
Setelah menempuh perjalanan jauh, Lin Feng akhirnya sampai ke benua Timur. Dan saat ini, Lin Feng sudah berada di gerbang kota Zuanshi, namun Lin Feng tidak langsung masuk ke kota, melainkan malah mondar-mandir di depan gerbang kota, dengan wajah yang terlihat gugup. Para penjaga gerbang nampak kebingungan melihat tingkah Lin Feng yang terlihat aneh, lalu salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk mendekatinya.
"Tu-tuan muda, apakah telah terjadi sesuatu pada anda?" prajurit tersebut bertanya dengan sangat hati-hati, agar tidak menyinggung perasaan Lin Feng.
"Bukan apa-apa, aku hanya sedang memikirkan cara untuk menghadapi kemarahan ibuku" jawab Lin Feng, tanpa mengalihkan pandangannya pada prajurit tersebut.
Prajurit penjaga gerbang yang menghampiri Lin Feng nampak sangat kaget dan juga bingung, ia bahkan tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dikatakan oleh Lin Feng. Selama ini, orang-orang di benua Timur sudah mengetahui seperti apa kekejaman Lin Feng, khususnya kota Zuanshi, bahkan seorang penjahat akan langsung bergidik ketika mendengar namanya disebutkan, tapi siapa sangka, orang yang sangat kejam dan ditakuti ini justru sangat takut dengan kemarahan ibunya.
"Aku baru tahu kalau dewa kematian takut menghadapi kemarahan ibunya" ucap prajurit tersebut dalam hatinya, kemudian kembali ke posisinya semula.
Setelah berpikir selama hampir setengah jam, Lin Feng akhirnya menyerah dan lebih memilih untuk pasrah menerima kemarahan ibunya, lagipula ia memiliki alasan khusus untuk menyerang ibukota kekaisaran Tang. Jika bukan karena kaisar Tang menghina keluarganya, mungkin Lin Feng tidak akan pernah mau datang ke ibukota kekaisaran Tang, karena ia tidak memiliki alasan untuk datang ke sana, kecuali jika memang ada sesuatu yang harus dia kerjakan di sana.
Di kediaman keluarga Lin.
Lin Feng terlihat sedang berdiri di depan pintu kediaman utama keluarga Lin, ia benar-benar sangat gugup saat memikirkan akan seperti apa kemarahan ibunya nanti. Setelah cukup lama berdiri di depan pintu, Lin Feng kemudian menghela nafas panjang, kemudian membuka pintu di depannya dan langsung melangkah masuk setelah pintu terbuka, namun baru saja beberapa langkah memasuki kediaman utama, ia langsung terhenti karena ibunya telah berdiri tepat di hadapannya.
"I-ibu, aku pulang" ucap Lin Feng.
"Apa yang pernah ibu katakan padamu sebelumnya? Apa kau sudah tidak mau menuruti perkataan ibu lagi?" tanya Lin Hua.
"Bu-bukan seperti itu, Bu. Aku hanya tidak bisa terima saat keluarga kita dihina, apalagi kaisar Tang sempat ingin membunuh ibu, jadi aku berpikir untuk membalasnya, tapi..."
"Tapi kau terbawa suasana dan malah menghancurkan satu ibukota kekaisaran, bukankah itu yang ingin kau katakan?" ujar Lin Hua.
"..." Lin Feng tidak menjawab perkataan Lin Hua, ia justru langsung berlutut di hadapan ibunya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin meminta maaf dengan cara seperti ini agar ibu tidak jadi menghukum mu?" tanya Lin Hua.
"Tidak Bu, aku tidak akan minta maaf. Aku berlutut karena sudah siap menerima hukuman dari ibu" jawab Lin Feng.
Bukannya langsung menghukum Lin Feng karena perbuatannya, Lin Hua justru malah sangat terkesan dengan perbuatan putranya, karena tidak sedikitpun Lin Feng menunjukkan sikap pembelaan terhadap dirinya sendiri, melainkan hanya pasrah karena menyadari jika dirinya salah. Tapi yang pastinya, hal itu hanya ia lakukan kepada ibunya saja, jika bukan ibunya, sudah tentu akan berakhir dengan pertumpahan darah.
Melihat sikap putranya yang seperti itu, Lin Hua yang awalnya ingin menghukum Lin Feng, langsung mengurungkan niatnya, ia bahkan mengusap rambut Lin Feng dengan lembut seraya tersenyum padanya. "Ibu tidak menyalahkan mu karena kau telah menghancurkan ibukota kekaisaran Tang, ibu hanya khawatir akan terjadi apa-apa padamu, jika kau tidak ada, maka ibu..."
"Tidak ibu, nyawaku hanya berada di tanganmu, jika ibu ingin aku mati maka aku akan mati dengan cara mengakhiri hidupku sendiri. Dan jika ibu tidak ingin aku mati, maka tidak ada seorangpun yang bisa merenggut nyawa ku" ujar Lin Feng memotong perkataan Lin Hua.
