Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-391. Pertemuan para dewa


Di daratan suci.


Para dewa nampak sedang melakukan pertemuan di sebuah istana yang sangat besar dan sangat megah, tujuan dari pertemuan itu adalah untuk membicarakan beberapa hal yang sangat penting bagi mereka. Yang pertama, mereka harus segera menemukan pemimpin yang baru, karena setelah Dewi Nuwa menghilang, tidak ada lagi yang menduduki tahta pemimpin dan penguasa para dewa.


Lalu masalah yang kedua, para dewa saat ini benar-benar sedang kebingungan menghadapi masalah yang satu ini, karena masalah ini benar-benar berbeda dengan masalah yang selama ini mereka hadapi, masalah tersebut adalah, munculnya calon dewa kematian yang baru. Hal ini memang biasa terjadi, ketika seorang dewa turun dari tahtanya, maka akan ada yang lain yang akan menggantikan posisinya, tapi masalahnya adalah, calon dewa kali ini malah berasal dari dunia manusia.


Jika calon dewa kematian tersebut berasal dari daratan suci, maka para dewa tidak akan memperbesarkan masalah tersebut, karena mereka hanya perlu melatihnya sampai ia benar-benar pantas untuk dikatakan sebagai dewa. Tapi untuk kali ini, mereka semua terpaksa memperbesar masalah tersebut karena sang calon dewa adalah manusia dari alam Fana, mereka bahkan sangat kaget ketika mengetahui bahwa manusia tersebut benar-benar hampir menjadi dewa kematian, yang artinya, sebentar lagi dia pasti akan datang ke alam suci untuk menduduki tahtanya.


"Jadi, apa kalian sudah memikirkan masalah manusia itu?" tanya dewa petir, yang juga berada di sana.


"Kenapa kau malah bertanya? Bukankah seharusnya kau juga ikut memikirkan masalah ini?" ujar dewa Tanah atau dewa Bumi.


"Dewa tanah benar, kau tidak bisa hanya diam dan mengandalkan kami saja, setidaknya bantulah kami memikirkan solusinya!" dewa Awan menambahkan.


"Baiklah, aku akan membantu kalian memikirkan caranya!" ujar dewa Petir.


Dewa petir kemudian diam dan mulai berpikir, beberapa saat kemudian, ia mulai berbicara lagi. "Begini saja, bagaimana kalau kita biarkan saja dia datang ke daratan suci untuk menduduki tahtanya, lalu setelah dia datang ke sini, barulah kita akan menghasutnya, apa kalian setuju?" tanya dewa Petir.


"Saran yang kau berikan memang baik, dewa petir. Tapi kita semua masih belum mengetahui seperti apa sifat manusia tersebut, karena dia bisa saja datang dengan wajah polosnya untuk mengelabui kita semua, lalu setelah kita semua tertipu, dia akan menghabisi kita semua dengan perlahan-lahan" jawab dewa Angin.


"Perkataan dewa Angin sangat masuk akal dan sebaiknya, kita menyelidiki tentang dia terlebih dahulu!" ujar dewa Api.


"Hahahaha! Itu tidak perlu dilakukan, karena aku akan memberitahukan semuanya kepada kalian semua!"


Saat para dewa sedang mengobrol dengan serius, mereka semua tiba-tiba saja dikagetkan oleh suara seseorang yang datang dari arah pintu istana, lalu mereka semua langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu istana yang sangat besar. Ketika mereka mengarahkan pandangan ke pintu istana, raut keterkejutan langsung terukir dengan jelas di wajah mereka semua, karena di pintu istana ada seorang pria yang sedang berdiri dengan santai dan menghadap ke pada mereka semua.


"Kau! Kenapa kau bisa ada di sini?!" tanya dewa petir, yang terlihat sangat geram dengan kemunculan pria tersebut, begitu juga dengan para dewa lainnya.


