
Tubuh Huang Zhong langsung gemetaran saat mendengar perkataan prajurit tersebut, jantungnya berdetak dengan sangat cepat dan dadanya terasa sangat sakit, seperti sedang ditusuk berkali-kali dengan pedang, tubuhnya terasa sangat lemas sampai membuatnya hampir terjatuh, pikirannya benar-benar sangat kacau dan tidak tahu lagi harus berkata apa.
Tanpa menghiraukan Li Haochun dan para petinggi istana lainnya, Huang Zhong langsung berlari meninggalkan istana kota untuk segera kembali ke kediaman keluarga Huang, kehilangan para prajurit dan para tetua mungkin tidak terlalu menyakitkan bagi Huang Zhong, karena dia bisa merekrut anggota keluarganya yang lain untuk mengganti posisi tersebut.
Akan tetapi, kehilangan putri satu-satunya benar-benar memberikan pukulan yang sangat menyakitkan terhadap Huang Zhong. Selama ini, hanya putrinya lah yang membuat Huang Zhong masih memiliki tujuan untuk hidup, bahkan Huang Zhong sanggup melakukan apapun demi putrinya, namun setelah mendengar tentang kematian putrinya, hidup Huang Zhong seakan-akan menghilang saat itu juga.
Setelah sampai di wilayah keluarga Huang, Huang Zhong langsung bergegas menuju ke kediaman putrinya, bahkan Huang Zhong sama sekali tidak menghiraukan warga kota yang sedang membantu memindahkan mayat para prajurit, yang ada dalam pikiran Huang Zhong sekarang hanyalah putrinya, Huang Zhong bahkan berharap bahwa putrinya masih baik-baik saja dan berita yang dia dengar adalah kebohongan belaka.
Namun sayangnya, apa yang di harapkan oleh Huang Zhong sama sekali tidak sama dengan kenyataannya, karena saat ini, tepat di hadapan Huang Zhong, tubuh anaknya sedang terbujur kaku di tempat tidur dengan bersimbah darah, sedangkan kepalanya nampak tergeletak di atas lantai yang juga telah kotor oleh darah.
Huang Zhong kemudian berjalan secara perlahan menghampiri tubuh anaknya, air mata kesedihan tentunya sudah tidak dapat lagi dibendung oleh Huang Zhong, terlebih lagi saat menatap kepala anaknya yang sekarang telah terlepas dari tubuhnya.
Dengan tangan yang gemetaran, Huang Zhong kemudian mengambil kepala anaknya dan kemudian mencoba meletakkannya di posisi semula, dengan harapan agar kepala anaknya tersebut bisa tersambung lagi dan anaknya bisa hidup kembali, namun tentunya hal tersebut tidaklah mungkin terjadi lagi, karena Huang Rong telah mati sepenuhnya.
"Kejam!, benar-benar sangat kejam!, aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang melakukan ini kepada anakku!" ucap Huang Zhong sambil menangis memeluk tubuh anaknya.
Setelah agak lama memeluk tubuh putrinya, Huang Zhong kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk membawa tubuh anaknya, agar bisa di makamkan secara layak, meskipun dalam keadaan berduka, namun Huang Zhong tetap mencoba untuk tegar, agar dia bisa membalaskan kematian anak semata wayangnya itu.
**
Waktu berlalu dengan sangat cepat, semua korban pembantaian juga sudah selesai di makamkan secara layak, termasuk Huang Rong, suasana keluarga Huang yang biasanya sangat ramai, langsung berubah menjadi sepi, karena mereka semua tengah berduka, tidak hanya mereka saja, bahkan seluruh kota Jiesi juga menjadi sepi, karena semua orang turut berduka atas peristiwa yang menimpa keluarga Huang.
Sementara itu, Lin Feng yang merupakan dalang dan pelaku dari pembantaian keluarga Huang, nampak masih bisa bersantai sambil menikmati makanannya di penginapan, padahal baru saja selesai membunuh begitu banyak orang dalam satu malam, namun Lin Feng seperti tidak merasakan apapun, bahkan sikapnya menunjukkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Saat Lin Feng sedang asyik menikmati makanannya, seorang pria tiba-tiba datang menghampiri Lin Feng dan langsung duduk di hadapan Lin Feng, pria tersebut kemudian memesan makanan dan dua botol arak untuknya, Lin Feng yang mengira bahwa pria tersebut hanyalah salah satu dari pengunjung penginapan, sama sekali tidak menghiraukannya dan tetap menyantap makanannya dengan lahap.
