
Setelah menempuh perjalanan laut selama lebih dari tiga hari, kapal Mo Fan Chun yang ditumpangi oleh Lin Feng dan Huise akhirnya akan segera sampai di tujuan mereka, yaitu pelabuhan benua Utara.
Saat ini, mereka hanya tinggal menunggu hitungan menit saja, sebelum akhirnya kapal mereka akan berlabuh di satu-satunya pelabuhan yang menghubungkan benua Utara dan kota Yumin, bahkan mereka semua yang ada di atas kapal sudah bisa melihat daratan dari kejauhan.
Meski hanya tinggal menunggu selama beberapa menit saja, namun perjalanan mereka ternyata tidak terlalu mulus, pasalnya dari arah pelabuhan nampak sebuah kapal sedang berlayar menuju ke arah mereka.
Jika kapal tersebut adalah kapal biasa atau hanya kapal nelayan, mungkin mereka tidak perlu terlalu khawatir, tapi kapal tersebut adalah kapal perampok atau kapal para pembajak, yang biasanya membajak setiap kapal yang hendak berlabuh di pelabuhan tersebut.
"Raja kota, apa kau mengetahui siapa mereka?" tanya Lin Feng.
"Mereka adalah para kultivator dari sekte aliran hitam yang menguasai pelabuhan ini, mereka pasti datang untuk merampok dan mengambil apa saja yang mereka temukan di kapan ini, lalu mereka juga tidak segan-segan untuk melakukan pembunuhan saat mereka tidak menemukan apapun!" Mo Fan Chun menjelaskan dengan raut wajah khawatir.
"Ternyata di dunia ini ada juga yang mau menjadi bajak laut" gumam Lin Feng dalam hatinya.
"Anda tenang saja raja kota, serahkan masalah ini padaku!" ujar Lin Feng, kemudian melesat terbang mendekati kapal para pembajak tersebut.
***
Sementara itu, dari sisi kapal para pembajak. Salah seorang awak kapal datang melapor kepada bos atau pemimpin mereka, ketika ia melihat seseorang yang sedang melesat terbang mendekati kapal mereka.
"Pemimpin, ada yang mencoba mendekati kapal kita, tapi dia tidak membawa apapun bersamanya!" ucap awak kapal tersebut.
"Hahahaha! Pastinya dia belum mengenal siapa pemilik kapal ini. Kalau begitu, kalian harus memberikan pelajaran kepadanya, agar lain kali dia tidak melakukan kesalahan seperti ini lagi" ujar pemimpin para pembajak tersebut.
"Baik pemimpin!" ujar sang awak kapal, lalu beranjak pergi dari hadapan pemimpinnya.
Setelah mendapatkan perintah dari pemimpin mereka, para awak kapal yang merupakan kultivator dari sekte aliran hitam, langsung menyerang Lin Feng dengan menembakkan energi spiritualnya pada Lin Feng.
Puluhan bola energi spiritual melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Lin Feng, seperti peluru yang ditembakkan dari senjata api, tapi puluhan bola energi spiritual tersebut tidak berhasil mengenai Lin Feng sedikitpun, bahkan Lin Feng bisa menghindari semuanya dengan sangat mudah.
"Sepertinya kalian tidak bisa diajak bicara!" gumam Lin Feng dalam hatinya, lalu mengangkat tangan kanannya ke atas.
Dari telapak tangan Lin Feng kemudian muncul bola api yang semakin lama ukurannya semakin besar, tidak hanya itu saja, bahkan bola api tersebut memancarkan aura yang sangat panas. Setelah ukuran bola api tersebut cukup besar, Lin Feng langsung melemparkannya ke arah kapal para pembajak.
"Ga-gawat, pertahankan kapal!" ujar salah seorang awak kapal.
Mereka semua kemudian menyatukan energi spiritualnya, lalu menciptakan perisai yang sangat besar untuk melindungi kapal.
DHUUAAARRRR!!
Ledakan yang sangat besar terjadi ketika bola api yang dilemparkan oleh Lin Feng, menghantam perisai yang diciptakan oleh para pembajak, namun karena perbedaan kekuatan yang sangat jauh, perisai mereka tidak bisa bertahan dari serangan bola api tersebut, sehingga membuat seluruh kapal terbakar oleh api.
Panasnya udara di atas kapal yang disebabkan oleh api, tidak mengentikan Lin Feng sedikitpun, bahkan Lin Feng tetap membunuh semua orang yang ada di sana ketika kapal mulai akan tenggelam.
