Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-335. Aku tahu!


Setelah memusnahkan seluruh anggota klan darah iblis, Lin Feng dan Huise kemudian keluar dari dunia aneh tersebut, lalu mereka berdua menghancurkan gerbang teleportasi untuk masuk ke dunia aneh itu, agar tidak ada seorangpun yang bisa menemukan tempat itu lagi.


Meski tujuannya telah tercapai dan sekarang Lin Feng sudah mengetahui cara untuk datang ke alam kegelapan, tapi Lin Feng tidak terlihat senang sedikitpun, karena semua usaha yang ia lakukan sama saja dengan sia-sia, sebab tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan dan dimana gerbang hitam akan terbuka.


Lalu Lin Feng juga merasa sedikit bingung dengan kekuatan klan darah iblis, padahal mereka adalah manusia yang telah mendapatkan kekuatan iblis dan tentunya bisa bertransformasi menjadi iblis, tapi bagi Lin Feng, kekuatan mereka semua benar-benar tidak ada apa-apanya, bahkan mungkin kekuatan mereka sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan musuh yang selama ini telah dihadapi olehnya.


"Ada apa tuan?" Huise bertanya karena melihat raut wajah Lin Feng yang nampak tidak senang sama sekali.


"Bukan apa-apa Huise, aku hanya merasa tidak senang saja, karena aku tidak bisa menikmati pertarungan kali ini. Dan entah kenapa, mereka benar-benar sangat lemah, padahal mereka sudah bisa dibandingkan dengan bangsa iblis" jawab Lin Feng.


"Tuan benar! Mereka memang bisa dibandingkan dengan bangsa iblis, tapi kekuatan mereka masih sangat jauh dari kekuatan bangsa iblis yang sesungguhnya. Sebenarnya mereka memang cukup kuat untuk orang-orang biasa, tapi jika dibandingkan dengan tuan yang telah melepaskan tiga kekuatan sekaligus, mereka tidak ada ubahnya seperti sekelompok semut yang sedang berhadapan dengan naga" Huise menjelaskan dengan rinci.


"Tingkat kultivasi tuan yang sekarang memang hanya berada di ranah Nirvana bintang tujuh, tapi saat tuan menggunakan kekuatan petir surga, maka kekuatan tuan akan sama dengan seorang kultivator ranah Matrial Emperor tingkat puncak, lalu jika ditambah dengan aura pedang dan aura dewa kematian, maka kekuatan tuan sama saja dengan kultivator ranah Heavenly Emperor. Dengan kekuatan seperti itu, tentu saja tuan akan merasa mereka semua lemah" lanjutnya.


Lin Feng tersentak mendengar penjelasan Huise, ia bahkan sampai melebarkan pandangannya karena masih tidak percaya dengan kekuatannya sendiri. "Benarkah aku sekuat itu?" Lin Feng bergumam dalam hatinya.


"Hahahaha! Aku tidak percaya kalau aku sekuat itu" Lin Feng tertawa canggung.


"Meski tuan tidak percaya, tapi memang itulah kenyataannya tuan" jawab Huise, yang sepertinya sudah mengerti bahwa Lin Feng ingin menyombongkan dirinya.


"Apakah itu artinya aku adalah orang terkuat di benua biru saat ini?" ada sedikit rasa bangga dalam pertanyaan yang dilontarkan oleh Lin Feng.


"Benar sekali tuan!" jawab Huise.


"Hahahaha! Aku benar-benar..." sebelum Lin Feng sempat menyelesaikan ucapannya, Huise sudah lebih dulu mengatakan sesuatu yang membuat Lin Feng merasa kesal.


"Setelah tuan mencapai ranah Supreme Emperor, tentunya!"


Raut wajah Lin Feng langsung berubah seketika itu juga, rasa percaya dirinya langsung hilang setelah mendengar perkataan Huise, padahal untuk sejenak Lin Feng sudah berpikir bahwa dia sedang berada di atas awan, tapi sedetik berikutnya, Lin Feng langsung merasa seperti dilempar dari ketinggian hingga masuk ke dasar jurang yang sangat dalam.


"Kau benar-benar menyebalkan!" ujar Lin Feng.


Huise hampir tertawa ketika melihat raut wajah Lin Feng. "Maafkan aku tuan" ucap Huise.


