Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-314. Peringatan kelahiran Lin Feng


Setelah mengobrol cukup lama dengan mereka semua, Lin Feng kemudian memutuskan untuk kembali ke kediamannya, karena Lin Feng benar-benar merasa lelah, baik hati, pikiran bahkan tubuhnya, jadi untuk saat ini, Lin Feng memang sangat membutuhkan istirahat.


Di dalam kamarnya, Lin Feng merebahkan tubuhnya di tempat tidur, kemudian memejamkan matanya, dengan harapan bisa tertidur untuk sejenak. Tapi sayangnya, seberapa keras pun Lin Feng mencoba untuk tertidur, tetap saja tidak bisa.


"Tuan, apa yang tuan pikirkan sekarang?" Huise mencoba memulai obrolan bersama Lin Feng, agar Lin Feng tidak merasa bosan.


"Entahlah Huise, pikiranku benar-benar kacau sekarang. Anehnya lagi, aku tiba-tiba saja memikirkan sosok ayahku, karena sejak lahir aku tidak pernah mengenal ayahku" jawab Lin Feng.


Sosok ayah yang dimaksud Lin Feng adalah ayah dari pemilik tubuh yang sekarang ditempati oleh jiwa Zhao Feng dari bumi, karena sejak mengetahui besok adalah hari kelahirannya, Lin Feng tiba-tiba saja terpikirkan dengan sosok ayahnya, yang tidak pernah dia ketahui.


Ada tanda tanya besar dalam pikiran Lin Feng mengenai sosok ayahnya, apakah ayahnya benar-benar pria yang tidak berguna? Atau, apakah ayahnya benar-benar seorang sampah miskin yang tidak punya apa-apa?


Pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar membuat Lin Feng pusing, karena dia sama sekali tidak mengetahui seperti apa sosok ayahnya tersebut, bahkan ibunya tidak pernah menceritakan mengenai ayahnya, yang membuat Lin Feng sempat berpikir bahwa Zhao Chun adalah benar-benar ayahnya.


"Kalau begitu, kenapa tuan tidak menanyakannya secara langsung kepada ibu tuan? Karena hanya ibu tuan yang mengetahui semuanya" Huise memberikan saran.


"Aku tahu itu Huise! Masalahnya, aku takut akan menyakiti perasaan ibu" ucap Lin Feng.


Lin Feng kemudian bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya, kemudian mulai berkultivasi untuk menenangkan dirinya, karena satu-satunya hal yang bisa membuat Lin Feng agak tenang adalah melakukan meditasi atau berkultivasi untuk meningkatkan kekuatannya.


Selang beberapa menit kemudian, Lin Feng mendengarkan pintu kediamannya dibuka oleh seseorang, namun Lin Feng tidak terlalu menghiraukannya. Setelahnya, Lin Feng kembali mendengarkan suara pintu kamarnya dibuka, lalu ada seseorang yang masuk dan langsung duduk di sebelahnya.


"Ibu..." Ucap Lin Feng ketika mengetahui bahwa yang masuk ke kamarnya adalah ibunya sendiri.


"Feng'er, bagaimana kabarmu?" Lin Hua bertanya dengan penuh perhatian.


"Aku baik-baik saja ibu" jawab Lin Feng, kemudian memeluk ibunya.


"Ada apa?" tanya Lin Hua, sembari membalas pelukan anaknya.


Kehangatan dari kasih sayang seorang ibu langsung menyelimuti tubuh Lin Feng, hati dan pikirannya yang semula kacau, langsung tenang saat itu juga, bahkan Lin Feng benar-benar bisa merasakan kenyamanan yang tidak bisa dia rasakan dimana pun.


"Ibu, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Lin Feng.


"Tentu saja putraku" jawab Lin Hua.


"A-apa aku boleh mengetahui tentang ayahku?" Lin Feng bertanya dengan hati-hati, agar tidak menyinggung perasaan ibunya.


Lin Hua tersentak kaget mendengar pertanyaan anaknya, sebenarnya selama ini Lin Hua sangat menghindari dan tidak berharap bawah anaknya akan mengajukan pertanyaan seperti itu, tapi tanpa di duga, tepat sehari sebelum umurnya mencapai 20 tahun, anaknya malah menanyakan pertanyaan itu padanya.


