
Melihat Lin Feng yang tidak merespon perkataannya sama sekali, pangeran mahkota menjadi semakin geram dan kesal kepada Lin Feng, dia kemudian melontarkan berbagai macam hinaan dan makian kepada Lin Feng, namun sayangnya Lin Feng masih tetap bungkam dan tidak menunjukkan reaksi apapun.
Tidak hanya pangeran mahkota saja yang menghina Lin Feng, bahkan anggota keluarga Qing yang ada di ruangan tersebut juga mulai membenarkan perkataan pangeran mahkota dan mentertawakan Lin Feng, mereka semua bahkan menganggap Lin Feng hanya melakukan semua itu demi harta.
Padahal sebenarnya, jika dibandingkan dengan harta yang dibawa oleh Lin Feng saat ini, bahkan jika ingin membeli satu kekaisaran bukanlah hal yang mustahil baginya, kenapa tidak?... di dalam cincin penyimpanan Lin Feng terdapat begitu banyak koin yang menumpuk seperti gunung, mulai dari koin perunggu sampai koin platinum.
"Cih, aku akui kau adalah orang yang hebat karena sampai sekarang kau masih tetap diam mendengar kata-kataku, jika itu orang lain, mungkin dia sudah bunuh diri karena malu" ucap pangeran mahkota.
"Atau jangan-jangan kau sudah tidak punya malu lagi? atau mungkin ibumu adalah wanita penghibur? sehingga kau tidak mempunyai rasa malu?" tanya pangeran mahkota.
Lin Feng yang semula diam dan tidak berbuat apa-apa, tiba-tiba saja menjadi sangat geram dan marah mendengar ibunya di hina, Lin Feng tiba-tiba saja menghilang dari tempatnya berdiri dan langsung muncul di hadapan pangeran mahkota.
Tidak hanya itu saja, Lin Feng bahkan tidak segan-segan melepaskan aura membunuhnya yang sangat kuat, sehingga membuat seluruh ruangan terasa sangat sesak dan membuat semua orang menjadi gemetaran karena rasa takut.
Pangeran mahkota yang sebelumnya berdiri dengan bangga sambil menghina Lin Feng, langsung terjatuh karena tidak kuat menahan tekanan intimidasi yang luar biasa, tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semua orang yang awalnya tertawa menghina Lin Feng langsung terdiam saat itu juga, mereka semua tidak ada yang berani bergerak dari tempatnya, karena mereka merasa akan segera kehilangan nyawanya kalau mereka berani bergerak sedikit saja.
"Aku peringatkan kau dan kalian semua untuk yang pertama dan terakhir kalinya, silahkan kalian menghina diriku bahkan sampai kalian mati sekalipun, tapi jangan pernah menghina ibuku, karena konsekuensinya hanyalah kematian, bahkan dewa sekalipun tidak akan bisa menghentikan aku untuk mencabut nyawa kalian" ucap Lin Feng sinis.
"Ka-kau terlalau sombong nak, dia adalah putra mahkota, jika kau berani menyakitinya maka..."
"Maka apa? apa kalian tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan? atau kalian ingin mencobanya?" tanya Lin Feng memotong ucapan Patriark Qing.
"Kak Feng tenangkan amarahmu, tidak ada gunanya menunjukkan kekuatanmu yang luar biasa di hadapan orang bodoh seperti mereka" ucap Lin Tian menenangkan Lin Feng.
"Dan kalian semua, kalau bukan karena kaisar yang memintanya, maka kali tidak akan pernah mau datang ke tempat kalian" lanjutnya.
Setelah merasa tenang, Lin Feng kemudian menarik kembali aura membunuhnya, lalu setelah itu kembali menghilang dan muncul kembali di samping tetua Liu Changhai, bersamaan dengan menghilangnya aura membunuh Lin Feng, tekanan intimidasi yang mengerikan di ruangan tersebut juga langsung menghilang.
