Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-327. Menyapa dengan ramah?


Setelah meninggalkan dermaga, Lin Feng dan Huise terus melesat terbang menuju ke ibukota kekaisaran Yuan, selama perjalanan mereka telah melewati beberapa desa yang lumayan besar, namun mereka berdua tidak singgah dan hanya melewati setiap desa tersebut, karena tujuan utama mereka masih sangat jauh.


Namun setelah terbang cukup lama, mereka berdua akhirnya berhenti di sebuah gunung yang sangat besar, gunung tersebut memang terlihat seperti gunung lainnya, hanya saja dari pertengahan hingga puncak gunung di tutupi oleh benda putih yang menyerupai es dan sangat dingin.


Tidak hanya itu saja, bahkan dipuncak gunung yang tinggi tersebut, Lin Feng dan Huise bisa melihat beberapa bangunan megah yang hampir menyerupai sebuah istana yang cukup besar, saat melihat bangunan tersebut, Lin Feng langsung teringat dengan masalah yang terjadi ketika mereka sampai di pelabuhan.


Lin Feng tersenyum sinis ketika melihat bangunan tersebut, lalu berkata. "Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bermasalah dengan sekte Gunung Es"


"Sepertinya memang begitu tuan" ujar Huise, yang sudah mengetahui apa maksud perkataan Lin Feng.


"Kalau begitu, mari kita menyapa mereka dengan ramah" Lin Feng berkata pelan, kemudian melesat terbang ke puncak gunung tersebut.


Huise tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Menyapa dengan ramah? Itu adalah perkataan paling mengerikan yang pernah aku dengar selama ini" Huise bergumam dalam hatinya, kemudian menyusul Lin Feng yang telah terbang terlebih dahulu.


Lin Feng dan Huise kemudian turun secara perlahan di puncak gunung tersebut, udara di puncak gunung tersebut terasa sangat dingin dan menusuk kulit, benar-benar berbeda dengan udara di kaki gunung yang terasa hangat dan sangat nyaman.


"Berhenti di sana! Ada keperluan apa kalian datang ke sini?" tanya salah seorang penjaga gerbang sekte.


"Maaf tuan, kami tidak sengaja sampai ketempat ini, sebelumnya kami berniat melewati gunung ini untuk pergi ke ibukota kekaisaran, tapi ketika melihat ada bangunan megah dipuncak gunung, kami akhirnya memutuskan untuk singgah" jawab Lin Feng.


"Apa kau bodoh? Ini adalah sekte Gunung Es dan bukan tempat yang bisa kalian singgahi begitu saja!" penjaga gerbang sekte berbicara dengan kasar, karena benar-benar kesal mendengar alasan Lin Feng yang sangat tidak masuk akal.


"Oh, jadi ini sekte Gunung Es? Kalau begitu ini benar-benar sebuah kebetulan, karena aku memiliki beberapa urusan dengan sekte ini" ucap Lin Feng.


"Urusan apa?" penjaga gerbang bertanya dengan penuh selidik.


"Sebenarnya bukan urusan yang terlalu penting, karena aku hanya ingin menghancurkan sekte ini saja" jawab Lin Feng santai.


Para penjaga gerbang benar-benar kaget mendengar perkataan Lin Feng, lalu mereka saling pandang satu sama lain dan kemudian tertawa lantang. "Hahahaha! Kau ini bodoh atau bagaimana? Apa kau tidak tahu kalau sekte Gunung Es adalah sekte aliran hutan terkuat di benua Utara? Bahkan yang mulia kaisar saja sangat menghormati pemimpin sekte kami!" ucap penjaga gerbang lainnya.


"Dan kau! Berani-beraninya kau datang ke sini dengan mengatakan sesuatu yang sangat konyol, jangan-jangan ada yang salah dengan otakmu itu" lanjutnya.


"Sudahlah, jangan mengejeknya seperti itu, apa kau ingat bagaimana dia berkata dengan begitu sopan? Aku rasa kita harus memberikannya hadiah karena kesopanannya itu" ucap penjaga gerbang sebelumnya.


"Dia benar! Seharusnya kalian memberiku hadiah atas kesopanan ku tadi, seperti misalnya dengan memberikan kepala kalian. Tidak, tidak! Mungkin kepala pemimpin sekte adalah hadiah yang terbaik untukku" ujar Lin Feng.


Hanya dalam waktu sekejap, suara tawa dari para penjaga gerbang tersebut langsung menghilang begitu saja, digantikan dengan raut wajah kesal dan tatapan yang tajam kepada Lin Feng, mereka semua benar-benar sangat marah mendengar perkataan Lin Feng yang telah berani menginginkan kepala pemimpin sekte sebagai hadiah.


"Hei sampah! Aku harap kau tidak menyesali perkataanmu tadi!" ucap salah seorang penjaga gerbang.


"Kenapa aku harus menyesal? Lagipula, aku benar-benar menginginkan kepala pemimpin sekte sebagai hadiah" jawab Lin Feng.


"Tidak tahu diri! Habisi dia sekarang!"


Para penjaga gerbang sekte kemudian bergerak dengan cepat ke arah Lin Feng, sambil mengayunkan tinjunya masing-masing. Tapi, saat mereka hampir mencapai Lin Feng, Huise yang semula berdiri di sebelah Lin Feng tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka, lalu menahan semua pukulan mereka dengan perisai energi spiritual yang ia ciptakan.


