Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-238. Keinginan terakhir


Setelah sedikit mengobrol dengan Huise, Lin Feng akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya esok hari, karena sekarang dia ingin menelusuri markas para bandit naga badai, karena Lin Feng merasa sangat yakin, bahwa para bandit tersebut pasti menyimpan sesuatu yang sangat berharga.


Lin Feng memeriksa setiap bangunan yang ada di sana, baik yang masih utuh ataupun yang telah hancur karena serangannya, namun setelah berjam-jam berlalu Lin Feng tetap tidak menemukan apapun, bahkan hampir seluruh kediaman yang ada di sana, hanya menyimpan koin emas saja.


Akan tetapi, koin emas sangat tidak berarti untuk Lin Feng, karena kekayaannya sudah sangat melimpah. Jika dia mau, dia bisa membeli apapun, bahkan dia bisa membangun kerajaannya sendiri jika dia mau dan itu bukanlah hal yang mustahil, mengingat kekayaan Lin Feng yang benar-benar melimpah.


"Sejak tadi aku tidak menemukan pintu rahasia atau apapun, bahkan di kediaman ketua bandit juga tidak ada apa-apa sama sekali, lalu dimana mereka menyimpan hartanya?" gumam Lin Feng.


Meskipun begitu, Lin Feng masih belum mau menyerah dan memilih untuk terus melanjutkan pencariannya, hingga beberapa menit kemudian, Lin Feng menemukan sebuah lubang kecil yang ada di bawah pohon. Dan ternyata, lubang yang hanya muat untuk satu orang tersebut adalah pintu menuju ke ruang bawah tanah.


Setelah masuk kedalam lubang kecil yang langsung terhubung ke lorong yang cukup panjang, Lin Feng akhirnya sampai di ruangan bawah tanah yang cukup luas, di dalam ruang bawah tanah tersebut, terdapat banyak senjata, armor, koin, gulungan dan beberapa sumberdaya untuk meningkatkan kultivasi.


Lin Feng kemudian mengedarkan energi spiritualnya di ruang bawah tanah tersebut, untuk mencari sesuatu yang mungkin akan berguna untuknya, seperti halnya sumberdaya tingkat tinggi ataupun senjata spiritual tingkat tinggi, tapi sayangnya, Lin Feng tidak menemukan apapun yang berharga di sana, kecuali benda-benda biasa saja.


"Sepertinya ditempat ini memang tidak ada apapun" gumam Lin Feng sedikit kecewa.


Setelah itu, Lin Feng langsung melambaikan tangannya dan dalam sekejap, semua harta yang ada di dalam ruang bawah tanah tersebut langsung menghilang dan masuk kedalam cincin penyimpanannya, setelah mengambil semuanya, Lin Feng kemudian keluar dari ruang bawah tanah tersebut.


Setelah keluar dari ruang bawah tanah, Lin Feng kemudian pergi meninggalkan markas bandit naga badai, meskipun sebenarnya Lin Feng bisa bermalam di salah satu kediaman yang belum hancur, namun Lin Feng terlalu enggan untuk melakukan hal tersebut dan memilih untuk bermalam di hutan.


***


Malam harinya, di kedalaman hutan. Tepatnya di bawah pohon besar dan sangat rindang, Lin Feng terlihat sedang duduk santai sambil menghangatkan tubuhnya di dekat api unggun sambil memakan daging bakar untuk mengisi perutnya. Setelah selesai makan, Lin Feng bersandar di pohon besar tersebut dan kemudian memejamkan matanya.


"Untuk yang kesekian kalinya, aku masih saja merindukan kalian bertiga" gumam Lin Feng sebelum akhirnya tertidur lelap.


Beberapa saat kemudian, di hadapan Lin Feng muncul bola cahaya kecil yang berwarna hijau yang cukup terang, bola cahaya hijau tersebut kemudian melayang mendekati Lin Feng dan kemudian masuk ke dahinya. Setelah itu, tubuh Lin Feng nampak diselimuti oleh cahaya terang berwarna hijau.


***


Di hamparan padang rumput yang sangat luas, seorang pemuda terlihat sedang tertidur dengan pulas, cahaya matahari yang sangat hangat, serta hembusan angin yang sangat lembut yang menerpa tubuhnya menimbulkan perasaan nyaman pada pemuda tersebut.


