
Lin Feng dan Huise kemudian kembali ke dalam istana, lalu duduk di singgasana dengan air wajah yang serius. Perkataan Huise sebelumnya berhasil membuat Lin Feng berpikir dengan keras, bagaimanapun juga, untuk mencapai ranah Supreme Emperor bukanlah hal yang mudah.
Tanpa di sadari, berbagai macam beban mulai berdatangan menghampirinya, yang awalnya hanya ingin menjalankan tugas dari Dewi Nuwa, sekarang malah semakin bertambah, Lin Feng bahkan merasa ragu, apakah dia bisa hidup dengan bebas atau tidak, karena terlalu banyak beban yang ada di pundaknya.
"Tuan, dalam hidup memang banyak sekali masalah, tapi justru masalah itulah yang akan membuat tuan menjadi semakin dewa dan bertambah kuat, masalah yang berdatangan tentunya juga akan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya pada tuan, karena hidup tanpa masalah, itu sama saja seperti kultivator tanpa sumberdaya" Huise tiba-tiba berbicara saat melihat raut wajah Lin Feng.
"Huise, sejak kapan kau jadi bijak seperti ini?" Lin Feng bertanya serius.
"Maaf kalau aku lancang tuan, meskipun sebelumnya aku hanya seekor Beast Spirit, tapi aku juga telah menjalani hidup yang berat, tentu saja aku bisa mengerti saat melihat raut wajah tuan. Jadi, aku berpikir mungkin tuan akan senang mendengar nasihatku" jawab Huise.
"Tidak Huise, aku tidak bermaksud merendahkan ataupun menyalahkan mu, karena dari sekian banyak bawahan ku, hanya kau yang benar-benar mengerti diriku" ucap Lin Feng.
"Selama ini, kau tidak pernah mempertanyakan keputusanku, kau juga menjalankan semua perintahku dengan baik, bahkan kau sama sekali tidak meragukan perintahku, entah itu baik atau buruk" lanjutnya.
"Tuan, sudah sepatutnya aku sebagai bawahan menuruti dan menjalankan apapun yang diperintahkan oleh tuan, bahkan seandainya kita bertemu bukan karena Dewi Nuwa, aku akan tetap melakukan hal yang sama, karena tuan adalah tuanku" Huise mengutarakan apa yang dia rasakan.
"Baiklah, sekarang aku ingin mendengar pendapatmu mengenai para dewa, apa keputusanku untuk membunuh mereka semua sudah benar?" tanya Lin Feng.
"Tuan, seperti yang telah tuan katakan sebelumnya, apapun keputusan tuan aku akan tetap mematuhinya, tapi mengenai masalah para dewa, sepertinya tuan memang harus memburu mereka" jawab Huise.
Lin Feng mengerutkan alisnya dan menunjukkan ekspresi kaget saat mendengar perkataan Huise, padahal Lin Feng sempat berpikir bahwa Huise akan mempermasalahkan keputusannya itu. "Kenapa begitu?" tanya Lin Feng bingung.
"Semenjak menghilangnya Dewi Nuwa, para dewa mulai bertindak melebihi batas, mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, seolah-olah mereka lupa siapa yang telah memberikan mereka kekuatan, bahkan mereka mulai berani bertindak keji seperti bangsa iblis" jawab Huise.
"Hahahaha! Kalau begitu, keputusanku untuk memburu mereka semua memang sudah benar, meskipun aku tidak berhak ikut campur dengan urusan mereka, tapi sejak awal aku memang sudah tidak percaya dengan para dewa" ucap Lin Feng.
Tidak lama kemudian, Yin Ouyang datang ke ruang singgasana, ketika melihat Lin Feng sedang mengobrol bersama Huise, Yin Ouyang nampak kebingungan, karena mereka berdua berbicara seolah-olah bukan sebagai tuan dan bawahan, tapi sebagai dua saudara.
"Hormat yang mulia" ucap Yin Ouyang.
"Kebetulan sekali kau datang, karena asa sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu" ujar Lin Feng.
"Silahkan yang mulia" ucap Yin Ouyang.
"Kau sendiri sudah tahu bahwa aku akan pergi berkelana untuk mencari Yama, untuk itu aku ingin kau mengatur semuanya selama aku tidak ada di sini" Lin Feng berkata tegas.
"Baik yang mulia! Maaf kalau saya lancang yang mulia, tapi kalau boleh saya tahu, kapan yang mulia akan berangkat?" tanya Yin Ouyang.
"Secepatnya, karena aku tidak ingin menunda waktu lagi!" jawab Lin Feng.
"Baik yang mulia!" ujar Yin Ouyang.
