Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-156. Perasaan Lin Feng


Beberapa saat kemudian, permaisuri dan anak-anaknya turun dari kereta kuda, raut wajah mereka berempat nampak menunjukkan perasaan yang sangat khawatir sekaligus merasa takut disaat yang bersamaan, pada saat penyerangan terjadi, mereka berempat tidak ada yang berani meninggalkan kereta kuda karena terlalu takut.


"Tetua, bagaimana situasinya?" tanya Qing Xiu Yin.


"Semuanya sudah aman terkendali yang mulia dan ini berkat Feng'er" jawab tetua Liu Changhai.


"Lin Feng, terimakasih karena kau sudah menyelamatkan nyawa kami" ucap Qing Xiu Yin ramah.


"Nyawa anda masih belum bisnis dipastikan selamat sebelum mencapai istana kekaisaran, jadi tidak ada gunanya berterimakasih sekarang" jawab Lin Feng.


"Feng'er, bisakah kau bersikap lebih sopan di hadapan yang mulia permaisuri?" tanya tetua Liu Changhai.


"Tidak masalah tetua, aku sudah mengerti bahwa sifat Lin Feng memang keras seperti ini" ujar Qing Xiu Yin.


Setelah itu mereka semua beristirahat untuk beberapa saat sambil mengumpulkan tenaga lagi, sebenarnya mereka bisa saja langsung melanjutkan perjalanan, namun bukan tidak mungkin bahwa mereka akan menemui pertarungan yang lebih berat lagi kedepannya, jadi mereka harus benar-benar mempunyai tenaga yang lebih dan tidak boleh kelelahan.


Lin Feng dan tetua Liu Changhai kemudian langsung mencari tempat yang nyaman untuk mereka berkultivasi, agar mereka berdua bisa mengumpulkan tenaga yang telah terkuras selama pertarungan tadi, sementara para prajurit menyiapkan makanan untuk mereka semua, meraka juga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan esok hari, karena sekarang matahari sudah hampir tenggelam.


"Sayang sekali aku tidak bisa mengobrol dengannya" ucap Feng Baojia.


"Maksud kakak?" tanya Feng Guan.


"Lin Feng, aku benar-benar ingin berbicara dengannya, tapi sayangnya itu akan sangat sulit" jawab Feng Baojia.


"Tentu saja sangat sulit, Lin Feng adalah orang yang dingin dan tidak suka bicara, dia hanya bicara saat ada hal yang penting, lagipula sekarang dia sedang berkultivasi tentu saja tidak bisa bicara dengannya" ucap Feng Guan.


"Memangnya, kakak mau membicarakan apa? Apakah sangat penting?" tanya Feng Guan.


"Bukan masalah penting, aku hanya ingin belajar bertarung dengannya" jawab Feng Baojia.


"Tenang saja kak, saat kita sampai di istana kekaisaran aku dan Yue'er akan membujuk ayah agar dia mau mengangkat tetua Liu Changhai sebagai guru kita" ujar Feng Guan.


"Semoga saja berhasil, tapi, dimana Yue'er sekarang? Aku tidak melihatnya sejak tadi?" tanya Feng Baojia.


"Dimana lagi kalau bukan bersama Lin Tian" jawab Feng Guan, sambil menunjuk ke arah Lin Tian dan Feng Yue Yin yang berada cukup jauh dari mereka.


***


Malam harinya, setelah berkultivasi selama beberapa jam, akhirnya tetua Liu Changhai mengakhiri kultivasinya, karena energi Qi-nya telah terkumpul lagi, tetua Liu Changhai kemudian beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Lin Tian dan yang lainnya yang sedang berkumpul bersama-sama.


"Guru, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Lin Tian.


"Tubuhku telah segar seperti semula, lagipula energi ku tidak terlalu banyak yang terkuras" jawab tetua Liu Changhai.


"Dimana Feng'er, kenapa dia tidak ada di sini?" tanya tetua Liu Changhai.