Rerumputan yang bergoyang karena hembusan angin menyentuh wajah pemuda tersebut, seolah-olah sedang memberitahukan kepadanya untuk segera membuka matanya, namun rasa nyaman yang ia rasakan, membuat pria tersebut terlalu enggan untuk membuka mata.


"Hei bocah malas, sampai kapan kau akan tertidur"


Suara perempuan yang sangat lembut terdengar ditelinga pemuda tersebut, suara yang sangat dia kenali dan suara yang selama ini dia rindukan, serta suara yang sudah sangat lama ingin dia dengarkan, suara yang selalu memberikan nasehat serta mengomelinya saat dia melakukan kesalahan.


Tidak lama kemudian, sebuah sentuhan tangan yang sangat halus menyentuh dahinya, sentuhan yang sangat tidak asing baginya, sentuhan yang benar-benar sangat berkesan selama hidupnya dan tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun, karena rasa penasaran yang mulai memenuhi pikirannya, pemuda yang tidak lain adalah Lin Feng itu, akhirnya membuka matanya.


"Putraku, kami sangat merindukanmu" ucap seorang perempuan yang tidak lain adalah ibu Lin Feng.


"I-ibu, ayah, kakak, i-ini benar-benar kalian?" tanya Lin Feng dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan.


"Apa kau sudah melupakan kami?" tanya kakak Lin Feng.


Lin Feng tidak menjawab perkataan kakaknya tersebut dan langsung memeluk mereka bertiga, bahkan Lin Feng yang sangat dingin dan selalu haus akan darah tidak mampu lagi membendung air matanya, perasaan rindunya yang sudah sangat besar akhirnya terlampiaskan, dan yang dia rasakan saat ini hanyalah satu hal, yaitu kebahagiaan.


"Aku tidak akan pernah melupakan kalian, tidak akan pernah! Karena kalian selalu ada dalam hatiku" ucap Lin Feng.


"Bagus nak, kau adalah kebanggan ayah" ujar ayah Lin Feng.


Setelah agak lama berpelukan, Lin Feng akhirnya melepaskan pelukannya pada mereka bertiga dan kemudian menghapus air matanya, senyuman yang sangat indah nampak terukir dengan jelas di bibir Lin Feng, senyuman yang selama ini tidak pernah dia tunjukkan kepada siapapun sejak dia kehilangan mereka bertiga.


Dalam sekejap mata, Lin Feng yang selalu bersikap dingin dan kejam, langsung menghilang begitu saja, tatapan mata yang selalu tajam dan penuh intimidasi, langsung berubah menjadi tatapan yang tenang dan menyejukkan, sikap yang dia tunjukkan sekarang adalah sikap yang benar-benar menggambarkan Zhao Feng sebelum kehilangan keluarganya.


"Ibu, ayah, kakak, bagaimana kabar kalian, apa kalian baik-baik saja?" tanya Lin Feng senang.


"Kami baik-baik saja dan seharusnya kami yang bertanya seperti itu" jawab ayah Lin Feng.


"Aku baik-baik saja ayah" jawab Lin Feng.


"Apa kau sudah menemukan adik ipar untuk kakakmu ini?" tanya kakak Lin Feng.


"Maaf kakak, tapi aku benar-benar belum memikirkannya, aku bahkan tidak pernah memikirkan masalah itu" jawab Lin Feng.


"Feng'er, kami bertiga sudah sangat tenang, kami juga sangat bersyukur karena kau sudah membalaskan dendam kami, jadi ibu sangat memohon kepadamu, lupakan dendam yang sudah terbalaskan itu, kembalilah menjadi Zhao Feng yang ibu kenal" ucap ibu Lin Feng.


"Buanglah kebencian yang selama ini kau rasakan, ingatlah nak, di manapun kau berada sekarang, sehabat apapun dirimu, ibu, ayah dan kakakmu akan selalu bangga padamu, tapi kami bertiga juga ingin kau bahagia, ibu juga sangat ingin melihat kau mempunyai seorang istri untuk menemanimu" lanjutnya.


"Tapi aku..."


"Feng'er, bukalah hatimu agar kau bisa menemukan seseorang yang akan menemanimu nantinya, ini adalah permintaan terakhir kami bertiga" ujar ibu Lin Feng.


"Benar yang ibu katakan, satu hal lagi, pastikan perempuan itu lebih cantik dariku" ucap kakak Lin Feng menimpali.