"Hahahaha! Sepertinya kalian sangat tidak suka dengan kemunculanku, tapi tenang saja, karena aku yakin kalian tidak akan punya pilihan lain selain menerima saran dariku" jawab pria tersebut, kemudian melangkahkan kakinya mendekati para dewa.


Meski sangat tidak senang dengan kemunculannya, namun para dewa juga tidak bisa mengusirnya ataupun menyerangnya begitu saja, selain kekuatannya yang sangat luar biasa dan tidak mudah untuk ditandingi, para dewa juga sangat penasaran dengan saran yang dimaksud olehnya. Dengan masalah yang sedang mereka hadapi saat ini, tentu saja mereka harus mendengarkan pendapat dari pihak lain, meskipun pihak tersebut tidak mereka sukai.


"Jadi saran apa yang ingin kau bicarakan? Jika kau datang hanya untuk berbicara omong kosong sebaiknya kau segera pergi dari sini!" ujar dewa Angin.


"Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya dewa Api.


"Untuk mengalahkannya kita harus bekerjasama!" jawab pria misterius tersebut.


"Cihh! Aku tidak akan pernah mau bekerjasama denganmu!" ujar dewa petir.


"Hahahaha! Terserah kalian saja, yang penting aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan, kalau begitu aku akan pergi sekarang!" ucap pria tersebut, kemudian menghilang dari hadapan mereka semua.


Setelah pria tersebut pergi, para dewa nampak kebingungan dan juga ragu, mereka bingung apakah mereka harus mempercayai perkataan pria tersebut atau tidak, jika mereka percaya, maka sama saja dengan mereka menerima pria itu dengan senang hati, lalu jika mereka menolak, bagaimana jika yang dikatakannya memang benar? Para dewa benar-benar kebingungan.


***


Di kedalaman hutan para monster.


Setelah Lin Feng keluar dari gua, Huise langsung menyambutnya dengan berlutut di hadapannya dan mengucapkan selamat atas pencapaian yang Lin Feng dapatkan, ia juga meminta maaf kepada Lin Feng, karena sebelumnya ia telah pergi meninggalkan gua tanpa meminta izin kepada Lin Feng, namun Huise juga menjelaskan alasan kepergiannya, yaitu untuk meningkatan kekuatannya sendiri.


Lin Feng hanya menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya pelan, karena tidak menyangka jika Huise masih saja bersikap seperti itu padanya. Meski Huise pergi tanpa meminta izin sekalipun, Lin Feng tetap akan mengetahuinya, karena Huise adalah Beast Spiritnya. Dan satu hal yang paling penting adalah, Lin Feng tidak akan mempermasalahkan hal tersebut selagi Huise tidak berkhianat kepadanya.


"Sudahlah Huise, sekarang aku ingin mandi, jadi sebaiknya kita mencari sungai" ucap Lin Feng.


"Baik tuan, kebetulan sekali aku tidak sengaja menemukan sungai saat berburu tadi" jawab Huise.


"Baguslah, kalau begitu bawa aku ke sana!" pinta Lin Feng.


"Baik tuan!" jawab Huise, kemudian membawa Lin Feng menuju sungai yang ia maksudkan.


Sesampainya di sungai tersebut, Lin Feng langsung melepaskan seluruh pakaiannya, kemudian masuk kedalam sungai dan mulai membasah seluruh tubuhnya. Seluruh tubuh Lin Feng terasa segar kembali ketika air sungai yang dingin bersentuhan dengan kulitnya, bahkan rasa lelah ditubuhnya langsung menghilang, seolah-olah telah dinetralkan oleh air yang dingin tersebut.


"Rambutku sangat panjang, sepertinya aku harus memotongnya" Lin Feng bergumam pelan, sambil memegangi rambutnya yang sangat panjang.


"Baiklah, aku memang harus memotongnya!" ucap Lin Feng, kemudian mengeluarkan belati kecil dari cincin penyimpanannya.