Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-43. Rencana Untuk Membunuh Zhao Feng


Setelah sampai di kediamannya, Liu Changhai kemudian memeriksa keadaan Zhao Tian, meskipun belati yang dilemparkan oleh tetua Zhang Kaibo tidak mengenai dirinya, tapi Liu Changhai tetap merasa takut jika belati tersebut mengandung racun tertentu.


"Jadi bagaimana keadaanku guru?" tanya Zhao Tian.


"Hahh, syukurlah kau baik-baik saja, dan sepertinya belati itu memang tidak mengandung racun apapun" jawab Liu Changhai.


"Baguslah, jika memang belati itu mengandung racun, maka aku pasti akan membunuh keponakan dan muridnya itu" ujar Zhao Feng.


"Feng'er, sebenarnya dari mana kau mendapatkan keberanian dan keangkuhan seperti ini?" tanya Liu Changhai.


"Aku juga penasaran kak Feng, bukankah sebelumnya kak Feng tidak seperti ini?" tanya Zhao Tian.


"Guru, Zhao Tian, seiring berjalannya waktu sifat manusia juga akan berubah, hewan buruan bisa saja berbalik melawan ketika merasakan nyawanya terancam" jawab Zhao Feng.


"Yang kau katakan memang benar Feng'er, tapi setinggi apapun kau terbang, sejauh apapun kau akan melangkah, seluas apapun pengetahuan yang kau miliki, guru hanya bisa berharap kau tetap berjalan di sisi kebenaran" ucap Liu Changhai.


Degh.., jantung Zhao Feng tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang, tiba-tiba saja ia teringat dengan sosok ayahnya yang sudah meninggal dan apa yang tadi di katakam oleh gurunya, sangat mirip dengan apa yang dulu pernah ayahnya katakan.


Tanpa Zhao Feng sadari, air matanya telah menetes karena merindukan sosok ayah yang sangat berarti dalam hidupnya, namun dengan cepat Zhao Feng menghapus air matanya ketika dalam ingatannya muncul gambaran ketika dia melihat ayahnya telah terbunuh dengan sadis.


"Feng'er kau kenapa?, maaf jika guru sudah menyinggung perasaanmu" ucap Liu Changhai.


"Tidak apa-apa guru, perkataan guru tadi hanya mengingatkan aku kepada seseorang yang sangat berarti dan dia telah tiada" jawab Zhao Feng.


"Guru, muridmu ini berjanji pada guru, meskipun aku sudah berada di ambang kematian, tapi aku akan tetap berjalan di jalan yang benar" lanjutnya.


"Baguslah kalau begitu, karena guru memiliki harapan yang besar untuk kalian berdua" jawab Liu Changhai.


Setelah sedikit beristirahat, Zhao Feng dan Zhao Tian kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.


**


Di kediaman pemimpin sekte, Jin Feng Huang nampak sedang menyembuhkan tangan Zhang Jun dan Chen Yong yang telah di patahkan oleh Zhao Feng, mereka berdua benar-benar tidak pernah menyangka bahwa mereka berdua bukanlah tandingan Zhao Feng.


"Zhao Feng, rasa sakit ini pasti akan aku balaskan berkali-kali lipat padamu" batin Zhang Jun.


"Zhang Jun, Chen Yong, aku harap setelah ini kalian tidak lagi mengganggu Zhao Feng, jika dia mau dia bisa saja mengambil nyawa kalian saat itu juga, jadi kesempatan yang telah dia berikan jangan pernah di sia-siakan" ucap Jin Feng Huang.


"Baik pemimpin" jawab keduanya bersamaan.


Setelah selesai menyembuhkan tangannya, Zhang Jun dan Chen Yong kemudian langsung kembali ke kediaman tetua Zhang Kaibo, mereka tentunya perlu memikirkan dan menyusun sebuah rencana untuk menyingkirkan Zhao Feng bersama dengan tetua Zhang Kaibo.


"Bagaimana tangan kalian?" tanya Zhang Kaibo.


