Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-126. Nasehat sang kakek


Tidak hanya Lin Jianheeng saja yang merasa bangga bahkan kedua paman dan ibunya juga merasa sangat bangga, apa yang Lin Feng lakukan adalah sebuah prestasi besar, terlebih lagi saat ini dia masih sangat muda, mereka tentunya sudah tahu betapa sulitnya bertahan hanya untuk satu hari di hutan para monster, apa lagi selama hampir setahun.


Meskipun sebenarnya, waktu Lin Feng di hutan para monster hanya habis dengan berkultivasi dan menyerap inti kristal jiwa milik singa api abadi, akan tetapi, pengalaman Lin Feng selama di hutan para monster juga tidak bisa hanya dipandang dengan sebelah mata, karena, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak monster yang Lin Feng habisi selama berada di sana.


"Feng'er, paman sangat penasaran dengan pedangmu itu, apa boleh paman melihatnya?" tanya Lin Duan.


"Tentu saja paman, tapi aku merasa sedikit ragu" jawab Lin Feng.


"Tenang saja, paman tidak akan merebutnya darimu, paman hanya merasa penasaran, karena pedang tersebut mengandung begitu banyak energi kehidupan" ujar Lin Duan.


Sebenarnya bukan hal itu yang membuat Lin Feng ragu, lagipula pedang tersebut adalah miliknya dan tidak akan pernah bisa dimiliki oleh orang lain, yang membuatnya ragu adalah, pedang tersebut sangat berat, bahkan Lin Feng saja yang merupakan pemilik sah pedang tersebut masih merasakan berat dari pedang yang berasal dari kayu roh tersebut.


Akan tetapi, Lin Feng juga tidak mungkin menolak keinginan pamannya tersebut, Lin Feng kemudian mencabut pedangnya dan kemudian menyerahkannya kepada Lin Duan, ketika mereka melihat pedang Lin Feng yang terbuat dari kayu, mereka semua hampir tertawa, namun mereka mencoba untuk menahannya karena tidak ingin menyakiti perasaan Lin Feng.


"Paman, jangan lihat pedang ini terbuat dari apa, tapi lihatlah bagaimana kualitasnya" ucap Lin Feng.


"Hahahaha, maafkan paman" ujar Lin Duan kemudian meraih pedang di tangan Lin Feng.


Ketika pegangan tangan Lin Feng lepas dari pedang tersebut, pedang yang hanya terbuat dari kayu itu, langsung terjatuh kelantai dan membuat tangan Lin Duan terhimpit, Lin Duan nampak sangat kaget ketika merasakan pedang kecil di genggamannya itu sangatlah berat, bahkan Lin Duan tidak bisa menarik tangannya karena terjepit.


"Kakak, apa yang kau lakukan, kenapa kau memegang pedang Feng'er seperti itu?" tanya Lin Dian keheranan.


"Tanganku terjepit, cepat bantu aku!" ujar Lin Duan.


"Apa maksud kakak?" tanya Lin Dian semakin heran.


"Berhenti bicara dan bantu aku mengangkat pedang ini" jawab Lin Duan.


"Ada apa denganmu, mengangkat pedang kecil ini saja tidak bisa" ucap Lin Dian.


Lin Dian kemudian meraih pedang yang ada di lantai dengan tangan kirinya, lalu dengan santainya Lin Dian mencoba untuk mengangkat pedang tersebut, namun sayangnya, pedang tersebut tidak bergeming sama sekali, Lin Dian nampak sangat bingung, dia kemudian mencoba mengangkat pedang tersebut dengan kedua tangannya, namun hasilnya sama saja.


"Ada apa dengan pedang ini, kenapa sayang berat" ujar Lin Dian bingung.


Lin Jianheeng yang nampak pemasaran, kemudian mencoba membantu kedua putranya untuk mengangkat pedang tersebut, akan tetapi hasilnya tetap sama saja, bahkan dengan bantuan seorang Lin Jianheeng yang sudah berada di ranah Expert dan hampir masuk ke ranah Saint, pedang tersebut masih tetap tidak bergeming sedikitpun.


