
Di sisi lain.
Lin Feng yang sedang terbang menyusuri seluruh wilayah kekaisaran Feng tiba-tiba saja terhenti, ketika ia merasakan adanya kekuatan jiwa yang mencoba terhubung dengannya. Lin Feng kemudian menutup matanya lalu merasakan kekuatan jiwa tersebut, yang tidak lain adalah kekuatan jiwa milik tetua Liu Changhai.
Setelah kekuatan jiwa mereka terhubung, Lin Feng langsung kaget ketika mendengar perkataan tetua Liu Changhai mengenai kondisi ibunya, yang sedang dalam bahaya. Perkataan tetua Liu Changhai berhasil membuat tubuh Lin Feng gemetaran karena marah, ditambah lagi dengan nada suara tetua Liu Changhai yang terdengar sangat panik, tentunya hal itu menambah kemarahan Lin Feng yang memang sudah memuncak.
Tanpa ingin berlama-lama, Lin Feng langsung menghilang dari tempatnya saat ini, berkat kekuatan jiwanya yang terhubung dengan kekuatan jiwa tetua Liu Changhai, Lin Feng akhirnya mengetahui dimana keberadaan mereka sekarang. Jadi, Lin Feng tidak perlu lagi membuang-buang waktu dengan terbang, karena ia bisa langsung berpindah tempat ke sana, dengan menggunakan teknik perpindahan tempat yang telah diberikan oleh Dewi Nuwa sebelumnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Lin Feng untuk sampai di tempat tetua Liu Changhai, karena hanya dalam waktu hitungan detik saja, Lin Feng telah berada dibalik awan yang berada tepat di atas dua pasukan yang sedang berhadap-hadapan, sesampainya di sana, pandangan Lin Feng langsung tertuju pada ibunya yang sedang berlutut di tanah dengan kedua tangannya yang terikat ke belakang.
"Bunuh! Kalian semua akan aku bunuh!" ujar Lin Feng, kemudian melesat turun ke bawah.
Dhuaar!
Ledakan yang cukup besar terjadi ketika Lin Feng mendarat tepat di hadapan kedua pasukan tersebut, namun ledakan tersebut juga menyebabkan debu-debu beterbangan, sehingga mereka tidak mengetahui apa yang baru saja jatuh di hadapan mereka. Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Lin Hua dan tetua Liu Changhai.
Tidak lama kemudian, debu-debu yang menutupi pandangan mereka akhirnya menghilang diterbangkan oleh angin, saat itu juga, mereka semua bisa melihat seorang pemuda yang mengenakan pakaian serba hitam dengan dua bilah pedang dikedua tangannya, kemunculan sosok pemuda tersebut berhasil menimbulkan kengerian pada pasukan kekaisaran, namun menimbulkan kebingungan pada pasukan sekte Harimau Hitam.
"Bocah sialan! Siapa kau? Apa kau tidak mengerti situasi?!" ujar Mo Hu Bai yang sangat kesal dengan kemunculan Lin Feng.
Namun Lin Feng tidak menghiraukan perkataan Mo Hu Bai sama sekali, karena pandangan matanya hanya tertuju pada sang ibu. Tubuh Lin Feng kembali gemetar ketika melihat noda darah yang mengotori tangan ibunya, meski ia tidak bisa melihat luka yang ada di bahu ibunya, tapi Lin Feng sangat yakin jika darah itu bukanlah darah orang lain, melainkan darah ibunya sendiri.
Entah kenapa saat melihat darah yang mengotori pakaian ibunya, dada Lin Feng terasa sangat sakit, ingatan buruk tentang keluarganya yang dibunuh dengan sangat kejam muncul kembali, yang membuat hatinya terasa semakin sakit. Tanpa di sadari, ada sesuatu yang mengalir keluar dari mata Lin Feng, namun yang mengalir dari matanya itu bukanlah air mata, melainkan darah.
"Huise!" ucap Lin Feng, suaranya terdengar sangat mengerikan.
"Hamba tuan!" ujar Huise keluar dari tubuhnya dan langsung berlutut di hadapannya.
"Aku ingin kau membawa ibuku ke tempat yang aman, jaga dia baik-baik dan jangan sampai dia terluka lagi atau kau yang akan aku bunuh!" ucap Lin Feng.