Setelah menyerahkan semua urusan kerajaan kepada Yin Ouyang, Lin Feng kemudian mengajak Huise untuk kembali ke dunia atas dan entah kenapa, dia tiba-tiba saja merasa sangat merindukan keluarganya, terutama ibunya. Jadi, Lin Feng memutuskan untuk kembali ke benua timur.
Beberapa hari kemudian! Di benua timur, tepatnya di kediaman keluarga Lin.
Semua anggota keluarga Lin, nampak sedang sibuk menghiasi setiap rumah dan jalanan di wilayah keluarga Lin, mereka seperti ingin mengadakan pesta yang sangat besar. Bahkan, kaisar Feng serta para bangsawan ibukota kekaisaran juga ada di sana.
"Patriark Lin, dimana Lin Feng saat ini, bukankah pesta ini akan sia-sia kalau dia tidak ada?" tanya Feng Jing Quo.
"Maafkan aku yang mulia, aku sendiri juga tidak mengetahui dimana Lin Feng saat ini, aku sudah mencoba menghubunginya dengan giok jiwa, tapi aku sama sekali tidak bisa terhubung dengannya" jawab Lin Jianheeng.
"Tenanglah ayah, aku yakin Feng'er akan datang, karena hari ini adalah hari yang sangat penting baginya" ucap Lin Hua.
"Aku tahu itu, tapi dari sikapnya yang selalu acuh dan tidak peduli dengan hal-hal seperti ini, membuatku merasa sangat yakin bahwa dia telah melupakan kalau dua hari lagi adalah hari peringatan kelahirannya!" ujar Lin Jianheeng kesal.
Hari ini, semua anggota keluarga Lin sedang menyiapkan pesta perayaan untuk memperingati hari kelahiran Lin Feng. Jadi, semua orang yang berhubungan baik dengan Lin Feng, diundang untuk datang dalam acara tersebut.
Tidak hanya sekedar orang-orang dari kekaisaran Feng saja yang di undang, bahkan Lin Jianheeng juga rela datang jauh-jauh ke benua tengah untuk menemui dan mengundang kaisar Luo, karena mengingat Lin Feng juga memiliki hubungan baik dengan kaisar Luo.
Beberapa saat kemudian, seorang prajurit penjaga gerbang wilayah keluarga Lin, masuk ke ruang pertemuan dengan tergesa-gesa, bahkan prajurit tersebut nampak begitu panik, seperti telah terjadi sesuatu di depan gerbang.
"Ada apa?" tanya Lin Jianheeng.
"Patriark, yang mulia kaisar Luo dan rombongannya telah datang dan sekarang berada di gerbang" jawab prajurit tersebut.
"Apa?!" ujar mereka semuanya kaget.
Setelah itu, Lin Jianheeng dan mereka semua yang ada di ruangan itu langsung bergegas menuju ke gerbang klan Lin, untuk menyambut kaisar Luo beserta rombongannya yang telah datang dari benua tengah.
Sebenarnya, Lin Jianheeng tidak terlalu yakin kalau kaisar Luo akan datang, karena mengingat kaisar Luo bukanlah orang sembarangan, tapi diluar dugaan, kaisar Luo justru datang tanpa memberitahukannya kepada Lin Jianheeng. Jika tidak, mungkin Lin Jianheeng akan menunggunya di gerbang kota.
"Selamat datang yang mulia, terimakasih karena anda sudah menyempatkan diri untuk datang ke kota kecilku" ucap Lin Jianheeng ramah.
"Hahahaha! Anda bicara apa patriark Lin, tentu saja aku harus datang, karena Lin Feng adalah orang yang sangat berjasa pada kekaisaran Luo" ujar Luo Ming An.
"Kaisar Luo, selamat datang di kekaisaran Feng, aku adalah Feng Jing Quo" ucap Feng Jing Quo memperkenalkan dirinya, kemudian mengulurkan tangannya.
"Terimakasih kaisar Feng, aku Luo Ming An" jawab Luo Ming An, kemudian bersalaman dengan Feng Jing Quo.
Kedatangan kaisar Feng mungkin sudah dianggap biasa oleh anggota keluarga Lin, serta para penduduk kota Zuanshi, karena mereka semua sudah mengetahui hubungan Lin Feng dan kaisar Feng, bahkan cucu angkat keluarga Lin telah menjadi menantu kaisar Feng.
Namun kedatangan kaisar Luo benar-benar membuat seluruh kota menjadi heboh, karena hampir semua orang mengetahui seperti apa kaisar Luo, yang sangat luar biasa dan sangat disegani, bahkan tidak sembarangan orang bisa mengundang kaisar Luo begitu saja.
Tapi hari ini, kaisar yang sangat disegani tersebut rela datang jauh-jauh dari benua tengah, hanya untuk menghadiri pesta perayaan peringatan hari kelahiran Lin Feng, yang bahkan bukan anggota keluarga kaisar.