
"Pohon kehidupan? Apa pohon itu sama dengan pohon biasa? Lalu kenapa diberi nama Pohon Kehidupan?" tanya Lin Feng.
"Pohon tersebut hampir sama dengan pohon biasa, hanya saja batang dan daun pohon tersebut berwarna perak, bahkan batang dari pohon tersebut hampir menyerupai kristal, lalu pohon tersebut juga memancarkan energi kehidupan yang sangat melimpah, jika seorang kultivator berkultivasi dengan menyerap energi dari pohon tersebut, maka bisa membuat seorang naik ke ranah selanjutnya dengan cepat" jawab Huise.
"Berarti kalau aku berkultivasi di bawah pohon tersebut, berarti aku akan langsung naik ke ranah Heaven Spiritual, begitu kan maksudmu?" tanya Lin Feng.
"Benar sekali tuan, tapi tidak semudah itu, karena akan ada ujian yang akan tuan hadapi dan kalau gagal, maka tuan bisa mati" jawab Huise.
"Tenang saja, aku bukanlah manusia yang bisa mati begitu saja" ucap Lin Feng.
Setelah hampir setengah jam berjalan kaki menelusuri lorong jurang yang sangat gelap, Lin Feng menemukan sebuah jalan buntu, yang mana di hadapannya saat ini tidak ada jalan sama sekali, kecuali tebing yang sangat tinggi dan sangat mustahil untuk dipanjat.
Lin Feng sempat merasa ragu ketika melihat tebing batu tersebut, bahkan Lin Feng sempat berpikir bahwa mereka telah salah jalan, namun Huise meyakinkan Lin Feng dan meminta Lin Feng untuk terus melanjutkan langkahnya, Huise juga meminta agar Lin Feng meneguhkan hatinya dan jangan sampai merasa ragu sedikitpun.
"Memangnya kenapa aku harus meneguhkan hatiku?" tanya Lin Feng.
"Tuan, ujian yang aku katakan akan dimulai dari sekarang, jadi setelah ini keteguhan hati tuan akan benar-benar di uji, jika tuan merasa ragu maka tuan akan berakhir di tempat yang tidak akan pernah tuan bayangkan sama sekali, satu hal lagi, setelah tuan melangkah maju, tuan tidak akan bisa menghubungi aku lagi" jawab Huise.
"Kalau memang ini adalah jalan untuk menjadi kuat, sesulit apapun ujiannya pasti akan aku lewati" ujar Lin Feng.
"Tuan, ingat perkataan ku, jangan sampai tuan merasa ragu sedikitpun, apapun yang akan terjadi nantinya, jangan pernah merasa ragu!" ucap Huise.
"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai" ujar Lin Feng.
Lin Feng kemudian menutup matanya lalu menghela nafas panjang untuk memenangkan hati dan pikirannya, setelah benar-benar tenang, Lin Feng langsung memulai langkah pertamanya, saat langkah pertama Lin Feng menyentuh tanah, suasana tiba-tiba saja berubah, Lin Feng yang sebelumnya berada di dasar jurang sekarang malah berada di gerbang sekte Phoenix Emas.
Rasa bingung mulai menghantui pikiran Lin Feng, dia mencoba untuk menghubungi Huise untuk bertanya, tapi usahanya malah sia-sia, karena Huise seakan-akan menghilang dari dalam dirinya, bahkan aura Huise saja tidak bisa dirasakan oleh Lin Feng, namun Lin Feng langsung teringat akan peringatan Huise sebelumnya untuk tidak merasa ragu dan terus melanjutkan langkahnya.
Awalnya tidak ada yang aneh sama sekali, suasana sekte Phoenix Emas juga nampak ramai dan tenang seperti biasanya, namun setelah beberapa langkah memasuki sekte, kejadian aneh tiba-tiba saja terjadi, dari arah gerbang sekte tiba-tiba saja muncul pasukan kekaisaran dan langsung menyerang apa saja yang ada di hadapan mereka.
"Sesuai dengan perintah kaisar, kita harus membunuh mereka semua, jangan biarkan satu orangpun berhasil lolos" ucap jendral utama kekaisaran.