"Kakak masih berkultivasi guru, sepertinya energi Qi-nya terkuras cukup banyak" jawab Lin Tian.


Karena Lin Feng masih belum menyelesaikan kultivasinya, tetua Liu Changhai kemudian mengajak mereka semua untuk makan malam bersama dan tidak perlu menunggu Lin Feng, karena tetua Liu Changhai sendiri juga tidak tahu kapan Lin Feng akan menyelesaikan kultivasinya.


Sementara itu, diatas salah satu dahan pohon besar yang tidak terlalu jauh dari mereka, Lin Feng terlihat sedang duduk menatap langit malam sambil bersandar ke batang pohon, sebenarnya Lin Feng juga telah menyelesaikan kultivasinya, bahkan jauh sebelum tetua Liu Changhai, namun Lin Feng terlalu malas untuk berkumpul bersama mereka semua, karena memang Lin Feng tidak terlalu menyukai keramaian.


Lagipula Lin Feng sudah tidak terbiasa dengan keramaian, baginya selama ini, suasana malam yang sepi adalah teman terbaik untuknya, angin malam yang terasa sangat dingin sudah seperti sahabat bagi Lin Feng, karena memang selama ini hanya kesepian yang selalu menemaninya saat setelah kehilangan keluarganya, ataupun saat dia menjadi seorang pembunuh bayaran.


"Sudah satu tahun lebih aku berada di dunia yang aneh ini, tapi semuanya masih terasa seperti mimpi" gumam Lin Feng sambil melepas penutup wajahnya.


"Apa kalian melihat aku yang sekarang? Semoga saja kalian tidak mengkhawatirkan aku, untuk yang kesekian kalinya aku benar-benar minta maaf kepada kalian semua, karena aku adalah anak dan adik yang tidak berguna, aku bahkan mengakhiri hidupku sendiri dengan cara bunuh diri, benar-benar perbuatan yang konyol" gumam Lin Feng sambil menatap bintang-bintang.


"Ayah, maaf karena aku tidak bisa menjadi seorang penegak hukum dan malah menjadi seorang pembunuh yang kejam. Ibu, maaf karena aku tidak menjadi orang yang baik, seperti yang selalu ibu katakan padaku. Kakak, maaf karena aku tidak bisa menemukan wanita cantik yang bisa menandingi kecantikan mu, aku bahkan tidak sempat mengenal perempuan selama aku hidup" lanjutnya.


Setiap kata yang diucapkan oleh Lin Feng benar-benar mewakili perasaan sedih, penyesalan, kerinduan dan rasa sakit yang selama ini dia rasakan dan selalu dia bawa kemanapun, perasaan tersebut juga yang telah mendorong Lin Feng sampai menjadi seorang pembunuh bayaran yang sangat kejam dan tidak berperasaan.


"Sebenarnya aku berharap agar bisa menyusul kalian dengan cepat, tapi sayangnya ada orang gila yang memanggil jiwaku datang ke dunia ini dan memintaku untuk menyelamatkan dunia ini, kedengarannya memang mustahil, tapi akan aku buktikan kepada kalian kalau aku akan melakukan yang terbaik, agar kalian tidak kecewa padaku" ucap Lin Feng tegas.


Setelah itu, Lin Feng mengeluarkan kitab jurus tujuh tebasan kematian dari cincin penyimpanannya, sebelum membaca kitab jurus tersebut, Lin Feng menghela nafas panjang untuk membuang semua hal yang mengganggu hati dan pikirannya, setelah benar-benar tenang, barulah Lin Feng membuka dan membaca kitab jurus tersebut.


Meskipun Lin Feng sudah bisa menguasai dan menggunakan jurus tujuh tebasan kematian dengan baik, namun Lin Feng masih belum merasa puas sebelum menguasai jurus tersebut sampai tahap yang sempurna, karena menurutnya, sehebat apapun jurus yang dia kuasai, tetap tidak akan berguna jika masih ada celah di dalamnya.