Meski perkataan Lin Feng sangat kasar padanya, namun Huise bisa memaklumi hal tersebut, karena saat ini Lin Feng benar-benar telah dibakar oleh api amarah yang tidak mungkin bisa padam begitu saja. Setelah menghilang dari hadapan Lin Feng, Huise tiba-tiba saja muncul di dekat Lin Hua dan Feng Yue Yin, lalu dalam sekejap mata Huise telah menghilang lagi bersama mereka berdua, kemudian muncul di dekat tetua Liu Changhai.
Mo Hu Bai serta seluruh pasukannya hanya bisa tercengang ketika melihat Feng Yue Yin dan Lin Hua yang telah berpindah tempat, dari sekian banyak mereka yang ada di sana, tidak ada seorangpun yang menyadari kapan Huise membawa kedua perempuan itu, karena semuanya terjadi begitu cepat dan hanya sepersekian detik. Meski begitu, mereka semua tidak terlalu menghiraukan kedua perempuan itu lagi, justru yang mereka waspadai saat ini adalah Lin Feng yang masih berdiri dalam diam.
"Ibu, maafkan aku yang tidak bisa menjaga ibu dengan baik" ucap Lin Feng, suaranya terdengar lirih.
Setelah mengucapkan permintaan maaf kepada ibunya, Lin Feng tiba-tiba saja menghilang dari pandangan mereka semua, sesaat kemudian, Lin Feng telah muncul lagi tepat di hadapan Mo Hu Bai, lalu menebaskan pedangnya dengan kecepatan yang sangat luar biasa, sehingga membuat seluruh tubuh Mo Hu Bai terpotong-potong menjadi bagian-bagian kecil.
Semua orang yang menyaksikan hal itu kembali terkejut, terutama pasukan sekte Harimau Hitam, mereka semua tentunya mengetahui kekuatan pemimpin sekte mereka, bahkan bisa dikatakan jika pemimpin sekte mereka adalah kultivator terkuat di kekaisaran Feng, tapi siapa sangka, pemimpin mereka malah mati dengan sangat mengenaskan dan hanya terjadi dalam sekejap mata.
"Tebasan kematian!" ucap Lin Feng, lalu menghilang lagi dari pandangan.
Sesaat kemudian, para prajurit sekte Harimau Hitam mulai berjatuhan satu-persatu dan mati saat itu juga, mereka semua mati dengan keadaan yang sama seperti pemimpin sekte mereka, yaitu dengan keadaan tubuh yang telah terpotong-potong menjadi bagian-bagian kecil.
"Ilmu pedang hampa, tebasan angin!" ucap Lin Feng, sambil terus menebas seluruh prajurit sekte Harimau Hitam yang ada di sekitarnya.
Tidak lama kemudian, angin tiba-tiba saja bertiup dengan kencang ke arah pasukan sekte Harimau Hitam, lalu saat angin tersebut menerpa mereka semua, tubuh mereka langsung terpotong-potong saat itu juga. Para prajurit yang tersisa nampak kebingungan, karena mereka tidak bisa melihat Lin Feng dan tidak mengetahui darimana dia akan menyerang.
Para prajurit yang masih hidup kemudian berusaha untuk melarikan diri, namun naas tubuh mereka malah terpotong-potong saat angin kencang menerpa mereka. Sementara itu, Feng Jing Quo dan seluruh pasukannya nampak gemetar ketakutan, beberapa dari prajurit bahkan ada yang tidak sanggup menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan tersebut.
Beberapa menit kemudian, Lin Feng telah berhasil meratakan seluruh pasukan sekte Harimau Hitam, tidak ada seorangpun dari mereka yang berhasil lolos dari kematian dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mati dengan tubuh utuh, karena semuanya telah dipotong oleh Lin Feng menjadi bagian-bagian kecil.
Setelah selesai membantai seluruh pasukan sekte Harimau Hitam, Lin Feng kemudian menghampiri ibunya, lalu bersujud di kaki ibunya dan meminta maaf kepadanya. "Ibu, maafkan aku" ucap Lin Feng.
"Tidak nak, jangan meminta maaf, karena kau tidak bersalah sama sekali, ibu justru sangat bangga padamu" ucap Lin Hua, kemudian membantu Lin Feng untuk berdiri.
"Sudahlah, jangan menangis lagi" ucapannya, kemudian menghapus air mata Lin Feng, atau lebih tepatnya air mata darah.