"Pedang kayu ini, bukan terbuat dari kayu biasa, tapi terbuat dari kayu roh yang ada di hutan para monster, hanya orang yang di akui yang bisa mengangkat dan memiliki pedang ini" ucap Lin Feng, sambil mengangkat pedang tersebut dengan tangan kirinya.


"Pantas saja pedang ini sangat berat, meskipun hanya terbuat dari kayu, tapi aku rasa pedang ini mampu menandingi senjata spiritual terkuat sekalipun" ujar Lin Jianheeng.


"Sudahlah, Feng'er pasti sangat lelah, biarkan dia beristirahat terlebih dahulu" ucap Lin Hua.


"Tidak ibu, aku tidak lelah sama sekali, setelah bertemu dengan kalian rasa lelahku langsung menghilang" jawab Lin Feng.


"Kalau begitu, sebaiknya kita makan saja" kata Lin Duan.


Mereka berlima kemudian beranjak dari ruang keluarga menuju ke ruang makan, karena memang sekarang mereka semua sudah merasa lapar, terutama Lin Feng, yang selama perjalanan hanya makan sekali sehari saja, bahkan hari ini Lin Feng belum makan sama sekali.


**


Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, Lin Jianheeng langsung mengajak Lin Feng menuju ke lapangan latihan keluarga Lin, sebelumnya Lin Jianheeng sudah mengatakan bahwa dia ingin melihat seperti apa jurus pedang hampa, menurutnya sekarang adalah waktu yang sangat tepat bagi Lin Feng untuk menunjukkan jurus tersebut.


Sesuai dengan permintaan kakeknya, Lin Feng kemudian mengambil sepotong ranting kering yang berada di pinggir lapangan pelatihan, setelah itu, Lin Feng langsung melesat dengan cepat dan memotong beberapa batang kayu yang biasanya, di jadikan sebagai bahan untuk melatih pukulan para murid klan Lin.


Ketika melihat Lin Feng dengan begitu mudahnya memotong beberapa batang kayu tersebut, Lin Jianheeng nampak sangat kagum sekaligus penasaran, padahal sangat jelas kalau Lin Feng tidak menggunakan energinya pada ranting pohon, tapi ketajaman ranting pohon tersebut sudah setara dengan senjata spiritual, selain itu, batang kayu yang menjadi bahan untuk melatih pukulan para siswa sangatlah keras, tapi Lin Feng memotongnya dengan sangat mudah.


"Hebat, benar-benar hebat, bahkan tanpa mengaliri energi Qi pada ranting tersebut, ketajamannya sudah sangat luar biasa" ucap Lin Jianheeng sangat kagum.


"Dengan menggunakan jurus pedang hampa, aku bisa menggunakan apapun sebagai pedang, lalu di tahapan yang kedua, aku bisa menggunakan tanganku sendiri sebagai pedang" jawab Lin Feng menjelaskan.


"Tahapan kedua?, apa maksudmu?" tanya Lin Jianheeng penasaran.


Lin Feng kemudian menjelaskan bahwa ilmu pedang hampa memiliki empat tahapan, yang pertama adalah mampu menggunakan apapun sebagai pedang, sedangkan yang kedua adalah menggunakan tangan atau jari sendiri sebagai pedang, yang ketiga menggunakan angin sebagai pedang dan yang terakhir, akan mendapatkan pencerahan tentang ilmu pedang yang sesungguhnya.


Lin Feng juga mengatakan bahwa saat ini, dia hanya menguasai tahapan pertama, namun dia berjanji pada Lin Jianheeng akan secepatnya mempelajari tahapan yang kedua. Lin Jianheeng tentunya merasa sangat senang dengan perkataan cucunya, meskipun dia tidak bisa menguasai jurus tersebut, tapi Lin Jianheeng tetap merasa senang, karena Lin Jianheeng merasa bahwa, jurus misterius tersebut sudah berada di tangan yang sangat tepat.


"Feng'er, kakek hanya bisa berharap agar kau bisa menjadi pendekar hebat nantinya, tapi ingatlah satu hal, gunakan jurus ini untuk membantu yang lemah, bukannya menindas mereka" ucap Lin Jianheeng menasehati cucunya.