Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-384. Mati dengan kesombongan!


Setelah kedua belah pihak setuju, Luo Ming An kemudian membawa mereka semua menuju ke arena pertarungan khusus kekaisaran Luo, yang memang biasanya digunakan untuk para kultivator menyelesaikan masalah mereka dengan cara duel, baik duel biasa ataupun duel hidup dan mati.


Luo Ming An selaku kaisar dari negara Luo, tentunya tidak ingin terjadi masalah ataupun keributan di ibukota, yang disebakan oleh para kultivator, oleh karena itu, Luo Ming An membuat satu peraturan yang melarang para kultivator bertarung di ibukota. Jika mereka ingin bertarung, maka mereka bisa bertarung dengan bebas di arena yang telah disiapkan khusus oleh Luo Ming An.


Karena itulah, ibukota kekaisaran Luo merupakan kota yang paling aman dan tidak ada seorangpun yang berani berbuat masalah. Sebab, konsekuensi yang akan mereka dapatkan jika berbuat masalah sangatlah besar, bahkan untuk memikirkannya saja mereka tidak berani.


"Selamat datang di arena duel, arena ini adalah arena yang disiapkan khusus untuk orang-orang yang ingin menyelesaikan masalah mereka dengan jalan kekerasan" ucap Luo Ming An, setelah mereka semua sampai di arena pertarungan khusus tersebut.


"Hahahaha! Arena ini sangat luas, kalau begitu mari kita mulai saja!" ujar Tang Ming, kemudian melompat ke tengah-tengah arena.


"Ibu, aku..."


"Pergilah, ibu akan selalu mendoakan mu" ujar Lin Hua.


"Terimakasih, Bu" jawab Lin Feng.


"Hahahaha! Hei sampah, apa kau terlalu takut untuk berduel denganku sampai kau harus meminta restu pada ibumu? Tapi kau tenang saja, karena sebentar lagi, kau akan melihat air mata ibumu dari alam kematian!" ujar Tang Ming.


Lin Feng terdiam, ia yang sebelumnya masih nampak tenang dan biasa-biasa saja, sekarang justru nampak gemetaran, bahkan tatapan matanya semakin tajam seperti ingin segera membunuh seseorang. "Jika aku sampai melihat satu tetes saja air mata yang mengalir keluar dari mata ibu ku, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan dunia ini!" ucap Lin Feng.


Perkataan Lin Feng memang tidak keras, tapi kata-katanya terdengar seperti sambaran petir yang menjadi pertanda akan datangnya badai besar, bahkan Luo Ming An sampai gemetaran karena mendengar perkataan Lin Feng, sementara kaisar Tang dan seluruh rombongannya, malah tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Lin Feng, karena menurut mereka, perkataan Lin Feng hanyalah sekedar omong kosong belaka yang tidak ada artinya sama sekali.


Lin Feng tidak menghiraukan tawa mereka yang merendahkan dirinya, ia kemudian berjalan dengan santai menuju ke tengah-tengah arena pertarungan, namun tatapannya nampak sangat mengerikan. Akan tetapi, tawa hinaan kembali terdengar dari kaisar Tang dan rombongannya, ketika melihat Lin Feng yang justru berjalan ke tengah-tengah arena, sangat berbeda dengan Tang Ming yang melompat langsung ke tengah-tengah arena.


"Orang-orang ini benar-benar sudah gila, andai saja mereka tahu siapa Lin Feng sebenarnya" Luo Ming An bergumam dalam hati, sambil menggelengkan kepalanya karena menyaksikan kebodohan kaisar Tang.


Di atas arena pertarungan.


"Akhirnya kau datang juga, apa kau sudah siap untuk kalah?" tanya Tang Ming dengan sombongnya.


"Tidak, pertanyaannya bukan seperti itu, karena pertanyaan yang benar adalah, apa kau siap untuk mati?" jawab Lin Feng.


Tang Ming terdiam selama beberapa saat, kemudian tertawa sinis. "Hahahaha! Baiklah, aku mengerti. Jadi, apa kau siap untuk mati?" tanya Tang Ming.


"Karena yang seharusnya bertanya seperti itu adalah aku" Lin Feng melanjutkan perkataannya.


