Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-392. Mengunjungi kota Jiesi


Setelah selesai mandi dan meminta Huise memotong rambutnya, penampilan Lin Feng nampak jauh lebih tampan dari sebelumnya. Ia memang terlihat tampan dengan rambut panjang, tapi dengan penampilannya saat ini, aura ketampanannya justru semakin bertambah. Namun rambut Lin Feng tidak benar-benar dipotong pendek, karena masih bisa diikat di bagian belakang kepalanya.


"Tuan, apa rambut anda tidak ingin diikat?" tanya Huise.


"Sepertinya tidak, karena aku lebih senang dengan gaya seperti ini" jawab Lin Feng.


"Tapi tuan akan terlihat jauh lebih gagah dengan rambut yang diikat tuan" ucap Huise memberikan pendapatnya.


"Benarkah? Kalau begitu, kau ikat rambutku" ujar Lin Feng, entah kenapa ia langsung berubah pikiran setelah mendengar perkataan Huise.


"Baik tuan!" ujar Huise, kemudian mengikat rambut Lin Feng.


"Kemana tujuan kita selanjutnya tuan? Apakah kita akan langsung kembali ke kota Zuanshi?" tanya Huise.


"Untuk sementara aku masih belum ingin kembali, karena aku yakin ibu pasti telah mendengar berita tentang kekaisaran Tang, jika aku pulang sekarang, pastinya dia akan marah dan menghukum ku" jawab Lin Feng.


"Lalu, kita akan kemana tuan?" tanya Huise lagi.


"Kota Jiesi" jawab Lin Feng.


Kota Jiesi adalah kota kerajaan yang berada di wilayah timur kekaisaran Tang, kota tersebut juga merupakan kota yang jaraknya paling dekat dari hutan para monster. Lin Feng tentunya pernah mengunjungi kota tersebut sebelumnya, bahkan pedang hitam kebanggaannya dibuat di kota tersebut. Tapi setelah bersatu dengan pedang emas, Lin Feng akhirnya mengganti nama pedang tersebut menjadi pedang emas hitam.


Selain itu, di kota Jiesi juga ada kenangan buruk yang masih terukir jelas dalam ingatan Lin Feng, yaitu saat Lin Feng diincar oleh keluarga Huang, yaitu Huang Rong. Bahkan Lin Feng sampai harus diburu oleh Huang Zhong, tapi pada akhirnya, semuanya berhasil di selesaikan oleh Lin Feng dengan pembantaian yang sangat sadis, bahkan salah satu korbannya adalah Huang Rong sendiri.


Sesampainya di kota Jiesi, tempat pertama yang Lin Feng datangi adalah tempat pembuatan senjata milik tuan Hao, tapi ketika Lin Feng sampai di sana, tempat tersebut sudah banyak berubah dan tida sama seperti dulu, bahkan tempat tersebut sudah sangat besar dan terlihat sangat megah, bisa dikatakan jika tempat tersebut sudah tidak cocok lagi disebut sebagai tempat membuat senjata.


"Selamat datang tuan, apakah anda ingin membeli senjata atau membuat senjata?" tanya pelayan tempat tersebut dengan ramah.


"Aku tidak ingin keduanya, tapi aku ingin menemui tuan Hao" jawab Lin Feng.


"Maaf tuan, tapi saat ini tuan Hao sedang sibuk dan tidak bisa diganggu" ucap pelayan tersebut.


"Cihh! memangnya kau siapa mau menemui tuan Hao" pelayan itu mencibir Lin Feng dalam hatinya.


"Siapa bilang aku sibuk!" ujar tuan Hao yang baru saja muncul di belakang pelayan tersebut.


Pelayan tersebut sangat kaget ketika mendengar suara tuan Hao dari belakangnya, ia kemudian berbalik dan langsung menundukkan badannya di hadapan tuan Hao. "Tuan Hao, ma-maaf, aku hanya tidak ingin pemuda ini mengganggu tuan" ucap pelayan tersebut.


"Siapa yang kau sebut pengganggu, dia adalah tamu kehormatan di tempat ini, cepat pergi sebelum aku menghajar mu!" ujar tuan Hao.


"Ba-baik tuan!" ucap pelayan tersebut, kemudian pergi dari hadapan mereka.


Setelah itu, tuan Hao langsung mengajak Lin Feng ke ruangannya, agar mereka bisa mengobrol dengan nyaman dan tenang, tuan Hao juga memerintahkan pelayan sebelumnya membawakan minuman untuk mereka berdua, namun Lin Feng melarangnya, karena ia tidak akan berlama-lama di tempat tersebut.


