
Ular raksasa berkepala tiga menjadi kesal karena ucapan Huise, salah satu kepala ular tersebut kemudian menyemburkan kekuatan api yang sangat panas kepada Huise. Meski begitu, Huise masih nampak tenang dan biasa saja, lalu dengan santainya Huise mengangkat tangan kirinya ke depan untuk menahan kekuatan api tersebut.
Wushh.
Ketika hampir bersentuhan telapak tangan kiri Huise, semburan kekuatan api tersebut tiba-tiba saja terbelah menjadi dua dan melewati Huise begitu saja, seolah-olah ada tembok yang menghalanginya agar tidak bisa menyentuh tubuh Huise sedikitpun. Melihat Huise dengan santainya menahan serangan api miliknya, ular tersebut semakin kesal, lalu kepalanya yang sebelah kiri menghembuskan kekuatan es yang sangat dingin dari mulutnya.
Huise masih terlihat tenang, lalu ia mengibaskan tangan kirinya dengan sangat cepat, kibasan tangan kiri Huise berhasil menciptakan hembusan angin yang cukup kuat, bahkan hembusan angin tersebut sampai membuat dua serangan yang mengarah padanya musnah begitu saja. Karena hal itu juga, kekesalan yang dirasakan oleh ular berkepala tiga malah berubah menjadi kebencian yang sangat besar kepada Huise.
Ular raksasa berkepala tiga juga tidak menyangka jika Huise bisa menahan dan menepis serangannya begitu saja, bahkan saat menahan serangannya, Huise terlihat tidak menggunakan kekuatan sama sekali. Dalam pikiran ular berkepala tiga, tindakan yang baru saja dilakukan oleh Huise benar-benar terlihat seperti sedang meremehkan kekuatannya, bahkan ia berpikir jika Huise mengatakan bahwa kekuatan ular berkepala tiga bukanlah apa-apa baginya, padahal Huise tidak berbicara sama sekali.
"Ternyata keberuntungan masih berpihak pada mu, karena biasanya tidak ada seorangpun yang bisa menahan serangan ku yang paling lemah, seperti tadi!" ucap ular berkepala tiga dengan sombongnya.
"Tapi jangan senang dulu, meskipun aku memujimu, bukan berarti kau bisa lolos dari kematian dan sebaiknya sekarang kau bersiap-siap, karena aku akan mulai menyerang dengan serius!" lanjutnya.
Yin Ouyang menggelengkan kepalanya mendengar perkataan ular berkepala tiga yang sangat sombong, meski dia sendiri masih belum mengetahui seberapa kuat Huise sebenarnya, tapi Yin Ouyang sangat yakin jika Huise adalah bawahan Lin Feng yang paling kuat diantara dua bawahannya yang lain. Jika tidak, maka Huise tidak akan pernah bisa untuk berdiri di samping Lin Feng yang benar-benar sangat luar biasa.
"Sepertinya monster ular ini sudah kehilangan akalnya" Yin Ouyang bergumam dalam hatinya.
"Huise, selesaikan dengan cepat dan jangan menunda waktu lagi!" ujar Lin Feng.
"Baik tuan!" jawab Huise.
Ular berkepala tiga nampak terkejut, karena ia tidak menyadari jika ditepi danau ada dua orang lainnya, namun saat melihat ke arah Lin Feng, ular raksasa berkepala tiga tersebut justru tertawa. "Hahahaha! Ada apa ini? Aku memang sempat memuji kehebatan mu, tapi setelah mendegar kau memanggil pemuda sampah itu sebagai tuan, aku merasa menyesal telah memujimu tadi" ucapnya.
"Ular ini benar-benar gila, dia tidak tahu kalau ucapannya hanya akan membawa kematian untuknya!" Yin Ouyang kembali bergumam dalam hatinya.
Huise terdiam, tubuhnya nampak gemetaran karena amarah yang telah memuncak dalam dirinya, bola matanya memerah dan tatapan matanya sangat tajam. "Cacing tanah sepertimu tidak pantas menghina tuanku, bahkan para dewa sekalipun tidak akan aku biarkan hidup jika mereka menghina tuanku!" ujar Huise yang sudah sangat marah.
Wushh!
Aura yang sangat besar meledak dari tubuh Huise, bersamaan dengan itu, langit yang semula cerah tiba-tiba ditutupi oleh awan hitam, lalu dari awan hitam tersebut muncul petir hitam yang terus menyambar kemana-mana, angin juga bertiup dengan kencang dan menerbangkan pepohonan yang ada di sekitar danau. Bahkan, tanah ikut bergetar karena kemarahan Huise terhadap ular raksasa berkepala tiga tersebut.
"Matilah!" ucap Huise.
DHUAAARRRRRR!
BBOOOOMMMMM!!!
Petir hitam berukuran besar menghantam tubuh ular berkepala tiga tersebut, sehingga menyebabkan ledakan yang benar-benar sangat dahsyat, hantaman petir hitam itu tidak hanya menyebabkan ledakan yang sangat dahsyat, tapi hantaman kekuatan petir hitam itu juga menyebabkan tubuh ular hitam hancur saat itu juga, bahkan air danau ikut tumpah ke daratan karena ledakan yang disebabkan oleh hantaman petir hitam tersebut.