"Tangan kami sudah baik-baik saja paman karena pemimpin sekte sudah menyembuhkannya, sebaiknya sekarang kita mulai memikirkan cara untuk menyingkirkan Zhao Feng" jawab Zhang Jun.


"Jika kita yang melakukanya secara langsung, aku yakin pemimpin sekte akan mengetahuinya dan bisa saja kita di usir dari sekte ini" ujar Chen Yong.


"Tenang saja, aku akan menghubungi ayah Jun'er dan aku akan memintanya untuk menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Zhao Feng" ucap Zhang Kaibo.


"Baguslah kalau begitu, katakan juga kepada ayah bahwa dia sudah mematahkan tanganku" jawab Zhang Jun.


"Kau tenang saja, semuanya sudah aku rencanakan dengan sangat baik" ujar Zhang Kaibo.


Setelah selesai sedikit berbincang-bincang, Zhang Kaibo kemudian menuliskan sebuah surat kepada kakaknya, isi surat tersebut adalah, Zhang Kaibo meminta kepada Zhang Jiangwu yang merupakan penguasa kota Zuanshi, sekaligus kakaknya dan juga ayah Zhang Jun, untuk mengirimkan seorang pembunuh bayaran untuk menyingkirkan Zhao Feng.


Zhang Kaibo juga menuliskan dalam surat tersebut bahwa dia tidak bisa membunuh Zhao Feng secara langsung, sebab dia merupakan murid sekte Phoenix Emas, selain itu pemimpin sekte juga sangat memperhatikannya, dan jika Zhang Kaibo melakukannya sendiri, maka dia takut kalau perbuatannya akan di ketahui dan dia tentunya akan usir dari sekte Phoenix Emas, atau yang lebih buruk adalah kultivasinya di lumpuhkan.


Selain itu Zhang Kaibo juga menceritakan kepada Zhang Jiangwu mengenai tangan Zhang Jun yang telah di patahkan oleh Zhao Feng, lalu Zhang Kaibo menambahkan bahwa dalam pertarungan Zhao Feng sudah menggunakan cara yang curang dan hampir membunuh Zhang Jun dengan sebuah belati.


Setelah selesai menuliskan surat tersebut, Zhang Kaibo kemudian menciptakan sebuah bola api berukuran kepalan tangan orang dewasa, bola api tersebut kemudian berubah menjadi seekor burung berwarna merah, burung merah itu langsung mengambil surat yang ada di tangan kanan Zhang Kaibo lalu membawanya pergi.


"Hahahaha semoga saja ayahmu bisa menyewa pembunuh bayaran tersebut dalam waktu beberapa hari kedepan, sebab aku sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi wajah Liu Changhai saat dia kehilangan muridnya" ucap Zhang Kaibo tertawa lantang.


"Benar sekali paman, aku juga sudah tidak sabar ingin melihat tubuh Zhao Feng yang tergeletak tak bernyawa lagi" ujar Zhang Jun.


**


Di istana raja kota Zuanshi, Zhang Jiangwu nampak sedang duduk dengan tenang di singgasananya sambil membaca beberapa laporan mengenai keadaan kota Zuanshi, Zhang Jiangwu nampak sangat senang karena keadaan kota sampai saat ini masih baik-baik saja.


"Untuk saat ini keadaan kota kerajaan masih baik-baik saja, tapi aku tetap harus waspada terhadap keluarga Lin, karena mereka bisa saja melakukan pemberontakan kapanpun" gumam Zhang Jiangwu.


Beberapa saat kemudian dari pintu istana masuk seekor burung kecil berwarna merah, Zhang Jiangwu yang mengetahui siapa pemilik burung tersebut langsung berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah burung kecil tersebut.


Zhang Jiangwu kemudian mengambil kertas yang di bawa oleh burung api kecil tersebut dan setelah kertas itu di ambil, burung kecil tersebut kemudian kembali menjadi bola api dan lenyap begitu saja.


"Kenapa adikku mengirimkan pesan melalui burung api, apakah ada sesuatu yang sedang terjadi pada mereka di sekte Phoenix Emas" gumam Zhang Jiangwu.