
Jurus tujuh tebasan kematian yang sebelumnya digunakan oleh Lin Feng, menjelma menjadi empat belas aura pedang, karena pada saat menggunakan jurus tersebut, Lin Feng menebaskan kedua pedangnya ke udara sebanyak tujuh kali.
Dari setiap tebasan pedang Lin Feng, tercipta satu aura pedang yang pada akhirnya menjadi empat belas aura pedang, yang melesat dengan kecepatan tinggi ke arah monster raksasa di hadapannya. Tapi empat belas aura tersebut langsung musnah saat berhadapan dengan capit besar monster tersebut.
Lin Feng tercengang karena kaget, bahkan merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan dengan kedua matanya, tujuh aura pedang yang selama ini mampu memotong dan menebas apapun dengan mudah, sekarang malah tidak ada apa-apanya saat berhadapan dengan capit besar tersebut.
Monster raksasa di hadapan Lin Feng bukanlah monster biasa seperti kebanyakan monster yang ia temui selama ini, monster di hadapannya tersebut seperti memiliki kekuatan yang benar-benar luar biasa, bahkan Lin Feng sendiri tidak bisa menebak seberapa kuat monster tersebut.
Meskipun begitu, Lin Feng tetap mengepakkan kedua sayapnya dan melesat terbang mendekati monster tersebut, walaupun tidak mengetahui sekuat apa monster di hadapannya itu, tapi ada satu hal yang Lin Feng yakini. Yaitu, sekuat apapun seseorang, baik itu dewa, manusia atau monster sekalipun, sangat mustahil baginya untuk tidak memiliki titik lemah.
Hal itulah yang membuat Lin Feng memiliki keberanian untuk berhadapan dengan siapapun, tidak peduli seberapa kuat lawan yang akan ia hadapi. Bahkan selama ini, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak musuh kuat yang Lin Feng hadapi dan ia berhasil menang, tentunya dengan memanfaatkan kelemahan dari setiap musuhnya tersebut.
Selain memanfaatkan kelemahan mereka, Lin Feng juga berhasil mengalahkan mereka dengan kecerdikannya, yang mampu mengenali situasi dan memanfaatkanya dengan mudah, oleh karena itu juga, selama menjadi pembunuh bayaran sewaktu di bumi, Lin Feng terkenal licin dan sulit untuk ditangkap dan dihadapi.
Dengan dua bilah pedang yang ada ditangan kanan dan tangan kirinya, Lin Feng berhadapan secara langsung dengan monster raksasa tersebut, suara dentingan besi yang beradu, terdengar sangat jelas ketika dua pedang Lin Feng mengenai capit raksasa monster tersebut.
Lin Feng menebaskan pedangnya berkali-kali dengan sangat cepat, bahkan kecepatannya semakin bertambah seiring berjalannya waktu, tapi sayangnya, tidak satupun dari tebasan pedang Lin Feng yang berhasil menggores capit besar monster raksasa tersebut. Padahal, Lin Feng telah menggunakan jurus pedang satu tebasan, yang merupakan jurus andalannya.
"GROOAARR!!!"
Monster raksasa tersebut meraung dengan sangat keras, bahkan suara raungannya terdengar dengan sangat jelas sampai ke dermaga, sehingga menimbulkan kepanikan dan ketakutan yang sangat luar biasa pada orang-orang yang mendengarnya.
Monster raksasa tersebut terus menggerakkan kedua capit besar dan beberapa lengan panjangnya yang menyerupai tentakel gurita untuk menyerang Lin Feng, tapi tidak ada satupun dari serangannya yang bisa mengenai Lin Feng, karena gerakan Lin Feng yang terlalu cepat, yang membuatnya bisa menghindar dengan mudah.
Sambil terus menghindari serangan dari monster raksasa tersebut, Lin Feng juga terus berusaha untuk menemukan letak kelemahan monster tersebut, tapi selain dari tentakelnya yang panjang, Lin Feng tidak menemukan bagian tubuh lain dari monster tersebut yang bisa ditebas dengan kedua pedangnya.
