Night King : My Life Journey

Night King : My Life Journey
Ch-35. Kekhawatiran Seorang Guru


Singa es yang terbaring di tanah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia benar-benar tidak berdaya di hadapan sang penguasa Beast Spirit, bahkan menghadapi satu serangannya saja dia tidak mampu, akan tetapi Singa Es nampak tidak menyesali kekalahannya, sebab dia sudah berusaha layaknya seorang raja.


"Yang mulia, bisakah hamba yang rendah ini memohon satu hal kepada yang mulia?" tanya Singa Es.


"Apa itu?" tanya Huise.


"Hamba mohon kepada yang mulia untuk melepaskan mereka semua, dan sebagai gantinya silahkan yang mulia mengambil jiwa hamba" ucap Singa Es.


"Heh, aku tidak akan melepaskan mereka semua, tapi aku akan mempertimbangkan hal itu jika kau mau menuruti tawaran yang sebelumnya aku katakan padamu" ujar Huise.


"Apa lagi yang anda harapkan dari saya yang sudah terluka ini yang mulia?" tanya Singa Es.


"Tentu saja ada, tapi jika kau tidak mau maka jangan salahkan aku jika aku mengambil jiwa kalian semua untuk aku jadikan santapanku" jawab Huise sinis.


"Baiklah yang mulia, asalkan rakyat hamba bisa hidup, hamba bersedia menerima tawaran yang mulia" ucap Singa Es.


"Pilihan yang sangat bagus" ujar Huise kemudian mentransfer energi kedalam tubuh singa es untuk menyembuhkan lukanya.


Luka-luka yang ada di tubuh singa Es langsung menghilang saat itu juga, tapi bersamaan dengan itu kekuatan singa es juga menurun, dia yang sebelumnya merupakan Beast Spirit tingkat Nirvana langsung turun menjadi Beast Spirit tingkat Surga bintang 3, sepasang sayap yang ada di punggungnya juga telah menghilang.


"Kekuatanmu terpaksa aku serap sampai ke tingkat Surga, tujuannya adalah agar kehadiranmu tidak menarik perhatian banyak manusia. Tapi tenang saja, kekuatanmu akan kembali seperti semula, bahkan bisa lebih kuat lagi" ucap Huise.


"Baiklah yang mulia" jawab Singa Es.


Meskipun kekuatannya menurun drastis dan sudah tidak bisa terbang lagi, tapi singa es sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut, sebab dengan nyawanya diampuni saja dia sudah merasa sangat senang, terlebih lagi nyawa seluruh rakyatnya juga bisa dia selamatkan.


Untuk seekor Beast Spirit bisa terbang kekuatannya setidaknya harus berada di tingkat Nirvana bintang satu, dan itu saja masih belum bisa untuk terbang terlalu lama, karena energi yang dibutuhkan untuk terbang tidaklah sedikit, tapi tentunya hal tersebut tidak berlaku untuk Beast Spirit jenis burung. Sedangkan untuk bisa bicara layaknya manusia, seekor Beast Spirit haruslah mencapai tingkat Surga terlebih dahulu.


Setelah selesai menyembuhkan luka singa es, Huise kemudian langsung meminta semua Beast Spirit yang ada di sana untuk segera meninggalkan gunung tersebut dan mencari tempat yang lain, Huise juga berpesan kepada mereka semua untuk tidak kembali ke hutan itu lagi, sebab dia masih akan melakukan perburuan di sana.


Para Beast Spirit yang ada di puncak gunung langsung pergi dari gunung tersebut dan mencari tempat tinggal yang sangat jauh dari hutan itu, setelah semua Beast Spirit itu pergi, Huise kemudian langsung mengajak singa es untuk kembali ke gua tempat Zhao Feng dan Zhao Tian berkultivasi.


**


Sementara itu di sekte Phoenix Emas, tetua Zhang Kaibo nampak sedang melatih para muridnya untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi pertandingan yang akan di adakan dalam beberapa hari kedepan.