Lin Hua tersenyum, kemudian menarik Lin Feng untuk berdiri, lalu memeluknya dengan sangat erat. "Kalau yang kau katakan itu memang benar, maka ibu tidak ingin kau mati, karena hanya kau yang masih membuat ibu ingin bertahan di dunia yang kejam ini" ucap Lin Hua.
Orang lain mungkin akan berpikir jika kata-kata yang diucapkan oleh Lin Feng hanyalah omong kosong belaka, atau yang dia ucapkan itu hanya sekedar untuk menghibur ibunya saja, tapi tidak bagi Lin Feng, apa yang dia ucapkan pada ibunya, maka itulah yang akan terjadi, seandainya jika Lin Hua menginginkan nyawanya saat itu juga, maka Lin Feng akan langsung mengakhiri hidupnya sendiri.
Lin Hua memang bukan ibu kandungnya, tapi semenjak jiwanya menempati tubuh Lin Feng, iapun akhirnya memutuskan untuk menganggap Lin Hua sebagai ibunya juga, awalnya memang hanya sebagai tanda terimakasih karena ia telah menempati tubuh anak Lin Hua, tapi seiring berjalannya waktu, kasih sayang yang diberikan oleh Lin Hua kepadanya, berhasil membuatnya merasa mempunyai keluarga lagi, bahkan kasih sayang Lin Hua berhasil membuatnya menganggap Lin Hua sebagai ibunya sendiri.
"Meski begitu, ibu akan tetap menghukum mu" ujar Lin Hua, kemudian melepaskan pelukannya.
"Silahkan, Bu. Aku akan menerima hukuman apapun dari ibu" jawab Lin Feng.
"Bagus, kalau begitu kau harus menjemput Luo Ning dan bawa dia kembali, agar kalian bisa menikah secepatnya" ucap Lin Hua.
"Tapi..."
"Tapi apa?" ujar Lin Hua.
Lin Feng menghela nafas panjang. "Baik, Bu. Aku akan menerima hukuman ini" ucapannya, kemudian mereka berdua pergi ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, Lin Jianheeng dan kedua putranya nampak senang ketika melihat Lin Feng telah kembali, namun mereka tidak mengatakan apa-apa, karena mereka tahu jika Lin Hua sedang marah. Meski Lin Jianheeng adalah ayah Lin Hua dan kedua paman Lin Feng adalah kakaknya, namun saat Lin Hua marah, tidak ada satupun dari mereka yang berani membantahnya, kalau tidak, mereka juga akan terkena getahnya.
Pada akhirnya, mereka berlima makan bersama dengan suasana hening, karena tidak seorangpun yang berbicara.
***
Malam harinya, Lin Feng duduk bermeditasi di dalam kamarnya untuk menenangkan pikirannya, karena ia benar-benar tidak bisa tenang setelah Lin Hua memintanya untuk menjemput Luo Ning. Jika Luo Ning berada di suatu tempat di benua biru, maka permintaan Lin Hua bukanlah masalah baginya, bahkan mungkin ia akan langsung menjemputnya saat itu juga, tapi masalahnya adalah, Luo Ning berada di daratan suci dan untuk pergi ke sana, Lin Feng harus mencapai ranah Supreme Emperor terlebih dulu, yang tentunya tidak akan mudah.
Saat sedang bermeditasi, kesadaran Lin Feng masuk ke dalam ruang jiwanya sendiri untuk menemui Huise. "Huise, apa kau tidak punya cara agar aku bisa ke daratan suci sebelum mencapai ranah Supreme Emperor?" tanya Lin Feng.
"Sebenarnya kekuatan tuan yang sekarang sudah cukup untuk pergi ke daratan suci, karena kekuatan tuan memang sudah setara dengan kekuatan Supreme Emperor, tapi masalahnya pondasi kultivasi tuan masih belum mencapai ranah Supreme Emperor. Jika tuan memaksa untuk pergi ke daratan suci, kemungkinan tuan akan kesulitan selama berada di sana, belum lagi masalah Yama yang belum terselesaikan" jawab Huise.
"Kau benar, lagipula aku memang akan pergi ke daratan suci setelah mengalahkan Yama. Tapi aku tidak mengerti dengan kesulitan apa yang kau katakan tadi" ucap Lin Feng.
"Kesulitan yang aku maksudkan adalah, energi alam di daratan suci benar-benar berbeda dengan energi yang ada di seluruh daratan di dunia ini, karena energi di daratan suci jauh lebih padat dan lebih besar dari daratan di dunia ini, jika tuan tidak punya pondasi kultivasi yang kuat, maka tuan bisa terluka selama berada di sana" jawab Huise.
"Ternyata begitu" Lin Feng bergumam pelan, "baiklah, kalau begitu aku akan berusaha untuk mencapai ranah Supreme Emperor secepatnya" ucapnya.