Setelah mengamati cukup lama, Lin Feng kemudian terbang ke atas punggung monster tersebut yang sangat lebar, kemudian Lin Feng mengangkat pedang emas hitam ke langit. Seketika itu juga, langit tiba-tiba saja bergemuruh kencang dan kemudian muncul petir merah yang langsung menghantam punggung monster raksasa tersebut.
DHUUAAARRRR!!
"GROOAARR!"
Terjadi ledakan yang sangat dahsyat ketika petir merah menghantam punggung monster raksasa tersebut, yang membuat monster tersebut meraung dengan sangat keras, entah karena rasa sakit di punggungnya atau karena marah kepada Lin Feng, tidak ada yang mengetahuinya!
Sementara itu, setelah menyerang monster raksasa tersebut dengan kekuatan petir merah, Lin Feng tiba-tiba saja menunjukkan senyuman sinis ketika melihat sebuah lubang yang cukup besar di punggung monster di bawahnya itu, sangat jelas terlihat bahwa lubang yang ada dipunggung monster itu tercipta karena sambaran dari petir merah.
Berkat adanya lubang itu, Lin Feng akhirnya bisa mengetahui bahwa monster raksasa tersebut bisa diserang dengan menggunakan kekuatan petir merah, meskipun luka yang didapatnya tidak terlalu besar. Tapi setidaknya, Lin Feng sudah mengetahui cara untuk menghadapi monster itu.
"Kalau begitu aku akan menggunakan kekuatan petir merah sampai tahap maksimal!" gumam Lin Feng dalam hatinya.
"Tidak tuan, jangan lakukan itu! Meskipun tuan telah menguasai kekuatan petir merah, tapi tuan masih belum terbiasa menggunakannya, jadi aku sarankan untuk tidak menggunakan kekuatannya sampai tahap maksimal" ujar Huise melalui telepati.
Huise yang sejak tadi hanya diam dan menyaksikan pertarungan Lin Feng dari atas kapal, tiba-tiba saja menghentikan Lin Feng ketika mengetahui apa yang akan direncanakan oleh tuannya tersebut, karena Huise merasa khawatir dan takut Lin Feng akan terluka, jika menggunakan kekuatan petir merah sampai tahap maksimal.
"Lalu apa kau memiliki saran yang lebih baik?" tanya Lin Feng, sambil terus berusaha menghindari serangan monster tersebut.
"Serang monster sialan itu dari segala arah, dengan begitu tuan pasti akan menemukan kelemahannya! Aku juga akan membantu tuan dari sini" jawab Huise.
"Baiklah, kalau begitu mari kita lakukan bersama-sama!" ujar Lin Feng.
Lin Feng kemudian mengangkat lengan kirinya ke atas, lalu muncul sebuah lingkaran sihir yang mengeluarkan ratusan pedang hitam yang tercipta dari energi spiritual. Sementara itu, Huise juga melakukan hal yang sama, namun saat Huise mengangkat lengannya ke atas, awan hitam seketika muncul dan menutupi langit di atas monster tersebut.
"Sekarang!" ujar Lin Feng.
Dengan aba-aba dari Lin Feng, mereka berdua kemudian menurunkan tangannya secara serempak, lalu ratusan pedang yang melayang di atas Lin Feng, langsung melesat terbang ke arah monster raksasa tersebut, bersamaan dengan ratusan petir hitam yang menyambar dari awan hitam di atas monster tersebut.
BBOOOMMMMM!!
BBOOOMMMMM!!
DHUUAAARRRR!!
Ledakan demi ledakan terus terdengar bersahut-sahutan saat serangan Lin Feng dan Huise mengenai tubuh monster raksasa tersebut, ketika serangan itu terjadi, Lin Feng memfokuskan pandangannya pada monster raksasa itu, untuk menemukan titik lemahnya, tapi justru yang terjadi berikutnya benar-benar membuat Lin Feng sangat kesal.
Jangankan untuk menemukan kelemahan dari monster raksasa tersebut, bahkan ketika ratusan petir hitam milik Huise masih menyerangnya, monster tersebut justru menghindar dengan cara menyelam ke dasar laut, yang membuat serangan petir Huise tidak bisa mencapainya.