Tidak lama kemudian, kepala Tang Ming terjatuh dari tempatnya dan menggelinding di atas arena pertarungan, lalu diikuti dengan tubuhnya yang telah terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Semua orang terdiam menyaksikan hal tersebut, karena tidak ada seorangpun dari mereka yang melihat Lin Feng melakukan serangan, justru yang mereka lihat hanyalah Lin Feng yang tiba-tiba menghilang kemudian muncul lagi dalam sekejap.


Jangankan mereka yang hanya menyaksikan dari kejauhan, bahkan Tang Ming sendiri tidak menyadari serangan Lin Feng, hal itu bisa dibuktikan dari senyuman sombong yang masih terukir jelas di wajahnya, padahal sudah sangat jelas jika kepalanya telah dipenggal oleh Lin Feng, bisa dikatakan bahwa Tang Ming mati dengan membawa kesombongan bersamanya.


"Ti-tidak, i-ini tidak mungkin, ini benar-benar tidak mungkin!" ujar Tang Hao Yun yang masih tidak percaya dengan kematian putranya yang sangat mengenaskan.


"Aku sudah menduga jika hal ini akan terjadi" ucap Luo Ming An dalam hatinya.


Tang Hao Yun benar-benar tidak bisa menerima kematian putranya yang sangat mengenaskan, begitu juga dengan orang-orang yang datang bersamanya, mereka semua kemudian mengeluarkan senjatanya masing-masing lalu menyerang anggota keluarga Lin Fang, bahkan Tang Hao Yun langsung menyerang Lin Hua dan ingin membunuhnya, beruntung Luo Ming An masih berhasil menahannya.


"Luo Ming An, apa yang kau lakukan?!" Tang Hao Yun sangat marah karena Luo Ming An menghentikannya.


Lin Feng yang masih berdiri di atas arena pertarungan, kemudian menghilang lagi dari pandangan, sesaat kemudian Lin Feng telah muncul kembali di dekat Tang Hao Yun, namun ketika Lin Feng hendak membunuhnya, Lin Hua tiba-tiba saja menghentikannya. "Lin Feng, cukup!" ujar Lin Hua.


"Ibu, kenapa ibu menghentikan aku?" tanya Lin Feng.


"Feng'er, ibu mohon jangan lakukan pembunuhan lagi, ibu tidak ingin melihatmu membunuh orang lagi" jawab Lin Hua, tubuhnya nampak gemetaran karena takut.


Lin Feng menyadari rasa takut ibunya, ia kemudian menghampiri Lin Hua dan langsung memeluknya. "Maafkan aku ibu, jika ibu tidak ingin aku membunuh lagi, maka aku tidak akan melakukannya" ucap Lin Feng menenangkan Lin Hua, "setidaknya untuk saat ini saja" lanjutnya di dalam hati.


Sebenarnya Lin Feng sangat kesal karena Lin Hua malah menghentikannya membunuh Tang Hao Yun, padahal Tang Hao Yun sudah berusaha untuk membunuhnya. Meski begitu, Lin Feng juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia tidak ingin membantah perkataan ibunya, walaupun Lin Hua bukanlah ibu kandungnya, tapi Lin Hua adalah ibu dari tubuh yang sekarang ditempati oleh jiwanya. Selain itu, Lin Feng juga telah menganggap Lin Hua sebagai ibunya sendiri.


"Kaisar Tang, sesuai perjanjian sebelum duel dilakukan, sekarang kau harus kembali dan membatalkan lamaran ini" ucap Luo Ming An.


Tang Hao Yun hanya terdiam, ia kemudian berjalan ke tengah-tengah arena pertarungan, lalu mengumpulkan setiap bagian tubuh putranya yang telah dipotong oleh Lin Feng. Setelah selesai, Tang Hao Yun langsung memerintahkan orang-orang yang datang bersamanya untuk segera kembali ke benua Utara.


"Lin Feng, kaisar Luo, dendam ini tidak akan pernah aku lupakan!" ujar Tang Hao Yun, kemudian terbang meninggalkan tempat tersebut.


"Tang Hao Yun, sebaiknya kau bersiap-siap, karena aku tidak akan pernah melepaskan mu!" ucap Lin Feng dalam hatinya.