Mereka yang sebelumnya tertawa untuk menghina Lin Feng, sekarang hanya tertunduk malu dan tidak bisa berkata apa-apa, jangankan untuk berbicara, bahkan memandang wajah Lin Feng saja mereka tidak berani. Sementara sang pangeran mahkota, tekanan aura membunuh yang baru saja dia rasakan telah membuatnya sadar seperti apa bertemu dengan dewa kematian.
"Tentu saja kami bisa memakluminya yang mulia, tapi saya harap, ini adalah terakhir kalinya pangeran mahkota bertindak bodoh seperti ini" ujar tetua Liu Changhai.
Setelah memperkenalkan diri kepada semua anggota keluarga Qing, tetua Liu Changhai, Lin Feng dan Lin Tian kemudian dipersilahkan untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan sejak awal, sekarang mereka juga sudah mendapatkan perlakuan yang sangat baik dan juga hormat.
Tidak hanya itu saja, bahkan Patriark keluarga Qing menyatakan bahwa tetua Liu Changhai dan kedua muridnya sebagai tamu kehormatan keluarga Qing, meskipun mereka tidak lagi menjalankan misi dari kaisar nantinya, tapi mereka akan tetap dianggap sebagai tamu kehormatan keluarga Qing.
***
Malam harinya, mereka semua berkumpul kembali di aula pertemuan untuk membicarakan tentang keberangkatan Qing Xiu Yin dan anak-anaknya menuju ke ibukota kekaisaran, meskipun mereka sudah di kawal oleh tetua Liu Changhai dan kedua muridnya, namun Patriark keluarga Qing tetap ingin menambah pengawal untuk anak dan cucunya.
Hal ini dia lakukan bukan karena tidak percaya dengan tetua Liu Changhai dan kedua muridnya, namun sebagai seorang ayah dan juga kakek, tentu saja Patriark keluarga Qing ingin melakukan yang terbaik untuk putri semata wayangnya dan juga cucu-cucunya.
"Maaf tetua Liu, apakah anda tidak keberatan jika aku memerintahkan beberapa prajurit untuk ikut bersama kalian?" tanya Patriark keluarga Qing.
"Tentu saja aku tidak keberatan Patriark, kami hanyalah utusan yang mulia kaisar, kalau memang anda ingin menambah penjagaan, maka itu akan menjadi semakin bagus" jawab tetua Liu Changhai.
"Terimakasih tetua Liu, kalau begitu aku akan memerintahkan beberapa prajurit elit untuk pergi bersama kalian. Tapi kapan kalian akan melanjutkan perjalanan?" tanya Patriark keluarga Qing.
"Semua itu tergantung yang mulia permaisuri, kapanpun yang mulia ingin berangkat, kami akan selalu siap" jawab tetua Liu Changhai.
"Kalau begitu kita akan berangkat dua hari lagi" ucap Qing Xiu Yin.
"Baik yang mulia" jawab tetua Liu Changhai.
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga larut malam, meskipun pembahasan mengenai keberangkatan mereka telah selesai dibahas, namun karena Patriark keluarga Qing masih ingin mengenal tetua Liu Changhai lebih jauh, pembicaraan mereka akhirnya terus berlanjut dengan minum arak bersama.
Tapi tentunya hanya Patriark keluarga Qing dan tetua Liu Changhai bersama para tetua keluarga Qing saja yang minum arak, sedangkan permaisuri sudah lama kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Pembicaraan alot mereka akhirnya benar-benar berhenti setelah semuanya merasa lelah dan juga mengantuk, mereka semua kemudian kembali ke tempat masing-masing untuk segera beristirahat.
Sedangkan Lin Feng dan Lin Tian masih setia membaca dan mempelajari kitab jurus mereka masing-masing, karena dalam perjalanan misi mereka kali ini tentu jurus itu nanti akan sangat dibutuhkan saat dalam pertarungan, meskipun belum menguasai sampai tahap sempurna, tapi setidaknya mereka sudah bisa menggunakan jurus tersebut.