"Ibu akan menceritakan semuanya, tapi tidak sekarang, ibu akan berjanji kalau ibu akan menceritakannya besok" ucap Lin Hua, sambil membelai rambut Lin Feng.


"Baik ibu, aku akan menunggu sampai besok" ujar Lin Feng.


Setelah itu, Lin Hua menceritakan berbagai macam hal yang pernah mereka alami selama ini, Lin Hua juga menceritakan bagaimana bahagianya dia saat melahirkan Lin Feng, bahkan Lin Hua merasa sangat bersyukur karena bayi kecilnya, sekarang telah tumbuh menjadi pemuda yang sangat luar biasa.


"Ibu benar-benar bangga padamu" ucap Lin Hua, tanpa ia sadari air matanya menetes dan membasahi pipinya.


Lin Feng kemudian berpindah dari tempat duduknya, lalu berlutut di hadapan Lin Hua. Setelah itu, Lin Feng menunjukkan senyuman indah di bibirnya sambil menghapus air mata Lin Hua dengan tangannya sendiri.


"Ibu, jangan pernah lagi meneteskan air matamu di hadapanku, karena hanya dengan setetes air matamu, sudah bisa membuatku melawan seluruh dunia ini dan hanya dengan setetes air matamu, akan aku pastikan dunia ini bersujud di kakimu, ibu" ucap Lin Feng, kemudian bersujud dan mencium kaki ibunya.


Degh... Lin Hua tiba-tiba saja merasakan jantungnya berdetak dengan cepat saat mendengar perkataan Lin Feng, lalu jantungnya seolah-olah akan berhenti saat itu juga, ketika ia melihat apa yang dilakukan oleh putranya tersebut.


Untuk sejenak, kata-kata Lin Feng berhasil membuatnya teringat dengan seseorang, seseorang yang benar-benar sangat ia rindukan, seseorang yang tidak pernah bisa digantikan oleh siapapun dalam hatinya, seseorang yang tidak lain adalah ayah Lin Feng sendiri.


"Putra kita benar-benar mirip denganmu, bahkan kata-katanya sama persis seperti yang kau ucapkan dulu" gumam Lin Hua dalam hatinya.


"Tidak nak, ibu menangis bukan karena sedih, tapi ibu menangis karena bahagia telah memiliki putra yang luar biasa" ucap Lin Hua.


"Tentu saja ibu, karena aku sangat yakin, ayahku pasti adalah orang yang luar biasa juga" ujar Lin Feng.


"Kau benar, ayahmu memang luar biasa" ucap Lin Hua, kemudian tersenyum dan beranjak pergi meninggalkan kamar Lin Feng.


Lin Feng terdiam mendengarkan perkataan ibunya, pertanyaan demi pertanyaan kembali memenuhi pikirannya, yang membuat Lin Feng semakin merasa penasaran dengan sosok ayahnya.


***


Keesokan harinya. Semua anggota keluarga Lin, serta semua tamu undangan nampak sedang berkumpul di sebuah aula yang berukuran sangat besar, mereka semua seperti sedang menunggu kedatangan beberapa orang penting, yang diantaranya ada Lin Feng sendiri.


Beberapa saat kemudian, pintu aula tiba-tiba saja terbuka, lalu dari arah luar nampak beberapa orang yang sedang berjalan masuk kedalam aula tersebut, mereka adalah, Lin Feng, kaisar Luo dan kaisar Feng. Lalu di belakangnya ada Lin Jianheeng bersama ketiga anaknya, kemudian putra dan putri kaisar, serta beberapa tamu lainnya.


Mereka semua kemudian berjalan menuju ke tempat duduk khusus yang telah di siapkan, sementara Lin Feng sendiri, duduk di bagian tengah, sehingga membuat posisinya sangat mencolok, karena diapit oleh dua orang kaisar sekaligus.


"Selamat datang semuanya! Terimakasih karena kalian semua telah datang memenuhi undangan ku, seperti yang telah aku sampaikan dalam undangan sebelumnya, hari ini adalah hari peringatan cucuku yang bernama Lin Feng!" ucap Lin Jianheeng memulai acara tersebut.