"Sudahlah tuan Hao, jangan terlalu dipikirkan, sebenarnya aku juga tidak menyangka jika tuan Hao masih mengenaliku" jawab Lin Feng.


"Tentu saja aku masih mengenali anda, karena hanya tuan Feng lah yang berhasil membatku kewalahan hanya karena sepotong kayu" ujar Tuan Hao.


Cukup lama mereka berdua mengobrol tentang berbagai macam hal di ruangan tersebut, bahkan tuan Hao juga memperingati Lin Feng untuk selalu berhati-hati, karena Huang Zhong masih sangat dendam padanya, bahkan Huang Zhong pernah datang bersama pasukannya untuk memeriksa tempat tuan Hao, karena ia berpikir jika Lin Feng bersembunyi di sana.


"Terimakasih atas peringatan anda tuan Hao, aku pasti akan lebih berhati-hati lagi, kalau begitu aku pergi dulu" ucap Lin Feng, kemudian menghilang dari hadapan tuan Hao.


"Benar-benar pemuda yang luar biasa, bahkan sekarang aku masih belum bisa melihat tingkatkan kultivasinya" ucap tuan Hao dalam hatinya.


Setelah meninggalkan tempat Tuan Hao, Lin Feng langsung pergi mengunjungi rumah lelang merak, bukan untuk menemui Mei Yin, melainkan ingin mengikuti acara lelang, karena mungkin saja bisa menemukan barang yang membuatnya tertarik di rumah lelang tersebut. Sesampainya di sana, Lin Feng malah dicegat oleh para penjaga rumah lelang dan melarangnya masuk, bahkan Lin Feng sudah menunjukkan lencana khusus yang diberikan Mei Yin padanya, tapi mereka tetap melarangnya masuk, karena mereka berpikir jika lencana tersebut adalah lencana palsu.


"Tunggu di sini, aku akan melaporkan masalah ini pada nona Mei Yin!" ujar salah seorang penjaga, ia kemudian pergi menemui Mei Yin yang sedang berada di dalam ruangannya.


"Permisi nona, ada seorang penipu yang membawa lencana ini untuk memasuki rumah lelang" ucap penjaga tersebut, lalu menunjukkan lencana yang ia bawa pada Mei Yin.


Raut wajah Mei Yin langsung berubah ketika melihat lencana tersebut, ia tentu saja mengenali lencana yang dibawa oleh penjaga itu, karena lencana tersebut adalah lencana khusus yang ia buat sendiri dan hanya ia berikan kepada satu orang, yang tidak lain adalah Lin Feng.


Plak!


Mei Yin langsung menampar wajah penjaga tersebut. "Apa kau bodoh! Dimana orang yang membawa lencana ini?" tanya Mei Yin, ia terlihat sangat marah.


"Di-dia ada di depan, nona" jawab penjaga rumah lelang.


"Jika dia sampai merasa tersinggung, maka aku akan memenggal kepalamu sebagai permintaan maaf!" ujar Mei Yin, kemudian pergi menemui Lin Feng.


Penjaga tersebut sangat kaget mendengar perkataan Mei Yin, karena tidak biasanya ia terlihat marah seperti itu, bahkan biasanya ia langsung menolak untuk bertemu dengan orang-orang yang membawa lencana khusus rumah lelang merak, padahal mereka yang datang adalah orang-orang yang sangat berpengaruh, baik itu di dalam kota Jiesi maupun di kekaisaran Tang.


Setibanya di depan rumah lelang, Mei Yin benar-benar terpana melihat ketampanan pemuda yang berdiri dihadapannya, meski wajahnya telah sedikit berubah, tapi Mei Yin masih mengingat dengan jelas tatapan tajam yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut, tatapan tajam itu memang akan membuat orang-orang bergidik ketakutan, tapi tatapan tajam tersebut justru membuat hati Mei Yin bergetar. Dan hanya satu pemuda yang memiliki tatapan tajam seperti itu, yang mampu membuatnya jatuh hati hanya dengan tatapan tajamnya, ia tidak lain adalah Lin Feng.


"Ka-kau Lin Feng?" tanya Mei Yin.


"Memangnya siapa lagi?" jawab Lin Feng.


"Se-selamat datang Lin Feng, aku benar-benar merindukanmu!" ujar Mei Yin.


Lin Feng mengerutkan alisnya ketika mendengar perkataan Mei Yin, ia tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar dari perempuan yang seumuran dengan ibunya, meskipun wajah dan tubuhnya memang terlihat seperti gadis berumur 20 tahun, tapi sebenarnya ia adalah perempuan yang mungkin sudah berumur 40 tahun lebih.



Soon