Namun mereka sama sekali tidak melakukan latihan yang berarti sebab mereka menganggap kedua murid tetua Liu bukanlah ancaman untuk mereka, terlebih lagi mereka berdua baru saja berlatih bersama tetua Liu jadi sangat tidak mungkin bagi mereka untuk langsung bertambah kuat dalam waktu dua minggu saja.


"Untuk apa melakukan hal yang tidak ada gunanya, meskipun tidak menyelidiki mereka berdua, kita juga sudah tau pasti mereka sedang melakukan latihan bodoh yang di perintahkan oleh tetua Zhang, dan tentunya mereka tidak akan mendapatkan hasil apapun dari latihan itu kecuali letih dan juga lelah" jawab Zhang Jun.


"Jun'er, apakah kau lupa dengan apa yang selalu paman katakan, jangan terlalu meremehkan musuhmu, terlebih lagi salah satu murid tetua Liu adalah pemuda yang sangat misterius" ucap Zhang Kaibo.


"Maksud paman?" tanya Zhang Jun.


"Salah satu murid tetua Liu sama sekali tidak bisa dilihat tingkat kultivasinya, bahkan aura kultivasinya saja tidak bisa di rasakan, bahkan bisa di katakan dia tidak ubahnya seperti orang biasa" jawab Zhang Kaibo.


"Apa jangan-jangan dia memiliki artefak atau teknik khusus untuk menutupi aura dan tingkat kultivasinya itu?" tanya Zhang Jun.


"Entahlah Jun'er paman juga tidak tau, jika memang itu benar kita harus mendapatkan artefak atau teknik khusus miliknya itu" jawab Zhang Kaibo.


"Tenang saja paman, aku sangat yakin mereka berdua masih berada jauh di bawahku,dan aku jamin kita akan mendapatkan apapun yang membuat anak itu bisa menutupi aura dan tingkat kultivasinya" ujar Zhang Jun.


"Sudahlah, lanjutkan latihan kalian, aku akan pergi menemui pemimpin sekte" ucap Zhang Kaibo kemudian menghilang dari tempat tersebut.


Setelah kepergian pamannya, bukannya melanjutkan latihan Zhang Jun malah mengajak teman-temannya untuk pergi ke kediamannya agar mereka bisa bersenang-senang dan bersantai dan tentunya mereka semua tidak bisa menolak keinginan Zhang Jun, selain itu mereka juga ingin sedikit bersantai dan bersenang-senang.


Namun sayangnya setelah sampai di kediaman Zhang Jun mereka sama sekali tidak bisa minum arak, sebab arak yang Zhang Jun miliki sudah habis, namun Zhang Jun tidak kehabisan akal, dia kemudian langsung mengajak teman-temannya untuk pergi ke kota agar mereka bisa bersenang-senang dengan perempuan penghibur.


**


Liu Changhai yang sedang berkultivasi sejak kepergian kedua muridnya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kultivasinya, karena pikirannya kembali tidak tenang karena memikirkan keselamatan kedua muridnya.


"Bagaimana keadaan mereka berdua saat ini" gumam Liu Changhai.


"Hahh, pikiranku benar-benar tidak bisa tenang, sebaiknya aku mengirim elang es untuk mengawasi mereka berdua" lanjutnya.


Liu Changhai kemudian memanggil elang es dan memerintahkannya untuk segera mencari dan mengawasi kedua muridnya yang sedang berlatih di hutan, meskipun elang es merasa sedikit keberatan dengan perintah tersebut, namun dia juga tidak bisa mengatakan kepada tuannya bahwa kedua muridnya tersebut di jaga oleh Beast Spirit yang jauh lebih kuat darinya.


Dengan berat hati elang es langsung melesat terbang ke arah hutan untuk mencari keberadaan kedua murid tuannya. Setelah kepergian elang es, Liu Changhai bisa merasa lebih tenang dan tidak terlalu mengkhawatirkan kedua muridnya lagi.


"Dengan adanya elang es yang mengawasi mereka berdua, setidaknya aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan mereka berdua" gumam Liu Changhai.