"Apa kau mendengar kabar tentang pembantaian keluarga Huang semalam?" tanya pria tersebut.
"Apa kau bicara padaku?" tanya Lin Feng.
"Tentu saja, memangnya siapa lagi yang ada di meja ini" jawab pria tersebut.
"Hahaha tentu saja, aku benar-benar bodoh karena telah menanyakan pertanyaan tersebut, tentu saja kau tidak mendengarnya karena lelah setelah bergerak semalaman" ucap pria tersebut.
Lin Feng yang awalnya hanya acuh dan tidak menghiraukan perkataan pria tersebut, tiba-tiba saja menghentikan makannya, tatapan matanya yang tajam langsung mengarah kepada pria tersebut, yang seolah-olah ingin membunuh pria yang ada di hadapannya saat itu juga, namun beberapa saat kemudian, raut wajah Lin Feng kembali menjadi tenang seperti sebelumnya.
"Maaf kalau aku lancang, sebenarnya aku mengikutimu tadi malam, aku juga menyaksikan semua yang kau lakukan, tapi tenang saja aku tidak akan membocorkannya kepada siapapun, sebagai sesama Assassin tentunya kita harus menjaga rahasia masing-masing" ucap pria tersebut.
"Assassin?" tanya Lin Feng bingung.
"Ada apa, apa kau bukan anggota Organisasi Assassin?, atau jangan-jangan kau adalah anggota Asosiasi pembunuh bayaran?" tanya pria tersebut.
"Tidak, aku bukan anggota dari keduanya" jawab Lin Feng.
"Itu tidak mungkin, kalau kau bukan anggota dari keduanya, kenapa kau sangat ahli dalam membunuh?" tanya pria tersebut.
"Terserah jika kau tidak percaya" jawab Lin Feng.
"Ternyata kau tidak berbohong ya, baiklah perkenalkan aku adalah anggota Organisasi Assassin, maaf karena aku tidak menyebutkan nama, karena Organisasi melarang kami untuk menyebutkan nama kami, tapi orang-orang Organisasi biasa memanggilku dengan sebutan Bayangan Malam" ucap pria tersebut memperkenalkan dirinya.
"Feng, namaku Lin Feng, aku tidak memiliki gelar apapun, tapi seingatku orang-orang pernah memanggilku dengan sebutan Raja Malam" ujar Lin Feng.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka berdua kemudian lanjut mengobrol sambil menikmati makanan masing-masing, sebenarnya Lin Feng sangat enggan untuk mengobrol karena dia lebih suka menyendiri, terlebih lagi dengan pria misterius di hadapannya saat ini.
Akan tetapi, Lin Feng tidak punya pilihan lain lagi dan harus meladeni pria yang mengaku sebagai Assassin tersebut, selain itu, Lin Feng juga berencana untuk menggali informasi menganai Organisasi Assassin dari pria tersebut, lagipula, Lin Feng juga sudah mengetahui bahwa pria di hadapannya saat ini, bukanlah pria yang bisa mengancam keselamatannya.
Setelah bercerita panjang lebar, Assassin tersebut kemudian berpamitan kepada Lin Feng, sebelum pergi meninggalkan penginapan, Assassin tersebut sempat menawarkan kepada Lin Feng untuk masuk kedalam Organisasi, namun sayangnya, Lin Feng tidak mau menerima tawaran tersebut, dengan alasan tidak ingin terikat oleh apapun.
Pria tersebut tentunya dapat memaklumi keinginan Lin Fen yang masib ingin bebas berkelana, namun pria tersebut juga tidak putus asa, karena dia benar-benar berharap agar Lin Feng mau bergabung dengan Organisasi Assassin, tidak hanya itu saja, pria tersebut juga mengakatan kepada Lin Feng, bahwa dia adalah mata-mata dan pengawal pribadi Li Haochun.