Sial!... Sejak awal seharusnya aku sudah bisa menebak apa tujuan Dewi Nuwa, tapi aku harus bagaimana lagi, aku benar-benar membutuhkan teknik ini sekarang" gumam Lin Feng kesal.


Lin Feng terdiam sejenak untuk memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil, namun setelah beberapa menit berlalu, Lin Feng masih belum bisa menentukan pilihannya, karena semakin bingung, Lin Feng kemudian memutuskan untuk bertanya kepada Huise. "Huise, apa yang harus aku lakukan?"


"Tuan, aku sangat menyarankan agar tuan mempelajari apa yang ada di dalam gulungan tersebut, kalau memang tuan akan menjadi dewa, bukankah hal itu malah akan semakin baik untuk tuan? Karena tuan bisa menjadi dewa hanya dengan mempelajari apa yang ada di sana" jawab Huise.


"Tidak Huise, aku sama sekali tidak mau menjadi dewa, berurusan dengan Dewi Nuwa saja sudah membuatku kerepotan, apalagi kalau aku sampai menjadi dewa" ucap Lin Feng.


"Kalau memang tuan tidak mau menjadi dewa, maka tuan bisa menolaknya, yang terpenting sekarang adalah, tuan harus bertambah kuat" ujar Huise.


"Tunggu, apa yang kau katakan tadi adalah sungguhan? Apakah aku benar-benar bisa menolak untuk menjadi dewa?" tanya Lin Feng dengan semangat.


"Tentu saja tuan, lagipula tidak ada yang berani memaksa tuan di dunia ini" jawab Huise.


"Kau benar, kalau begitu aku akan mempelajari teknik ini sekarang juga" ucap Lin Feng.


Setelah itu, Lin Feng langsung membaca petunjuk yang harus dilakukan untuk mengubah aura membunuh menjadi aura kematian, petunjuk yang ada di dalam gulungan tersebut memang agak sulit di pahami, tapi dengan kecerdasan Lin Feng, tentu saja hal tersebut bukanlah masalah baginya.


Beberapa menit kemudian, Lin Feng akhirnya selesai membaca seluruh petunjuk yang ada di dalam gulungan tersebut, meskipun sudah memahami maksud dari semua petunjuk tersebut, namun raut wajah Lin Feng masih belum berubah sedikitpun, malahan nampak sedikit kesal.


"Padahal sudah aku pahami bagaimana cara mengubahnya, tapi sekarang malah ada hambatan seperti ini" gumam Lin Feng kesal.


Hambatan yang dimaksud oleh Lin Feng adalah, untuk mengubah aura membunuh menjadi aura kematian, haruslah dilakukan saat sedang menghabisi banyak nyawa, masalahnya adalah, Lin Feng tidak mungkin menghabisi nyawa seseorang tanpa alasan, apa lagi jika orang yang tak bersalah.


Karena mendapatkan hambatan yang cukup sulit untuk dilakukan, Lin Feng akhirnya memutuskan untuk menyimpan kembali gulungan berwarna merah tersebut, lalu setelahnya Lin Feng meminta Huise untuk melepaskan penghalang yang menutupi kediamannya.


"Benar-benar sangat membosankan, tidak ada apapun yang bisa aku lakukan di tempat ini, berkultivasi juga tidak akan berguna, karena suasana hatiku benar-benar tidak tenang" gumam Lin Feng kesal.


Rasa bosan benar-benar mulai menghantui Lin Feng, dia yang biasanya terbang bebas seperti seekor burung, tapi sekarang dia malah merasa seperti burung yang terjebak dalam sangkar, sebenarnya Lin Feng bisa saja meninggalkan sekte tersebut, tapi tentunya Long Yin Jiang tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.


Bingung tidak tahu harus berbuat apa, Lin Feng kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan sambil menikmati suasana sekte pedang suci, suasana sekte yang sangat ramai dengan suara hiruk-pikuk murid-murid yang sedang berlatih, tiba-tiba saja membuat Lin Feng merindukan sekte Phoenix Emas.


"Suasana ini benar-benar membuat aku merindukan sekte Phoenix Emas, kira-kira sedang apa mereka sekarang?" gumam Lin Feng.


"Hei! Aku dengar kau mengalahkan beberapa murid sekte baru-baru ini, bahkan kau sampai membuat Xie Wang Jun tidak bisa berkutik dan dihukum oleh tetua Liang, apa itu benar?" tanya salah satu dari murid tersebut.


"Senior Guo, untuk apa bertanya seperti itu, tentu saja dia bisa mengalahkan beberapa murid sekte, karena yang dia kalahkan adalah para sampah sekte ini" ujar yang lainnya.


"Yang kau katakan memang benar, tapi aku benar-benar penasaran dengan sampah satu ini" ucap murid yang dipanggil senior Guo.


"Hei!... Apa kau tuli? Senior Guo sedang berbicara padamu!" ujar murid lainnya.


"Hmm? Jadi kalian bicara padaku? Aku kira kalian sedang berbicara pada siapa" jawab Lin Feng santai.


"Hahahaha! Sampah sepertimu berani berkata seperti itu padaku? Aku adalah Guo Hong murid senior peringkat kelima teratas, apa kau berani melawanku, sampah?" tanya Guo Hong.


Lin Feng hanya menghela nafas panjang mendengar pertanyaan pemuda tersebut, padahal sekarang dia sedang dalam suasana hati yang sangat buruk, tapi malah datang murid yang membuat suasana hatinya malah semakin memburuk, namun Lin Feng masih berusaha untuk menahan emosinya agar tidak memancing keributan.


Meskipun Lin Feng mencoba untuk menahan diri agar tidak membuat keributan, tapi sayangnya Guo Hong dan teman-temannya malah berkata lain, mereka terus mencoba untuk memancing marah Lin Feng dengan mengatakan sesuatu yang buruk tentang dirinya.


Mereka semua bahkan tidak segan-segan mengatakan bahwa yang Lin Feng lakukan adalah omong kosong belaka, agar Lin Feng bisa menarik perhatian para tetua dan diangkat menjadi muridnya. Meskipun begitu, Lin Feng tetap memilih untuk bungkam dan tidak meladeni mereka semua.


Melihat Lin Feng yang tetap bungkam dan tidak menghiraukan mereka semua, tentunya membuat mereka benar-benar merasa kesal dan marah, hingga akhirnya mereka mengucapkan satu kata yang paling tidak bisa ditoleransi oleh Lin Feng.


"Kenapa kau diam saja sampah? Apa kau sekarang merasa takut karena omong kosong mu sudah aku ketahui?" tanya Guo Hong.


"Atau jangan-jangan kau diam karena merasa takut denganku?" lanjutnya.


"Sudahlah senior, abaikan saja sampah seperti ini, aku benar-benar bingung bagaimana sampah seperti ini bisa melakukan omong kosong seperti itu" ucap murid lainnya.


"Tentu saja bisa, karena biasanya sampah berasal dari tempat sampah, jadi bisa saja dia diajari oleh keluarganya untuk melakukan hal seperti ini" ujar yang lainnya.


Lin Feng yang semula diam, tiba-tiba saja tersentak kaget saat mendengar kata 'keluarga' terucap dari mulut salah satu murid tersebut, sorot mata yang sebelumnya nampak tenang karena bosan, tiba-tiba saja menjadi tajam dan sangat mendominasi, Lin Feng kemudian berdiri dan menatap wajah mereka semua.


"Siapa yang tadi berbicara tentang keluargaku?" tanya Lin Feng sinis.


"Aku yang berbicara! Memangnya kau mau apa? Apa mau mengadu pada keluargamu?" tanya pemuda tersebut.