"Si-siapa kau? Apa kau tidak takut akan diburu oleh sekte Gunung Es?" tanya pemimpin para pembajak dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Lin Feng tersenyum sinis, lalu menjawab pertanyaan tersebut. "Kenapa aku harus takut, justru merekalah yang harus takut padaku! Karena aku hanya akan membawa kematian pada mereka!" lalu Lin Feng langsung memenggal kepala pria yang memimpin para pembajak, kemudian mengambil cincin penyimpanannya.
Setelah membunuh para pembajak tersebut dengan sadis dan memenggal kepala pemimpin mereka, Lin Feng lalu terbang kembali ke kapal Mo Fan Chun dengan raut wajah datar, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun. Dan tepat di saat Lin Feng meninggalkan kapal para pembajak, kapal tersebut tiba-tiba saja meledak dan akhirnya tenggelam.
"Sekarang kita bisa berlabuh dengan aman dan tenang" ucap Lin Feng, setelah menginjakkan kakinya di atas kapal Mo Fan Chun.
***
Kejadian yang menimpa kapal para pembajak tentu saja dapat disaksikan oleh orang-orang yang ada di pelabuhan, untuk sejenak mereka semua benar-benar senang karena akhirnya, pada pembajak tersebut mendapatkan balasan atas perbuatan keji mereka selama ini, tapi sesaat kemudian, mereka semua langsung merasa takut, karena kejadian tersebut pastinya akan mengundang kemarahan sekte Gunung Es.
Sudah bukan rahasia lagi di wilayah benua Utara, bahwa salah satu pelabuhan di benua Utara yang terhubung dengan kota Yumin adalah kekuasaan sekte Gunung Es. Bahkan tidak ada satupun, baik itu kerajaan ataupun sekte aliran putih yang berani mengusik pelabuhan tersebut ataupun sekte Gunung Es, karena sekte tersebut berada di bawah perlindungan kaisar Yuan Haochun.
Ketika Lin Feng dan Huise turun dari kapal setelah berlabuh di pelabuhan tersebut, orang-orang yang ada di sana langsung berkumpul dan menghampiri mereka berdua, mereka semua lalu memperingatkan Lin Feng dan Huise agar segera pergi meninggalkan tempat tersebut, agar mereka tidak mendapatkan masalah karena telah menghancurkan kapal milik sekte Gunung Es.
Meski telah diperingatkan oleh orang-orang yang ada di sana, Lin Feng dan Huise justru hanya menanggapinya dengan santai dan tidak terlalu menghiraukannya. Setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada Mo Fan Chun, Lin Feng dan Huise langsung melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari klan darah iblis.
"Tuan, kemana tujuan kita selanjutnya?" tanya Huise.
"Kemana lagi? Tentu saja ibukota kekaisaran Yuan, karena aku ingin mengunjungi pamanku!" jawab Lin Feng, kemudian tersenyum sinis.
Selain mencari keberadaan klan darah iblis, ibukota kekaisaran Yuan adalah alasan kedua untuk Lin Feng datang ke benua Utara, bukan karena ingin membalaskan dendam ayahnya dengan menghancurkan kekaisaran terbesar, tapi Lin Feng hanya sangat penasaran dengan sosok pamannya, yang merupakan kaisar dari kekaisaran Yuan.
Meski demikian, sepertinya akan sangat mustahil bagi Lin Feng untuk tidak melakukan apapun, setidaknya Lin Feng akan meninggalkan kesan kengerian pada Yuan Haochun, bisa saja dengan mematahkan tangannya, atau melakukan beberapa penyiksaan ringan.
Huise yang hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar jawaban Lin Feng. Bagaimana tidak, setelah bersama Lin Feng untuk waktu yang cukup lama, Huise tentu saja mengetahui seperti apa jalan pikiran Lin Feng, walaupun hanya sedikit, terlebih setelah mereka berdua menyatukan jiwa. Bahkan, Huise merasa ragu jika kunjungan yang dimaksud oleh Lin Feng adalah kunjungan yang sama seperti yang ada dipikiran kebanyakan orang.
"Tuan, aku hanya berharap agar tuan tidak menyiksa kaisar Yuan dengan terlalu sadis" ucap Huise.
"Hahahaha! Apa aku terlihat seperti pemuda kejam yang tega menyiksa pamannya sendiri?" tanya Lin Feng dengan tawa lantang.
"Itu artinya, tuan baru saja menyatakan bahwa tuan adalah pemuda kejam yang akan menyiksa pamannya sendiri" Huise berkata pelan.
"Tenanglah, aku tidak akan membunuh pamanku itu, tapi aku hanya akan mengajaknya bermain" ujar Lin Feng.