"Tidak apa-apa, lagipula aku juga tidak serius, bahkan aku sangat berterimakasih padamu, karena dengan begitu, aku sudah mengetahui bahwa di benua biru ini masih ada yang jauh lebih kuat dariku!" jawab Lin Feng.


Mereka berdua terus mengobrol sepanjang perjalanan, sampai tidak terasa sekarang mereka berdua telah keluar dari hutan tersebut, namun ketika mereka berdua keluar dari hutan, Lin Feng tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya, kemudian menatap langit biru yang sangat luas. Sorot matanya yang tajam ketika sedang memandang langit, menandakan bahwa Lin Feng sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Kau benar, meski aku mengetahui bahwa dia akan baik-baik saja, tapi entah kenapa aku masih tidak bisa berhenti memikirkannya" jawab Lin Feng.


"Tuan, apakah itu artinya..." Huise tidak melanjutkan ucapannya, karena takut akan menyinggung perasaan tuannya.


Meski Huise tidak melanjutkan perkataannya, tapi Lin Feng sudah bisa menebak apa yang akan dia katakan. "Entahlah Huise, aku juga tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini" jawab Lin Feng.


"Tuan, jika tuan memang ingin segera menyusul nona Luo Ning, maka aku bisa membantu tuan mencapai ranah Supreme Emperor dengan mudah" ucap Huise.


"Aku tidak bodoh Huise, aku tahu pada akhirnya kau akan melakukan apa. Lagipula, aku tidak mungkin mengorbankan saudaraku sendiri hanya demi kekuatan dan tujuan yang masih belum pasti!" meski tidak memandang Huise saat sedang berbicara seperti itu, tapi dalam ucapannya tidak ada kebohongan sama sekali, bahkan Huise bisa merasakan ketulusan dalam setiap kata yang diucapkan oleh Lin Feng.


"Tuan, aku benar-benar merasa terhormat karena telah dianggap sebagai saudara oleh tuan!" ujar Huise sambil berlutut di hadapan Lin Feng.


"Sudahlah, jiwa kita sudah bersatu cukup lama, kenapa kau selalu saja bersikap seperti ini padaku" ucap Lin Feng, lalu memandang Huise yang sedang berlutut dihadapannya.


"Karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk tuan" jawab Huise.


Setelah berhenti dan mengobrol cukup lama di tempat itu, Lin Feng dan Huise kemudian melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke ibukota kekaisaran Yuan, karena masih ada satu hal yang harus mereka lakukan sebelum benar-benar meninggalkan benua Utara, yaitu meruntuhkan kekuasaan Yuan Haochun!


Dikarenakan suasana ibukota yang sedang kacau akibat beredarnya kabar tentang kembalinya sang jendral naga, Lin Feng dan Huise akhirnya memutuskan untuk beristirahat di tempat yang tidak terlalu jauh dari ibukota kekaisaran, agar mereka berdua bisa menyusun rencana untuk menyerang ibukota kekaisaran Yuan.


Saat ini, Lin Feng terlihat sedang mondar-mandir sambil memikirkan sesuatu dengan sangat serius, bahkan Huise benar-benar bingung melihat tingkah Lin Feng yang seperti itu. Bukankah hanya ingin menyerang ibukota kekaisaran? Lalu kenapa harus berpikir sampai sedemikian rupa? Begitulah yang dipikirkan oleh Huise, ketika melihat tuannya mondar-mandir.


"Tuan, bisakah tuan sedikit lebih tenang?" tanya Huise.


"Apa yang kau katakan, Huise! Aku tidak bisa tenang sebelum mendapatkan cara yang tepat untuk menjalankan rencana ini" jawab Lin Feng, yang masih mondar-mandir.


"Bukankah tuan ingin semua orang berpikir bahwa yang melakukan serangan adalah ayah tuan? Lalu kenapa tuan tidak mencoba mengubah penampilan tuan saja, agar lebih meyakinkan mereka semua, misalnya seperti menggunakan armor layaknya seorang jendral perang" Huise mencoba memberikan solusi untuk tuannya.


"Aku tahu!... Bagaimana kalau aku menggunakan armor saja? Agar terlihat lebih meyakinkan! Apa kau setuju dengan ide itu?" tanya Lin Feng.


"Hahahaha! Aku memang luar biasa!" lanjutnya.


"A-aku setuju tuan, itu adalah ide yang sangat luar biasa" jawab Huise, lalu tersenyum tipis.