"Ke-kekuatan macam apa ini?" tanya Yin Ouyang, tanpa ia sadari tubuhnya gemetar ketakutan.
"Ini adalah kekuatan dari penguasa para Beast Spirit, percaya atau tidak, kekuatan ini bahkan belum sampai setengah dari kekuatan aslinya" jawab Lin Feng.
"Apa? Kalau begitu seberapa hebat tuan Huise sebenarnya?" tanya Yin Ouyang, yang sangat kaget dengan perkataan Huise.
"Kau tidak akan pernah bisa membayangkan kekuatan Huise yang sebenarnya!" jawab Lin Feng.
Setelah itu, Huise menarik auranya kembali, awan hitam yang semula menutupi langit langsung menghilang, angin yang tadinya bertiup kencang juga telah kembali berhembus pelan seperti biasanya, bahkan tanah yang ikut bergetar karena kemarahan Huise juga telah berhenti saat Huise menarik auranya.
Tidak lama kemudian, Huise kembali terbang ke pinggir danau untuk menghampiri Lin Feng dan Yin Ouyang, lalu setelah berada di depan Lin Feng, Huise langsung berlutut dengan satu kaki. "Tuan, maafkan aku karena tidak bisa mendapatkan kristal jiwa ular itu" ucap Huise.
"Sudahlah, jangan dipikirkan! Lagipula kristal jiwa ular itu tidak terlalu berguna untukku. Aku juga tidak menyalahkan mu, justru aku sangat bangga dengan apa yang kau lakukan tadi" jawab Lin Feng.
"Terimakasih tuan!" ujar Huise, lalu berdiri lagi.
"Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan!" ajak Lin Feng.
Setelah itu, mereka bertiga langsung melanjutkan perjalanannya untuk mencari kristal sembilan surga yang ke-dua, meski belum menemukan petunjuk apapun mengenai keberadaan kristal sembilan surga yang ke-dua, tapi mereka bertiga masih tetap berusaha mencarinya, bahkan mereka tidak akan pernah berhenti mencari sebelum benar-benar menemukan kristal tersebut.
***
Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa sudah beberapa hari berlalu sejak Lin Feng memulai pencariannya terhadap kristal sembilan surga, berbagai macam tempat sudah mereka datangi, bahkan tempat yang sangat mengerikan seperti sarang atau markas para hewan monster juga sudah mereka datangi, padahal sangat kecil kemungkinannya jika kristal sembilan surga berada di tempat seperti itu.
Saat ini, Lin Feng, Huise dan Yin Ouyang sedang beristirahat untuk mengumpulkan kembali tenaga mereka yang telah terkuras, karena selama beberapa hari ini mereka bertiga hanya fokus mencari kristal sembilan surga, mereka hanya akan berhenti ketika hendak mengisi perut yang keroncongan, setelah selesai, mereka akan melanjutkan perjalanannya lagi, jadi hampir tidak ada waktu untuk mereka benar-benar beristirahat.
"Sebenarnya ada satu tempat yang memiliki energi kehidupan cukup besar, tapi tempat itu sangatlah berbahaya, karena tempat itu merupakan tempat berkumpulnya ribuan Beast Monster dan Beast Spirit" jawab Yin Ouyang.
"Apa kau tidak salah bicara? Bagaimana mungkin Beast Spirit dan Beast Monster bisa berkumpul bersama?" tanya Lin Feng yang nampak bingung dengan penjelasan Yin Ouyang.
"Hamba tidak salah bicara yang mulia, karena tempat itu memang tempat berkumpulnya Beast Monster dan Beast Spirit" jawab Yin Ouyang.
"Jika yang kau katakan itu memang benar, pasti ada sesuatu yang menarik mereka untuk berkumpul di sana, atau di tempat itu memang memiliki penguasa yang benar-benar kuat" ucap Lin Feng.
"Hamba tidak terlalu yakin yang mulia, tapi sepertinya memang ada penguasa di tempat itu" jawab Yin Ouyang.
"Apa nama tempat itu?" tanya Lin Feng.
"namanya adalah gunung Heishan" jawab Yin Ouyang.
"Baiklah, kalau begitu kita akan ke sana!" ucap Lin Feng.
"Tapi yang mulia..."
"Tenang saja, sehebat apapun penguasa itu, pasti akan aku hadapi!" ujar Lin Feng memotong perkataan Yin Ouyang.
* Tingkatan kultivasi *
\= Tahapan awal
Qi Condensation
Body Tempering
Gathering Spirits
Master Spiritual
Earth Spiritual
Heaven Spirirtual.
\= Tahapan menengah
Expert
Saint
Tyrant
Nirvana
Matrial Emperor
Heavenly Emperor
Supreme Emperor
\= Tahapan akhir
(Akan ada ketika Lin Feng pergi ke daratan suci atau daratan dewa)