
Meski sangat penasaran dengan sesuatu yang bernama 'Kopi' tersebut, tapi Huise lebih memilih untuk tidak menanyakannya lebih jauh lagi, karena menurutnya hal itu tidak perlu diketahui olehnya, terlebih jika tidak berhubungan dengan sesuatu yang telah mereka rencanakan, ataupun sesuatu yang bisa mengancam dan membahayakan Lin Feng.
Setelah merasa cukup menikmati waktu santai paginya, Lin Feng kemudian mengeluarkan armor dan pedang dewa naga dari cincin penyimpanannya. Setelah memakai armor tersebut, Lin Feng langsung meminta Huise untuk berubah menjadi serigala, agar mereka bisa melaksanakan rencana yang telah mereka susun dengan rapi sebelumnya.
Huise berubah menjadi serigala yang tidak terlalu besar, mungkin ukurannya hanya sebesar seekor kuda. Lin Feng sengaja memerintahkan Huise untuk memperkecil ukuran tubuhnya, agar tidak terlalu mencolok, karena ukuran Huise yang sesungguhnya benar-benar sangat besar. Dan pastinya akan membuat seluruh warga ibukota kekaisaran ketakutan.
Lin Feng memang berencana untuk menakuti orang-orang dan menyerang ibukota kekaisaran, namun bukan dengan sosok Huise yang memiliki ukuran yang sangat besar, melainkan dengan cara melakukan penyerangan secara langsung, agar orang-orang berpikir bahwa sang jendral naga benar-benar telah kembali untuk membalaskan dendamnya.
"Baiklah, sekarang mari kita mulai kekacauan yang sesungguhnya!" ujar Lin Feng, kemudian naik ke punggung Huise.
Setelah Lin Feng naik ke punggungnya, Huise langsung bergerak layaknya seekor kuda menuju ke ibukota kekaisaran. Karena jarak mereka beristirahat dan ibukota kekaisaran yang tidak terlalu jauh, lalu ditambah dengan kecepatan Huise yang bahkan berkali-kali lipat lebih cepat dari seekor kuda, sehingga hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk mereka berdua sampai di gerbang ibukota.
Ketika jarak mereka dengan gerbang ibukota sudah cukup dekat, Lin Feng kemudian meminta Huise untuk memperlambat kecepatannya. Setelah itu, Lin Feng langsung mengangkat tangan kirinya ke udara dan seketika itu juga, ratusan pedang berwarna hitam bermunculan di atas mereka berdua. Sesaat kemudian, Lin Feng menurunkan tangannya dengan cepat, yang membuat ratusan pedang tersebut langsung melesat terbang ke arah gerbang ibukota dengan kecepatan tinggi.
Para prajurit penjaga gerbang benar-benar sangat kaget ketika melihat ada ratusan pedang berwarna hitam yang sedang melesat terbang ke arah mereka, salah seorang prajurit kemudian memberikan aba-aba agar para prajurit lainnya bersiap untuk menciptakan perisai. Namun sayangnya, gerakan mereka terlalu lambat, karena ratusan pedang tersebut telah menghantam mereka lebih dulu, bahkan sebelum mereka sempat menciptakan perisai pelindung.
DHUUAAARRRR!!
Ledakan yang sangat besar terjadi di gerbang ibukota, ketika ratusan pedang yang tercipta dari energi spiritual tersebut menghantam tubuh para prajurit dan gerbang ibukota, ledakan yang sangat besar itu juga berhasil menghancurkan gerbang dan membunuh para prajurit yang ada di sana. Tidak hanya itu saja, ledakan yang sangat besar itu juga terdengar di seluruh ibukota dan berhasil mengagetkan semua orang yang tinggal di dalamnya.
Di istana kekaisaran.