"Jangan pernah berpikir untuk bisa menyentuh tuanku!" ujar Huise, kemudian menyerang mereka satu-persatu.


Dhuarrr!!


Para penjaga gerbang tersebut langsung terlempar karena pukulan Huise yang sangat keras, tubuh mereka melayang dengan sangat cepat dan menabrak gerbang sekte dengan sangat keras, sehingga menciptakan ledakan yang cukup besar dan membuat gerbang sekte hancur saat itu juga.


***


Di aula utama sekte Gunung Es. Pemimpin sekte yang sedang melakukan pertemuan dengan para tetua sekte, tiba-tiba saja dikagetkan dengan suara ledakan yang cukup keras, salah seorang tetua sekte kemudian mengedarkan auranya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, tetua tersebut benar-benar sangat kaget ketika mengetahui bahwa suara ledakan sebelumnya ternyata berasal dari gerbang sekte yang telah hancur.


"Tetua kedua, apa yang terjadi? Kenapa raut wajahmu sangat tegang?" tanya tetua keempat.


"Pemimpin dan para tetua sekalian, ternyata suara ledakan tadi berasal dari gerbang sekte kita yang telah dihancurkan!" jawab tetua kedua.


"Apa?!" para tetua benar-benar terkejut dan sangat marah mendengar berita tersebut.


"Mari kita ke sana dan menyapa orang yang telah berani mengacau di sekte kita!" ucap pemimpin sekte, kemudian menghilang dari aula, lalu diikuti oleh para tetua.


Tidak lama kemudian, pemimpin serta para tetua sekte muncul di depan gerbang yang telah hancur. Ketika mereka sampai di sana, pandangan mereka semua langsung tertuju pada Lin Feng dan Huise yang masih berdiri dengan santai diluar gerbang.


"Apa kalian berdua yang menghancurkan gerbang sekte?" tanya pemimpin sekte Gunung Es.


"Jangan salah paham pak tuan, kami tidak melakukan apapun, yang menghancurkan gerbang yang sangat indah ini adalah mereka" jawab Lin Feng sambil menunjuk pada para penjaga gerbang yang tergeletak pingsan.


"Apa kau pikir aku bodoh? Bagaimana mungkin mereka berani melakukannya!" ujar pemimpin sekte.


"Aku tidak pernah mengatakan kalau kau itu adalah pak tua yang bodoh, tapi kalau kau tidak percaya, tanyakan saja para mereka!" ucap Lin Feng.


"Cukup! Aku benar-benar muak dengan ucapanmu itu, katakan apa alasanmu datang ke sini? Jawabanmu akan menentukan nasibmu!" pemimpin sekte benar-benar kehilangan kesabarannya mendengar perkataan konyol Lin Feng.


"Hahahaha! Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Tapi baiklah, karena kau yang sudah mengatakannya maka aku akan langsung saja!" ucap Lin Feng santai, kemudian tersenyum sinis.


Woshh!


Dalam sekejap mata, Lin Feng tiba-tiba saja telah berada di hadapan pemimpin sekte sambil mengayunkan tinjunya dengan sangat cepat. Pemimpin sekte cukup terkejut dengan kemunculan Lin Feng yang sangat tiba-tiba, tapi dengan kecepatan yang tinggi, pemimpin sekte langsung mengangkat kedua tangannya, lalu menyilang kan kedua tangannya di depan wajahnya.


Lin Feng tentu saja sudah menebak hal itulah yang akan dilakukan oleh pemimpin sekte, lalu Lin Feng langsung mengubah pola serangannya dengan gerakan yang sangat cepat, bahkan gerakan Lin Feng saat mengubah pola serangannya tidak bisa dilihat dengan mata, karena kecepatannya yang benar-benar sangat luar biasa!


Bukk!


Woshh!


Dhuaarrr!


Pemimpin sekte tiba-tiba saja terlempar dan tubuhnya melayang dengan sangat cepat, lalu menabrak dinding bangunan yang ada di belakangnya dengan sangat keras, bahkan sampai menimbulkan sebuah lubang yang cukup besar di dinding tersebut.


Semua orang benar-benar kaget karena tidak mengetahui apa yang telah terjadi, padahal sebelumnya mereka masih bisa melihat dengan jelas bahwa pemimpin sekte telah mencoba untuk menahan pukulan Lin Feng, tapi kenapa pemimpin sekte masih terlempar sedemikian jauh? Bahkan sampai membuat dinding bangunan berlubang, apakah pukulan Lin Feng benar-benar sangat kuat?


Mereka semua kemudian mengarahkan pandangannya pada Lin Feng, ketika melihat posisi kaki Lin Feng yang terangkat, barulah mereka mengetahui bahwa pemimpin sekte mereka terlempar karena tendangan Lin Feng dan bukan pukulannya.


Tunggu!... Tendangan? Bukankah sebelumnya Lin Feng menyerang dengan tinjunya? Lalu kapan Lin Feng mengubah serangannya menjadi tendangan?


Beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab muncul dalam benak mereka semua, karena tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan Lin Feng mengubah pola serangannya. Sesaat sebelumnya mereka benar-benar meremehkan Lin Feng karena telah berani berurusan dengan mereka, tapi sesaat kemudian, mereka semua langsung waspada.