Para prajurit membantai habis semua murid sekte, tidak ada satupun dari mereka semua yang dibiarkan kabur dalam keadaan hidup. Tubuh Lin Feng bergetar hebat karena menahan amarahnya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Feng Jing Quo sampai berbuat seperti ini kepada sekte Phoenix Emas.
"Feng Jing Quo, kenapa kau melakukan semua ini, kenapa kebaikanku malah kau balas dengan cara seperti ini!" ujar Lin Feng marah.
Dalam keadaan menahan amarah, Lin Feng berlari dengan cepat menuju ke kediaman tetua Liu Changhai, Lin Feng benar-benar berharap agar tetua Liu Changhai baik-baik saja, akan tetapi, setelah sampai di sana, Lin Feng malah menemukan pemandangan yang benar-benar mengerikan.
Kediaman tetua Liu Changhai telah hancur, lalu di halaman istana tergeletak mayat Lin Tian beserta ketiga anak kaisar, mereka bertiga mati dengan keadaan yang sangat mengenaskan, bahkan Lin Feng sampai tidak sanggup melihat mayat mereka berempat, tanpa di sadari air mata Lin Feng menetes dan membasahi pipi serta penutup wajahnya.
Tidak lama kemudian, dari arah kediaman tetua Liu Changhai yang telah hancur, datang beberapa orang prajurit bersama tetua Liu Changhai, keadaan tetua Liu Changhai sendiri sudah penuh dengan luka, bahkan untuk berjalan saja tetua Liu Changhai sudah tidak mampu dan terpaksa harus di seret oleh beberapa prajurit tersebut.
"Hentikan! Apa yang akan kalian lakukan pada guruku!" ujar Lin Feng berteriak keras.
Sekeras apapun Lin Feng berteriak, suaranya tidak pernah didengarkan oleh para prajurit tersebut, mereka tetap menyerat tetua Liu Changhai sampai ke halaman, lalu setelah itu, mereka semua meletakan kepala tetua Liu Changhai di atas bangku yang terbuat dari batu, salah seorang prajurit kemudian menarik pedangnya dan mengangkat pedangnya ke atas.
Lin Feng tentu saja mengetahui apa yang akan prajurit tersebut lakukan, yaitu memenggal kepala tetua Liu Changhai, amarah Lin Feng benar-benar memuncak, tubuhnya kembali bergetar hebat, aura membunuh yang sangat besar langsung merembes keluar dari tubuhnya, dengan gerakan yang sangat cepat, Lin Feng langsung melesat ke arah tetua Liu Changhai.
Akan tetapi, gerakan Lin Feng masih kalah cepat dibandingkan dengan gerakan prajurit tersebut, ketika Lin Feng telah sampai di hadapan tetua Liu Changhai, pedang dari prajurit tersebut juga telah memenggal kepala tetua Liu Changhai, bahkan darahnya sampai mengenai wajah Lin Feng dan kepalanya tergeletak tepat di hadapan Lin Feng,
Lin Feng hanya bisa terdiam melihat kepala gurunya telah terpenggal, tanpa Lin Feng sadari, air matanya kembali menetes dan membasahi pipi serta penutup wajahnya, meskipun begitu, amarah yang sangat besar juga sedang membara di dalam tubuh Lin Feng dan siap untuk membakar apa saja yang ada di dekatnya.
"Kalian semua, pasti akan aku bunuh!" ujar Lin Feng marah.
Setelah itu, Lin Feng langsung menarik pedang kayu roh yang ada di punggungnya, Lin Feng kemudian menebaskan pedang tersebut ke arah prajurit yang telah membunuh tetua Liu Changhai, akan tetapi gerakan tangan Lin Feng tiba-tiba saja terhenti saat teringat akan kata-kata peringatan dari Huise.
"Benar juga, semua ini hanyalah ujian, aku tidak boleh merasa ragu sedikitpun" ucap Lin Feng sambil menghapus air matanya.
Setelah itu, Lin Feng langsung melanjutkan langkah kakinya, bersamaan dengan perginya Lin Feng, sekte Phoenix Emas juga perlahan-lahan mulai menghilang ditelan oleh kegelapan.