Yuan Haochun yang sedang menikmati suasana tenang pagi hari di dalam kamarnya, juga dikagetkan dengan suara ledakan yang sangat besar, raut wajahnya seketika berubah kesal dan sangat marah, karena suara ledakan tersebut benar-benar telah mengusik ketenangannya, ia kemudian bergegas meninggalkan kamarnya untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
"Apa yang terjadi? Siapa yang menyebabkan ledakan besar itu?!" Yuan Haochun benar-benar sangat marah karena suara ledakan tersebut telah merusak ketenangannya.
Salah seorang prajurit kemudian menghampirinya dengan tergesa-gesa, raut wajahnya sangat jelas menggambarkan bahwa prajurit tersebut sedang merasa cemas. "Yang mulia, ibukota kekaisaran telah diserang!" ucap prajurit tersebut, sambil berlutut dihadapan Yuan Haochun.
"Apa?! Kekaisaran mana yang berani menyerang ibukota secara langsung?" tanya Yuan Haochun, amarahnya seketika langsung memuncak ketika mendengar laporan tersebut.
Yuan Haochun sedikit tersentak mendengar jawaban prajurit tersebut, karena tidak pernah menyangka bahwa yang melakukan penyerangan bukan dari kekaisaran manapun, melainkan hanya satu orang yang menunggangi serigala. "Cihh! Dia benar-benar meremehkan kekaisaran Yuan! Katakan pada jendral untuk segera mempersiapkan pasukan, habisi orang bodoh yang telah berani mengusik ketenangan ku itu!" perintah Yuan Haochun.
"Baik yang mulia!" jawab prajurit tersebut, kemudian bergegas meninggalkan tempat tersebut.
"Sepertinya masih ada orang bodoh yang berpikir bahwa kekaisaran Yuan adalah kekaisaran yang lemah!" Yuan Haochun bergumam kesal dalam hatinya.
Karena penasaran dengan sosok orang yang telah berani menyerang ibukota kekaisaran Yuan seorang diri, Yuan Haochun kemudian pergi menuju ke gerbang kota, namun langkah kakinya dihentikan oleh suara jendral kekaisaran yang memanggilnya.
"Yang mulia, tunggu!" jendral tersebut sedikit berteriak, karena jaraknya cukup jauh dengan Yuan Haochun.
"Yang mulia, jika yang mulia ingin pergi ke gerbang kota, izinkan hamba menemani yang mulia" pinta jendral kekaisaran, setelah ia berada di hadapan Yuan Haochun.
"Baiklah!" jawab Yuan Haochun, kemudian melanjutkan langkah kakinya.
Di gerbang ibukota kekaisaran.
Setelah berhasil menghancurkan gerbang ibukota, Lin Feng langsung memerintahkan Huise untuk mempercepat larinya, karena dari dalam gerbang ibukota yang telah hancur, para prajurit kekaisaran nampak sudah mulai berdatangan untuk menyambut kedatangan mereka berdua.
"Sambutlah kedatangan sang jendral naga!" ujar Lin Feng, kemudian bersiap melakukan serangan berikutnya dengan pedang dewa naga yang sudah ada di genggaman tangan kanannya.
Setelah melewati gerbang yang telah hancur, Lin Feng langsung mengaktifkan kekuatan darah naga dalam tubuhnya, lalu mengalirkan energi spiritualnya kedalam pedang dewa naga dan kemudian menebaskan pedang tersebut di udara, dari tebasan tersebut tercipta sebuah energi pedang yang berbentuk seekor naga, yang kemudian melesat dengan kecepatan tinggi ke arah para prajurit kekaisaran di hadapan Lin Feng.
"Cepat menghindar!" ujar salah seorang komandan pasukan.
Dhuar!!
Meski sang komandan pasukan berhasil memberikan peringatan untuk segera menghindar, tapi mereka tidak punya cukup waktu untuk benar-benar menghindari serangan berbentuk naga tersebut, yang menyebabkan cukup banyak prajurit terkena serangan secara langsung dan meninggal saat itu juga, sedangkan yang lainnya hanya terluka karena ledakan yang disebabkan oleh serangan tersebut.